NovelToon NovelToon
Saniya, Ibu Tiri Luar Biasa

Saniya, Ibu Tiri Luar Biasa

Status: tamat
Genre:Ibu Tiri / Orang Disabilitas / Perjodohan / Tamat
Popularitas:1.4M
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

Saniya Syamira, tak memiliki pilihan lain selain menerima perjodohan amanah dari almarhum kakeknya.

Terlebih sang ibu mengkhawatirkan dirinya jadi perawan tua dikarenakan memiliki kekurangan. Saniya penyandang disabilitas fisik, kaki kanannya diamputasi sedari dia berumur 8 tahun.

Mampukah Saniya menjalani biduk rumah tangga bersama pria berstatus duda yang pernah gagal menikah sampai dua kali dengan wanita sama yakni, cinta pertamanya?

Lantas, bagaimana dengan sepasang anak tirinya, bisakah mereka menerima wanita lain selain ibu kandung?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Merasa ditinggalkan : 20

“Jangan! Siapa kamu ngatur-ngatur papiku?!” Tatiana menegang, suaranya terdengar menusuk, sorot mata tak sedang ingin diajak kompromi.

“Tatiana, dimana sopan santunmu!” tegur Yarash.

Ardan turun dari pangkuan, lalu berlari ke pengasuh yang duduk di ruang bermain bersebelahan dengan ruang santai.

“Seenaknya saja dia mau mengatur, Pi! Aku gak mau kalau rumah ini dipasang cctv, mengekang itu namanya!” elak gadis bersurai panjang yang dibiarkan tergerai.

“Memangnya kamu mau berbuat apa sampai merasa dikekang?” pertanyaan Yarash membungkam mulut Tatiana yang hendak bersuara.

“Ya gak ngapa-ngapain. Risih, Pi. Ngerasa seperti diintai, masa dirumah sendiri pun diperhatikan sudah mirip pencuri saja. Ngerti gak sih?” intonasinya naik satu oktaf.

“Gak semua hal yang kamu anggap mengekang itu sesuatu buruk maupun mengerikan. Semua tergantung cara pandang kamu, Tatiana,” Saniya berkata lembut.

“Diam kamu! Aku gak lagi ngomong —”

“Tatiana Wilman!” Yarash sampai berdiri, suaranya merendah. Ia tatap kecewa putri kesayangannya. “Apa yang membuatmu berubah sejauh ini, Nak? Dulu dirimu pribadi penyayang, sama Ardan sangat perhatian, berbicara dengan orang lebih tua pun gak meledak-ledak, tapi semenjak masuk SMP, perangaimu mirip anak gak diajari adab.”

Tatiana termangu, duduknya gelisah, jemari tangan saling meremas diatas pangkuan. “Itu karena Papi nikah lagi, mana modelan kayak dia lagi yang dijadikan istri.”

“Maksudmu apa?” kesabaran Yarash benar-benar tengah diuji.

Lirikan Tatiana merendahkan sang ibu tiri. Mulutnya mencebik mengeluarkan kalimat cemooh. “Dia cuma punya satu kaki, Pi. Cacat.”

Saniya melepaskan kaki palsunya, menyandarkan pada samping kursi. Kaki kirinya maju sehingga dress longgar tertarik dan memperlihatkan ruang kosong. Ia mengode Yarash, meminta izin lewat sorot mata, biar dirinya saja yang menghadapi gadis impulsif ini.

“Kenapa kalau cacat? Apa itu mengurangi nilai saya dimatamu? Atau kamu merasa malu memiliki ibu tiri penyandang disabilitas?” ketenangannya sama sekali tidak terpengaruh.

“Jelaslah!” Tatiana menaikan kaki kanan ke atas lutut kiri, gayanya pongah dengan sorot mata sengit. “Kalau sampai teman-temanku tau, pasti aku jadi bahan ejekan karena punya ibu tiri sepertimu.”

“Oh begitu,” sahutnya santai. “Ketika kamu terkena masalah, siapa yang menolong, teman atau keluarga? Segala kebutuhanmu siapa yang memenuhi, teman atau keluarga?”

“Apa hubungannya?” tanyanya tidak sabaran.

“Jelas ada. Teman yang sangat kamu pedulikan, belum tentu ada disaat dirimu tertimpa masalah. Namun, keluarga yang sudah merawat, membesarkanmu, tanpa pikir panjang langsung menolong. Bertemanlah sekedarnya, terlebih jika sifatnya picik, suka menghina orang lain, merasa paling sempurna, padahal diri sendiri cacat kepribadian,” balasan Saniya tidak cukup membungkam mulut gadis mulai meradang.

“Kamu menjelek-jelekkan temanku?” Tatiana tidak terima kedua sahabatnya dihina.

“Tanpa menjelekan, kepribadian mereka memang sudah jelek. Termasuk kamu. Menghina fisik orang lain, merasa lebih baik lalu merendahkan seseorang, hal tersebut tidak dibenarkan, dan sebenarnya perbuatan sangat memalukan,” sarkasnya tegas.

“Papi, lihat perempuan yang Papi pilih, dia mengolok-olok aku sama sahabatku!” kalah berdebat, dia mengadu ke sang ayah yang biasanya selalu membela.

Namun kali ini Yarash bungkam, enggan memandang putrinya, dia mendekati Saniya, lalu membopong istrinya sambil membawa kaki palsu.

“Ardan, masuk kamar bareng Papi sama mami Saniya,” ucap Yarash.

“Mbak, dan lainnya. Istirahatlah,” sambung ayah dua anak itu.

Si bungsu sepertinya memahami suasana hati ayahnya, dia tidak protes seperti biasanya. Berlari kecil di belakang ayahnya yang membopong ibu tiri.

Ditinggal sendirian, tak dibela, tidak mendapatkan ucapan selamat malam, pun kecupan penutup malam — Tatiana menangis kencang, suaranya tembus sampai kamar utama lantai bawah.

“Papi jahat!” jeritnya seraya menumbuk sandaran sofa.

Baru kali ini dirinya diabaikan, lebih menyakitkan daripada ditegur secara terang-terangan.

Tatiana mengedarkan pandangan, dia benar-benar sendirian di ruang luas tersebut. Semua orang pergi, masuk ke kamar masing-masing.

Niat hati mau mengadu, Tatiana menghubungi sang ibu. Panggilan pertama tidak diangkat, disambung berikutnya, pun sama.

Pada panggilan keenam, malah ditolak. “Mommy ayo angkat!”

Ia geram, mencoba sekali lagi menghubungi sang ibu yang sementara waktu tinggal di Inggris.

“Kenapa malah dimatikan ponselnya?!” tanyanya pada ruangan sunyi, dingin.

Gadis labil itu teringat kalimat menohok ibu tirinya, tentang siapa yang akan menolong jika bukan keluarga.

Tatiana beranjak, badannya lemas, dan langkah kaki terhuyung. Ini pukulan berat teruntuk seorang anak yang selalu diratukan, diperjuangkan oleh ayahnya.

“Papi!” suaranya gemetaran memanggil ayahnya, namun dia tidak memiliki keberanian mendatangi kamar dekat halaman belakang.

Nyalinya menciut, amarah dalam hati tergantikan oleh perasaan sedih. Ia duduk di undakan tangga, memeluk lutut ditekuk, berharap ayahnya keluar dari dalam kamar.

Waktu pun terus beranjak, sampai setengah jam menunggu, Yarash tidak kunjung keluar dari dalam kamar.

Tatiana naik ke lantai atas, ia berniat akan meminta maaf keesokan harinya.

***

“Ibu tili, jangan coba-coba cium aku lagi ya?” Ardan menyusun banyak bantal di tengah-tengah kasur, membuat pembatas.

“Iya, Abang. Bobok yuk, udah malam loh ini,” ajak Saniya, berbaring miring ke arah balita menggigit ujung dot botol susu yang isinya tinggal sedikit.

“Aku tu belum beldoa,” tutur Ardan, ia memalingkan muka ke belakang. Ayahnya sudah tidur atau pura-pura terlelap.

Saniya bangun, menengadahkan kedua tangan. “Ayo berdoa, Tante temenin.”

“Botol susunya diletakkan dulu, Abang,” titah Saniya sambil menahan gemas.

“Iya, Ibu tiliii.” Dilepasnya gigitan pada kepala dot, dan botol susu menggelinding di atas seprei merah polos.

Ardan membuka kedua telapak tangan, bibir kecilnya mulai membaca doa. “Bismillah … Aamiin.” Tak ketinggalan mengusap wajah.

Saniya termangu, laku buru-buru mencegah Ardan yang hendak menjatuhkan diri ke kasur. “Masa baca doanya baru pembukaan langsung penutup. Yang bener, Abang ….”

“Ndak mau. Malas aku tu.” Kepalanya langsung terjatuh, dan dia berguling-guling sampai punggung menabrak pinggang ayahnya.

“Lain kali harus lengkap ya? Biar bobonya nyenyak, terus pas bangun badannya sehat, paham abang ganteng?” Saniya membenarkan selimutnya.

“Ndak paham … hahaha,” ia sengaja menggoda, hal biasa dilakukan apabila ingin membuat kesal orang yang tidak memiliki kesabaran luas.

Yarash membalikkan badan, memeluk putranya. “Bobok, Nak! Besok Mami sama Papi mau kerja.”

“Ndak usah kelja, dilumah aja,” Ardan mendongak, saat melihat mata papinya terpejam, jari telunjuknya langsung naik berniat menusuk.

“Ardan, Papi sudah ngantuk loh, jangan diganggu,” tegur pelan Saniya, sedari tadi memperhatikan anak sambungnya.

“Ganggu aja.”

“Gak boleh,” larang Saniya.

“Boleh aja.” Badannya mirip Ular yang tengah melata, bergerak naik sampai wajah sejajar dengan muka sang ayah.

“Aku sayang papi Yash. Besok kita beli es klim lagi ya?” Bibirnya maju mencium pipi dekat rahang.

“Ih Papi milip mbek, ada bulu-bulunya.” Tangannya pun langsung beraksi menarik bulu rahang sedikit memanjang.

“Astaga ini anak.” Yarash memeluk erat.

Ardan terpingkal-pingkal. “Pi, aku tu mau adik lima ekol.”

“Hah, kamu bilang apa barusan, Ardan?”

.

.

Bersambung.

1
Anonim
Jujur Saniya .....mungkin adikmu sdh wadul ke Bang Yaras klau kamu maksn bersama Fahmi
Vera Wilda
Sedih banget Thor dengan tokoh Saniya. , semoga aja Saniya menemukan kebahagiaannya d rumah suaminya ya Thor ….
Anonim
Jangan "abang Yaras yang manggil
Waaah
Anonim
Saniya .....selesaikan masalahmu ingat kata"temanmu
sampai kapanpun restu dari orangtua Fahmi takan ada
Anonim
Lupakan Fahmi San
Tidak pantas mikirin lelaki lain kasian abang Yaras
Anonim
Tatiana arogan banget
gak punya adab
Vera Wilda
Saya hadir nich Thor
Cublik: Terima kasih, Kak 🙏
total 1 replies
Ai Nurlaela Jm
luar biasaaa
Swety
ending nya bikin nangis 🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
Elzatrisna Ismail
selalu keren
Nancy Nurwezia
terima kasih author atas ceritanya yang menarik... yah nggak ketemu sama bg ardan yang ganteng lagi..
Aisyah 🐾
Basir Hadi apa itu suaminya nelly thor
Cublik: Nelli masih melajang sampai sekarang, Kak 😁
total 1 replies
RieNda EvZie
/Good//Good//Good//Good//Good/
ChikoRamadani
⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️ Sangat menarik
Alur ceritanya bagus dan konfliknya tidak begitu terlalu rumit...
pemilihan kosakata sangat baik dan mudah untuk dipahami...

terimakasih buat kk othor,
semoga sukses ❤️
tuti raniati
Novelnya selalu bagus Thor 👍🏻
Neng Tuti
hai kk author salam kenal dari aku,aku sudah baca beberapa cerita kamu aku suka banget banyak hal baik yang bisa aku ambil dari ceritamu tentang kehidupan,kesabaran,dll sukses terus kk author🙏🙏🙏
Cublik: Salam kenal juga, Kak.
Terima kasih banyak sudah berkenan membaca karya aku, Kak 🙏
total 1 replies
Mama lilik Lilik
ceritanya bagus ,, terimakasih KK author 🙏
Cublik: Terima kasih, Kak 🙏
total 1 replies
Achie Asmara
Makasih ya,,karya yg indah ♥️♥️
Cublik: Terima kasih, Kak 🙏
total 1 replies
Hanima
Aamin Yra
Cublik: /Rose/
total 1 replies
cici cici
yaaaah...tamaaat... 🤭🤭
ada lanjutan nya abang aldan ganteng dan pala cucu cucu nya ga ini kak cublik🤭🤭... aku pada mu lah pokok ee... apa pun itu aku selalu setiaaaa padaaa muuuuuuuu💃💃💃💃
cici cici: request bole ya kak... karya berikut nya holol holol gitu yak🤭...aku syuuukaaaaaaaaaa🥳🥳🥳
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!