Lanjutan dari novel: Wanita Cantik Tuan Muda Dingin.
__________
Setelah melewati banyak waktu dan masalah. Raka sang CEO termuda di perusahaan Welfin telah berhasil menemukan kekasihnya dan bahkan tak menyangka jika kekasihnya itu memberikan sepasang anak kembar yang cerdas dan menggemaskan.
Namun masalah kembali datang dari istri tercinta yang memiliki Kepribadian Ganda. Karena itulah Raka mencoba menyembuhkan Sovia dan mulai belajar untuk menjadi Suami idaman untuk sang istri.
Akan tetapi seseorang mulai meneror keluarga kecilnya dan bahkan mencoba menyingkirkan satu persatu keluarga dekatnya. Hal ini karena perebutan harta waris di masa lalu di keluarga Welfin. Dapatkah Raka melindungi sang Istri dan kedua anak kembarnya, serta menyembuhkan mental Sovia?
Yuk kita simak perjuangan Raka dalam menyembuhkan Sovia dan perjuangannya menyelesaikan masalah yang silih datang berganti di keluarga kecilnya Raka.
Baca sampai selesai ya ^^
Terima kasih~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asti Amanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Jangan Berani Padaku
...[Beri like dan komen]...
Pukul 11.21 Siang. Raka terlihat sedang berada di ruang rapat. Ia membahas soal proyek baru yang akan ia bangun di kota Byusan. Terlihat ia begitu serius mendengar ulasan-ulasan dari para stafnya. Begitu pun Willy yang ikut menjelaskan proyek terbaru ini.
Sementara Sovia. Ia nampak sibuk dengan dokumen-dokumen salinan yang ada di atas meja Raka. Walaupun begitu, ia masih saja terlihat murung. Ia menoleh sebentar melihat Dean yang malah tertidur di atas sofa. Gadis kecil itu lelah bermain.
Sovia tersenyum kecil melihat putrinya.
"Aku tak menyesal atas semua ini. Dia tetaplah belahan jantungku dan aku sangat menyayanginya."
Sovia kembali melihat dokumennya dan tiba-tiba saja Raka dan Willy masuk ke ruangannya membuat Sovia langsung berdiri. Raka segera mendekati Sovia.
"Sayang, sekarang kita pulang dulu. Dokter Frans telah ada di rumah." ucap Raka kepada Sovia lalu melihat putrinya telah tertidur.
"Baiklah." Sovia tersenyum manis lalu berjalan ke arah Dean dan menggendongnya.
"Kamu tunggu aku di mobil, masih ada keperluan yang harus aku urus." ucap Raka pada Sovia. Sovia cuma mengangguk. Ia tahu jika suaminya sekaligus presdirnya itu memanglah sibuk bulan ini. Apalagi proyek yang ia kerjakan akan sangat menguntungkan.
Sovia pun berjalan keluar menuju ke arah lift sambil menggendong Dean yang tertidur pulas.
Raka berbalik melihat Willy. Ia menatap serius asistennya itu.
"Willy, katakan padaku apa yang kamu katakan padanya malam itu?" Raka bertanya dengan tampang dinginnya seperti mengintrogasi Willy.
Willy tercengang mendengarnya. Tak disangka Raka dapat mengetahuinya. Padahal Willy tidak pernah mengungkitnya.
"Ba ... bagaimana Presdir tahu?" Willy terbata-bata saking terkejutnya.
"Katakan saja." Raka berjalan duduk di kursi lalu melihat Willy serius. Tatapan Sovia yang murung dari kemarin membuat Raka tahu jika pertemuan Sovia dan Willy bersangkutan.
Pada malam itu, Raka memang melihat Sovia dan Willy, namun ia tak tahu apa yang mereka bicarakan karena jaraknya terlalu jauh.
Willy pun mencoba tenang lalu menjelaskan. Ia mengatakan jika Sovia membicarakan dua pendapatan yang berbeda dari Raka dan Willy soal dirinya yang jatuh ke sungai.
Di mana Willy mengatakan jika Sovia terjatuh dari jembatan karena ia ingin bunuh diri dan itu membuat Sovia bersedih karena ucapan Raka padanya tak sama dengan Willy.
Raka kini memejamkan matanya. Ia mencoba untuk tenang setelah mendengarnya. Sudah merasa tenang, Raka pun beranjak berdiri lalu keluar dari ruangannya menuju ke lift bersama Willy.
"Maafkan saya, Presdir. Saya tak bermaksud membuatnya sedih." tutur Willy.
"Tak masalah, cepat maupun lambat ia pasti akan tahu kebenaran tentang dirinya." Raka tak peduli. Itu malah lebih baik untuk Sovia dan kini ia sendiri yang akan menjelaskan pada Sovia tentang kejadian aksi bunuh dirinya.
_____
Di bawah, terlihat pandangan semua mata karyawan tertuju pada Sovia. Mereka masih saja membicarakan kedekatan Sovia dan Presdir Raka. Namun Sovia tak peduli. Ia tetap berjalan keluar dari perusahaan itu.
"Huft ... mereka sungguh meresahkan." hela Sovia melewati pintu perusahaan.
Anita yang melihatnya sebenarnya ia juga agak iri. Ia sudah tahu jika Sovia dan Presdir Raka telah menikah. Semua itu karena Sovia sendiri yang mengatakannya. Sovia merasa tak sanggup merahasiakan sendiri pernikahannya.
"Sangat beruntung menjadi dirinya. Dikelilingi dengan kekayaan keluarga Welfin." gumam Anita lalu ia duduk melanjutkan pekerjaannya.
Sovia terlihat kini berada di dekat mobil. Ketika ia ingin membuka pintu mobil ingin masuk, tiba-tiba saja seorang wanita menarik bahunya dan seketika itu pun ia tersentak melihat wanita yang pernah ia tampar sebelumnya, tapi ia tetap berusaha untuk tenang.
"Dasar jal4ang! Apa-apaan kamu ini. Berikan dia padaku." Wanita itu nampak geram ingin merebut Dean yang tertidur pulas. Wanita itu yang tak lain adalah Anggi. Wanita yang menganggap dirinya kekasih Raka, padahal bukan.
Anggi adalah anak dari gubernur yang terbilang sombong akan kedudukan Ayahnya. Anggi bisa saja melakukan seenaknya pada orang-orang di kota Byusan.
Sovia menjauhi Anggi, ia tak mau memberikan Dean padanya dan itu membuat Anggi merasa geram.
"Hei! Kamu berani banget juga ya!" bentak Anggi, namun Sovia malah berbalik tak peduli.
"Anda tak seharusnya berbicara dengan nada seperti itu. Lebih baik anda tak usah memancingku." ucap Sovia ingin masuk ke mobil namun Anggi malah menariknya kembali.
Sontak Sovia terkejut melihat Anggi ingin menamparnya. Namun Sovia dengan cepat dapat menahan mencekram kuat dan malah memberikan sorotan mata kebencian.
"Jika anda berani padaku, tangan ini akan ku patahkan!"
Deg!
Anggi terkejut mendengarnya, tak disangka Sovia bisa berkata seperti itu. Seketika Sovia langsung melepasannya, ia juga tak menyangka bisa mengatakan perkataan itu barusan.
"Astaga, apa yang ku ucapkan tadi." gumam Sovia langsung melihat tangan yang mencengkram Anggi barusan.
Tanpa basa-basi Sovia langsung masuk ke mobil dan menghindari Anggi, ia masih merasa terkejut dengan ucapannya barusan.
"Huft ... ini pasti karena aku lelah memikirkan banyak hal." hela Sovia melihat Dean yang duduk di dekatnya. Terlihat gadis kecil itu sungguh tertidur pulas. Sovia pun melihat Anggi yang masih berdiri di tempatnya.
Terlihat wanita itu kesal melihat Sovia masuk begitu saja ke dalam mobil Raka.
Seketika suara Raka terdengar dari belakangnya dan langsung membuat Anggi berbalik. Ternyata itu benar Raka yang berjalan bersama Willy. Anggi merasa senang melihat Raka berjalan ke arahnya, namun rasa senang itu berubah seketika menjadi masam setelah Raka melewatinya begitu saja dan masuk ke dalam mobil.
Anggi kesal dengan sikap Raka dan ditambah lagi Sovia yang dekat dengannya. Anggi menggertak melihat mobil itu melaju pergi dari perusahaan Welfin.
"Wanita sialan! Kau pikir dengan mendekati anak kecil itu kau bisa memilikinya. Akan ku buktikan jika aku juga bisa menaklukkan anak kecil itu dan Raka!"
Anggi pergi dengan kekesalannya ditambah lagi dengan pergelangan tangannya yang sakit karena cengkraman Sovia barusan.
"Wanita sialan! Awas kau! Brensek! Akan ku rebut dia dan menghempaskanmu jauh-jauh." umpat Anggi masuk ke dalam mobilnya lalu pergi begitu saja.
Jika dia tahu soal Sovia. Mungkin saja Anggi bisa dalam bahaya. Lebih baik tak usah memancing singa keluar dari kandangnya karena itu bisa mencabik-cabik tubuhmu hingga hancur. Karena Sovia bukanlah wanita biasa pada umumnya. Ia memiliki sesuatu yang berbeda.
______
Hanya beberapa menit saja, mobil Raka telah tiba di depan rumahnya. Willy yang ditugaskan untuk mengatasi perusahaan kini ia pergi kembali ke kantor.
Sementara Raka dan Sovia. Mereka berjalan masuk ke dalam rumah dan disambut lagi oleh Pak Sam.
"Tuan muda, Dokter Frans telah menunggu Tuan di ruangan anda." ucap Pak Sam melaporkan keberadaan Dokter Frans.
"Katakan padanya, aku akan ke sana." ucap Raka.
"Baik, Tuan Muda." Pak Sam pun pergi ke ruangan Dokter.
Raka dan Sovia pun menaiki tangga lalu menuju ke kamar Dean. Setelah menidurkan putrinya itu. Sovia tak lupa mencium kening Dean lalu ia pun keluar bersama Raka.
"Sayang, kamu baik-baik saja, kan?" tanya Raka basa-basi padahal ia tahu kegundahan Sovia.
"Baik, kok." jawab Sovia tersenyum manis. Lalu tiba-tiba ia tersipu karena Raka langsung mengecup keningnya.
"Kita ke kamar dulu. Ada yang ingin ku jelaskan padamu." Raka berkata lembut sambil membelai rambut Sovia.
"Baiklah." Sovia mengangguk mengerti lalu berjalan menunduk dan itu membuat Raka tak tega melihatnya.
Krek!
Pintu kamar terbuka. Sovia dan Raka masuk ke dalam kamar lalu duduk di tepi ranjang saling berhadapan.
"Apa yang ingin kamu jelaskan?" tanya Sovia mulai berbicara dengan suara agak rendah.
"Sayang, aku sudah tahu apa yang kamu pikirkan." Ucapan Raka langsung membuat Sovia terdiam lalu menunduk.
"Maaf telah memalsukannya." ucap Raka ikut menunduk. Ia juga agak takut mengatakannya.
"Sebenarnya kamu jatuh dari jembatan karena ...." Raka terhenti karena Sovia langsung memutuskannya.
"Bunuh diri?"
"Ah ... itu benar, maaf. Ini semua salahku, walau aku tak tahu apa tujuanmu waktu itu. Tapi aku yakin jika itu karena aku sudah merebut kesucianmu. Aku benar-benar minta maaf telah membuatmu syok waktu itu." jelas Raka menceritakan aksi bunuh diri Sovia enam tahun yang lalu.
"Huft ...." Sovia cuma menghembuskan nafas. Terdengar begitu menyendihkan.
"Tapi kamu percaya padaku. Aku pada saat itu juga syok bahkan aku ingin lompat untuk menyelamatkanmu. Tolong jangan benci aku." lanjut Raka terdengar tulus.
Sebenarnya bukan itu yang membuat Sovia sepenuhnya murung, dan ia murung karena ia tak dapat ingat kejadian malam itu. Ia bahkan tak pernah memimpikan kejadian aksinya malam itu.
Pluk!
Raka tersentak merasakan pelukan hangat dari Sovia. Terasa nyaman dan menenangkan. Ia membalas pelukan Sovia.
"Maaf sudah membuatmu sedih." Raka sekali lagi meminta maaf.
"Tidak apa-apa kok. Aku senang kau jujur padaku." ucap Sovia melepaskan pelukannya lalu melihat Raka dengan senyuman manis.
"Bagus deh kalau begitu." Raka ikut tersenyum.
"Oh ya, kita lebih baik ke ruanganku. Dokter Frans telah mempersiapkan terapi untukmu. Ini bisa membuatmu ingat soal ingatanmu yang hilang itu." lanjutnya berkata lembut sambil berdiri.
Sovia yang mendengarnya, ia kini malah takut. Ia takut jika ada ingatan yang tak ia inginkan seperti ingatan ia tidur dengan Raka malam itu.
"Kenapa, sayang?"
"Ah, tidak apa-apa." jawab Sovia menggelengkan kepala.
"Ya sudah, kalau begitu kita turun sekarang." Raka meraih tangan Sovia lalu keluar menuruni tangga menuju ke ruangannya.
"Presdir, aku selalu berpikir. Mengapa kau mencintaiku?"
Itulah yang ada di benak Sovia. Memikirkan kenapa Raka yang seorang Tuan Muda bisa-bisanya jatuh cinta dengan dirinya sampai sekarang. Sovia hanya menunduk senyum-senyum merasakan tangan yang hangat menggenggam tangannya.
...____...
...❤❤❤❤❤...
...Halo Readers...
...Jangan lupa...
...Like...
...Komen...
...Dan...
...Vote...
...⭐⭐⭐⭐⭐...