Sejak zaman dulu, sepuluh padepokan saling serang demi pecahan Cincin Braja Moksa. Kabarnya, siapa pun yang menyatukan sepuluh pecahan itu akan menguasai dunia.
Satrio Caksena hanyalah murid Geni Wening, padepokan paling lemah yang tinggal punya tujuh murid dan seorang guru dengan cakra hancur. Saat Kala Ireng datang menuntut pecahan mereka, Satrio cuma bisa bangun lagi setiap kali dihajar.
Malam itu, ia menemukan kristal merah di bawah lantai pendapa. Kristal itu menyala karena darahnya dan membangunkan sisa jiwa seorang Prabu yang sudah mati ribuan tahun lalu.
Dari sang Prabu, Satrio mengetahui rahasia yang dilupakan semua padepokan. Cincin Braja Moksa ternyata segel. Di dalamnya terkurung Sandawa, raja siluman yang dulu hampir menguasai dunia. Setiap pecahan yang terkumpul membuat segel itu makin lemah.
Satrio harus menghentikan Kala Ireng sebelum cincin itu utuh kembali. Masalahnya, tidak ada yang mau percaya pada murid dari padepokan paling lemah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adicipto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Abu di Halaman
"Air..."
Suara Satrio keluar serak sekali. Bibirnya kering dan pecah-pecah, dan tenggorokannya seperti habis menelan pasir panas. Ia membuka mata. Atap ijuk biliknya berputar pelan sebelum akhirnya diam.
Tubuhnya panas dari ujung kepala sampai telapak kaki, tapi giginya bergemeletuk kedinginan. Dadanya terbalut kain dari ketiak sampai perut. Saat ia mencoba duduk, rusuk kirinya menusuk sampai ia terhempas lagi ke tikar.
"Ugh..."
Gandung tertidur sambil duduk di samping tikarnya, punggung bersandar ke dinding bambu. Kepalanya terkulai ke bahu, dan kelopak matanya bengkak. Di pangkuannya ada mangkuk batok berisi air yang sudah tumpah separuh.
Satrio mengulurkan tangan kiri dan menyentuh lutut sahabatnya.
Gandung tersentak. Mangkuk di pangkuannya jatuh, dan airnya membasahi celana. Ia memandangi Satrio sebentar, mengerjap dua kali, lalu wajahnya berkerut.
"Kau... kau bangun," katanya parau, "Dasar bodoh. Tiga hari kau tidur, tahu? Tiga hari!"
"Air, Gandung."
"Iya, iya!" Gandung buru-buru memungut mangkuk itu, lalu sadar isinya sudah habis. Ia terpincang-pincang ke kendi di sudut bilik dan kembali dengan mangkuk penuh. Tangannya gemetar sampai sebagian air tumpah lagi ke dada Satrio.
Satrio minum sedikit demi sedikit. Gandung terus memegangi bagian belakang kepalanya sampai mangkuk itu kosong.
"Yang lain?" tanya Satrio.
Gandung meletakkan mangkuk di lantai. Ia tidak langsung menjawab.
***
Lumbung padi itu tinggal tiang-tiang hitam yang berdiri miring di belakang dapur. Abunya masih hangat. Setiap kali angin bertiup, serpihan ijuk hangus beterbangan dan menempel di jemuran.
Satrio berdiri di ambang pintu bilik dengan berpegangan pada tiang. Gandung memegangi lengan kirinya dan tidak mau melepaskannya.
Sekar berjongkok di depan dua karung beras yang menghitam di bagian bawah. Ia sedang memisahkan butir-butir yang masih bisa dimakan dari yang sudah gosong, satu per satu, dengan ujung jari.
"Cuma ini yang sempat kutarik keluar," katanya tanpa mengangkat kepala, "Kalau kita makan sekali sehari, cukup untuk beberapa minggu."
"Setelah itu?" tanya Satrio.
Sekar tidak menjawab. Jarinya terus memilah butir beras.
Damar duduk di serambi dengan kaki kanan berselonjor. Lututnya terbalut kain tebal, dan sebatang bambu diikatkan di sisi betisnya supaya kaki itu tidak tertekuk. Lintang duduk di sampingnya sambil menggosok pisau kecil dengan ujung baju.
Saat Satrio lewat, Damar mengangkat tangan. "Sudah bisa jalan, kau?"
"Sedikit, Kang. Lututmu?"
"Masih menempel." Damar tersenyum, tapi senyumnya hilang lebih cepat daripada datangnya.
Sekar menyusul Satrio dan berbisik di dekat bahunya. Golok itu mengenai tempurung lutut Damar. Kalaupun lukanya sembuh, Damar mungkin akan pincang seumur hidup.
Satrio menoleh ke serambi. Lintang masih menggosok pisau itu, padahal bilahnya sudah mengilap sejak tadi.
"Guru?" tanya Satrio.
"Belum keluar dari biliknya sejak malam itu," jawab Gandung, "Batuknya terdengar sampai ke sumur."
Di belakang dapur, tidak jauh dari tiang-tiang lumbung yang hangus, ada dua gundukan tanah baru. Tidak ada batu penanda di atasnya.
"Dua orang Kala Ireng itu," kata Gandung, "Jati dan Lintang yang menggali lubangnya kemarin. Kata Guru, orang mati tidak bisa dibiarkan di halaman, siapa pun dia."
Satrio memandangi dua gundukan itu. Malam setelah Bargowo datang pertama kali, gurunya pernah bercanda soal menggali lubang di belakang dapur. Waktu itu Satrio tidak tertawa.
"Jati menangis waktu menggali," lanjut Gandung pelan, "Katanya bukan karena takut. Tangannya lecet semua, tapi dia tidak mau berhenti sebelum selesai."
***
Ki Arya duduk di undakan pendopo dengan tubuh dibalut kain tebal. Wajahnya pucat kekuningan, dan Jati duduk di sampingnya memegangi cangkir air. Sabuk merah bersulam tiga lidah api masih tergeletak di lantai pendopo, di tempat Pradipta melemparkannya.
Pradipta berlutut di halaman dengan kedua tangan masih terikat tali jemuran. Rambutnya kusut, dan pipinya lebam bekas menghantam tanah. Ia tidak mengangkat kepala.
Para murid berdiri di sekelilingnya. Satrio bersandar ke tiang pendopo karena kakinya belum kuat berdiri lama.
"Dia membawa mereka ke sini, Guru," kata Sekar. Suaranya keras, tapi tangannya yang terkepal gemetar. "Lumbung kita habis. Kaki Kang Damar hancur. Guru hampir mati. Satrio hampir mati!"
"Gantung saja dia di gerbang," kata Jati. Anak itu langsung menunduk begitu semua orang menoleh ke arahnya, tapi ia tidak menarik kata-katanya.
Ki Arya terbatuk. Jati buru-buru menyodorkan cangkir air, tapi Ki Arya menggeleng.
"Damar," panggilnya.
Damar mengangkat kepala.
"Kakimu yang dia hancurkan. Kau mau apa?"
Damar memandangi Pradipta cukup lama. Rahangnya bergerak, seperti orang yang sedang mengunyah sesuatu yang pahit.
"Aku juga ikut pergi malam itu, Guru," katanya pelan, "Kalau Kang Pradipta digantung, aku juga harus berdiri di sebelahnya."
Lintang menoleh ke arah kakaknya dengan mata membelalak. "Kang!"
Pradipta mengangkat kepala untuk pertama kalinya. Matanya merah. Bibirnya terbuka, tapi Damar sudah memalingkan wajah.
Ki Arya menghela napas. Ia menunjuk sabuk merah di lantai pendopo. Jati memungutnya dan membawanya turun.
"Lepaskan ikatannya," kata Ki Arya.
Sekar terbelalak. "Guru!"
"Lepaskan."
Gandung melangkah maju dan membuka simpul tali di pergelangan Pradipta. Kulit di bawahnya merah dan lecet. Jati meletakkan sabuk merah itu di tanah, di depan lutut Pradipta, lalu buru-buru mundur.
"Bawa sabukmu," kata Ki Arya, "Jangan tinggalkan apa pun milikmu di sini. Mulai hari ini, nama Pradipta tidak pernah ada di Geni Wening."
Pradipta memandangi sabuk itu. Tangannya terulur, berhenti sejengkal di atasnya, lalu memungutnya pelan-pelan.
"Guru..." Suaranya pecah. "Guru, aku..."
Ki Arya bangkit dengan bertumpu pada bahu Jati dan berbalik ke dalam pendopo. Ia tidak menoleh lagi.
Pradipta berdiri. Kakinya goyah. Ia berjalan melewati para murid satu per satu, dan tidak ada yang menyingkir untuk memberinya jalan. Ia harus memutar di sekitar mereka.
Di dekat gerbang yang roboh, ia berhenti di depan Lintang.
"Lintang," katanya, "Waktu kau kecil, aku yang mengajarimu memanjat pohon jambu itu..."
Lintang menatap tanah. Tangannya mencengkeram pisau kecil di pinggang sampai buku-buku jarinya memutih. Ia tidak mengangkat wajah sedikit pun.
Pradipta menunggu. Kemudian ia melangkahi daun pintu gerbang yang tergeletak dan berjalan menyusuri jalan setapak. Sabuk merah itu tergantung dari tangannya, ujungnya terseret di tanah.
Di pertigaan balik rumpun bambu, ia tidak berbelok ke kanan atau ke kiri. Ia berjalan lurus masuk ke hutan.
Lintang baru mengangkat kepala setelah punggung Pradipta hilang. Bahunya mulai berguncang. Damar meraih tangan adiknya dari serambi dan menariknya duduk.
Sore itu, Satrio dipanggil ke bilik Ki Arya.
Gurunya berbaring miring menghadap dinding. Napasnya berbunyi kasar, dan di samping tikarnya ada kain yang bernoda darah, sudah dilipat supaya nodanya tidak terlihat.
"Duduk."
Satrio duduk bersila. Rusuknya nyeri setiap kali ia menarik napas.
Ki Arya membalikkan badan pelan-pelan dan memandangi wajah muridnya. Matanya berhenti lama di mata Satrio, lalu turun ke keris kecil di pinggangnya.
"Malam itu..." Ki Arya mulai bicara, lalu terbatuk. Batuknya panjang, dan Satrio buru-buru menyodorkan air. Setelah minum, gurunya tidak melanjutkan kalimat itu.
"Guru mau bertanya apa?"
"Nanti saja." Ki Arya kembali berbaring menghadap dinding. "Kalau kau sudah bisa berdiri tanpa berpegangan pada tiang."
***
"Kau bodoh."
Eyang berdiri di sudut bilik saat Satrio membuka balutan telapak tangannya malam itu. Gandung sudah mendengkur di tikar sebelah.
Satrio memandangi sosok tua itu, dan tangannya berhenti membuka kain.
Dinding bambu di belakang Eyang terlihat jelas menembus dadanya, jauh lebih jelas daripada sebelumnya. Ujung jubah merahnya tidak sampai ke lantai. Bagian bawahnya habis, seperti kain yang termakan api, dan janggut putihnya tinggal separuh panjang.
"Eyang..."
"Jangan dipandangi begitu. Aku belum mati." Eyang mengibaskan tangannya, tapi gerakannya lambat. "Lebih tepatnya, aku sudah mati sejak lama. Jadi tidak perlu dipandangi begitu."
Satrio menunduk ke telapak tangannya. Kulit di sekeliling kristal pecah-pecah seperti tanah sawah di musim kemarau, dan kristal itu hanya menyala redup.
"Itu harganya?" tanyanya pelan, "Yang Eyang bilang mahal?"
"Sebagian." Eyang duduk bersila di depannya. Lututnya tidak menekan tikar sedikit pun. "Tubuhmu terbakar dari dalam karena harus menampung aku. Dan setiap kali aku keluar dari batu itu, sebagian diriku tidak ikut kembali."
Satrio mengepalkan tangan kiri di atas lutut.
"Kalau begitu, jangan lagi, Eyang."
"Memang tidak bisa sering-sering, bocah. Itu yang mau kukatakan." Eyang memandanginya dengan seksama. "Malam itu Bargowo sudah lari. Malam berikutnya yang datang mungkin gurunya Bargowo. Kalau aku masuk ke tubuhmu sekali lagi melawan orang setingkat itu, salah satu dari kita tidak akan bangun."
Satrio diam. Dari tikar sebelah, dengkuran Gandung berhenti sebentar, lalu terdengar lagi.
"Gurumu melihat mataku malam itu," kata Eyang, "Dia melihat keris di pinggangmu juga."
"Tadi sore Guru hampir bertanya," kata Satrio, "Tapi tidak jadi. Katanya nanti saja, kalau aku sudah bisa berdiri tanpa berpegangan pada tiang."
"Itu bukan karena kakimu." Eyang mendengus pelan. "Orang tua itu sedang mengulur waktu."
"Mengulur waktu untuk apa?"
"Untuk dirinya sendiri." Eyang menoleh ke arah bilik Ki Arya. Pelita di sana masih menyala. "Orang tua itu menyimpan sesuatu sejak kau masih bayi. Sekarang dia sedang menghitung berapa lama lagi dia bisa menyimpannya."
Satrio memandangi cahaya pelita itu lewat celah dinding.
Eyang menghela napas panjang. "Dengan tubuh selemah ini, kau tidak akan hidup sampai Pertemuan Sepuluh Padepokan. Kala Ireng tidak akan mengirim Bargowo lagi."
"Lalu aku harus bagaimana?"
"Mulai besok, kau belajar Ajian Geni Sewu," jawab Eyang, "Kalau tubuhmu tidak terbakar habis duluan."