Dulu Queen cuma anak manja yang hidupnya aman di bawah sayap orangtuanya. Sampai malam itu, kedua orangtuanya dibunuh berdarah dingin oleh rival keluarga, Don King. Queen selamat, tapi dunianya hancur. 15 tahun kemudian dia kembali, bukan sebagai korban. Dengan taktik licik, pasukan setia, dan dendam yang membara, Queen merebut satu demi satu apa yang menjadi haknya dari musuhnya sampai seluruh dunia bawah berlutut di kakinya. Tapi dendam yang dia jalankan harus dia korban juga dengan darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina1708, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tuan Herman Unggul
Happy Reading
❤❤❤❤❤❤❤
Saat itulah pintu besi gudang nomor 7 yang berat nya 300 kilo itu... berderak. Bukan di buka. Tapi di tabrak.
BRUKKK!
Sebuah van putih tua menabrak pintu besi itu sampai jebol. Kaca depan van pecah, lampu depan nya mati, tapi mesin nya masih meraung.
Sepuluh penjaga itu langsung berdiri, pistol diangkat.
"SIAPA ITU?!" Teriak Bruno.
Pintu van terbuka. Seorang pria tinggi besar dengan bekas luka bakar di leher turun, pincang kaki kiri nya, tapi di tangan kanan nya ada linggis panjang yang berkarat, dan di tangan kiri nya ada pisau nelayan untuk memotong jaring ikan.
" King? "
Hujan di belakang nya membuat siluet nya seperti setan yang baru keluar dari laut.
"Aku Allex King Alessandro. Putra pertama Tuan Steven Alessandro. Pewaris sah 60 persen. Lepaskan orang ku," kata King, suara nya tidak keras, tapi menggema di gudang besi itu.
Bruno mengernyit. "King? King sudah mati 15 tahun lalu! Kau siapa? Penipu!" Ucap Brun9.
King tidak menjawab. Dia berjalan pincang ke depan, setiap langkah nya, air hujan yang menetes dari jaket nya berbunyi _tik... tik... tik..._ di lantai semen.
Salah satu anak buah yang paling muda, yang baru direkrut 2 bulan lalu, maju dengan pisau. "Mati kau, penipu!" Teriak anak buah itu.
Dia menusuk King. King tidak menghindar. Dia biarkan pisau itu menyerempet lengan nya, lalu dengan gerakan yang di ajarkan nelayan Palermo untuk membunuh hiu yang menyerang jaring, King memutar linggis dan menghantam lutut anak buah itu.
KRAKKK!
Lutut patah ke arah berlawanan. Anak buah itu berteriak. 9 orang sisa nya langsung menyerang bersamaan.
Ini bukan film. King bukan John Wick. King terluka. Pukulan pertama, tongkat bisbol menghantam punggung nya. Pukulan kedua, gagang pistol menghantam pelipis nya. Darah segar mengalir dari pelipis King, bercampur air hujan.
Tapi King tidak jatuh. 15 tahun di laut, 15 tahun melawan perompak Somalia di perairan Palermo, 15 tahun menarik jaring ikan 200 kilo sendirian, membuat tubuh King bukan tubuh anak manja pewaris mafia lagi. Tubuh nya adalah tubuh nelayan petarung.
Dia menangkap tongkat bisbol yang kedua, menarik pemilik nya mendekat, lalu menanduk kepala nya. Hidung patah.
Dia berputar, linggis nya menyapu kaki dua orang sekaligus. Jatuh. Bruno yang melihat itu, panik, mengeluarkan pistol dan menembak.
DOR!
DOR!
Peluru pertama meleset, menghantam balok baja. Peluru kedua mengenai bahu King.
King terhuyung, tapi dia terus maju. Dia cabut pisau nelayan nya dan lempar.
Pisau itu tidak mengenai Bruno. Tapi mengenai rantai yang mengikat Marco. Rantai itu sudah tua dan berkarat. Sekali lemparan pisau yang tepat di sambungan nya, rantai itu putus.
Marco jatuh ke lantai, berat.
King sekarang berdiri di depan Marco yang tergeletak, melindungi Marco dengan tubuh nya yang sudah berlumuran darah dari bahu dan pelipis, melawan 7 orang yang masih berdiri.
"Sentuh dia lagi, aku bunuh kalian semua," kata King, terengah-engah, darah menetes dari mulut nya.
Bruno tertawa gila. "Kau sudah mau mati, King palsu! Kau mau lindungi anjing ini?!" Teriak Brunom
Bruno mengangkat pistol lagi, mengarah ke kepala King.
Saat itulah suara sirine polisi terdengar jauh. Bukan polisi pelabuhan yang dibeli Tuan Herman. Tapi sirine Carabinieri, polisi militer Italia yang tidak bisa di beli.
Bruno panik. "Polisi! Bagaimana polisi bisa tahu gudang ini?!" Ucap Bruno.
King tersenyum, gigi nya penuh darah. "Karena sebelum aku tabrak pintu, aku kirim lokasi gudang ini ke Lucas. Lucas kirim ke media. Wartawan Genoa sekarang sedang live di TikTok. Kalian viral, Bruno." Ucap King.
Di luar gudang, memang ada 3 mobil Carabinieri dan 2 mobil wartawan dengan kamera besar yang sedang siaran langsung.
Anak buah Tuan Herman yang tersisa lari kocar-kacir. Bruno mencoba lari juga, tapi King, dengan sisa tenaga nya, melempar linggis nya. Linggis itu berputar dan menghantam punggung Bruno, membuat nya jatuh tersungkur di genangan oli.
King berjalan pincang, mengambil kaleng bensin yang tadi disiapkan untuk membakar Marco, menyiramkan nya ke kaki Bruno.
"Jangan..." Bruno gemetar. "Jangan bakar aku..." Ucap nya lagi.
King mengambil korek api yang tergeletak di lantai. " 15 tahun lalu, kau ikut Herman buang aku ke laut?" Ucap King.
Bruno menggeleng cepat. "Bukan aku! Itu Herman! Herman yang pukul kau!" Sahut Bruno.
King membuang korek api itu jauh. Dia tidak membakar Bruno. Karena dia bukan Tuan Herman.
"Kau bukan urusan ku. Polisi yang akan urus kau," kata King, lalu dia memeluk Marco yang setengah sadar, menyeret nya keluar dari gudang menuju van putih.
Marco berbisik lemah, "Tuan Muda... King?"
"Shhh... Aku di sini, Paman Marco. Kau sudah jaga adik ku 15 tahun. Sekarang giliran ku jaga kau." Ucap King.
Di tempat lain. Rumah Paman Cito. Jam 02.30 dini hari.
Rumah Paman Cito adalah rumah batu tua di bukit Genoa, di kelilingi kebun anggur. Paman Cito adalah kakak dari Tuan Steven Alessandro, umur 68 tahun, paling di hormati di Dewan. Dia yang dulu menentang Tuan Herman masuk keluarga karena Tuan Herman bukan darah asli Alessandro, hanya adik ipar.
Queen, Lucas, dan Carla baru saja sampai. Paman Cito membukakan pintu dengan shotgun di tangan. Dia pikir ada maling.
"Siapa?!" teriak Paman Cito.
"Paman! Ini aku, Queen! Anak Alessandro!" Sahut Queen yang berlari di tengah hujan, baju masih kotor lumpur selokan.
Paman Cito menurunkan shotgun, mata nya berkaca-kaca. "Queen? Astaga... kau mirip sekali dengan Amanda... masuk, masuk!" Ucap Pakan Cito.
Di dalam rumah yang hangat, ada perapian menyala. Queen menunjukkan USB emas dan laptop.
"Paman, ini bukti paman Herman membunuh wartawan tahun 2019 dan selundupkan senjata pakai nama Mommy." Ucap Queen.
Paman Cito memasukkan USB emas itu ke laptop nya. Video mulai d iputar.
Video itu gelap, di ambil dari dalam mobil, diam-diam. Terlihat Tuan Herman di pelabuhan, malam hari, sedang berbicara dengan seorang pria muda berjaket pers dengan tulisan PRESS di belakangnya. Wartawan itu bernama Antonio Rossi.
"Antonio, kau sudah di bayar 20.000 euro untuk diam, kenapa kau masih tulis artikel soal yayasan?" kata Tuan Herman di video.
Wartawan itu menjawab, "Karena itu kebenaran! Kau pakai anak yatim untuk kirim senjata ke teroris!"
Tuan Herman tersenyum, lalu tanpa aba-aba, dia mengeluarkan pistol berperedam dan menembak kepala wartawan itu dua kali.
DOR
DOR.
Tubuh wartawan itu jatuh ke laut pelabuhan. Tuan Herman lalu membuang pistol nya juga ke laut. Video selesai.
Paman Cito gemetar. Bukan takut. Tapi marah yang sudah di tahan 20 tahun.
"Brengsek... Brengsek itu... Dia bunuh Antonio? Antonio itu... Anak baptis ku..." Paman Cuto menangis. Antonio Rossi adalah anak baptis nya yang dia anggap seperti anak sendiri.
Saat itulah lampu rumah Paman Cito mati. Listrik di putus dari luar. Pintu depan di dobrak.
Tuan Herman berdiri di depan pintu, dengan jas hitam basah kuyup, tidak bawa payung, di belakang nya 4 anak buah bersenjata. Di tangan nya, dia tidak bawa pistol. Dia bawa... Buku harian merah milik Queen. Buku harian yang Queen tinggalkan di vila.
"Selamat malam, Paman Cito. Malam yang buruk untuk reuni keluarga, ya?" kata tuan Herman, tersenyum manis seperti biasa. Senyum yang dulu membuat Queen berpikir tuan Herman adalah paman yang baik.
Queen berdiri melindungi Lucas dan Carla. " Herman! Kau... Kau sudah lihat video itu? Kau pembunuh!" Teriak Queen.
Tuan Herman tertawa. "Queen, sayang. Kau pikir video 2019 itu cukup? Paman Cito, kau pikir polisi akan percaya video yang di ambil dari mobil gelap tanpa wajah jelas? Itu bisa deepfake, seperti video Lucas kemarin." Ucap Tuan Herman.
Paman Cito mengangkat shotgun lagi. "Keluar dari rumah ku, Herman! Kau bukan keluarga!" Teriak Pakan Cito.
Tuan Herman tidak bergerak. Dia membuka buku harian merah Queen.
"Biar aku bacakan satu halaman buku harian Queen yang paling indah. Halaman 45. 'Hari ini Paman Herman memeluk ku dari belakang saat aku pakai handuk habis mandi. Aku tidak nyaman. Tapi Paman bilang itu kasih sayang paman. Aku takut bilang Mommy...'"
Queen membeku. Itu halaman yang tidak pernah dia tunjukkan ke siapa pun.
********
Happy Reading Guys. 🥰🤗