**Isteri Sah di Balik Bayangan**
Sepuluh tahun menikah, Aina, PNS di Kantor Camat Pujut, Lombok Tengah, akhirnya hamil. Ia berniat memberi kejutan pada suaminya, Lalu Raka. Namun di dekat Pantai Kuta Mandalika, ia justru melihat Raka menggendong seorang bocah yang memanggilnya "Bapak", ditemani wanita bernama Baiq Sekar.
Hari itu juga, dari data kependudukan yang setiap hari ia urus, Aina menemukan kebenaran paling pahit: Sekar adalah istri pertama. Selama ini, dialah istri kedua yang hidup di balik bayangan.
Bertahan dalam kebohongan, atau pergi membawa buah hati yang telah lama ia nantikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon christinsenia seranica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang Ke Praya
Aina tidak tahu berapa lama ia duduk mematung setelah sedan hitam itu pergi. Amplop cokelat masih tergeletak di meja, Amplop yang terlihat tebal itu diletakkan tepat di samping kotak kue yang krimnya sudah mengering.
"Raka sudah setuju".
Tiga kata itu berputar-putar di kepalanya. Ia mencoba mengingat wajah Raka kemarin, saat lelaki itu berlutut menggenggam alat tes kehamilan dan menangis menyebut anak kita. Apakah air mata itu juga sandiwara? Apakah malam itu juga Raka sudah tahu bahwa ibunya akan datang membawa amplop dan tawaran?
Aina meraih ponselnya, Jarinya sudah berada di atas nama Raka. Ia ingin bertanya, ingin berteriak, ingin mendengar lelaki itu menyangkal.
Tetapi ia menahan diri. Ia sudah cukup mendengar kebohongan.
Ia memasukkan amplop itu ke dalam tas tanpa membukanya. Bukan untuk diterima. Untuk bukti, seperti kata Rini. Lalu ia mengunci pintu rumah, menyalakan motor, dan berangkat ke Praya.
Rumah orang tuanya berdiri di pinggir sawah di sebuah dusun kecil di Praya Barat. Rumah sederhana berdinding bata yang belum semuanya diplester, dengan berugak bambu di halaman depan tempat ayahnya biasa duduk membaca koran setiap pagi.
Ibunya sudah menunggu di depan pagar. Perempuan tua itu mengenakan kerudung lusuh warna cokelat dan sarung tenun yang sudah pudar. Begitu melihat Aina turun dari motor, ia langsung membuka kedua tangannya.
Aina berlari dan jatuh ke pelukan itu.
Ia menangis seperti anak kecil. Tangis yang selama dua hari ia tahan di depan Raka, di depan Sekar, di depan ibu mertuanya, akhirnya pecah di bahu perempuan yang melahirkannya.
"Sudah, Nak. Sudah," bisik Ibu-nya sambil mengusap punggungnya. "Apa pun itu, kamu sudah pulang."
Dari berugak, ayahnya bangkit perlahan. Amaq Saleh, Sebutan sehari-hari bagi ayah Aina, Beliau adalah seorang pensiunan guru SD yang dulu dikenal paling galak di dusun itu, kini sudah beruban dan berjalan sedikit membungkuk. Ia tidak berkata apa-apa, hanya menatap putrinya dengan cemas.
Siang itu, di berugak rumah orang tua Aina terlihat hidangan masakan khas Sasak pelecing kangkung dan nasi hangat. Aina yang sangat suka pada pelecing kangkung pada hari itu tidak melirik. makanan tersebut saat itu, Aina Lebih memilih menceritakan segala masalahnya pada sang Ibu.
Ia menceritakan dua garis merah di kamar mandi, warung bambu di Kuta, data di layar komputer, Sekar di loket, Raka yang berlutut, dan Lale Rukmini dengan amplop cokelatnya. Ia menceritakan semuanya dengan suara datar, seolah sedang membacakan laporan, karena hanya dengan cara itu ia bisa menyelesaikannya tanpa runtuh.
Ketika ia selesai, berugak itu tampak sunyi. Hanya terdengar suara kodok di sawah dan desir angin di daun kelapa.
Mendengar cerita Aina itu, Ibunya memilih menutup mulut dengan ujung kerudung, Lalu menangis tanpa suara.
Berbeda dengan sang Ibu, Amaq Saleh tampak berdiri. Raut wajahnya merah padam, Tangannya yang keriput mengepal.
"Biadab," desisnya. "Sepuluh tahun mereka mempermainkan anakku. Sepuluh tahun!"
"Amaq…" Begitu Sebutan Aina pada sang ayah
"Amaq akan ke Kuta sekarang juga. Biar Amaq bicara langsung dengan keluarga menak itu. Mereka pikir karena kita orang biasa, kita bisa diperlakukan seperti ini?"
"Saleh, duduk dulu," tegur Ibu dengan suara bergetar. "Kamu mau bikin ribut di kampung orang? Pikirkan Aina. Pikirkan kandungannya."
Amaq Saleh berdiri lama dengan napas memburu. Lalu perlahan ia duduk kembali, menunduk, dan menutup wajahnya dengan kedua tangan. Bahunya terguncang.
Aina belum pernah melihat ayahnya menangis. Tidak ketika neneknya meninggal. Tidak ketika banjir merendam sawah mereka bertahun-tahun lalu. Tetapi hari ini, lelaki keras itu menangis untuk putrinya.
"Maafkan Amaq, Nak," ucapnya serak. "Dulu Amaq yang paling senang waktu Raka melamarmu. Amaq bangga anak Amaq dilamar keturunan menak. Amaq tidak bertanya macam-macam. Amaq tidak memeriksa apa-apa."
Aina meraih tangan ayahnya. "Bukan salah Amaq. Tidak ada yang tahu."
"Ibu-nya tahu," sahut Amaq Saleh getir. "Dia duduk di sini, di berugak ini, waktu acara akad, minum kopi buatan ibumu sambil tersenyum."
Menjelang sore hari, kakak sulung Aina datang dari Mataram. Hamdan bekerja sebagai paralegal di sebuah lembaga bantuan hukum. Ibu yang meneleponnya diam-diam setelah makan siang.
Hamdan mendengarkan cerita Aina dengan wajah serius. Sesekali ia mencatat di buku kecilnya. Ketika Aina mengeluarkan buku nikah, fotokopi kartu keluarga palsu, dan amplop cokelat dari tasnya, Hamdan memeriksa semuanya satu per satu.
"Kamu belum buka amplop ini?"
Aina menggeleng.
"Bagus. Jangan dibuka, jangan dipakai. Simpan saja seperti ini." Hamdan meletakkannya di samping buku nikah. "Dengar, Dik. Aku bukan pengacara, tapi aku sudah sering menangani kasus seperti ini. Kamu bukan pelaku di sini. Kamu korban."
"Tapi aku PNS, Kak. Aturannya…"
"Aturan itu untuk PNS yang dengan sadar mau jadi istri kedua. Kamu ditipu, Raka memalsukan status perkawinannya waktu menikahimu. Itu bisa dibuktikan, karena data pernikahannya dengan Sekar tercatat lebih dulu." Hamdan mengetuk buku nikah itu dengan jarinya. "Pemalsuan seperti itu bisa dilaporkan ke polisi. Pernikahanmu bisa diajukan pembatalannya ke Pengadilan Agama, dengan alasan kamu ditipu."
Kata pembatalan terasa asing dan dingin di telinga Aina. Sepuluh tahun hidupnya, dibatalkan begitu saja di atas selembar putusan.
"Yang paling penting," lanjut Hamdan, "kamu harus melapor lebih dulu ke atasanmu, sebelum orang lain yang melaporkanmu. Jelaskan bahwa kamu baru tahu, sertakan buktinya. Itu akan sangat melindungimu."
Aina mengangguk pelan. Ia tidak pernah membayangkan hidupnya akan sampai di titik ini. Bicara tentang laporan polisi, pengadilan, dan sanksi kepegawaian, padahal tiga hari lalu ia hanya ingin memberi kejutan pada suaminya.
"Anakmu," kata Hamdan, kali ini lebih lembut. "Tidak ada satu pun aturan yang bisa memaksamu menyerahkan anakmu, Dik. Tidak keluarga menak, tidak siapa pun. Anak itu milikmu."
Aina menyentuh perutnya. Untuk pertama kalinya sejak Lale Rukmini pergi, ia merasa ada pijakan di bawah kakinya.
Malam itu Aina tidur di kamar masa kecilnya. Kasur kapuk yang sama, lemari kayu yang sama, poster pemandangan Gunung Rinjani yang sudah menguning di dinding. Ibu-nya menyelimutinya seperti dulu, ketika ia masih kecil dan demam.
"Kamu mau bagaimana, Nak?" tanya ibunya pelan, duduk di tepi kasur.
Aina menatap langit-langit lama sebelum menjawab.
"Aku tidak akan menyerahkan anak ini, Ibu Apa pun yang terjadi."
Inaq-nya tersenyum, matanya berkaca-kaca. "Itu baru anak Inaq."
Perempuan tua itu mematikan lampu dan keluar dari kamar. Aina berbaring dalam gelap, mendengarkan suara jangkrik dan deru angin di sawah. Untuk pertama kalinya dalam tiga hari, napasnya terasa sedikit lebih lega.
Lalu ponselnya bergetar di samping bantal.
Aina mengira itu Raka lagi. Sejak pagi, lelaki itu sudah menelepon lebih dari dua puluh kali dan mengirim belasan pesan yang tidak satu pun ia baca.
Tetapi nomor yang muncul di layar tidak dikenal.
Ia membuka pesan itu dengan ragu.
"Assalamualaikum, Ibu Aina. Maaf mengganggu malam-malam. Saya mendapat nomor Ibu dari kantor camat".
Pesan kedua menyusul beberapa detik kemudian.
"Ini Sekar. Istri Lalu Raka".
Aina terduduk. Jantungnya berdegup kencang. Ia menatap layar, menunggu, dengan napas tertahan.
Pesan ketiga muncul.
"Saya perlu bicara dengan Ibu. Berdua saja. Saya rasa kita berdua sudah terlalu lama dibohongi".