Ardio adalah seorang mafia kejam sejak kematian istri yang meninggal karena di bunuh oleh musuhnya, padahal istrinya bari melahirkan seorang bayi.
Setelah kepergian istrinya, ia menjadi bertambah kejam, meskipun begitu, ia sangta lembut kepada putri kecilnya yang bernama Adel, bahkan menggantikan popok pun ia mau bahkan rela begadang agar buah hatinya tidak terganggu oleh masalah.
Hari ini ia sedang mengeksekusi penjahat yang ingin menganggu bisnisnya, Tiba-tiba saja ia mendapat telpon dari pengasuh anaknya jika Adel tidak bisa tidur tanpa dirinya, dan ia rela pulang, dan menyurh anak buahnya untuk mengeksekusi penjahat tersebut.
Meskipun ia mafia kejam, tapi ia adalah ayah yang penyayang.
Adel pun berusia masuk SMA favorit, tapi ia mendapatkan pembullyan daei teman Sekolahnya karena ada seorang pria primadona yang mendekatinya.
Sementara ia tidak sedikit pun menyukai sang primadona tersebut.
Tapi Adel menyimpan sendiri pembullyan itu hingga akhirnya di ketahui oleh Ardio.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19
Keesokan harinya...
Di Pagi itu di SMA Garuda Bangsa heboh. Para murid menatap layar ponsel mereka dengan mata membelalak tak percaya.
"Kalian sudah baca beritanya belum?! PT Wijaya Tekstil bangkrut total semalam! Seluruh asetnya disita negara!" seru salah seorang murid laki-laki di depan kelas XI-A.
"Bukan cuma bangkrut! Ayahnya Sisca resmi ditangkap polisi atas kasus korporasi berat! Katanya semua rekening keluarga mereka dibekukan sampai tak tersisa sepeser pun!" timpal murid perempuan di sampingnya sambil menggeser layar ponsel.
Karin yang baru saja melangkah masuk ke kelas X-A bersama Adel mendadak menghentikan langkahnya.
Matanya menatap ponsel dengan mulut menganga lebar.
"Del! Del! Lihat ini! Keluarganya Kak Sisca bangkrut! Demi apa?! Kemarin sore dia masih berlagak seperti ratu minyak, sekarang keluarganya jadi pengemis!" jerit Karin sambil menyodorkan layar ponselnya tepat di depan wajah Adel.
Adel menatap artikel berita di layar ponsel dengan wajah tenang. Adel menghela napas panjang.
Ia tahu siapa dalang di balik kehancuran keluarga Sisca. "Papa... pasti ini perbuatan Papa," batin Adel pelan.
"Dunia berputar cepat ya, Rin," sahut Adel berpura-pura terkejut.
*****
Saat jam istirahat tiba, orang yang pusat perbincangan akhirnya muncul di lorong utama sekolah.
Sisca melangkah dengan tubuh gemetaran. Matanya sembap merah akibat menangis sepanjang malam.
Saat Sisca berjalan mendekati meja geng lamanya di dekat kantin, Sheila dan Vanya langsung berdiri dan menggeser bangku mereka menjauh.
"Sheila... Vanya... Kalian... kalian sudah dengar berita tentang keluargaku, kan? Tolong aku... Papaku ditangkap, aku..." ucap Sisca dengan suara terbata-bata menahan tangis.
"Duh, Sis, maaf ya. Bisa jauh-jauh sedikit tidak? Nanti kita ikut-ikutan terseret masalah keluargamu lagi," potong Sheila tanpa memandang wajah Sisca.
Sisca tersentak hebat. "Sheila?! Kamu bicara apa?! Selama ini siapa yang sering belikan kamu tas dan pakaian mewah?! Aku, kan?!" kata Sisca berharap sahabatnya mau berteman dengannya lagi.
"Iya, pakai uang hasil korupsi ayahmu! Lagipula, sekarang kamu bukan siapa-siapa lagi di sekolah ini. Jangan berlagak sok berkuasa!" kata Vanya sinis, menyilangkan dada dengan pandangan jijik.
Para murid menertawakan keadaan Sisca yang sekarang karena tidak bisa sombong seperti dulu lagi.
"Lihat tuh, si Ratu Sekolah kena batunya!" ucap mereka berbisik sambil terkekeh.
"Kemarin sukanya membully dan merendahkan orang lain, sekarang malah dia yang tidak punya apa-apa!" ledek mereka sambil mencibir merendahkan.
"Duh, kasihan ya... pulang naik apa tuh nanti? Jangan-jangan jalan kaki!" ucap mereka semakin menjadi-jadi.
Sisca mengepalkan tangannya erat-erat, perlahan air matanya menetes.
Orang-orang yang dulunya memujanya kini menjadi pembenci nomor satu.
Di tempat kerumunan itu, Adel dan Karin lewat. Sisca yang melihat Adel mendadak menghentikan tangisnya. Pandangannya tertuju pada Adel.
Dulu ia menganggap Adel lembut dan miskin, ternyata, Adel adalah anak mafia king yang tak tersentuh.
Dengan tubuh gemetaran hebat dan lutut yang lemas, Sisca melangkah mendekati Adel.
Sisca mendadak menundukkan kepalanya dalam-dalam di depan Adel.
"A-Adel... Maafkan aku... Aku mohon maafkan aku... Tolong... tolong suruh... tolong hentikan semua ini..." bisik Sisca dengan suara bergetar ketakutan, air matanya terus menetes ke atas lantai.
Karin dan murid-murid lain terperanjat histeris melihat sang Ratu Sekolah membungkuk memohon ampun pada Adel.
Adel menatap Sisca dengan tatapan datar tanpa ekspresi.
"Aku tidak punya wewenang untuk menghentikan apa pun, Kak Sisca. Setiap orang hanya sedang memetik buah dari apa yang mereka tanam sendiri," ujar Adel datar.
Adel langsung berbalik dan berjalan melangkah pergi bersama Karin, meninggalkan Sisca yang terduduk lemas di lantai.
Sementara itu, di mobil yang terparkir di luar pagar sekolah, Pak Doni melihat seluruh kejadian itu dari jauh. Ia menekan tombol panggilan ke markas besar.
"Melaporkan, Bos Ardio. Target Sisca telah menerima ganjaran sosialnya di sekolah. Non Adel tetap aman dan tenang."
"Bagus. Biarkan dia mengingat pelajaran ini seumur hidupnya," bisik Ardio dingin.
ini novel baru ku, mampir ya dan tinggal jejak, 😍😍 jangan lupa like, komen, vote, subscribe dan hadiah, tengkyu