NovelToon NovelToon
Sistem Guru Legendaris: Dari Guru Buangan Menjadi Guru Terhebat

Sistem Guru Legendaris: Dari Guru Buangan Menjadi Guru Terhebat

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Idola sekolah
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Husen Alkhafi adalah seorang guru idealis dengan kemampuan mengajar luar biasa yang ditugaskan ke SMA Garuda dan memimpin Kelas XI-7 yang terkenal sebagai sarang berandalan.

Namun, di tengah keputusasaan menghadapi murid-murid bermasalah yang hobi melawan guru, Husen membangkitkan Sistem Guru Legendaris yang memungkinkannya melihat potensi tersembunyi setiap siswa beserta kelemahan mereka.

Kini, berbekal sistem misterius dan keteguhannya, Husen bertekad mengubah kelas sampah itu menjadi yang terbaik, membimbing murid-muridnya menuju masa depan yang cerah,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Tap tap tap.

Langkah kaki Rico terdengar terburu-buru menyusuri lorong belakang sekolah yang sepi.

Dia berlari menghampiri Bara yang sedang duduk merokok di atas tembok pembatas berlumut.

"Bos, gue udah dapet semua infonya dari anak Cakrawala."

Rico mengatur napasnya yang tersengal-sengal sambil menyodorkan layar ponselnya ke wajah Bara.

"Lu harus baca sendiri berita panas ini biar percaya."

Bara membuang puntung rokoknya ke tanah dan menginjaknya kasar.

Sring.

Matanya menyipit membaca rentetan pesan teks dari kenalannya di sekolah elite tersebut.

"Husen Alkhafi dipecat karena dituduh menerima uang suap dan melindungi murid yang memakai narkoba?"

Bara membacakan isi pesan itu dengan nada yang penuh kemenangan.

Sebuah senyum miring perlahan mengembang di wajah siswa bertubuh besar itu.

"Ternyata dia cuma guru munafik yang sok suci di depan kita."

"Gue pikir dia itu malaikat keadilan yang turun dari langit untuk menghukum kita."

Rico tertawa mengejek sambil memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana.

"Jadi apa rencana kita sekarang, Bos?"

"Kita permalukan dia habis-habisan di depan semua anak kelas siang ini."

Bara mengepalkan tangannya kuat-kuat membayangkan wajah Husen yang akan hancur memucat.

"Kita lihat apakah dia masih berani menceramahi kita soal aturan setelah rahasia busuknya terbongkar."

Teng teng teng.

Bel tanda masuk kelas siang akhirnya berbunyi memanggil seluruh murid kembali ke ruangan.

Husen melangkah masuk ke dalam kelas XI-7 dengan membawa sebuah buku absen tebal.

Krieet.

Pintu kayu yang berderit itu menutup di belakangnya seiring dengan langkahnya menuju meja guru.

Suasana kelas terasa sedikit berbeda dari jam pelajaran pertama tadi pagi.

Semua murid memang duduk di tempatnya masing-masing, tetapi tatapan mereka menyiratkan sesuatu yang licik.

"Selamat siang semuanya."

"Buka buku matematika kalian halaman dua belas sekarang juga."

Husen meletakkan buku absennya di atas meja dan mengambil sebatang kapur putih.

Tuk tuk tuk.

Sebelum kapur itu menyentuh papan tulis, suara tawa yang keras meledak dari bangku paling belakang.

Bara menaikkan kedua kakinya ke atas meja sambil bersedekap dada menatap Husen.

"Matematika ya, Pak Guru?"

"Berapa banyak uang suap yang Bapak hitung pakai matematika sampai Bapak ditendang dari Akademi Cakrawala?"

Pertanyaan Bara itu langsung memicu riuh rendah suara gumaman dari seluruh murid di kelas.

Beberapa siswa mulai bersiul mengejek ke arah depan meja guru.

Siska dan teman-temannya tertawa sinis sambil menatap Husen dengan pandangan merendahkan.

"Wah, ternyata guru baru kita ini mantan koruptor ya."

"Pantesan aja dia berani ngancem-ngancem kita tadi pagi, ternyata dia lebih parah dari kita."

Husen meletakkan kembali kapur putihnya ke tempat semula dengan gerakan yang sangat lambat.

Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan kepanikan atau rasa takut seperti yang diharapkan oleh Bara.

"Kamu mendapat informasi yang sangat cepat, Bara."

"Saya harus mengakui jaringan pertemananmu di luar sekolah cukup luas untuk ukuran preman kelas."

Bara menurunkan kakinya dari atas meja dan berdiri menantang Husen.

"Jangan mencoba mengalihkan pembicaraan, Pak Guru Munafik."

"Lu pikir lu berhak menghukum kita padahal lu sendiri penjahat yang melindungi pemakai narkoba?"

"Lu itu sampah buangan yang nggak pantes menginjakan kaki di kelas ini!"

Husen menatap mata Bara dengan sorot yang tajam dan menusuk.

"Apa kamu melihat langsung kejadian itu di sekolah lamaku?"

"Atau kamu hanya menelan mentah-mentah gosip murahan dari anak manja yang takut kejahatannya terbongkar?"

Bara mendecih pelan merasa diremehkan oleh jawaban tenang Husen.

"Semua orang di Cakrawala tahu berita itu, lu nggak usah sok membela diri."

"Guru kayak lu itu cuma peduli sama uang dan jabatan, persis kayak semua orang dewasa lainnya."

Brak!

Suara gebrakan meja yang sangat keras tiba-tiba menghentikan perdebatan mereka berdua.

Semua kepala di ruangan itu menoleh ke arah bangku di dekat jendela.

Nisa berdiri dari kursinya sambil menatap Husen dan Bara dengan pandangan muak yang luar biasa.

"Kalian berdua sama-sama sangat menyedihkan dan membuang waktu berhargaku."

Suara Nisa terdengar dingin namun menggema jelas di seluruh penjuru ruang kelas.

Bara mengerutkan keningnya tidak suka melihat campur tangan siswi berkacamata itu.

"Tutup mulut lu, Nisa, ini urusan gue sama guru sampah ini."

Nisa mengabaikan gertakan Bara dan melangkah keluar dari barisan mejanya mendekati area depan kelas.

"Bara benar tentang satu hal, Pak Husen."

"Sekolah ini, dan seluruh sistem pendidikan yang ada, hanyalah tempat sampah raksasa."

Nisa menatap langsung ke mata Husen tanpa berkedip sedikit pun.

"Bapak masuk ke kelas ini mencoba bertingkah seperti malaikat penyelamat."

"Bapak membantuku di kantin tadi seolah Bapak peduli pada masa depan murid-murid di sini."

Nisa tertawa hambar dengan nada yang terdengar sangat perih dan penuh kekecewaan.

"Tapi pada akhirnya, semua guru itu sama saja."

"Kalian hanya menggunakan kami sebagai alat untuk naik jabatan, dan membuang kami saat kami sudah tidak berguna."

"Kalian mencuri gagasan kami, menekan kami, dan memaksa kami mengikuti aturan bodoh kalian."

Husen bisa melihat bahu Nisa sedikit bergetar meskipun siswi itu berusaha keras menyembunyikannya.

1
Dewiendahsetiowati
selamat untuk kemenangan sekolah Garuda Kelam Husein dan tiga serangkai Bara, Rico dan Nisa
Nissa Safira: Terima kasih banyak kak🥰🙏
Kemenangan ini bukan cuma buat Husen, tapi buat kita semua yang udah nahan kesel lihat kelakuan Pak Surya. Akhirnya tiga serangkai Bara, Rico, Nisa bisa senyum lega juga😁
Makasih ya kak udah jadi saksi kemenangan Garuda Kelam. Ditunggu dukungan kakak di tingkat nasional ya💪🥰🥰
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
mampus kau
Nissa Safira: Mampus bener kak💪😂
akhirnya diborgol sendiri di depan wartawan. Puas banget nulisnya aku juga pas Husen colok flashdisk itu.
Makasih ya kak udah ikut puas bareng🤣🤗💪
total 1 replies
Aisyah Suyuti
seru
Nissa Safira: gasss terus kak.. ikuti keseruan cerita ini sampai akhir yaa🥰🔥
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
lawan mereka Bara dan bikin malu mereka
Nissa Safira: gaaaas kak aku juga teriak bara lawan! lawan! 😤🔥
Tapi inget latihan Husen kak "Seorang pemimpin sejati tidak perlu memukul musuh yang bodoh, cukup mempermalukannya dengan fakta tajam"🔥🔥💪
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
semakin seru ceritanya
Nissa Safira: waaaa makasih banyak kak 😭🙏
Serunya baru mulai kak.. Di Olimpiade nanti kita lawan Akademi Cakrawala lagi, Reno udah bilang "aku akan menghancurkannya sampai tak berbekas"! Bara juga udah ngamuk "aku ingin meremukkan kesombongan anak-anak kaya itu!"🔥🙏
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Nissa Safira: Hadirrr kak dewi😁🙏🔥
Absennya aku catet paling atas nih kak😂
Makasih udah hadir pagi-pagi kak💪
total 1 replies
xebeck D ron
akhirnya GK gabut gw😄😄
Nissa Safira: up tiap hari kok kak rudi💪
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!