Astiana Larasati turun ke ibu kota dengan ilmu bela diri kuno, pengobatan ajaib, dan kemampuan mendengar niat jahat untuk mencari orang tua kandungnya. Berpandukan liontin yang bisa menyala hijau, Astiana menavigasi intrik para elit kota sambil mati-matian menekan kekuatannya demi mematuhi amanat kakek angkatnya untuk hidup rendah hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Raka langsung menoleh dan menatap Astiana dengan sorot mata yang kembali melembut.
"Ada yang bisa kubantu, Nona Astiana."
"Kalian bilang aku adalah penyelamat keluarga ini dan kalian berhutang padaku kan."
Astiana berdiri dari tepi ranjang dan berjalan mendekati Raka.
"Kakek, saya tidak butuh uang miliaran atau fasilitas mewah dari rumah ini."
Astiana menatap Pak Darma sebentar sebelum kembali mengunci pandangannya pada Raka.
"Tapi saya ingin menagih balas budi itu sekarang juga."
"Katakan saja, Nak Astiana, kakek akan mengabulkan apapun permintaanmu."
Pak Darma menjawab tanpa ragu sama sekali.
"Aku ingin kau menggunakan koneksimu untuk mencari sebuah mobil."
Astiana mengeluarkan secarik kertas buram dari sakunya yang berisi alamat mendiang kakeknya.
"Kemarin sore di depan Stasiun Gambir, ada sebuah sedan hitam mewah yang melintas."
"Kaca jendelanya terbuka dan aku melihat seorang wanita paruh baya berpenampilan elegan di kursi belakang."
Astiana menjelaskan ciri-ciri yang dia ingat dengan sangat detail.
"Aku tidak sempat melihat plat nomornya karena mobil itu melaju terlalu cepat."
"Tapi liontin peninggalan orang tuaku tiba-tiba menyala saat mobil itu lewat."
Raka mendengarkan penjelasan Astiana dengan sangat serius sambil mengangguk pelan.
"Jadi kau yakin wanita di dalam mobil itu ada hubungannya dengan orang tua kandungmu."
Raka memastikan kesimpulan dari cerita Astiana tersebut.
"Sangat yakin, itu adalah satu-satunya petunjuk yang aku miliki sejak tiba di kota ini."
Astiana memasukkan kembali kertas buram itu ke dalam sakunya.
"Aku ingin kau melacak semua kamera CCTV di sekitar Stasiun Gambir pada jam empat sore kemarin."
"Cari tahu plat nomor sedan hitam itu dan siapa pemilik mobil tersebut."
"Bisa kau lakukan itu untukku, Tuan Muda Raka."
Raka tersenyum tipis mendengar tantangan dari gadis di depannya ini.
Bagi keluarga Darma yang menguasai banyak bisnis di ibu kota, melacak sebuah mobil bukanlah hal yang sulit.
"Tentu saja bisa, Nona Astiana, itu adalah permintaan yang sangat mudah."
"Aku akan menghubungi kepala kepolisian lalu lintas yang menjadi kenalan kakek untuk meminta rekaman jalan raya."
Raka merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel barunya yang masih terbungkus plastik.
"Aku janji akan memberikan plat nomor dan nama pemilik mobil itu padamu sebelum matahari terbenam hari ini."
"Baguslah kalau begitu, aku mengandalkanmu."
Astiana menghela nafas lega karena beban pencariannya kini terasa jauh lebih ringan.
Punya sekutu orang kaya yang berkuasa di ibu kota memang memberikan keuntungan yang tidak main-main.
"Raka, kau urus pencarian dokter pengkhianat itu dan mobil titipan Nak Astiana sekaligus."
Pak Darma kembali memberikan instruksi dari atas ranjangnya.
"Dan pastikan kau menggunakan orang-orang paling terpercaya agar informasi ini tidak bocor keluar."
"Aku mengerti, Kakek, aku akan pergi mengurus semuanya sekarang juga."
Raka segera melangkah keluar dari kamar utama dengan langkah yang sangat cepat dan mantap.
Suara langkah kakinya bergema di sepanjang lorong menjauhi kamar tersebut.
Kini hanya tersisa Astiana dan Pak Darma di dalam ruangan yang luas itu.
"Nak Astiana, kakek perhatikan kalung yang kau pakai itu sejak kau menyelamatkan kakek di jalan."
Pak Darma menunjuk ke arah dada Astiana tempat liontin kristal itu disembunyikan di balik baju.
"Apakah kalung itu benar-benar bisa menyala sendiri."
Astiana sedikit ragu untuk menceritakan rahasia peninggalan kakeknya pada orang luar.
Namun karena Pak Darma sudah mempercayainya sepenuhnya, dia memutuskan untuk sedikit terbuka.
"Benar, Kek, ini adalah benda peninggalan satu-satunya yang menempel di tubuhku saat kakek angkatku menemukanku."
Astiana menarik ujung liontin itu keluar dari kerah kemejanya agar Pak Darma bisa melihatnya.
Batu kristal bening itu terlihat biasa saja dan tidak memancarkan cahaya apapun saat ini.
"Kakek angkatku bilang batu ini memiliki ikatan darah dengan orang tua kandungku."
"Saat aku berada di dekat mereka atau benda yang sering mereka sentuh, batu ini akan bereaksi dan menyala hijau."
Pak Darma memicingkan matanya menatap lekat-lekat batu kristal bening tersebut.
Ekspresi wajah pria tua itu tiba-tiba berubah menjadi sangat tegang dan serius.
"Bentuk ukiran di pinggiran batu kristal itu."
Pak Darma bergumam pelan dengan suara yang sedikit bergetar.
"Itu sangat mirip dengan lambang keluarga dari salah satu klan tertua di ibu kota ini."
Deg.
Jantung Astiana tiba-tiba berdetak sangat kencang mendengar informasi mengejutkan tersebut.
"Kakek tahu lambang apa ini."
Astiana melangkah maju dengan wajah yang tidak bisa lagi menyembunyikan rasa antusiasnya.
"Kakek tidak terlalu yakin karena lambang itu sudah sangat jarang terlihat di publik selama puluhan tahun."
Pak Darma memijat pelipisnya mencoba menggali ingatannya yang sudah mulai memudar.
"Tapi jika kakek tidak salah ingat, itu mirip dengan lambang Keluarga Adibrata."
"Keluarga Adibrata."
Astiana mengulang nama itu perlahan untuk menanamkannya dalam ingatannya.
"Siapa mereka, Kek, apakah mereka orang kaya sepertimu."
Pak Darma tertawa hambar mendengar pertanyaan polos dari Astiana.
"Orang kaya sepertiku tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Keluarga Adibrata, Nak."
"Mereka bukan sekadar pengusaha kaya, mereka adalah klan yang menguasai bayangan kota ini."
"Kekayaan, politik, keamanan, bahkan dunia bawah tanah, semua berada di bawah kendali mereka secara rahasia."
Astiana terdiam kaku mendengar penjelasan betapa mengerikannya latar belakang keluarga tersebut.
"Jika orang tua kandungmu benar-benar berasal dari Keluarga Adibrata, maka pencarianmu akan sangat berbahaya."
Pak Darma menatap mata Astiana dengan sorot penuh kekhawatiran layaknya seorang kakek pada cucunya sendiri.
"Mereka tidak suka orang luar ikut campur dalam urusan darah daging mereka."
"Aku tidak peduli seberapa berkuasanya mereka, Kek."
Astiana membalas tatapan itu dengan tekad yang bulat dan tidak tergoyahkan.
"Aku hanya ingin tahu kenapa mereka membuangku sembilan belas tahun yang lalu."
Tangannya mencengkeram erat liontin kristal dingin itu hingga jari-jarinya memutih.
Kepingan teka-teki masa lalunya akhirnya mulai menemukan titik terang yang pertama.
selamat untuk memperbaiki semua kerusakannya pak manajer 🤣🤣