Di kota London yang basah dan dingin, Hans Lorte bertahan hidup dari ketajaman otaknya. Baginya, kegaiban hanyalah alasan bagi orang bodoh yang malas berpikir.
Namun, sebuah kasus misterius memaksa Hans berhadapan dengan teka-teki paling berbahaya dalam kariernya. Tanpa saksi, tanpa tanda-tanda pembobolan, dan bukti fisik yang janggal, Hans harus berpacu dengan waktu sebelum sang pelaku menghilangkan jejaknya secara permanen.
Sebuah kisah investigasi gelap tentang obsesi, konspirasi, dan batas akhir dari akal sehat manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ashciel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Hukum Termodinamika di Ambang Maut
Hans Lorte tidak pernah percaya pada takdir. Ia hanya percaya pada massa, gaya, dan percepatan.
Namun saat ini, gaya tarik dari retakan hitam di belakangnya menentang segala hukum fisika yang tertulis di buku teks.
Retakan dimensi itu menganga lebar menyerupai pupil mata raksasa. Tidak ada suara gemuruh. Celah itu menelan segala bentuk suara, cahaya, dan panas, menyisakan keheningan kosmik yang membekukan darah.
SRETTT...!
Sepatu boot Hans berderit kasar menahan laju. Sol karetnya perlahan terkelupas akibat gesekan paksa dengan kisi-kisi baja.
Jaraknya dengan mulut retakan kini tidak sampai satu meter.
Di telapak tangan kirinya, kompas kuningan berukir gelombang laut itu memancarkan pendaran biru yang membutakan. Hawa dinginnya merambat cepat, membekukan urat nadi di lengan Hans hingga ke pangkal bahu.
Kalkulasi: Suhu artefak ini berada di bawah nol mutlak. Ia menyerap kalor tubuhku sebagai bahan bakar pelebaran dimensi, batin Hans di tengah badai gravitasi.
Mata kelabu sang detektif melirik ke arah Lord Sterling yang berlutut di tengah ruangan.
Bangsawan itu tertawa histeris dengan wajah separuh membeku. Darah kebiruan menetes dari mulutnya.
"Kau tidak bisa melawannya, Lorte!" raung Sterling di atas deru angin. "Benda itu telah memilih rasionalitasmu sebagai fondasi gerbang baru!"
Hans menatap kompas itu dengan tatapan sedingin es. Rasionalitas bukanlah sesuatu yang bisa dikonsumsi oleh sihir. Rasionalitas adalah alat bedah.
"Jika benda ini terus menyerap panas untuk bertahan..." gumam Hans pelan, napasnya membentuk kristal es. "...maka benda ini akan hancur oleh hukum pemuaian ekstrem!"
Hans mengangkat kepalanya. Matanya menembus kabut uap di sekitar panggung kemudi.
"Lady Finch!" suara Hans meledak memecah keheningan dimensi. "Lepaskan kunci hidrolik Boiler Utama! Buka katup bawahnya tepat ke arahku!"
Di atas panggung baja yang melengkung tertarik gravitasi, Lady Evelyn membelalakkan matanya.
"Boiler Utama?!" jerit Evelyn histeris. "Tekanannya masih seribu PSI, Tuan Lorte! Jika saya buka tanpa selang, uap murninya akan merebus Anda hidup-hidup!"
"Lakukan sekarang!" bentak Hans tanpa kompromi. "Waktu kita hanya tiga detik sebelum gerbang ini menelanku!"
Evelyn menggigit bibirnya hingga berdarah. Ia membuang keraguannya.
Otak mekanisnya mengambil alih. Dengan gerakan lincah dan berani, wanita itu merangkak menahan hisapan angin, lalu menendang tuas hidrolik berwarna merah di dasar panggung baja.
KLEK! KRAAAK!
Katup utama boiler raksasa jebol dari bawah!
WUUUSSSHHH!!!
Semburan uap mendidih berwarna putih pekat meledak lurus layaknya semburan naga. Gelombang uap panas itu menyapu kisi-kisi lantai, menerjang lurus ke arah posisi Hans.
Pip yang bersembunyi di balik pilar hanya bisa menutup mata, tak sanggup melihat tubuh sang detektif hancur tersapu uap.
Namun Hans tidak mundur. Detektif itu memasang kuda-kuda kokoh di bibir jurang dimensi.
Tepat saat dinding uap mendidih itu menyentuh tubuhnya, Hans menjulurkan tangan kirinya yang menggenggam kompas langsung ke dalam pusat pusaran uap panas!
ZRASSSHHH!
Pertemuan dua suhu yang sangat ekstrem terjadi dalam fraksi detik.
Logam kuningan kompas yang bersuhu nol mutlak mendadak dihantam uap bersuhu ratusan derajat celcius. Struktur molekul logam itu seketika mengalami pemuaian termal yang sangat brutal.
Permukaan kompas itu menjerit merintih, mengeluarkan suara logam melengkung yang memekakkan telinga.
Pendaran biru di dalamnya berkedip liar, berontak kehilangan kestabilan.
"Sekarang!" Hans mencabut tongkat besinya dari lantai dengan tangan kanan.
Ia mengayunkan kepala besi tongkatnya sekuat tenaga ke arah kompas kuningan yang sedang merekah memuai itu.
TRANGGG!! CRACK...!
Kaca dan logam artefak itu pecah berantakan!
Inti kompas hancur berkeping-keping di udara. Energi pemicu retakan putus seketika.
Hukum keseimbangan alam langsung mengambil alih ruangan. Retakan dimensi hitam di belakang Hans berhenti menghisap.
Celah kosmik itu berkedut kejang, melipat ruangnya sendiri ke dalam. Alih-alih menyedot, celah itu memuntahkan gelombang kejut balasan yang mahadahsyat!
BLAAARRR!!!
Ledakan kejut memicu badai uap seketika. Hans terhempas ke depan, berguling di atas lantai baja basah dan terselamatkan dari mulut dimensi.
Namun Lord Sterling tidak seberuntung itu.
Gaya tolak balik dari retakan yang kolaps menyambar tubuh bangsawan malang itu. Sterling terangkat ke udara, menjerit histeris saat tubuhnya terseret ke dalam pusaran ruang yang menyusut cepat.
SLUP!
Dalam sekejap mata, retakan hitam itu lenyap menutup diri. Membawa serta tubuh Lord Sterling tanpa menyisakan setetes darah pun.
Ruang pompa bawah tanah tiba-tiba hening.
Hanya suara desis uap putih dan gemericik cairan beku yang meleleh di lantai yang tersisa.
Pip berlari secepat kilat menembus uap tebal. Anak jalanan itu menghampiri Hans yang tergeletak di dekat pilar.
"Tuan Lorte! Tuan masih hidup?!" seru Pip panik, membantu detektif jangkung itu duduk.
Lengan kiri mantel Hans tertutup lapisan es tipis, ujung jari-jarinya pucat pasi. Namun, mata kelabu sang detektif masih memancarkan rasionalitas yang tajam.
"Kalkulasiku tidak pernah meleset, Pip," Hans memaksakan diri berdiri dengan bantuan tongkatnya. Napasnya terengah, menahan nyeri akibat pergeseran sendi bahu.
Evelyn melompat turun dari panggung. Wajahnya cemong oleh jelaga, namun sorot matanya lega luar biasa.
"Anda benar-benar pria gila, Tuan Lorte," ucap Evelyn seraya mengusap keringat di dahi. "Anda bertaruh nyawa dengan termodinamika."
"Fisika tidak pernah ingkar janji, Lady Finch," sahut Hans datar.
Hans melangkah mendekati titik pusat ledakan. Pecahan logam kompas kuningan itu berserakan di atas kisi-kisi baja.
Hans merogoh saputangan tebal dari sakunya, berhati-hati memungut bagian inti kompas berupa lempengan piringan yang sudah retak. Hawa dinginnya sudah hilang, berganti menjadi logam biasa.
Namun, begitu Hans menyingkirkan lapisan es beku dari punggung lempengan logam tersebut, langkahnya terhenti.
Mata kelabu Hans memicing tajam. Jari jempolnya mengusap lambang stempel yang tertanam di balik piringan inti tersebut.
"Tuan Lorte? Ada apa?" tanya Pip mendekat.
"Artefak kompas ini... bukan peninggalan legenda maritim kuno," suara Hans merendah, menahan ketegangan yang mendadak bangkit kembali.
Hans membalikkan lempengan logam itu agar Pip dan Evelyn bisa melihatnya di bawah cahaya uap.
Di balik ukiran simbol The Abyssal Order, terdapat stempel mesin pabrik modern yang dicetak dalam presisi militer. Stempel berbentuk mahkota singa dengan inisial tembaga: R.M.S - Royal Military Secret.
Evelyn menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya membelalak horor.
"Stempel Kerajaan? M-maksudnya..." Evelyn terbata-bata.
"Artinya, Lord Sterling bukan pimpinan utama konspirasi ini," potong Hans dingin. "Dia hanya anjing pesuruh. Penadah artefak ini dan pendana sejati The Abyssal Order duduk di dalam Istana Parlemen Inggris."
Belum sempat ketiganya memproses kenyataan mengerikan tersebut, suara derap langkah berat bergema nyaring dari arah lorong ventilasi darurat di atas mereka.
TUK... TUK... TUK...
Derap sepatu boot puluhan perwira polisi. Disertai suara teriakan yang sangat familier.
"Kunci semua pintu keluar! Tutup saluran pompa! Tikus-tikus pelabuhan itu pasti masih ada di bawah sana!"
Raungan Inspektur Hallowell menggema dari lorong atas. Suara pelatuk senapan laras panjang dikokang serentak. KLEK-KLEK-KLEK!
Scotland Yard telah mengepung Menara Air Pusat sepenuhnya.
Pip menatap Hans dengan panik. "Kita terkurung, Tuan! Pintu utama terkunci, tangga atas diblokir polisi!"
Hans memasukkan lempengan rahasia Kerajaan itu ke saku dalam mantelnya. Ia memutar tongkat besinya satu kali dengan tenang.
"Tidak ada ruangan yang benar-benar tertutup, Pip," ujar Hans dingin seraya melangkah menuju dinding pembuangan uap raksasa di ujung ruangan. "Siapkan napas kalian. Kita akan menguji seberapa deras arus bendungan bawah tanah kota London pagi ini."