Kejutan yang Freya siapkan untuk William berubah menjadi mimpi buruk saat ia memergoki pria itu berselingkuh. Tanpa niat melabrak, Freya justru merekam pengkhianatan tersebut dan bersumpah akan membalasnya.
Namun, sebelum rencananya selesai, Freya diculik dan dipaksa menerima perjodohan dengan Steven, pria dingin dan berkuasa.
Menolak tunduk, Freya kabur dan menghancurkan karier William dengan menyebarkan video perselingkuhannya.
Tapi, masalah tidak berhenti di sana. Steven murka karena Freya melarikan diri. Ia mengerahkan anak buah untuk menangkap gadis itu, tanpa menyadari bahwa mereka akan bertemu dengan cara yang tak terduga, yang mana Freya menyamar sebagai laki-laki, dan menjadi bodyguard barunya dengan nama Boy.
Kedekatan mereka memicu konflik yang lebih berbahaya, saat Steven mulai merasakan perasaan terlarang pada sosok yang ia yakini sebagai seorang pria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Di sisi lain, Freya mengerjap pelan. Pandangan matanya menyapu sisi ranjang yang kosong. Tidak ada Steven di sana.
Ia sedikit mengernyit, lalu membuka sedikit selimut tebal yang menutupi tubuh polos. Freya terdiam. Detik berikutnya, senyum tipis terbit di bibirnya saat ingatan semalam menyeruak begitu saja.
Pergulatan itu. Sentuhan itu. Dan, tatapan Steven yang membuatnya kehilangan kendali, begitu membekas di ingatannya.
"Astaga, apa yang aku pikirkan?" gumamnya. Ia bangun perlahan, satu tangannya mencengkeram selimut erat-erat. Namun, gerakannya terhenti saat ia merasa perih di bagian intimnya.
"Ish... sakit sekali," gumamnya pelan. Namun, justru kalimat itu membuat wajahnya semakin memerah. Ia menggigit bibir, lalu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Astaga, kenapa aku bisa melakukan itu?" keluhnya lirih. "Aku benar-benar... ahh— aku malu sekali." Freya menarik selimut hingga menutupi kepalanya.
"Bagaimana nanti kalau aku bertemu dengannya? Aku harus apa?" gumamnya, nyaris tidak terdengar. Namun, lamunannya buyar saat suara dering ponsel memecah keheningan kamar.
Freya menurunkan selimut perlahan. Tangannya terulur mengambil ponsel yang tergeletak di nakas. Keningnya berkerut saat melihat nama yang tertera di layar.
"Mama?" gumamnya. "Kenapa mama menelpon sepagi ini?" Ia menghela napas pendek, lalu menekan tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinganya.
"Halo, Ma? Ada apa?" tanya Freya, berusaha terdengar biasa saja.
"Kau di mana sekarang?" suara Evelyn terdengar dingin, tanpa basa-basi di seberang.
"A-aku sedang bekerja—"
"Di tempat Steven?" potong Evelyn tajam.
Freya terdiam sesaat. "Ada apa sebenarnya, Ma?"
"Mama dan Papa sudah sepakat," lanjut Evelyn. "Tiga hari lagi, kami akan memperkenalkan mu pada semua rekan kerja Papa. Jadi, kau harus datang."
"Apa?!" Freya menegakkan duduknya. Satu tangan masih mencengkeram selimut yang menutupi tubuh polosnya. "Tapi, Ma—"
"Tidak ada tapi-tapi," sela Evelyn dingin. "Pokoknya, kau harus datang. Kalau tidak... " Nada suara Evelyn merendah, penuh ancaman. "Kau tahu sendiri Mama bisa berbuat apa."
Freya mengepalkan tangan. Tanpa menjawab lagi, ia mematikan sambungan telepon begitu saja. Ia menatap layar ponsel beberapa detik sebelum melemparkannya ke atas ranjang.
"Selalu saja mengancam," gerutunya kesal.
Freya memejamkan mata, dadanya naik turun. Ia baru saja menemukan ketenangan yang selama ini ia cari. Tapi, keluarganya kembali menariknya masuk, tanpa memberi ruang untuk bernapas.
Dan ia tahu, tiga hari ke depan tidak akan berjalan mudah.
"Mama bukan orang yang mudah di hadapi," gumam Freya. "Dia akan melakukan, apa yang ingin dia lakukan."
Freya menyandarkan punggungnya
Head board. "Tidak ada pilihan lain. Aku harus pulang." Ia menghela nafas panjang, terdiam beberapa saat, sebelum kembali menegakkan tubuhnya. "Tapi, bagaimana dengan Steven?"
Baru saja namanya di sebut, tiba-tiba pintu kamar terbuka perlahan.
Freya yang masih duduk di atas ranjang refleks menoleh. Jantungnya nyaris melonjak saat sosok Steven muncul di ambang pintu, mengenakan jubah tidur, rambutnya sedikit berantakan, dan di tangannya ada sebuah nampan berisi sepiring makanan hangat dan segelas susu.
Langkah Steven terhenti sesaat ketika mata mereka bertemu.
Hening.
Freya menelan ludah, refleks menarik selimut lebih erat ke dadanya.
Steven berdeham pelan, lalu melangkah masuk, meski terlihat canggung. Ia meletakkan nampan di meja kecil di samping ranjang.
"Makanlah!" ucapnya singkat, suaranya terdengar datar.
Freya mengangguk kecil, namun tidak bergerak. Pandangannya justru jatuh pada jari-jari Steven yang sedikit menegang saat melepas nampan itu.
Steven berdiri, menyelipkan kedua tangannya ke saku celana. "Aku sudah meminta Miko untuk menghandle perusahaan hari ini. Jadi, kau bisa beristirahat dan—"
"Lalu, kau?" potong Freya cepat. Ia memberanikan diri mengangkat wajah. Mata mereka kembali bertemu, dan detik itu pula Freya merasakan pipinya memanas saat ingatan semalam datang tanpa izin.
Steven jelas merasakannya hal yang sama. Rahangnya mengeras, sorot matanya meredup sesaat sebelum ia memalingkan wajah.
"Te-tentu saja, aku mengerjakan pekerjaan ku di rumah," jawab Steven tergagap. "Kau tetap bodyguard pribadiku. Kau begini karena aku, jadi—" Steven tidak melanjutkan ucapannya. Pandangannya jatuh pada tanda di leher Freya, yang membuat ia kembali gugup.
"Ce-cepat minum susunya! Kau terlihat... tidak sehat," ucapnya mengalihkan pembicaraan.
Freya tersenyum kecil. "Kau khawatir?"
Steven menoleh tajam, seolah pertanyaan itu menyerangnya secara langsung. "Tentu saja! Aku tidak ingin istriku jatuh sakit."
'Istriku'
Kata itu membuat dada Freya menghangat sekaligus menegang.
"Siapa yang istri mu, hah?" tanya Freya tersipu. Ia mengambil gelas susu itu, lalu menyesap sedikit.
"Jangan lupa, kita sudah di jodohkan dan semalam kita—" Steven menelan ludahnya, lalu memalingkan wajahnya. "Pokoknya, kau adalah milikku."
"Iya, aku hanya milikmu," sahut Freya.
"Bagus kalau kau mengerti." Ia hendak berbalik pergi, namun Freya refleks meraih ujung lengan bajunya.
"Ada apa?" tanyanya, suaranya lebih rendah.
"I-itu, bolehkan aku mengambil cuti?" punya Freya.
Steven mengeryit. "Cuti?" ulangnya. "Kenapa tiba-tiba?"
"Itu, mama dan papa ingin aku datang ke acara pesta. Jadi, aku harus pulang," gumamnya.
Steven mengepalkan tangannya erat, jelas menahan rasa kesal. Dia sengaja tidak mengatakan apapun tentang pesta, agar Freya tetep tinggal bersamanya. Tapi, tidak di sangka, ibunya sudah lebih dulu menghubunginya.
"Jadi, kau ingin datang ke acara itu?" tanya Steven.
Freya mengangguk pelan. "Aku harus datang."
Steven menghela nafas kasar. Jarinya terangkat, menunjuk dirinya sendiri. "Lalu, kau anggap aku apa?"
Freya mengerutkan keningnya. "Apa maksudmu? Tentu saja kau calon suamiku."
"Kalau kau menganggap ku calon suamimu, kenapa kau masih ingin datang? Apa kau tidak tahu tujuan orangtuamu mengadakan pesta itu?"
"Aku tahu," jawab Freya.
Steven melebarkan kedua matanya. "Kau tahu?" pekiknya. "Jadi, kau setuju dengan rencana orang tuamu?"
Freya mendesah heran. "Kenapa aku harus menolak? Pesta ini sudah di rencanakan sejak lama."
"Aku tidak mengijinkan mu!" potong Steven cepat dan tajam.
Freya menggeleng pelan, tidak percaya Steven akan bersikap konyol seperti ini. Sampai-sampai tidak mengijinkannya hadir di pestanya sendiri, pesta untuk membangun relasi dengan rekan kerja ayahnya. Karena, cepat atau lambat, ia yang akan memegang perusahaan keluarga.
"Kau benar-benar tidak masuk akal, Steve! " Freya melilitkan selimut, menutupi tubuhnya, lalu turun dari ranjang. Dengan langkah tertatih, ia berjalan ke arah kamar mandi, meninggalkan Steven yang terlihat menahan kesal.
"Baru saja kau bilang, kau hanya milikku. Sekarang, kau ingin mencari pengganti ku di pesta orang tuamu? Aku tidak akan membiarkannya, " geram Steven.