NovelToon NovelToon
Simpanan Kesayangan Sang CEO

Simpanan Kesayangan Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Dendam konglomerat / Sekretaris
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Elara Chandrakanta

Dua tahun Anala Paramitha menjadi sekretaris pribadi—sekaligus "simpanan"—Damar Hadiwijaya, pewaris paling berbahaya di Jakarta. Semua orang mengira Nala mencintainya. Padahal setiap ciuman di mata pria itu adalah bagian dari dendam.

Dibius dan dilelang di Batam, Nala menikam penculiknya, lalu pulang membawa barang curian Damar dan menyebut harganya: sepuluh miliar. Damar membayar, menghancurkan musuhnya demi dia, lalu menjadikannya miliknya—tanpa nama, tanpa status.

Makin gila Damar mencintainya, makin dekat Nala pada bukti untuk menjatuhkannya. Tapi bagaimana kalau pria yang ingin dia hancurkan bukan pembunuh yang dia cari… dan ternyata yang selama ini jadi pengganti bukan dirinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Bab 23: Peluru Tanpa Bius

Lukanya di sisi kanan, di bawah dada, sedikit ke luar dari garis rusuk.

Nala mengarahkan senter ponselnya ke sana dan memaksa dirinya melihat dengan mata yang tenang. Lubang kecil, pinggirannya hitam dan bengkak. Darah masih merembes, tapi pelan, tidak memancar. Tidak ada gelembung udara. Ketika dia menekan pinggirannya dengan dua jari, Damar mendesis, dan di bawah kulit itu dia merasakan sesuatu yang keras. Dangkal. Dekat sekali dengan permukaan.

Peluru itu tidak menembus rongga dadanya. Peluru itu tertahan di otot, di luar tulang.

"Bisa berdiri?" tanyanya.

Damar menatapnya. Matanya tidak fokus. "Kamu belum jawab..."

"Nanti. Bisa berdiri atau tidak?"

Dia bisa. Hampir. Nala menyelipkan bahunya di bawah lengan kanan laki-laki itu dan mereka mendaki lereng bersama, selangkah, berhenti, selangkah lagi. Damar lebih berat dari kelihatannya. Setiap kali kakinya tergelincir di tanah yang licin, seluruh berat tubuhnya jatuh ke bahu Nala, dan Nala menggigit bibirnya sendiri supaya tidak ikut jatuh.

Sedan putih sewaan Arka menunggu di ujung jalan tanah, di tempat dia meninggalkannya dengan lampu menyala. Dia mendudukkan Damar di kursi belakang, menutup pintu, dan menyetir.

Jalan tanah itu menembus kebun karet ke arah yang menurut peta akan keluar di sebuah kampung. Tapi peta tidak tahu bahwa malam itu hujan sempat turun di sini.

Dua kilometer dari jalan raya, roda belakang sedan itu berputar di tempat. Nala menginjak gas. Roda itu menjerit, lumpur muncrat ke kaca belakang, dan mobil itu justru semakin tenggelam.

Dia mematikan mesin.

Ponselnya tinggal tiga persen. Ponsel Damar, ketika dia mencarinya di saku laki-laki itu, sudah mati sama sekali.

***

Di dalam tas punggungnya ada kotak P3K yang dia beli di apotek dekat pelabuhan Telaga Punggur, satu jam sebelum kapal berangkat. Kasa. Plester. Kapas beralkohol. Sebotol cairan antiseptik. Gunting kecil. Pinset. Benang dan jarum jahit luka yang dia minta khusus dari apoteker yang menatapnya dengan curiga.

Tidak ada obat bius. Apotek itu tidak menjualnya tanpa resep.

Dia menyalakan lampu kabin. Cahayanya kuning dan lemah. Dia menambahnya dengan senter ponsel yang dia sandarkan di sandaran kepala kursi depan.

"Ini akan sakit," katanya.

Damar setengah berbaring di kursi belakang, kepalanya di pintu. Napasnya pendek-pendek. Dia melihat pinset di tangan Nala, lalu wajahnya.

"Kamu tahu caranya?"

"Iya."

Dia tidak bertanya lagi. Nala melipat handuk kecil dari tasnya dan menyodorkannya ke mulut laki-laki itu. Damar menggigitnya.

Kapas beralkohol lebih dulu. Damar menegang, otot perutnya mengeras di bawah tangan Nala, tapi dia tidak bersuara. Lalu pinset. Nala membuka sedikit pinggiran luka itu dengan ujung jari kirinya, memasukkan ujung pinset dengan tangan kanannya, pelan, pelan sekali, mencari.

Tangannya tidak gemetar.

Itu yang aneh. Empat jam lalu, di pinggir jalan menuju Telaga Punggur, tangannya gemetar seperti tangan orang tua hanya karena sebuah telepon. Sekarang, dengan darah laki-laki itu di sela jarinya dan sebutir peluru di ujung pinsetnya, tangannya diam seperti batu.

Ujung pinset menyentuh sesuatu yang keras. Dia menjepitnya. Menariknya.

Damar menggigit handuk itu begitu keras sampai Nala mendengar giginya bergemeretak.

Peluru itu keluar. Kecil, penyok, hitam oleh darah. Nala menjatuhkannya ke atas selembar kasa dan langsung menekan luka itu dengan kasa lain.

"Sudah," katanya. "Sudah. Bagian paling sakit sudah lewat."

Itu bohong. Bagian berikutnya adalah jarum.

Tiga jahitan. Dia membuat simpul di setiap jahitan dengan gerakan yang sudah lama tidak dia lakukan, tapi jari-jarinya masih ingat. Tusuk, tarik, ikat. Tusuk, tarik, ikat. Damar tidak bersuara sekali pun. Hanya keringat yang mengalir dari pelipisnya ke leher, dan tangannya yang mencengkeram jok kursi sampai kulit jok itu berkerut.

Ketika dia menempelkan plester terakhir, dia akhirnya melihat punggung laki-laki itu.

Damar sudah merosot ke samping, setengah sadar, dan kemeja yang robek itu tersingkap dari bahunya. Di bawah lampu kabin yang kuning, punggungnya penuh garis. Bekas luka lama, tipis dan pucat, saling silang seperti peta jalan di kota yang tidak pernah direncanakan. Banyak sekali. Terlalu banyak untuk satu kecelakaan. Terlalu teratur untuk sebuah perkelahian.

Dan di pinggang kirinya, satu bekas luka yang berbeda. Lebih tebal. Lebih panjang. Bekas tusukan pisau yang dijahit oleh seseorang yang tidak terlalu ahli.

Nala menatap bekas-bekas luka itu.

Siapa yang melakukan ini kepadamu, pikirnya. Dan pertanyaan itu muncul begitu saja, tanpa izin, dari tempat yang tidak dia kenali di dalam dirinya.

Dia menarik kemeja itu menutupi punggung Damar. Lalu dia melepas jaketnya sendiri dan menyelimutkannya di atas tubuh laki-laki itu.

Damar bergumam. Matanya terpejam. Bibirnya bergerak.

"Se..."

Nala membungkuk sedikit.

Suku kata pertamanya saja yang jelas. Sisanya tenggelam di antara napas yang berat. Tapi Nala tidak perlu mendengar sisanya. Dia tahu nama itu. Dia mengenal nama itu lebih lama daripada laki-laki ini mengenalnya.

Tangannya, yang sedang merapikan jaket di bahu Damar, berhenti.

Satu detik.

Lalu dia menyelesaikannya. Merapikan kerah jaket itu. Mematikan senter ponselnya yang tinggal satu persen. Membungkus peluru penyok itu dengan kasa dan memasukkannya ke kantong plastik sampah.

Dia duduk di kursi depan dan menatap kegelapan di luar kaca.

***

Menjelang subuh, Damar demam.

Nala merasakannya dari kursi depan. Napasnya berubah, cepat dan dangkal, dan ketika Nala menyentuh dahinya, kulitnya panas seperti tutup panci. Dia membasahi handuk dengan air dari botol minumnya yang tinggal setengah, menyekanya ke dahi dan lehernya, lagi dan lagi. Di bagasi sedan itu dia menemukan dua botol air mineral yang terguling di bawah dongkrak, mungkin sisa penyewa sebelumnya. Dia memeluk dua botol itu seperti memeluk emas.

Sekali, ketika dia menyeka kelopak mata laki-laki itu, Damar membuka matanya sedikit. Pupilnya tidak fokus. Dia menatap Nala, atau menatap sesuatu di belakang Nala, dan dalam cahaya subuh yang kelabu mata itu terlihat sangat jernih.

Nala menarik tangannya. Dia memalingkan wajah ke jendela, menunggu sampai napasnya sendiri kembali biasa, lalu melanjutkan menyeka lehernya. Tidak lagi matanya.

Pagi datang. Lalu siang. Lalu malam lagi. Hutan di sekitar mereka berbunyi dengan serangga dan burung, tapi tidak ada suara mesin. Tidak ada suara orang. Sekali, di tengah malam kedua, Nala mendengar deru motor jauh di arah jalan raya, dan dia duduk tanpa bernapas sampai bunyi itu hilang. Dia tidak berani meninggalkan laki-laki itu sendirian selama demamnya masih naik turun. Dia membagi airnya sedikit demi sedikit, untuk diminumkan dan untuk mengompres, dan dia sendiri hanya minum ketika bibirnya mulai pecah.

Baru pada sore hari kedua, demam itu akhirnya turun. Napas Damar lebih teratur. Kulitnya tidak lagi panas. Botol air sudah kosong sejak pagi.

Lalu dia keluar dari mobil.

Di peta yang sempat dia lihat sebelum ponselnya mati, ada sebuah titik kampung di sebelah barat. Dia berjalan.

***

Damar terbangun karena sunyi.

Nala tidak melihatnya, tentu saja. Tapi ketika dia kembali empat puluh menit kemudian, dengan kantong plastik di kedua tangan dan kaki yang lecet karena sepatunya tidak cocok untuk jalan tanah, dia melihat jaketnya sudah tidak di atas tubuh laki-laki itu. Jaket itu tergeletak di lantai mobil, di bawah kursi, kusut, seperti dilempar.

Damar duduk tegak di kursi belakang. Wajahnya pucat dan keras. Dia menatap pintu yang dibuka Nala seolah dia tidak percaya pintu itu bisa terbuka.

"Kamu," katanya.

"Aku." Nala meletakkan kantong-kantong itu di jok. Air mineral, empat botol. Roti tawar. Biskuit. Sebungkus obat penurun panas yang dia beli dari warung kecil di ujung kampung, dari seorang ibu yang menanyakan kenapa celananya penuh lumpur. "Kamu kira aku pergi?"

Damar tidak menjawab.

Nala memungut jaket itu dari bawah kursi, mengibasnya, dan menyampirkannya kembali ke bahu laki-laki itu. Dia tidak berkomentar.

Dia membuka satu botol air, memasukkan sebutir obat ke telapak tangan Damar, dan menunggu sampai laki-laki itu menelannya. Lalu sepotong roti. Damar makan dengan pelan, tanpa berkata apa-apa, sambil terus menatapnya, seperti seseorang yang takut kalau dia berkedip, perempuan itu akan hilang lagi.

Ketika rotinya habis, Nala merogoh saku dalam jaket yang tersampir di bahu laki-laki itu dan mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil.

"Seharusnya bukan sekarang," katanya. "Tapi aku tidak tahu apakah nanti masih ada sekarang."

Damar menatap kotak itu.

"Ulang tahunmu bulan depan. Dua puluh tiga Oktober." Nala meletakkan kotak itu di telapak tangannya. "Anggap saja hadiah yang datang lebih awal."

Damar membukanya.

Sepasang kancing manset perak. Bundar, sederhana, dengan bunga mungil lima kelopak dari platina di tengahnya. Di balik yang kiri, huruf H. Di balik yang kanan, huruf A.

Dia memegang yang kiri dan memutarnya di bawah cahaya sore yang masuk dari kaca.

"H," katanya.

"Aku suka huruf H," kata Nala. Suaranya ringan. Senyumnya ringan. "H untuk Hadiwijaya."

Damar tidak tersenyum. Dia menatap kancing manset itu. Lalu dia menatap tangan Nala yang memegang kotak itu, dan alisnya berkerut.

Ujung-ujung jari perempuan itu terbungkus plester. Telunjuk, jari tengah, ibu jari. Ada goresan merah di sela plesternya, garis-garis tipis yang belum benar-benar kering.

"Tanganmu kenapa?"

"Bukan apa-apa."

"Anala."

"Kikir perak lebih tajam dari kelihatannya," katanya, dan menarik tangannya kembali.

Damar tidak membiarkannya. Dia menangkap pergelangan tangan itu dan menahannya. Ibu jarinya mengusap plester di telunjuk Nala, pelan, seperti waktu Nala menyeka dahinya semalam.

Lama dia tidak berkata apa-apa.

Lalu ibu jari tangan kirinya, yang masih memegang kancing manset itu, mengusap huruf H di baliknya. Bolak-balik. Seperti seseorang yang mencoba membaca sesuatu dengan sentuhan.

Dia mengangkat mata.

"Kamu datang ke Batam," katanya pelan, "cuma untuk ini?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!