Shen Ruozi, mahasiswi kedokteran modern yang super judes dan matre, terlempar ke zaman kuno dan terpaksa tinggal di gua. Ogah hidup miskin, ia berniat menjadi juragan obat kaya raya memanfaatkan ilmu medis abad ke-21 miliknya.
Takdirnya berubah kocak saat ia menyelamatkan Long Tianxu, Jenderal Besar berwajah kaku seperti papan tripleks yang sekarat karena racun kronis. Bukannya tunduk pada wibawa sang Dewa Perang, Ruozi malah menjadikannya asisten magang tanpa gaji, buruh numbuk jamu, hingga investor paksaan untuk mendanai apotek barunya di ibu kota!
Menghadapi musuh politik kekaisaran dengan modal lencana emas Jenderal, tabib matre yang tidak pernah mau rugi ini siap mengguncang dunia medis kuno!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heldahell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 31: Perisai akuntansi modern dan auditor yang mati kutu
Feng masih berdiri di dekat jendela, memperhatikan Ruozi yang dengan santai membaca gulungan kertas kecil berisi informasi rahasia pergerakan Biro Pajak. Bukannya panik, Ruozi malah tersenyum simpul, merapikan tumpukan kertas bersayap kotak-kotak yang baru saja ia selesaikan.
"Terima kasih atas informasinya, Tuan Kipas. Tapi seperti yang kau lihat, aku sudah menyiapkan jebakan balik untuk mereka," kata Ruozi sambil menepuk berkas tebal di atas mejanya. Feng hanya menaikkan alisnya, heran dengan tingkat kepercayaan diri gadis tanpa kultivasi ini, sebelum akhirnya melompat mundur dan menghilang ke dalam kegelapan malam.
Keesokan paginya, ketika pasar utama baru saja beraktivitas, keheningan di depan Apotek Ruozi Jaya Medika pecah oleh kedatangan dua belas petugas berseragam resmi Kementerian Perdagangan dan Biro Pajak Kekaisaran.
Mereka dipimpin oleh seorang pejabat paruh baya bermata licik bernama Direktur Wang, orang suruhan yang telah menerima suap dan perintah langsung dari Perdana Menteri Li. Dengan angkuh, Direktur Wang menghentikan langkah para calon pembeli yang hendak mengantre di depan toko.
"Atas perintah Kementerian Perdagangan dan Biro Pajak, Apotek Ruozi Jaya Medika diduga melakukan perdagangan ilegal, penjualan obat tanpa izin, serta penggelapan pajak kekaisaran!" seru Direktur Wang dengan suara lantang sengaja agar didengar publik. "Geledah tempat ini! Sita semua barang bukti dan bawa pemiliknya ke pengadilan!"
Para pengawal Ruozi langsung menegang dan memegang gagang senjata mereka, namun Ruozi dengan cepat melangkah maju ke ambang pintu besi hitamnya. Ia tampil tenang, sama sekali tidak gentar menghadapi tatapan intimidasi dari para petugas resmi tersebut.
"Direktur Wang yang terhormat, menuduh tanpa bukti di depan properti milik Jenderal Besar Long Tianxu bisa dikategorikan sebagai pencemaran nama baik militer," ujar Ruozi dengan nada kelewat santai, sengaja mengeraskan suara saat menyebut nama sang Dewa Perang. Mendengar nama Long Tianxu, langkah para petugas yang hendak merangsek masuk seketika terhenti, wajah mereka mendadak ragu-ragu.
Direktur Wang mendengus, mencoba mempertahankan keangkuhannya. "Nama Jenderal Besar tidak bisa melindungimu dari hukum administrasi kekaisaran, Gadis Kecil! Jika kau tidak bisa menunjukkan dokumen resmi pembukuan dan izin usahamu sekarang juga, toko ini akan disegel mati!"
"Siapa bilang aku tidak punya?" Ruozi terkekeh pelan. Ia berbalik dan memberi isyarat kepada pemimpin pengawalnya untuk membawa tiga bundel besar kertas perkamen yang sudah disusun rapi sejak malam hari.
Ruozi menjatuhkan bundel kertas itu di atas meja konter depan dengan bunyi debuk yang mantap. "Ini adalah dokumen legalitas Apotek Ruozi Jaya Medika. Mulai dari akta pendirian kemitraan bersama Kediaman Jenderal Long, surat izin edar herbal dari asosiasi tabib resmi, hingga sistem pembukuan keuangan berpasangan yang mencatat setiap koin tembaga masuk dan keluar, lengkap dengan alokasi pajak sepuluh persen untuk kas negara."
Direktur Wang menyipitkan matanya yang kecil, maju mendekat lalu membuka bundel perkamen tersebut dengan niat mencari-cari kesalahan. Namun, begitu matanya membaca lembar demi lembar isi dokumen tersebut, rahangnya perlahan merosot jatuh. Ekspresi wajahnya yang semula penuh kemenangan berubah total menjadi pucat dan kebingungan.
Di dalam perkamen tersebut, terdapat tabel-tabel akuntansi modern yang luar biasa rapi dan presisi. Kolom debit, kredit, arus kas masuk, nota pembelian bahan baku dari distributor, hingga kalkulasi pajak kuartalan tertulis dengan metode matematika yang belum pernah ada di kekaisaran ini, namun memiliki logika logika hukum yang sangat sempurna dan tidak bisa dibantah. Tidak ada satu koin pun yang tidak tercatat, semuanya transparan dan bersih dari segala celah hukum.
"In-ini... bagaimana mungkin pembukuan seorang pedagang sipil bisa seakurat ini?!" gagap Direktur Wang, tangannya gemetar saat membalik halaman demi halaman.
Para auditor senior yang dibawanya ikut mengintip dan mereka semua terbelalak takjub, menyadari bahwa sistem pencatatan milik Ruozi jauh lebih maju dan rapi dibandingkan sistem pembukuan milik Kementerian Perdagangan Kekaisaran sendiri.
Ruozi yang melihat kepanikan di wajah para petugas itu hanya bisa melipat kedua tangannya di dada dengan senyum penuh kemenangan. Ia tahu persis bahwa di dunia kuno ini, sistem pencatatan keuangan biasanya masih sangat primitif dan rentan terhadap manipulasi.
Dengan menerapkan prinsip akuntansi modern yang memiliki validasi silang antara arus kas dan nota fisik, para auditor sehebat apa pun tidak akan pernah bisa menemukan celah fiktif, kecuali jika mereka berniat memalsukan bukti secara terang-terangan di depan umum.
"Bagaimana, Direktur Wang? Apakah ada angka yang tidak sinkron, atau Anda membutuhkan waktu lebih lama untuk mempelajari metode matematika tingkat tinggi ini?" sindir Ruozi dengan nada yang sengaja ditinggikan agar para warga dan pejabat yang mulai berkumpul di luar toko dapat mendengarnya dengan jelas.
Bisik-bisik kekaguman dari kerumunan penonton mulai terdengar, memuji betapa bersih dan profesionalnya pengelolaan manajemen Apotek Ruozi Jaya Medika.
Direktur Wang menghapus keringat dingin yang mulai membanjiri keningnya dengan lengan baju sutranya yang mahal.
Ia menoleh ke arah para auditor seniornya, berharap ada salah satu dari mereka yang bisa menemukan titik lemah dari dokumen di depan mereka. Namun, alih-alih menemukan kesalahan, para auditor tersebut justru menggelengkan kepala dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa hormat dan kekaguman terhadap kecerdasan administratif sang pemilik apotek.
"Di-Direktur... berkas ini sama sekali tidak memiliki cacat. Bahkan, kontribusi pajak yang mereka hitung jauh lebih menguntungkan kas kekaisaran daripada estimasi awal kita," bisik salah seorang auditor senior dengan suara lirih, tidak berani menatap mata bosnya. Mendengar laporan tersebut, Direktur Wang menyadari bahwa misi yang diberikan oleh Perdana Menteri Li telah gagal total sebelum sempat dimulai.
Sadar bahwa dirinya telah kehilangan pijakan hukum untuk melakukan penyegelan, Direktur Wang terpaksa menelan kembali semua keangkuhannya. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, ia menutup bundel perkamen tersebut lalu mengembalikannya ke atas meja konter dengan gerakan kaku. "Semua dokumen... dinyatakan sah dan lengkap. Kami dari Kementerian Perdagangan mengapresiasi kepatuhan hukum Apotek Ruozi Jaya Medika. Pasukan, balik kanan! Kita kembali ke kantor!" serunya dengan sisa-sisa wibawa yang runtuh.
Rombongan petugas Biro Pajak itu pun berbalik arah dan melangkah pergi dengan tergesa-gesa, menyedihkan seperti anjing yang ekornya terjepit di antara dua kaki mereka.
Para calon pembeli yang sempat tertahan di luar langsung bersorak gembira dan kembali merangsek masuk memenuhi area antrean, membuat suasana apotek kembali hidup dengan transaksi perak yang gemerincing.
Ruozi menghela napas panjang, memberikan isyarat kepada pengawalnya untuk menyimpan kembali aset administratif berharga miliknya ke dalam ruang bawah tanah.
Di saat yang sama, dari balik bayangan sebuah kedai teh yang terletak tepat di seberang jalan, sesosok pria kekar dengan pakaian pelayan biasa tampak mengamati seluruh kejadian tersebut dengan mata yang menyipit tajam.
Pria itu adalah salah satu mata-mata tingkat tinggi milik Perdana Menteri Li yang sengaja ditugaskan untuk memastikan keberhasilan eksekusi hukum hari ini. Dengan wajah yang menggelap, ia segera berbalik arah dan menghilang ke dalam kerumunan pasar untuk melaporkan kegagalan total ini kepada tuannya di kediaman Li.
Malam harinya, kabar mengenai kegagalan Biro Pajak menyebar luas ke telinga faksi-faksi politik ibu kota, memperkuat posisi Ruozi sebagai pebisnis paling genius sekaligus paling dilindungi di kekaisaran saat ini.
Di dalam ruang dalam toko yang hangat, Ruozi duduk berhadapan dengan secangkir teh krisan baru, bersiap menyambut kedatangan utusan dari Paviliun Anggrek Hitam milik Feng yang dijadwalkan akan membawa kiriman pasokan herbal langka pertama mereka malam ini.
Badai hukum telah berhasil dilewati, namun Ruozi tahu betul bahwa Perdana Menteri Li yang murka pasti akan segera menggunakan bidak catur yang jauh lebih mematikan.