Pernikahan yang berdasarkan untuk menghindari kesalahpahaman, hingga membuatku terpaksa harus menerima pernikahan yang sama sekali tidak kuinginkan.
Pernikahan yang ku fikir akan menyelamatkan ku dari fitnah ternyata justru membuatku hidup dalam kesengsaraan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marina Monalisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10. Hari Pemakaman
Aldi yang enggan mengganggu Meisa dan Bu Nirmala memilih segera menghubungi kedua orangtuanya di luar ruangan.
"Aldi, kamu di mana?" tanya Bi Sila saat baru saja sambungan telepon terhubung.
"Bu, Bapaknya Meisa meninggal. Ibu dan Bapak sekarang ke rumah Meisa yah, Aldi segera ke sana dengan jenazah dari rumah sakit." ucap Aldi tanpa menjawab pertanyaan Bu Sila.
"Ngapain kamu masih ngurusin keluarga wanita itu, Aldi? mereka itu tidak baik." ucap Bu Sila.
"Bu, saat ini bukan waktunya untuk menilai siapa yang baik dan siapa yang buruk. Aldi minta Bapak dan Ibu ke sana sekarang." ucapnya segera mengakhiri panggilan itu.
"Tapi Aldi- halo Aldi." Bu Sila kesal melihat tingkah putranya yang tidak mau menuruti perintah darinya.
"Benar-benar wanita itu, pasti sudah mempengaruhi anakku." ucapnya dengan geram seraya menggenggam ponsel miliknya.
"Ada apa, Bu?" tanya Pak Reno.
"Si Aldi Pak, anak itu benar-benar yah bisa-bisanya dia masih mengurus keluarga wanita itu. Sekarang kita di suruh kerumahnya gara-gara ayahnya meninggal." terang Bu Sila.
"Innalilahi..." ucap Pak Reno.
"Ayo Pak, kita siap-siap." ajak Bu Sila.
Keduanya segera bergegas untuk bersiap mengganti baju.
Sedangkan di rumah sakit Aldi sudah membereskan semua keperluan kepulangan jenazah dengan mobil ambulans.
Meisa terus menangis memeluk tubuh ayahnya. Sepanjang jalan ia terus memeluk dan membangunkan Pak Fajar.
"Meisa, jangan seperti ini, Nak. Ibu tidak kuat melihat mu begini." ucap Bu Nirmala yang ikut memeluk tubuh putrinya yang rapuh itu.
"Ibu ini semua salah paham, Bu. Ayah pergi tanpa mendengarkan penjelasan dari Meisa, Bu." tangisnya terus terdengar tanpa henti.
"Maafkan aku, Mei. Ini semua karena aku. Maafkan aku." gumam Aldi yang terus mengutuk dirinya sembari tetap fokus menyetir mobil di belakang ambulans.
"Pak Fajar, maafkan saya. Ini semua karena saya, tidak seharusnya saya bisa mengatakan hal seperti itu pada Bapak. Maafkan saya, Pak. Saya berjanji akan menjaga putri Bapak sampai akhir hayat saya." ucap Aldi dengan tegasnya.
Selang beberapa waktu terlewati, kini mobil ambulans dan satu mobil lagi yaitu mobil Aldi sudah tiba di rumah duka.
Di sana sudah nampak kedua orangtua Aldi yang menyambut mereka dengan pakaian serba hitam mereka.
Dalam keadaan duka seperti itu masih terlihat jelas raut wajah ketus dari Bu Sila saat melihat Meisa turun dari mobil.
Hanya beberapa tetangga yang turut hadir saat itu, tanpa ada keluarga yang datang. Karena memang Meisa dan kedua orangtuanya sudah lama berada di sana dan terpisah jauh dari keluarganya yang berada di luar negeri menjadi tkw dan ada juga yang berada di luar pulau.
Aldi dan Pak Reno segera mengurus seluruh keperluan pemakannya, sementara jenazah Pak Fajar sudah di mandikan dan di kafani di dalam rumah.
"Mei, sabar yah semoga Ayah kamu bisa tenang di sana. Kamu harus kuat demi ibumu." ucap salah satu tetangga yang turut hadir saat itu.
Meisa hanya bisa mengangguk dan terus menangis meratapi nasib malangnya saat ini. Belum lagi ia memikirkan bagaimana keadaan Bu Nirmala jika ia harus bekerja di rumah Bu Rosa. Rasanya sungguh tidak tega jika membiarkan Bu Nirmala tinggal seorang diri.
"Apa yang harus ku lakukan sekarang? Ya Tuhan mengapa ini semua terjadi bersamaan? hamba tidak tahu jalan mana yang harus hamba lewati sama sekali tidak ada jalan saat ini?" gumam Meisa menatap kembali wajah wanita yang saat ini berada di sampingnya.
"Ibu." ucapnya seraya memeluk tubuh Bu Nirmala yang sejak tadi hanya menundukkan kepalanya saja dengan isak tangis yang berusaha ia tahan.
"Iya, Mei." jawabnya lirih dan segera membalas pelukan anaknya.
"Meisa sayang Ibu."
Mendengar ucapan anaknya, Bu Nirmala hanya mengangguk paham dan mengusap pelan punggung putrinya yang saat ini masih berpelukan dengannya.
Hari itu semua proses pemakaman sudah berjalan dengan baik, suasana di pemakaman sudah kembali sepi. Hanya keluarga Meisa dan keluarga Aldi yang tersisa di sana.
"Aldi ayo kita pulang." ajak Bu Sila.
Semua bisa mendengar nada bicara ketusnya saat mengajak putranya kembali.
"Bu, Aldi masih harus di sini. Ibu pulanglah dengan Bapak." pintah Aldi.
"Yasudah, tapi ingat segera urus perceraian mu dengan wanita itu." hardik Bu Sila.
"Bu! Aldi tidak akan menceraikan Meisa." pekik Aldi.
"Sudah Bu, ayo kita pulang sekarang. Biarkan semuanya di bicarakan nanti." sahut Pak Reno.
Bu Nirmala dan Meisa hanya diam duduk berlutut di depan makam Pak Fajar.
Sampai kini yang tersisa hanyalah tiga orang saja di pemakaman itu. Meisa memeluk erat nisan sang ayah seakan enggan untuk meninggalkan Pak Fajar seorang diri di sana.
"Mei, kita pulang, Nak." ajak Bu Nirmala lembut.
Perlahan ia membantu Meisa berdiri dan keduanya berjalan menuju mobil Aldi. Mereka kembali ke rumah sederhana itu dengan suasana bercampur aduk.
Kesal, benci, marah, sedih begitu menyatu di pikiran Meisa saat ini.
Sesampainya di rumah Meisa segera masuk dengan Bu Nirmala.
"Bu, apa tidak sebaiknya Ibu tinggal bersama Aldi dan Meisa?" tanya pria itu tiba-tiba.
Bu Nirmala tidak berani menjawab ia hanya menoleh pada Meisa seakan meminta jawaban untuknya.
"Maaf, Mas. Tapi saya tidak bisa tinggal di sana. Karena kontrak kerja saya masih berlaku." tutur Meisa.
"Tapi bagaimana dengan Ibu, Mei?" tanya Aldi khawatir.
Dengan cepat Bu Nirmala tersenyum. "Ibu di sini saja. Ibu sangat senang tinggal di sini, rasanya seperti masih di temani Ayah kamu." ucap Bi Nirmala tersenyum tenang.
Meisa yang mendengarnya meneteskan air mata lagi. Ia sungguh tidak tega membiarkan Ibunya berada di rumah itu seorang diri.
"Bu, Meisa secepatnya akan pulang menemani Ibu." ucapnya.
Bu Nirmala hanya menganggukkan kepalanya dan mengusap lembut rambut putrinya itu.
"Sudah jangan khawatir pada Ibu, di sini Ibu baik-baik saja. Cepatlah pergi kembali bekerja sayang." tutur Bu Nirmala.
"Meisa pergi dulu yah, Bu."
"Biar Mas antar kamu, Mei." ucap Aldi namun tak di jawab oleh Meisa.
"Bu Aldi pamit."
Aldi berlari kecil mendahului Meisa dan segera membukakan pintu untuk istrinya di depan sebelah kemudi.
Namun Meisa lebih memilih duduk di belakang. Meski ia sudah berjanji untuk mempertahankan pernikahan itu dengan Ayahnya tapi bagi Meisa Aldi tetaplah suami yang sudah menginjak harga dirinya.
Selama di perjalanan Aldi beberapa kali melirik wajah wanita yang tampak sembab di belakang sana melalui spion mobil. Terlihat Meisa yang menyandarkan tubuhnya lemas dan menatap kosong ke arah jendela luar.
Mobil sudah melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah Bu Rosa seperti yang sudah di sebut oleh Meisa sebelum jalan.
"Mei, maafkan aku yah." ucap Aldi.
Meisa masih terdiam enggan untuk menjawabnya.
"Meisa, aku tahu kamu masih marah. Tapi aku akan pertahankan dan buktikan semuanya agar kamu mau memaafkan aku." tutur Aldi.
"Saya titip Ibu, Mas." ucap Meisa dengan wajah tanpa ekspresi dan enggan untuk menjawab ucapan Aldi.
Ia lebih jauh mengkhawatirkan Bu Nirmala dari pada dirinya saat ini.
"Biarlah jika kehormatan ku di ragukan, biarlah jika semua orang menganggap ku rendah. Tak apa, mungkin ini memang sudah takdir hidup ku. Hanya satu yang ku minta padamu Tuhan, berilah waktu lebih lama aku bisa menikmati kebersamaan dengan Ibu yang belum bisa aku bahagiakan. Jangan kau biarkan aku menyesal seumur hidup karena tidak sempat membahagiakan kedua orang tua ku."
Sepanjang jalan Meisa terus berbicara dalam hati tanpa mau menatap wajah pria di depannya yang sejak tadi terus mencuri pandangan padanya.
lanjut baca lagi lah
semangat thor 💪