NovelToon NovelToon
Menolak Sistem, Kunikahi Villain

Menolak Sistem, Kunikahi Villain

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Sistem / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:737
Nilai: 5
Nama Author: AraLum

Rania tak sadarkan diri di tabrak pengendara motor, setelah mengejar penjambret yang membawa HP kesayangannya. Saat membuka mata, ia justru terbangun dalam tubuh Putri Wening Sasikirana dari Kerajaan Wanunggalih.

Belum sempat memahami keadaan, sebuah sistem memberinya misi: menikahi Pangeran Mukti Samudera, yang ternyata adalah sepupu Wening.

Rania menolak.

Ketika ia kebingungan karena tidak punya uang, sistem memberinya tantangan berjualan. Jika produknya viral, poinnya akan dikembalikan.

Di tengah usahanya mencari uang, Rania bertemu Raden Ji Aryasatya, pangeran dari kerajaan tetangga yang dikenal sebagai villain.

Sistem ingin Rania mengikuti takdir.

Rania justru memilih menolaknya.

Kalau harus memilih, kenapa tidak menikahi villain saja?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AraLum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 — Pangeran yang Terlalu Banyak Tahu

Bab 5 — Pangeran yang Terlalu Banyak Tahu

Kereta berwarna hitam berhenti di ujung pasar, tidak jauh dari kereta biru tua milik Mukti yang baru saja berhenti lebih dulu.

Tidak ada pengumuman. Tidak ada suara terompet pembuka jalan seperti biasanya. Namun para pengawal Mukti yang tadi berdiri tegak langsung menyingkir tanpa diperintah, memberi jalan dengan sikap yang jauh lebih patuh dari yang ditunjukkan pada pangeran mereka sendiri.

Rania, yang masih memegang gelas cendol untuk pesanan Mukti yang belum sempat ia selesaikan, ikut menoleh penasaran.

Seorang pria turun dari kereta itu. Pakaiannya berwarna hitam dengan sulaman emas gelap di bagian kerah, jauh lebih sederhana dari busana Mukti, namun entah kenapa terasa lebih berat dipandang. Wajahnya tenang, nyaris tanpa ekspresi. Ia tidak banyak melihat sekeliling, tapi setiap langkahnya membuat orang-orang di pasar menundukkan kepala satu per satu, seperti gelombang kecil yang menjalar.

[Ting!]

[Identitas terdeteksi.]

[Raden Ji Aryasatya.]

[Putra mahkota Kerajaan Arkapura.]

Rania mengamati pria itu lekat-lekat. "Ini villain?"

[Benar.]

"Kenapa semua orang kelihatan takut?"

[Sistem tidak dapat memastikan penyebab ketakutan masyarakat.]

Rania memperhatikan seorang pedagang kain yang buru-buru menutup kotak dagangannya, seolah menyembunyikan sesuatu yang tidak ingin dilihat. Dua pengawal Aryasatya berhenti di dekat lorong sempit antara dua lapak, tidak bergerak, tidak bicara. Mereka tidak terlihat seperti sedang menjaga rombongan.

Lebih mirip sedang mengawasi siapa pun yang berusaha mendekat.

Rania menelan ludah. "Oke. Ini baru mencurigakan."

Aryasatya berjalan menuju gerobaknya. Bukan menuju pedagang buah. Bukan menuju penjual kain. Melainkan langsung ke tempat Rania berdiri, seolah tempat itu sudah menjadi tujuannya sejak turun dari kereta.

Rania melirik Mukti yang masih berdiri kebingungan di belakangnya. "Jangan-jangan dia juga mau menjalankan misi sistem."

[Tidak ada misi tersebut.]

"Syukurlah."

Aryasatya berhenti di depan gerobak. Tatapannya turun ke wadah cendol yang masih mengepul samar.

"Yang membuat minuman ini kau?"

Rania menunjuk dirinya sendiri, agak kaget ditanya langsung. "Kenapa?"

"Jawab saja."

Rania mengerutkan dahi, insting pedagangnya lebih cepat bereaksi dibanding rasa waspadanya. "Kalau saya jawab, dapat uang?"

Salah satu pengawal Aryasatya langsung bergerak maju, seolah pertanyaan sepele itu adalah bentuk penghinaan. Namun Aryasatya mengangkat satu tangan tanpa menoleh. Pengawal itu berhenti seketika, seperti sudah terlatih membaca gestur sekecil apa pun dari tuannya.

"Buatkan satu," ujar Aryasatya, mengabaikan pertanyaan Rania sepenuhnya.

Rania tidak segera bergerak. "Raden mau cendol?"

"Bukankah itu yang kau jual?"

"Benar. Saya hanya memastikan."

"Kenapa harus memastikan?"

"Karena wajah Raden tidak terlihat seperti orang yang suka minuman manis."

Mukti yang berdiri di belakang Rania menahan napas, matanya melebar seolah baru saja menyaksikan seseorang berjalan ke tepi jurang tanpa sadar.

Rania menyadari kesalahannya sepersekian detik kemudian. Ia segera menunduk. "Maaf. Maksud saya, wajah Raden terlihat... tidak manis."

Suasana di sekitar gerobak mendadak hening. Pengawal Aryasatya saling berpandangan singkat. Rania ingin menggigit lidahnya sendiri.

Kenapa mulutku tidak punya rem sama sekali.

Namun Aryasatya tidak marah. Ia hanya menatap Rania lebih lama dari yang seharusnya membuat orang biasa nyaman.

"Banyak orang mengatakan hal serupa."

Rania mengangkat kepala, sedikit lega. "Benarkah?"

"Tidak."

"..."

Pria itu mengalihkan pandangan ke wadah cendol, seolah topik itu sudah selesai baginya.

"Buatkan."

Rania mulai menyiapkan minuman dengan gerakan yang lebih hati-hati dari biasanya. "Manis, sedang, atau tidak manis?"

"Seperti yang kau buat untuk dirimu sendiri."

Gerakan tangan Rania terhenti di udara.

"Raden tahu saya suka yang bagaimana?"

Aryasatya menatapnya datar. "Bukankah kau yang membuatnya?"

Rania menyipitkan mata. Jawaban itu terdengar masuk akal, tapi entah kenapa terasa seperti jawaban yang sengaja tidak menjawab.

Ia sengaja menuangkan santan lebih sedikit, mengikuti kebiasaannya sendiri.

Aryasatya memperhatikan setiap gerakan tangannya. "Jangan terlalu banyak."

Rania berhenti lagi, alisnya terangkat. "Raden bilang sesuai selera saya."

"Dan seleramu tidak terlalu banyak santan."

Rania perlahan meletakkan sendok, jantungnya berdegup sedikit lebih cepat.

"..."

Dari mana dia tahu? Ia baru berjualan beberapa hari. Bahkan pelanggan tetapnya belum tentu mengingat pesanan kemarin dengan detail seperti itu.

Aryasatya mengulurkan tangan. "Sudah?"

Rania segera menyelesaikan minuman dan menyerahkannya, berusaha terlihat setenang mungkin. "Dua keping uang."

Aryasatya menerima gelas itu. Namun, ia tidak langsung meminumnya.

"Putri Wening."

Rania membeku di tempat. Mukti yang berdiri di sampingnya juga ikut menoleh, alisnya berkerut bingung.

Aryasatya memandangnya tanpa ekspresi. "Sudah lama kau tidak datang ke pasar."

Rania berusaha tersenyum wajar. "Raden mengenal saya?"

"Aku mengenal banyak orang."

"Termasuk saya?"

"Termasuk kau."

Jawaban itu terdengar terlalu cepat, terlalu pasti, seperti sudah disiapkan jauh sebelum pertanyaan itu diajukan.

Rania menatapnya dengan lebih waspada.

[Ting!]

[Peringatan: Tingkat kewaspadaan Host meningkat.]

Tidak perlu mengomentari semuanya, batin Rania kesal pada sistemnya sendiri.

Aryasatya akhirnya menyesap cendol. Hanya sedikit. Lalu menatap isi gelas itu cukup lama, seperti sedang membaca sesuatu di dalamnya.

"Rasanya berbeda."

Rania memasang wajah tidak senang, insting pedagangnya langsung aktif membela produk. "Kalau tidak cocok, uangnya dikembalikan."

"Bukan itu."

"Lalu?"

Aryasatya menatap Rania lurus-lurus. "Dulu kau tidak menyukai santan."

Jari Rania yang sedang memegang sendok langsung mengencang tanpa sadar.

Mukti yang sejak tadi diam ikut angkat bicara, seolah baru teringat sesuatu. "Wening memang tidak terlalu menyukai santan sejak kecil."

Rania menatap Aryasatya, sesuatu yang dingin merayap di tengkuknya.

Pria itu tahu kebiasaan Wening. Bukan sekadar mengenal nama atau gelarnya sebagai putri kerajaan tetangga. Ia tahu hal kecil, detail yang bahkan mungkin dilupakan oleh keluarganya sendiri hal kecil tentang tubuh yang sekarang ditempati oleh kesadaran Rania.

Rania tersenyum, tapi kali ini senyumnya terasa kaku di wajahnya sendiri.

"Selera orang bisa berubah."

Aryasatya menurunkan gelasnya perlahan. "Bisa." Lalu tatapannya turun ke tangan Rania yang masih memegang sendok kayu. "Termasuk cara seseorang berbicara."

Rania diam. Angin laut berembus melewati pasar, membawa aroma asin bercampur wangi rempah dari lapak-lapak sekitar.

Aryasatya menyerahkan dua keping uang. Namun sebelum berbalik pergi, ia berkata pelan, hampir seperti gumaman untuk dirinya sendiri.

"Jangan terlalu sering berjalan sendirian di pasar."

Rania mengerutkan dahi. "Kenapa?"

"Pasar ini tidak selalu aman."

"Karena pencopet?"

"Bukan hanya pencopet."

Aryasatya menatap sekilas ke arah kerumunan di sisi lain pasar. Salah satu pengawalnya memberi isyarat kecil, hampir tak terlihat. Aryasatya langsung mengalihkan pandangan kembali.

"Pulanglah sebelum matahari tenggelam."

Rania menggenggam uang di tangannya erat-erat. "Raden sedang mengancam saya?"

"Kalau aku mengancammu, kau tidak akan perlu bertanya."

Rania terdiam, tidak tahu harus merasa lega atau justru semakin waspada dengan jawaban seperti itu.

Namun Aryasatya belum benar-benar selesai. Ia justru memandangi Rania lebih lama, seolah baru memulai percakapan yang sesungguhnya.

"Putri Wening."

Rania yang sedang merapikan sendok menoleh lagi. "Ya?"

"Sudah lama kita tidak bertemu."

Rania tersenyum kaku. "Benarkah?"

"Terakhir kali, kau datang ke Arkapura bersama rombongan kerajaan." Aryasatya melanjutkan dengan suara datar, seperti membacakan catatan yang sudah lama tersimpan rapi di kepalanya. "Waktu itu usiamu masih lima belas tahun. Kau tersesat di taman belakang kediaman utama dan memarahi seorang pengawal karena tidak menunjukkan jalan dengan benar."

Rania berkedip.

Wening pernah melakukan itu? Informasi macam apa ini.

"Ah..." Ia mencoba tertawa kecil untuk menutupi kekagetannya. "Sepertinya saya memang agak merepotkan sejak dulu."

"Tidak." Aryasatya menatapnya tajam. "Dulu kau tidak banyak bicara."

Rania langsung berhenti tersenyum.

Angin laut kembali berembus melewati pasar, kali ini terasa lebih dingin dari sebelumnya. Aryasatya menurunkan pandangan ke gelas cendol di tangannya.

"Dan kau tidak pernah menyukai santan."

Rania menatapnya lebih tajam, mencoba mempertahankan wajah tenang meski dalam hati sudah gemetar. "Orang bisa berubah."

"Tentu." Aryasatya mengangkat gelas itu, tetapi belum juga meminumnya. "Namun, bukan hanya seleramu yang berubah."

Rania merasakan tengkuknya menegang. "Apa maksud Raden?"

"Dulu kau selalu menundukkan kepala ketika berbicara denganku."

"Sekarang?"

"Sekarang kau menatap mataku, membantah perkataanku, dan menjual minuman kepadaku seolah-olah kita sedang berada di pasar biasa."

Rania terdiam. Pengamatannya detail sekali, batinnya setengah kagum setengah ngeri.

Aryasatya akhirnya menyesap cendol lagi. "Dan kau memanggilku Raden tanpa gelar kehormatan."

Rania langsung menunjuk gelas di tangannya, mencari alasan tercepat. "Itu karena Raden sedang memegang cendol. Saya takut tumpah kalau terlalu banyak basa-basi."

Aryasatya menatapnya. Tidak tersenyum. Namun matanya terlihat seperti sedang menyimpan sesuatu entah kesimpulan, entah kecurigaan yang belum diucapkan.

Hubungan antara Wanunggalih dan Arkapura sudah berlangsung bertahun-tahun. Kedua kerajaan sering bertukar hasil bumi, garam, kain, dan hasil laut. Karena itu, keluarga kerajaan dari kedua pihak cukup sering bertemu dalam perjamuan dan perundingan dagang.

Aryasatya mengenal Wening bukan hanya sebagai nama putri dari kerajaan tetangga. Ia mengenalnya sebagai seseorang yang pernah ia temui berulang kali seseorang yang dulu pendiam, berhati-hati, dan selalu patuh pada tata krama kerajaan sampai ke gerak tangan sekalipun.

Sementara perempuan di hadapannya sekarang terlalu banyak bicara. Terlalu berani. Dan terlalu mudah menunjukkan ekspresi yang tidak seharusnya dimiliki seorang putri kerajaan.

Aryasatya meletakkan gelas cendolnya di atas meja gerobak.

"Wening."

Rania mengangkat wajah. "Ya?"

"Sejak kapan kau berubah?"

Pertanyaan itu terdengar sederhana. Namun Rania merasa seperti sedang berdiri di depan pintu terkunci dan ia tidak tahu apa yang ada di baliknya, juga tidak yakin ingin membukanya sekarang.

Rania tersenyum tipis, memilih jawaban yang terdengar cukup masuk akal untuk mengalihkan.

"Sejak saya sadar bahwa hidup terlalu singkat untuk terus menunduk kepada orang yang belum tentu lebih tinggi dari saya."

Untuk pertama kalinya, tatapan Aryasatya berubah. Hanya sedikit. Sangat sedikit, nyaris tak kasat mata bagi orang lain. Namun Rania melihatnya jelas.

Pria itu bukan terkejut. Ia justru terlihat seperti baru saja menemukan sesuatu yang sejak tadi ia cari.

Aryasatya mengambil kembali gelas cendolnya. "Begitu rupanya."

Rania menyipitkan mata, mencoba membaca balik. "Raden sedang mencari apa?"

Aryasatya berbalik, tidak lagi menatapnya langsung. "Jawaban."

"Jawaban atas apa?"

Ia berhenti sejenak, lalu menoleh sekali lagi—tatapannya kali ini terasa lebih dalam dari sebelumnya.

"Kenapa kau kembali dengan tatapan orang asing."

Setelah mengucapkan itu, Aryasatya berjalan meninggalkan gerobak tanpa menunggu jawaban, diikuti dua pengawalnya yang bergerak dalam diam.

Rania membeku di tempat.

[Ting!]

[Peringatan: Tokoh target menunjukkan tingkat pengamatan yang tinggi.]

Rania menatap punggung Aryasatya yang semakin menjauh. "Dia tahu."

[Kesimpulan belum dapat dipastikan.]

"Dia curiga."

[Kesimpulan tersebut lebih memungkinkan.]

Rania mengusap wajah dengan telapak tangan yang masih sedikit gemetar. "Bagus."

[Host menganggap situasi ini bagus?]

"Tidak," jawabnya cepat, hampir ketus.

Ia melihat kereta hitam yang semakin menjauh dari pasar, menyusuri jalan utama dengan kecepatan yang sama tenangnya seperti saat datang.

"Justru karena dia curiga, aku harus menjauh."

Rania terdiam sebentar, mencoba menata napas. Kemudian teringat sesuatu dan buru-buru mengecek layar transparan di kepalanya.

[Saldo poin Host: 93 poin.]

Ia menghela napas panjang, campuran antara lega dan waswas.

"Tapi... lima puluh poinnya sudah masuk," gumamnya, mencoba mencari sisi baik dari situasi yang baru saja membuat jantungnya nyaris copot.

Ia mengambil sendok, kembali ke posisi jualan seolah tidak terjadi apa-apa besar barusan.

"Jadi... untuk sementara, kita pura-pura tidak saling mencurigai."

Mukti yang sedari tadi berdiri kaku menyaksikan seluruh percakapan itu akhirnya mendekat, wajahnya campuran bingung dan sedikit khawatir.

"Wening, apa yang dikatakan Aryasatya kepadamu?"

Rania menoleh, lalu kembali melihat ke arah jalan tempat kereta hitam itu menghilang di balik tikungan.

"Tidak banyak."

"Benarkah?" Mukti tidak sepenuhnya percaya, matanya menyipit memperhatikan wajah sepupunya yang terlihat lebih pucat dari biasanya.

Rania mengangguk, berusaha terdengar biasa saja. "Dia cuma membeli cendol."

Mukti mengamati wajahnya lebih lama, mencoba mencari sesuatu yang janggal. "Kenapa kau terlihat ketakutan?"

Rania segera mengangkat gelas cendol kosong yang tergeletak di meja, seolah itu adalah bukti paling kuat. "Karena dia belum membayar biaya konsultasi santan."

Mukti menatapnya tanpa suara, jelas tidak puas dengan jawaban itu tapi memilih tidak mendesak lebih jauh.

Rania menghela napas panjang, mengalihkan pandangan ke arah cendol yang masih tersisa di panci.

Namun jauh di dalam pikirannya, satu pertanyaan terus berputar tanpa henti.

Kalau Aryasatya memang belum benar-benar tahu bahwa dirinya bukan Wening yang asli, kenapa ia berbicara seolah-olah sudah mengenalnya sejak lama dan kenapa, dari sekian banyak orang di pasar itu, dia yang justru paling cepat menyadari ada sesuatu yang berubah?

Sementara itu, di dalam kereta hitam yang perlahan meninggalkan pasar, Aryasatya menatap gerobak cendol yang semakin mengecil melalui celah tirai jendela. Di tangannya, gelas cendol masih tersisa setengah. Ia tidak meminumnya lagi.

"Dia bukan Wening yang kukenal," gumamnya pelan, nyaris tak terdengar.

Pengawal di sampingnya menunduk hormat. "Apakah Paduka ingin kami menyelidikinya?"

Aryasatya menatap keluar jendela, ke arah pasar yang mulai kembali ramai seperti biasa, seolah tidak ada yang berubah di sana.

"Tidak."

"Lalu, Paduka?"

"Awasi saja."

Ia berhenti sejenak, matanya masih tertuju pada bayangan gerobak kecil yang semakin jauh tertinggal di belakang.

"Jangan sampai dia tahu."

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!