NovelToon NovelToon
BENANG SUTRA DI JEMARI LOGAM

BENANG SUTRA DI JEMARI LOGAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:655
Nilai: 5
Nama Author: Imron Tohari

Maya Kirana, perancang busana berjiwa halus, berselisih dengan Rendra, konsultan teknis yang dingin dan kaku di ajang Indonesian Fashion Week. Sentuhan tak sengaja pada relief candi kuno melempar kesadaran mereka ke masa lalu, mengungkap takdir reinkarnasi sebagai sepasang kekasih kerajaan, Raden Jayendra dan Putri Kirana.

Saat persaingan memanas, studio Maya disabotase dan lisensinya dibekukan akibat fitnah plagiarisme dari rival mereka, Victor dan Clarissa. Di tengah krisis, Maya dan Rendra bersatu memadukan kelembutan sutra dengan kriya logam presisi. Didukung Rian, kakak Maya, mereka menggelar uji materi terbuka untuk membersihkan nama baik.

Jelang panggung Grand Final, Rendra mengorbankan material karya rahasianya dan mengundurkan diri sebagai desainer misterius berinisial REN demi menyelamatkan gaun Maya sekaligus menjebak Victor ke jalur hukum. Mahakarya kolaborasi sutra dan logam tersebut akhirnya meraih Juara Utama IFW, menyatukan kembali cinta serta takdir masa lalu Maya dan Rendra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imron Tohari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BENANG SUTRA DI JEMARI LOGAM BAB 26

BAB 26

Layar ponsel maya perlahan redup. Pesan singkat dari Rendra menjadi penunjuk arah di tengah kekacauan yang sengaja diciptakan oleh Victor malam ini.

"Nia, matikan semua telepon kantor dan kunci pintu dari dalam," perintah Maya tegas, suaranya berusaha keras untuk tetap tenang di tengah kepanikan yang memenuhi ruangan. "Siapkan seluruh dokumen asli pendaftaran sketsa kita di lemari besi."

"Maya mau ke mana?! Pintu depan dikepung wartawan!" berkata Nia sambil menoleh cemas dalam temaram pendar lampu kilat kamera di luar jendela.

"Aku harus keluar lewat pintu belakang sekarang," bisik Maya mantap seraya merapatkan mantel dan meraih kunci mobilnya. "Abaikan semua gedoran pers. Biarkan Dito mengurus draf sanggahan, sementara aku pulang sebentar untuk mengambil salinan dokumen riset lama, setelah itu aku harus langsung ke bengkel Rendra. Kita harus memastikan seluruh bukti autentik pembuatan karya Rendra terkunci rapat sebelum tim investigasi panitia datang!"

Mobil Maya meluncur membelah kegelapan kota, memasuki pelataran berlantai granit sebuah rumah bergaya modern di kawasan hunian elit. Pagar besi tempa otomatis terbuka anggun, menyambut kepulangannya. Rumah itu berdiri megah, dikelilingi kebun rimbun yang tertata rapi—jauh berseberangan dengan atmosfer kusam, debu, dan asap belerang di industri utara.

Maya mematikan mesin mobil, menyandarkan kepalanya sejenak di lingkar kemudi. Tubuhnya lelah luar biasa, jemarinya pegal, dan aroma minyak tempa Rendra masih samar-samar menempel di helai rambutnya.

Saat ia melangkah masuk menembus pintu kayu jati yang kokoh, aroma harum masakan rumah—sup iga hangat dan rempah tumisan—langsung menyergap indranya.

"Anak gadis Mama baru pulang jam segini?" Sebuah suara lembut namun penuh kewibawaan menyapa. Ibunya, wanita paruh baya yang tetap tampil elegan dengan tatanan rambut bersahaja, melangkah keluar dari arah dapur bersih, membawa seangkring cangkir teh chamomile hangat.

"Mama, belum tidur?" bisik Maya, melepaskan sepatu hak tingginya dan menggantinya dengan sandal rumah. Ia langsung memeluk ibunya dari samping, menyandarkan kepala di bahu sang ibu—mencari perlindungan sejenak dari badai di luar sana.

"Gimana mau tidur kalau anak kedua Mama ini belum kelihatan hidungnya?" Mamanya menepuk-nepuk lembut lengan Maya. "Kakakmu dari tadi sore menunggu di ruang tengah. Katanya ada hal penting yang mau dibicarakan."

Belum sempat Maya menjawab, suara langkah kaki mantap terdengar dari tangga lantai dua. Seorang pria muda berpakaian kemeja linen kasual turun dengan gaya santai namun memancarkan karisma yang kuat. Rian, kakak kandung Maya satu-satunya. Di usianya yang baru berkepala tiga, Rian telah memimpin salah satu konglomerasi bisnis properti dan teknologi paling berkembang di kota itu. Namun di mata Rian, seluruh pencapaian bisnisnya tidak ada apa-apa dibanding keselamatan dan kebahagiaan adik perempuan semata wayang ini.

"Akhirnya datang juga sang maestro," goda Rian sambil tersenyum hangat, melangkah mendekat dan langsung merangkul pundak Maya dengan gemas.

"Ih, Kak Rian! Lepas, ah... Maya capek tahu," protes Maya, meski sudut bibirnya tak sanggup menahan senyum.

"Capek atau lagi pusing gara-gara tingkah si Victor itu?" raut wajah Rian mendadak berubah serius. Ia menuntun Maya untuk duduk di sofa empuk ruang keluarga. Ibunya meletakkan cangkir teh hangat di depan Maya, lalu duduk di samping Rian.

"Dito sudah kasih tahu ke aku tadi sore soal ancaman pembekuan lisensi dari tim hukum Victor," lanjut Rian. "Kenapa kamu enggak pernah cerita kalau studio kamu dalam tekanan sebesar ini, Maya? Kamu punya Kakak, kamu punya Papa dan Mama. Tiga miliar rupiah yang diminta Victor itu cuma angka kecil kalau kamu mau Kakak ambil alih legalitasnya besok pagi. Kakak bisa ratakan bisnis Victor dalam hitungan hari."

Maya menatap kakaknya dengan mata berbinar oleh rasa haru. Namun, Maya menggeleng pelan sambil tersenum mantap. Ia meraih cangkir tehnya, menyesap uap hangatnya perlahan.

"Kalau Kak Rian yang turun tangan pakai kekuatan bisnis Kakak, lalu apa bedanya Maya sama Clarissa?" jawab Maya lembut namun bernada tegas. "Clarissa berdiri di panggung karena sokongan dana Victor dan segala cara liciknya. Sedangkan aku mau berdiri di panggung itu karena murni keaslian karyaku sendiri, Kak Rian."

Rian mendesah pelan, menatap adiknya dengan kekaguman yang tersembunyi. "Kamu itu sifat keras kepalanya persis Papa. Selalu mau merintis dari bawah tanpa mau pakai nama besar keluarga."

"Tapi Mama bangga sama kamu, Sayang," sela Mamanya lembut, mengusap pipi Maya. "Punya banyak uang itu mudah, tapi menjaga kejujuran dan kehormatan karya di tengah orang-orang curang... itu yang mahal. Tapi ingat pesan Mama, jangan menyiksa diri sendiri."

"Maya enggak menyiksa diri, Ma," bisik Maya, pikirannya mendadak melayang pada sosok Rendra yang fokus di depan tungku pembakaran. "Maya... Maya menemukan orang yang tepat untuk bantu Maya menempa gaun ini."

Rian menyipitkan matanya, menatap adiknya dengan kernyitan heran. "Orang yang tepat?" ulang Rian. "Pengrajin logam yang sering membantai sketsamu di majalah itu? Memangnya dia punya kemampuan sebesar apa sampai adikku yang biasanya skeptis ini bisa meyakininya begitu rupa?"

Wajah Maya merona tipis, cepat-cepat mengalihkan pandangan ke cangkir tehnya. "Dia... dia tidak seburuk yang diberitakan media, Kak. Dia punya integritas yang luar biasa. Dia bahkan berani menolak uang tiga miliar Victor cuma demi menjaga prinsip karyanya. Teknik tempaannya pun... presisi sekali."

Rian tersenyum simpul, bersandar ke punggung sofa. "Jarang-jarang ada pria yang bisa bikin adikku yang idealis ini membela orang lain sampai seperti ini. Tapi ingat ya, Maya... Kakak memang belum pernah ketemu langsung sama si Rendra ini. Tapi kalau sampai dia berani bikin kamu menangis atau terluka, Kakak tidak akan segan-segan membeli seluruh kawasan industri utara itu cuma buat menutup bengkel besinya."

Namun, tepat saat Maya hendak tertawa, ponsel Rian di atas meja berdering keras menampilkan nama kepala tim keamanan sibernetik perusahaannya dengan sinyal darurat.

Rian menggeser layar ponsel dan menempelkannya ke telinga. Seketika itu juga, raut wajah santainya surut total, berganti menjadi ketegangan yang dingin.

"Ada apa, Purbaya?" tanya Rian singkat.

"Pak Rian, maaf mengganggu malam-malam," suara kepala tim sibernetik terdengar panik dari balik speaker. "Ada aktivitas lalu lintas data ilegal yang sangat masif di server luar. Seseorang baru saja meretas peladen kurasi kompetisi mode nasional dan mencoba menghapus seluruh jejak riwayat pendaftaran paten digital milik Studio Nilakandi!"

Maya tersentak berdiri dari sofanya, cangkir teh di tangannya bergetar pelan.

"Bukan hanya itu, Pak," lanjut Pubaya dari balik telepon, suaranya kian tegang. "Kami melacak jejak IP peretas tersebut. Serangan ini menggunakan server bayangan yang terhubung langsung dengan anak perusahaan jaringan bisnis Victor Group!"

Rian mengepalkan tangannya kuat-kuat, matanya menyala tajam oleh kemarahan. Ia melirik adiknya yang berdiri kaku dengan wajah pucat. Victor tidak sekadar menyerang reputasi Maya di media, melainkan bergerak di balik layar untuk memusnahkan bukti kepemilikan karya Maya secara permanen sebelum sesi verifikasi fisik esok hari!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!