NovelToon NovelToon
Lukisan Dari Tahun Yang Belum Lahir

Lukisan Dari Tahun Yang Belum Lahir

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri
Popularitas:308
Nilai: 5
Nama Author: Diva Devira

SINOPSIS
.
.
.
.
.

Delapan tahun setelah dikirim ke Selatan, Shen Ruyin akhirnya kembali ke Chang’an.

Keluarganya mengatakan ia pergi karena sakit. Namun sejak kepulangannya, Ruyin mulai menemukan hal-hal yang tidak sesuai dengan ingatannya.

Orang-orang di Chang’an mengingat masa kecilnya dengan cara yang berbeda. Ibunya terlalu berhati-hati saat membicarakan masa lalu, sementara kakaknya mengetahui hal-hal yang seharusnya tidak ia ketahui.

Lalu Ruyin menemukan sebuah lukisan tua.

Wajah perempuan di dalamnya sama persis dengannya—padahal lukisan itu dibuat bertahun-tahun sebelum ia lahir.

Jika semua orang menyimpan rahasia tentang dirinya, lalu siapa sebenarnya Shen Ruyin?

Dan apa yang terjadi pada malam ketika ingatannya mulai hilang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diva Devira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: TIRAI YANG DIBUKA PERLAHAN

Kereta keluarga Shen berangkat ketika kabut pagi masih menggantung rendah di atas atap-atap Distrik Timur.

Ruyin duduk di sisi jendela dengan kedua tangan terlipat di pangkuan, jubah abu kehijauannya jatuh rapi di lutut. Tusuk konde giok putih terpasang lebih rendah dari biasanya, dan untuk pertama kali sejak mengenakannya ia tidak merasakan tarikan di kulit kepala. Di seberangnya, Tuan Shen duduk tegak dengan mata terpejam, seorang lelaki bertubuh kurus dengan garis rahang keras dan alis yang jarang bergerak. Ia sudah menyapa Ruyin dengan tiga kalimat pendek sejak fajar, dan Ruyin menyimpan ketiganya seperti benda langka. Nyonya Lin duduk di sebelah suaminya. Yucheng berkuda di samping kereta, dan Bibi Qin duduk di bangku kecil dekat pintu.

Papan kayu kecil bertuliskan nama Kediaman Pangeran Ning tergantung di sisi kereta, berayun mengikuti roda. Empat orang, sesuai catatan. Ruyin tidak menyinggungnya. Ia hanya memandang kota yang perlahan terbangun, para pedagang menurunkan papan dagangan, asap dapur naik lurus dalam udara dingin, dan seorang penjual susu kedelai menggoyangkan bahunya agar embernya tidak tumpah.

———

Kediaman Pangeran Ning memang kecil. Gerbangnya putih, tanpa singa batu dan tanpa tiang bercat merah. Tetapi di balik dinding itu, halamannya tertata sedemikian rupa hingga setiap batu tampak diletakkan setelah dipertimbangkan sepanjang musim. Sebatang pinus tua berdiri di tengah, batangnya membungkuk seperti orang yang sudah lama mendengarkan, dan para pelayan bergerak di bawahnya tanpa suara, berjubah hijau tua, berambut rapi, wajah tanpa ekspresi yang bisa dibaca.

Seorang pelayan menyambut mereka sebelum kereta berhenti, lalu menuntun tanpa bertanya nama. Ruyin memperhatikan bahwa pelayan itu langsung membawa mereka ke sisi timur paviliun, ke barisan kedua, ke bantalan-bantalan yang sudah ditata menghadap tirai tengah. Tidak ada yang bertanya mereka duduk di mana. Di barisan ketiga, bantalan untuk keluarga Ji dan Cheng sudah terisi separuh.

Ia duduk, menata lengan bajunya, dan tidak mengatakan apa pun.

———

Pangeran Ning sudah berada di paviliun ketika mereka masuk, duduk di bantalan paling ujung dengan secawan teh yang tak ia sentuh. Rambutnya putih seluruhnya, bahunya sedikit bungkuk, dan matanya bergerak lambat mengikuti siapa pun yang lewat, seperti seorang lelaki yang sudah terlalu sering melihat orang datang dan pergi untuk repot menilai mereka. Ia mengangguk kecil kepada Tuan Shen. Itu saja.

Nyonya Wen yang menyambut mereka. Perempuan itu berusia pertengahan empat puluhan, berjubah biru kelabu, rambut disanggul tanpa satu helai pun terlepas. Senyumnya sopan dan tepat, seperti ukuran yang sudah dihitung. Ia memberi salam kepada Nyonya Lin lebih dulu, lalu kepada Yucheng, lalu menoleh kepada Ruyin.

"Nona Kedua Shen. Kudengar kau baru kembali dari Selatan."

"Benar, Nyonya."

"Udara Selatan baik untuk orang yang suka membaca. Tidak terlalu ramai." Matanya singgah pada tangan Ruyin sebentar, kemudian kembali ke wajahnya. "Aku harap jamuan kecil ini tidak terlalu melelahkan."

"Aku senang diundang."

Nyonya Wen tersenyum sedikit lebih lebar, dan hanya itu. Ia berlalu menyambut keluarga lain. Ruyin mengingat nasihat ibunya dan tidak menambahkan apa pun, dan sebuah pikiran kecil muncul: perempuan itu tahu ia suka membaca, atau hanya menebak karena semua gadis dari keluarga pejabat memang diajari membaca.

———

Jamuan sastra itu berjalan tanpa gembar-gembor. Meja-meja rendah ditata berderet, masing-masing dengan kertas, batu tinta, dan kuas. Pelayan menuang teh daun musim gugur yang beraroma kayu manis. Para tamu membaca sajak bergantian, sebagian menulis, sebagian hanya mengangguk dan memuji. Ruyin duduk dan mengamati lebih banyak daripada berbicara. Ia melihat siapa yang duduk terlalu dekat dengan tirai tengah, siapa yang tidak pernah menatap Pangeran Ning langsung, dan siapa yang tertawa sedikit lebih lambat daripada yang lain.

Seorang gadis duduk di barisan ketiga dengan jubah putih gading, rambutnya hanya dihias satu tusuk konde perak. Ia memegang kuas dengan ketenangan orang yang tidak perlu memamerkannya. Ketika pandangan mereka bertemu, gadis itu mengangguk kecil, dan Ruyin membalasnya.

Tak lama kemudian gadis itu mendekat dengan langkah yang tidak tergesa. "Aku Ji Mingxuan. Kau pasti Nona Shen."

"Ruyin."

"Sajak yang tadi dibaca di ujung sana, bagaimana menurutmu?"

Ruyin menimbang. "Rima yang bagus. Tetapi penulisnya terlalu menyukai kata *embun*."

Sudut bibir Mingxuan bergerak sedikit. "Sudah tiga kali dalam delapan baris. Aku kira hanya aku yang menghitung."

"Mungkin kita berdua terlalu banyak menghitung."

"Mungkin." Ia menunduk sebentar. "Kau tidak banyak bicara."

"Aku lebih suka mendengarkan dulu."

"Itu kebiasaan yang mahal di rumah seperti ini." Ji Mingxuan berkata datar, tanpa nada menyindir. "Tetapi berguna." Ia kembali ke tempatnya setelah memberi hormat singkat.

———

Perubahan itu datang seperti angin yang menyentuh permukaan kolam.

Seseorang di pintu paviliun menyebut sesuatu dengan suara rendah. Percakapan mereda satu per satu. Bantalan digeser, punggung ditegakkan, dan Nyonya Wen sudah berdiri dengan wajah yang sama tenangnya seperti sebelumnya, hanya bahunya sedikit lebih lurus.

Seorang pemuda masuk bersama dua pengawal yang berhenti di ambang pintu.

Ia mengenakan jubah biru malam tanpa sulaman mencolok, sabuk hitam, dan tidak ada hiasan selain cincin giok sederhana di ibu jari kiri. Wajahnya tenang, tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua untuk seseorang yang diperlakukan seperti ini. Ia memberi hormat singkat kepada Pangeran Ning, dan lelaki tua itu mengangguk lebih dalam dari yang ia berikan kepada siapa pun hari ini.

"Putra Mahkota," bisik seseorang di barisan belakang.

Ruyin tidak menoleh langsung. Ia hanya melihat dari sudut mata bagaimana ruangan menyesuaikan diri: suara menurun, tawa menghilang, dan para tamu memberi jalan tanpa perlu diminta. Xiao Jingyuan berjalan perlahan menuju bantalan di dekat Pangeran Ning, mengucapkan beberapa kalimat sopan, dan duduk. Wajahnya tidak menunjukkan apa pun yang bisa dipegang.

Di sudut ruangan, Bibi Qin sedang menuang teh untuk Nyonya Lin. Tangannya berhenti. Teh dalam cawan sudah penuh, dan ia baru menyadarinya ketika uap naik dari tepi.

———

Beberapa saat kemudian, Nyonya Wen membawa Tuan Shen dan keluarganya untuk memberi hormat. Putra Mahkota menerima mereka dengan anggukan sopan dan menyebut Tuan Shen dengan gelar jabatannya. Ia menanyakan kabar Nyonya Lin dengan satu kalimat yang bukan basa-basi. Kepada Yucheng ia berkata sesuatu tentang akademi di lereng gunung, dan Yucheng menjawab dengan tenang yang dilatih.

Lalu pandangannya bergeser kepada Ruyin, dan berhenti sedikit lebih lama dari yang diperlukan.

"Nona Kedua Shen," katanya. Suaranya rendah dan datar, tanpa penekanan. "Aku senang kau sudah pulih dari perjalanan."

"Terima kasih, Yang Mulia. Selatan baik, dan jalan pulang tidak terlalu buruk."

"Lima belas hari, kudengar."

Ruyin tidak mengatakan kepada siapa pun berapa hari perjalanannya. Bibi Qin tahu. Tabib tua tahu. Mungkin pengurus rumah. Ia tidak mengangkat alis, tidak berhenti, dan hanya mengangguk.

"Benar."

"Jalur lewat Hanshui lebih tenang daripada lewat Yingchuan." Xiao Jingyuan mengatakannya seperti mengomentari cuaca, matanya tidak beranjak dari wajahnya. "Orang yang sudah melewati keduanya biasanya lebih menyukai yang pertama."

Ruyin merasakan sesuatu mengencang di tengkuknya, sangat halus. Yingchuan. Catatan perjalanan di kotak kecilnya hanya mencantumkan Hanshui. Kota pertama dari perjalanan delapan tahun lalu, yang tidak ada dalam urutan kali ini, adalah Yingchuan.

"Aku tidak ingat melewati Yingchuan, Yang Mulia," katanya, nadanya setenang yang ia bisa.

"Tentu." Xiao Jingyuan mengangguk, tanpa penjelasan dan tanpa senyum. "Aku mungkin keliru menyebut nama."

Hanya itu. Ia memberi hormat singkat kepada keluarga Shen dan kembali ke tempatnya. Nyonya Lin berdiri sedikit terlalu diam, Tuan Shen tidak mengangkat pandangan, dan Yucheng, yang berdiri setengah langkah di belakang Ruyin, tidak batuk.

Ruyin kembali ke bantalannya dan mengangkat kuas, lalu menaruhnya lagi. Di seberang paviliun, Putra Mahkota sedang mendengarkan Pangeran Ning dengan kepala sedikit miring, seperti orang yang tidak sedang memperhatikan siapa pun.

Seseorang telah menyebut sebuah kota yang tidak pernah ia ceritakan, dan tak ada yang tampak terkejut kecuali dirinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!