Dalam semalam, video scandal yang tersebar membuat kehidupan sempurna Adara hancur. Karirnya, nama baiknya, bahkan tunangannya—semuanya dihancurkan dalam sekejap.
“Gila! Dia bercadar tapi pelacur?”
“Dia juga pelakor, tuh. Gundik suami orang.”
“Jangan lupa… dia juga tidur sama cowok lain meskipun sudah punya tunangan se-perfect Gus Rafka.”
“Murahan banget, ya! Sana sini mau!”
“Namanya juga pelacur!”
Cacian dan makian terus dilontarkan kepada Adara. Dalam sekejap citranya sebagai influencer muslimah bercadar, dengan karya-karya tulisnya yang menginspirasi itu menghilang.
Nama panggilannya berubah menjadi “Pelacur Bercadar”. Publik mengecamnya habis-habisan bahkan beberapa orang ingin memukulinya.
Namun di tengah semua kekacauan yang terjadi, seorang pria mengulurkan tangannya kepada Adara.
“Menikahlah denganku, Adara. Aku akan membantumu untuk memperbaiki nama baikmu. Setelah semuanya membaik—kamu bisa pergi meninggalkanku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadiaa Azarine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gundik Bercadar
Tangan Adara tampak bergetar saat meraih ponsel itu. Ia menatap tulisan yang memenuhi layar ponsel itu. Napasnya terasa sesak bahkan sebelum ia membaca tulisan itu.
“Assalamualaikum teman-teman. Saya Farel Abraham, ingin meminta maaf sebesar-besarnya atas kegaduhan yang sedang terjadi.
Saya tidak bermaksud membuat masalah ini semakin besar. Namun karena nama saya ikut terseret, saya merasa perlu meluruskan beberapa hal.
Pertama, hubungan saya dan Adara bukan hubungan kerja semata. Kami saling menghormati, mendukung dan saya akui—kami memiliki kedekatan emosional. Saya tidak pernah menduga bahwa ia sudah memiliki tunangan, karena tidak ada pengakuan apapun dari Adara mengenai hal itu.
Kedua, mengenai video yang beredar… Saya menyesal kejadian itu terekam dan menciptakan persepsi negatif. Yang dapat saya pastikan adalah—saya datang ke rumah itu karena Adara yang terlebih dahulu meminta saya hadir. Ia mengatakan ingin berdiskusi mengenai buku terbarunya secara pribadi dan mendesak. Saya tidak memiliki niat lain.
Saya meminta maaf jika penjelasan ini membuat pihak tertentu tersinggung. Namun demi keadilan, saya harus menyampaikan apa adanya dari sudut pandang saya. Saya berharap publik tidak menyebarkan video tersebut lebih jauh dan memberi kami waktu untuk menyelesaikan ini secara kekeluargaan.
Mengenai hubungan saya, Adara dan tunangannya, biarlah hal itu menjadi urusan pribadi yang akan kami selesaikan sendiri. Terima kasih.
“Kok dia tega banget sih? Padahal gue nggak pernah sedikit pun tertarik sama dia…” Adara meneteskan air matanya. Di detik berikutnya—gadis itu berteriak sekencang-kencangnya. Meluapkan seluruh emosinya yang memuncak.
Ayumi hanya diam, membiarkan Adara menangis sepuasnya dengan harapan tangisan itu bisa membuatnya lega.
Setelah menangis cukup lama, suara dering di ponsel Adara membuat gadis itu menghentikan tangisannya. Ia menghapus air matanya saat melihat nama Rafka tertera di layar ponselnya. Jantungnya berdetak cepat.
Adara menatap lama nama itu. Ia enggan mengangkatnya karena takut Rafka akan mempercayai berita yang beredar. Panggilan pertama mati begitu saja tanpa jawaban. Namun beberapa detik kemudian, panggilan yang sama kembali masuk.
Setelah meyakinkan dirinya, Adara pun mengangkat panggilan itu. Ia akan menerima apapun ucapan yang akan Rafka katakan.
“Assalamu`alaikum.” sapa Adara dengan suara lemasnya.
“Dara… kamu baik-baik aja? Jangan buka sosmed dulu, Dar. Biar aku yang atasin masalah ini.” Rafka berbicara panjang lebar.
“K-kamu percaya sama a-aku?” lirih Adara dengan suara terbata.
Helaan napas kasar terdengar jelas dari seberang sana. “Dara… aku selalu percaya sama kamu. Aku akan selalu ada dipihak kamu. Aku juga udah bilang ke keluarga kalau berita ini hoax. Kamu tenang aja, semua masalah ini pasti bakal selesai.”
“A-aku takut, Raf… aku takut banget…” lirih Adara. Mendengar ucapan Rafka membuatnya tidak sanggup lagi menahan tangisan.
“Sekarang waktunya lagi pas banget buat shalat tahajud, Dar. Kita shalat bareng-bareng, yuk. Kamu dari sana, aku dari sini. Kita sama-sama berdoa untuk masalah ini. Gimana?” tanya Rafka lembut.
Adara mengangguk pelan, meski anggukan itu tidak bisa dilihat oleh Rafka.
“Kamu matiin handphone kamu, terus ambil wudhu, ya. Setelah shalat kamu istirahat, jangan pergi keluar dan jangan buka handphone dulu sampai masalahnya mereda,” jelas Rafka.
Adara kembali mengangguk di sela-sela suara tangisannya yang masih tersisa. “Iya…” jawabnya lirih.
“Kalau gitu aku wudhu dulu, ya. Assalamu`alaikum, Adara.”
“Waalaikum salam, Raf…”
Usai panggilan terputus, Adara menghapus air matanya. Ia merasa sedikit lega saat tau Rafka masih mempercayainya. Setidaknya hal itu cukup baginya.
Cahaya matahari mulai beranjak naik. Udara dingin sisa hujan semalam masih menusuk kulit. Adara tertidur lelap di atas sajadahnya usai melaksanakan shalat panjang. Matanya tampak sembab, diselingi sisa tangisan kecil di sela tidurnya.
Sementara di atas kasur Ayumi tampak tertidur lelap, tubuhnya dibalut selimut tebal. Setelah melaksanakan shalat shubuh kedua gadis itu kembali tidur.
Suara bel yang ditekan berkali-kali membuat Adara mengernyitkan dahinya. Siapa yang datang sepagi ini ke apartemennya?
Adara beranjak dari tidurnya. Tangannya meraih cadar yang tergeletak di atas meja. Dengan langkah malas, ia berjalan membukakan pintu.
“Dara, mau ke mana?” tanya Ayumi yang ikut terbangun.
“Liat yang dateng,” jawab Adara singkat.
Ayumi mengucek matanya. Ia pun beranjak dengan malas, mengikuti Adara.
Begitu membuka pintu, Adara disambut dengan air dingin yang mengguyur tubuhnya. Mata Adara membulat sempurna saat merasakan tubuhnya basah disiram cairan berwarna merah itu.
Seorang wanita berdiri di hadapan Adara dengan tatapan penuh emosi, namun terlihat juga sorot puas saat melihat penampilan Adara yang basah kuyup. Adara menatap sekelilingnya. Dia bisa melihat beberapa orang merekamnya.
“Heh, Buk! Apa-apaan ini?” tanya Ayumi kaget. “Jangan kayak gini dong, buk! Saya bisa laporkan ibu, lho!”
“Laporkan aja! Kamu membela perempuan busuk itu?” Wanita itu tertawa.
“Ibu bersikap kayak gini karena berita yang beredar? Berita yang belum jelas kebenarannya itu?” Ayumi ikut tertawa.
“Kamu nggak cukup kah jualan tubuh kamu? Nggak cukup jadi pelacur aja? Kenapa mau jadi gundik, hah? Jualan badan ke banyak laki-laki duitnya masih kurang banyak?” seru wanita itu penuh emosi.
“Hah? Ibu ngomong apa sih? Jangan asal tuduh, ya!” kesal Ayumi.
“Dasar pelacur murahan! Pelakor! Tukang selingkuh!” Wanita itu melemparkan beberapa lembar foto yang baru saja dia ambil dari tasnya.
Adara tersentak kaget saat melihat foto-foto itu. Foto seorang gadis bercadar bersama pria yang tidak Adara kenali. Di dalam foto-foto itu mereka terlihat sangat mesra, layaknya pasangan suami istri.
“I-itu bukan saya…” Adara menggeleng cepat. “Saya nggak kenal suami kamu, Mbak. Saya nggak pernah ketemu sama dia. Bahkan namanya pun saya enggak tau.”
Mendengar ucapan Adara, wanita itu justru tertawa. “Terus ini apa?” Ia kembali melemparkan beberapa bukti chat yang sudah dia print.
Adara berjongkok lalu membaca bukti chat itu. Nafasnya tercekat saat melihat akun WhatsApp-nya yang sedang berbalas pesan mesra dengan seorang pria.
“Baca baik-baik tolol! Kamu bisa baca, kan? Disitu kamu meminta suami saya—Nino Ferdian datang menemui kamu. Dan disitu sudah jelas kamu tau keberadaan saya. Kamu juga bertanya apakah Laras sudah berangkat ke Singapura atau belum,” jelas Wanita itu.
“Saya Laras! Istri sah Nino!” teriak wanita bernama Laras itu penuh emosi.
“Bukan saya, Mbak. Saya sama sekali nggak kenal sama kalian!” tegas Adara.
“Nomor WhatsApp itu punya kamu, kan?” Laras menatap Adara tajam.
Adara terdiam. “Itu nomor WhatsApp saya tapi udah lama nggak saya pakai lagi.”
“Tapi jelas itu nomor WhatsApp kamu, kan? Oh, kamu mau mengelak dengan bukti-bukti sejelas ini? Kamu mau bilang kalau nomor WhatsApp kamu di pakai orang lain gitu?” tanya Laras.
“Tapi memang bukan saya, Mbak…” Adara berusaha menjelaskan.
“Fucking bitch!” Teriak Laras lalu menarik cepolan rambut Adara dari balik kerudungnya.
“Heh, Mbak!” Ayumi berteriak panik. Ia berusaha menjauhkan Adara dari Laras yang sudah mengamuk seperti kerasukan setan.
Setelah beberapa menit, Ayumi pun berhasil menjauhkan Adara dari Laras dengan membawanya kembali masuk ke dalam Apartemen.
Adara jatuh terduduk di lantai. Napasnya terengah-engah. Ia bersandar ke dinding lalu mendongakkan kepalanya.
“Ya Allah… sebenarnya ujian apa ini? Dalam sehari semuanya menjadi berantakan dan hancur.”
Adara meringkuk lalu memeluk lututnya. Ia menenggelamkan kepalanya di antara kedua lututnya lalu terisak.
“Kenapa semuanya jadi begini, Ya Allah…”
***
Bersambung…
Khan sudah ada clue, Tattoo Mawar.
episode pertama bagus, bikin penasaran.
semoga selanjutnya makin bagus.