Misya dan Reyden menikah selama dua tahun. pernikahan yang mereka jalani karena perjodohan, tak ada masalah dalam rumah tangga mereka yang monoton itu.
namun menjelang pernikahan ke dua mereka, ternyata Misya baru tahu kalau Reyden belum menerima dan bisa mencintai dia bukan karena belum siap. tapi karena hatinya masih ada pada wanita masa lalunya yang akhirnya kembali.
apakah Reyden akan kembali kepada wanita di masa lalunya atau mungkin dia mulai menyadari cintanya kepada Misya?
ikuti terus kelanjutan kisah cinta mereka ya kak...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misya 25
Belum sempat Reyden melangkah keluar kamar untuk memanggil Mbak Atin, tiba-tiba suara deru beberapa mobil mewah terdengar memasuki pelataran halaman rumah. Disusul dengan suara ketukan pintu utama yang cukup keras, diiringi suara cemas seorang wanita paruh baya.
"Reyden! Misya! Buka pintunya, Nak!"
Suara itu sangat dikenali. Itu adalah Bunda Amelia, yang datang bersama Ayah Baskara, kedua orang tua Reyden yang langsung bergegas datang ke rumah setelah mendengar kabar tentang keonaran yang dibuat oleh Merlyn di grup keluarga.
Mendengar suara itu, Reyden menghentikan langkahnya, sementara Misya menatap suaminya dengan mata membelalak kaget.
"Bunda sama Ayah...?" bisik Misya cemas. Ia merapikan kaus dan rambutnya dengan tergesa-gesa.
"Mas, kenapa mereka bisa kesini? Pasti karena status Merlyn tadi..."
"Iya, tidak usah khawatir. Biar saya yang temui mereka di depan," ujar Reyden menenangkan, meraih tangan istrinya dan menggenggamnya hangat.
"Ayo, kita temui mereka bersama-sama."
Reyden merangkul pinggang Misya protektif, berjalan berdampingan keluar dari kamar menuju ruang tamu utama.
Ceklek!
Belum sempat Reyden memutar gagang pintu, Mbak Atin yang wajahnya tampak panik sudah buru-buru membukakan pintu utama.
Sosok Bunda Amelia langsung menerobos masuk dengan napas memburu dan mata berkaca-kaca, dikawal ketat oleh Ayah Baskara yang berjalan dengan gestur tegap namun menyiratkan kemarahan besar pada keluarga besar mereka.
"Ya Allah, Misya... anakku!" teriak Bunda histeris begitu melihat sosok menantunya melangkah keluar dari koridor bersama Reyden.
Bunda langsung berlari menghampiri Misya, mengabaikan anaknya sendiri, lalu mendekap tubuh menantunya itu erat-erat. Air mata ibunda Reyden langsung tumpah membasahi bahu Misya.
"Bunda..." cicit Misya terkejut, merasa tidak enak sekaligus terharu. Ia balas memeluk tubuh wanita paruh baya itu dengan hangat.
"Bunda kenapa sampai datang ke sini? Aku... aku baik-baik saja, Bunda."
"Mana bisa Bunda tenang, sayang!" sanggah Bunda dengan suara bergetar, melepas dekapannya sejenak untuk menangkup wajah menantunya. Ia menatap mata Misya yang masih sembab.
"Bunda tahu persis betapa hancurnya hati kamu waktu melihat status WhatsApp si Merlyn kurang ajar itu! Bunda tadi di jalan hampir pingsan saking marahnya sama kelakuan keponakan-keponakan yang tidak tahu diuntung!"
Ayah Baskara melangkah mendekat, berdiri di hadapan Reyden dengan tatapan tajam menghujam.
"Reyden!" panggil Ayah dengan suara baritonnya.
"Kamu benar-benar kecolongan! Kenapa sepupu-sepupumu itu bisa bertindak semena-mena menginjak harga diri istri sahmu di media sosial, hah?! Apa gunanya kamu jadi suami kalau istrimu diserang dari segala penjuru begini?!"
Reyden merapatkan rahangnya, menunduk hormat namun matanya memancarkan ketegasan.
"Maafkan saya, Ayah. Saya akui saya lalai. Tapi tadi di kantor, saya sudah langsung bertindak tegas. Merlyn sudah saya pecat dari proyek, jabatannya diturunkan, dan semua nomor mereka sudah saya blokir permanen dari ponsel Misya."
Ayah menghela napas panjang, mereda sedikit amarahnya.
"Bagus kalau kamu sudah ambil tindakan. Jangan pernah beri ampun pada siapa pun yang berani merusak rumah tanggamu, Rey. Ingat, Misya adalah tanggung jawab mutlakmu. Ayah tidak mau kalau sampai kedua orang tua Misya kecewa karena anak perempuan kesayangannya kamu sia-siakan dan membiarkan dia di sakiti oleh keluarga kamu sendiri!"
"Ingat, Papa tidak pernah mengajarkan kamu menjadi pria pengecut dan tidak memiliki tanggungjawab!"
"Iya, Ayah. Sekali lagi maafkan Rey..."
Mendengar pembelaan luar biasa dari mertuanya, air mata haru kembali menetes di pipi Misya. Selama ini ia mengira keluarganya akan membela darah daging sendiri, namun Ayah dan Bunda justru berdiri di garis terdepan untuk membela dan melindunginya.
"Terima kasih, Ayah... Terima kasih, Bunda..." bisik Misya tulus.
Bunda tersenyum hangat, mengusap lembut punggung menantunya.
"Sudah, jangan menangis lagi, ya. Kebetulan Bunda ke sini juga bawa banyak makanan kesukaan kamu dari restoran langganan. Katanya kalian mau makan siang? Ayo, kita makan bersama-sama di ruang makan!"
Suasana yang tadinya tegang seketika mencair berkat kehangatan keluarga. Dengan senyuman tulus di wajah Reyden, ia menggenggam erat tangan istrinya, melangkah bersama menuju ruang makan untuk menikmati makan siang bersama kedua orang tua Reyden.
Hidangan sop buntut hangat dan sambal terasi kesukaan Misya yang dibawa khusus oleh Bunda Amelia berhasil mencairkan suasana di meja makan. Meski awalnya sempat canggung akibat isakan tangis yang baru saja mereda, kehangatan dan perhatian tulus yang ditunjukkan oleh Ayah Baskara dan Bunda membuat hati Misya perlahan-lahan berbunga tenang.
Bunda bahkan tak henti-hentinya mengambilkan lauk ke piring Misya, memastikan menantu kesayangannya itu makan dengan lahap setelah seharian menguras air mata. Reyden, yang duduk di samping sang istri, hanya bisa tersenyum tipis penuh kelegaan, sesekali melirik dan mengusap punggung tangan Misya di bawah meja sebagai bentuk dukungan.
Setelah makan siang selesai dan meja makan kembali bersih berkat bantuan Mbak Atin, keluarga kecil itu beralih ke ruang tamu utama.
Ayah Baskara duduk di sofa panjang berdampingan dengan Bunda, sementara Reyden dan Misya duduk di sofa seberang. Suasana yang tadinya hangat perlahan-lahan kembali berubah serius begitu Ayah berdehem pelan, menarik perhatian seluruh isi ruangan.
Ayah menyilang kaki, menatap anak sulungnya dengan sorot mata menyelidik yang tajam.
"Reyden," panggil Ayah dengan nada baritonnya yang tenang namun berwibawa.
"Makan siangnya sudah. Sekarang, mumpung kita semua berkumpul di sini dan suasananya sedang dingin, Ayah mau mendengar penjelasan langsung dari kamu."
Reyden menegakkan punggungnya. Ia melirik sekilas ke arah Misya yang mendadak menegang di sampingnya, lalu menatap sang ayah dengan mantap.
"Penjelasan soal apa, Ayah?"
Bunda Amelia yang duduk di sebelah suaminya langsung menyahut, tatapannya menyiratkan kekhawatiran sekaligus ketegasan seorang ibu.
"Soal Aurelia, Rey!" seru Bunda langsung pada intinya.
"Jangan kira Bunda tidak tahu masa lalu kamu dengan wanita itu. Dan jangan kira Bunda tidak melihat kolase foto-foto lama yang juga du uplaod oleh sepupu-sepupu kamu juga Aurelia sendiri di media sosial. Jangan bilang foto-foto itu juga di kirimkan kepada menantu Bunda,"
Deg!
Jantung Misya seolah berdetak lebih kencang mendengar ucapan Bunda. Reyden menghela napas berat. Ia meraih tangan Misya di atas sofa, menggenggamnya erat-erat seolah menyalurkan keyakinan, lalu menatap kedua orang tuanya tanpa keraguan sedikit pun. Hal itu membuat Misya sedikit kaget.
"Bunda, Ayah... Demi Allah, saya dan Aurelia sudah tidak ada apa-apa lagi," ucap Reyden dengan suara tegas dan penuh penekanan.
"Hubungan kami sudah lama berakhir, sejak lima tahun lalu dan selam itu pula saya tidak pernah berhubungan atau berkomunikasi lagi. Kehadiran dia di kantor baru-baru ini murni sebatas profesionalisme kerja karena perusahaan kami terikat kontrak proyek besar dengan agensinya. Ayah pasti juga tahu dengan Nusantara Production House.
"Profesionalisme katamu?!" potong Bunda dengan nada tinggi, matanya menyipit tajam.
"Kalau memang hanya sebatas rekan kerja, kenapa perempuan itu berani lancang mengirim pesan provokatif, memamerkan foto masa lalu, dan menyebut menantu Bunda tidak selevel?! Wanita seperti itu jelas-jelas masih punya niat buruk untuk merusak rumah tangga kamu, Rey! Lalu kenapa kamu bisa duduk sedekat itu sama dia di depan umum?"
"Bunda benar, Nak," timpal Ayah Baskara dengan suara berat.
"Sebagai pria yang memegang kendali penuh di perusahaan, kamu seharusnya bisa menjaga jarak yang tegas. Jika hal itu sampai terjadi, artinya batasan profesional yang kamu lakukan masih kurang. Karena masih ada celah bagi orang lain untuk berprasangka yang lain-lain. Kamu mungkin bisa mengatakan kalu kamu tak memiliki hubungan dan sebatas profesional. Tapi tindakan kamu masih bisa membuat orang lain salah paham. Sekali lagi, Ayah minta agar kamu bisa lebih tegas lagi, jangan sampai kamu menyesal. Karena kesabaran istrimu ada batasnya..."
Rasa bersalah kembali menghantam dada Reyden. Ia menundukkan kepalanya sejenak, mengakui kebodohannya di masa lalu.