NovelToon NovelToon
Lily

Lily

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:574
Nilai: 5
Nama Author: Lili Pinarsih

Tuan!, kau masih saja ya setampan dulu, suara itu menyapa dengan senyum lembut .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lili Pinarsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 surat perceraian

Lili Valley masih berdiri di hadapan meja kerja suaminya. Kedua tangannya menggenggam erat sebuah map berwarna putih yang sejak tadi dibawanya. Di dalam map itu terdapat selembar surat yang akan mengubah seluruh kehidupannya: surat permohonan perceraian.

Di hadapannya, Satoshi Katagiri duduk bersandar di kursi kulit hitam. Pria berambut pirang itu baru saja selesai membaca dokumen yang diberikan istrinya. Wajah tampannya tidak memperlihatkan banyak perubahan, tetapi kedua alisnya sedikit bertaut ketika matanya kembali tertuju pada baris terakhir surat tersebut.

Perceraian.

Kata itu terasa asing ketika dikaitkan dengan perempuan yang selama tiga tahun selalu mengejarnya dengan kesetiaan yang melelahkan.

“Kau serius dengan keputusan ini?” tanya Satoshi akhirnya.

Lili menundukkan kepala dengan sopan.

“Ya, Tuan.”

Panggilan itu membuat Satoshi mengangkat wajahnya.

Tuan.

Bukan suamiku. Bukan Satoshi. Bahkan bukan nama panggilan sederhana yang biasanya digunakan seorang istri untuk memanggil pasangannya.

Hanya Tuan.

Selama tiga tahun, Lili telah membiasakan dirinya menggunakan panggilan tersebut. Bukan karena ia tidak ingin memanggil Satoshi dengan sebutan suami, melainkan karena suatu kejadian telah mengajarkannya untuk tidak melakukannya lagi.

Ia masih mengingat hari ketika, dengan senyum malu-malu, ia pernah mencoba memanggil pria itu dengan sebutan suamiku.

Saat itu, ia baru saja menyiapkan makan malam dan ingin meminta Satoshi duduk bersamanya.

“Suamiku, makan malamnya sudah siap.”

Namun, Satoshi justru menoleh dengan tatapan penuh amarah.

“Siapa yang mengizinkanmu memanggilku seperti itu?”

Sebelum Lili sempat menjawab, pria itu menarik rambutnya dengan kasar. Lili terhuyung, menahan rasa sakit sambil berusaha melepaskan diri. Setelah itu, Satoshi mencambuknya sebagai hukuman atas panggilan yang dianggapnya lancang.

Malam tersebut menjadi salah satu kenangan paling menyakitkan dalam hidup Lili.

Sejak saat itu, ia tidak pernah lagi berani memanggil Satoshi dengan sebutan suamiku.

Ia memilih memanggilnya Tuan, sebagaimana seorang pekerja memanggil majikannya. Setidaknya, panggilan itu tidak akan membuatnya menerima hukuman karena dianggap melampaui batas.

Satoshi meletakkan surat tersebut di atas meja.

“Setelah tiga tahun, akhirnya kau menyerah juga.”

Lili mengangkat wajahnya perlahan.

“Saya sudah berusaha semampu saya, Tuan. Namun, saya tidak ingin memaksakan sesuatu yang tidak pernah Tuan inginkan.”

“Lalu, apa yang akan kau lakukan setelah kita bercerai?”

“Saya akan pergi.”

“Pergi ke mana?”

Lili terdiam sejenak sebelum menjawab, “Ke tempat yang jauh dari sini.”

Satoshi tertawa kecil, tetapi tawanya tidak mengandung kegembiraan.

“Kau pikir hidup di luar rumah ini akan mudah? Kau bahkan tidak memiliki apa-apa.”

Kalimat itu menusuk hati Lili, tetapi kali ini ia tidak menangis.

Satoshi memang tidak pernah memberinya uang untuk memenuhi kebutuhan pribadinya. Selama pernikahan mereka, ia harus mencari cara sendiri agar dapat bertahan hidup. Bahkan untuk membeli kebutuhan sederhana, Lili tidak bisa mengandalkan suaminya.

Beruntung, ibu Satoshi merupakan perempuan yang berhati lembut. Mertuanya itu sesekali memberikan uang saku kepadanya, terkadang disertai pesan agar ia tidak sungkan meminta bantuan jika membutuhkan sesuatu.

Uang tersebut tidak pernah Lili habiskan untuk kepentingannya sendiri.

Ia menabungnya sedikit demi sedikit.

Selain itu, Lili bekerja diam-diam sebagai penulis. Ia menerima pekerjaan menulis dari sejumlah klien dan menghabiskan malam-malamnya di depan komputer sederhana yang disimpannya di kamar. Ketika Satoshi membawa perempuan lain ke rumah atau tidak pulang hingga pagi, Lili menggunakan waktu itu untuk menyelesaikan pekerjaannya.

Tidak ada yang mengetahui kegiatan tersebut.

Bagi keluarga Katagiri, Lili hanyalah istri yang hidup bergantung pada kekayaan suaminya. Mereka tidak mengetahui bahwa perempuan itu telah berjuang membangun kehidupannya sendiri, sekecil apa pun penghasilan yang diperolehnya.

Dari hasil tabungan dan pekerjaannya, Lili bahkan berhasil membeli sebuah rumah kecil di desa terpencil di Jepang.

Rumah itu sederhana, jauh dari pusat kota, dikelilingi pepohonan dan hamparan sawah. Tidak ada gedung pencakar langit, tidak ada pesta mewah, dan tidak ada orang yang akan memandangnya sebagai istri seorang miliarder.

Di sanalah Lili ingin memulai kembali kehidupannya.

Ia ingin bangun pada pagi hari tanpa rasa takut. Ia ingin memasak tanpa berharap mendapatkan pujian. Ia ingin tidur pada malam hari tanpa harus mendengar langkah perempuan asing memasuki kamar suaminya.

Ia hanya ingin hidup dengan tenang.

“Kalau begitu, tandatangani suratnya, Tuan,” ucap Lili lembut.

Satoshi menatapnya cukup lama.

Ada sesuatu yang berbeda dari perempuan di hadapannya. Biasanya, setiap kali ia melontarkan hinaan, Lili akan menunduk dengan mata berkaca-kaca. Namun, hari ini perempuan itu berdiri dengan tenang, seolah-olah telah menyiapkan dirinya untuk menghadapi segala kemungkinan.

Entah mengapa, ketenangan itu membuat Satoshi merasa tidak nyaman.

Ia mengambil pena, tetapi tidak segera membubuhkan tanda tangan.

“Kau tidak akan berubah pikiran?”

“Tidak, Tuan.”

“Bahkan jika aku tidak memberimu apa pun setelah perceraian ini?”

Lili menggeleng perlahan.

“Saya tidak meminta harta Tuan. Saya hanya ingin kebebasan saya.”

Jawaban itu membuat Satoshi terdiam.

Untuk pertama kalinya, ia tidak dapat menemukan alasan untuk menuduh istrinya menginginkan kekayaannya.

Namun, alih-alih menandatangani surat tersebut, Satoshi justru menutup kembali map putih itu.

“Aku akan memikirkannya.”

Lili merasakan dadanya sedikit sesak.

Ia telah menyiapkan dirinya untuk menghadapi penolakan, tetapi tetap saja, mendengar jawaban itu membuatnya kecewa.

“Baik, Tuan. Saya akan menunggu.”

Setelah membungkuk singkat, Lili berbalik dan meninggalkan ruang kerja.

Satoshi memandangi punggungnya hingga pintu tertutup. Ia tidak memahami mengapa kepergian perempuan itu terasa berbeda dari biasanya.

Selama tiga tahun, ia selalu menganggap Lili akan terus bertahan, tidak peduli seberapa buruk perlakuannya. Ia mengira perempuan itu tidak akan pernah benar-benar meninggalkannya.

Kini, untuk pertama kalinya, kemungkinan kehilangan Lili mulai terasa nyata.

Namun, Satoshi belum bersedia mengakui bahwa perasaan aneh yang tumbuh dalam dirinya mungkin merupakan awal dari sesuatu yang selama ini tidak pernah ia pahami.

Pagi itu, Lili memasak beberapa hidangan sederhana, mengemasnya dalam kotak bekal, lalu berangkat menuju lokasi pembangunan di samping gedung perusahaan. Ia sudah lama tidak mengantarkan makanan ke ruang kerja Satoshi. Sejak memutuskan untuk berhenti mengejar perhatian suaminya, ia memilih memberikan makanan tersebut langsung kepada Tyson.

Ketika waktu istirahat tiba, Tyson sedang duduk di bangku taman kecil dekat lokasi proyek. Rambut pirangnya yang keriting tampak sedikit berantakan, sementara kemeja kerjanya memperlihatkan bekas debu dari pekerjaannya sepanjang pagi.

“Tyson,” panggil Lili sambil tersenyum.

Pria itu segera menoleh. Wajahnya yang semula tampak lelah berubah cerah ketika melihat Lili datang membawa sebuah tas kecil.

“Lili! Kau datang lagi.”

Lili duduk di sampingnya dan menyerahkan kotak bekal.

“Ini untukmu. Kau sudah makan?”

Tyson menerima kotak itu dengan kedua tangan.

“Belum. Aku baru saja mau membeli sesuatu. Kau selalu datang tepat waktu.”

Lili tertawa pelan.

“Kalau begitu, makanlah sebelum dingin.”

Tyson membuka kotak tersebut. Aroma masakan rumahan segera tercium, membuatnya tersenyum lebar.

“Entah bagaimana caranya, masakanmu selalu lebih enak daripada makanan yang kubeli di luar.”

“Jangan berlebihan. Ini hanya masakan sederhana.”

“Kalau begitu, aku akan terus memesan masakan sederhana ini.”

Lili tertawa kecil mendengar ucapannya. Untuk beberapa saat, suasana di antara mereka terasa ringan. Tidak ada bentakan, tidak ada hinaan, dan tidak ada tatapan yang membuat Lili merasa dirinya tidak berharga.

Hanya percakapan sederhana di sebuah taman.

Tyson mulai makan, sesekali bercerita tentang pekerjaannya. Lili mendengarkan dengan penuh perhatian, sesekali bertanya tentang keadaan rekan-rekannya dan kesulitan yang dihadapinya di lokasi pembangunan.

Tyson tidak pernah mengetahui siapa sebenarnya suami Lili.

Ia tidak tahu bahwa perempuan yang duduk di sampingnya merupakan istri sah Satoshi Katagiri, salah satu pengusaha paling kaya di Amerika. Pernikahan mereka dahulu dilangsungkan secara tertutup dan dijaga dengan sangat ketat. Tidak ada publikasi di media, tidak ada pengumuman resmi kepada masyarakat, dan tidak ada foto pernikahan yang dapat ditemukan oleh khalayak umum.

Hanya keluarga Katagiri, sejumlah orang kepercayaan, serta mereka yang memiliki hubungan bisnis dekat dengan Satoshi yang mengetahui pernikahan tersebut.

Bagi Tyson, Lili hanyalah seorang perempuan baik hati yang sesekali membawakannya makanan.

Ia tidak pernah menanyakan mengapa Lili selalu datang sendirian atau mengapa kesedihan terkadang terlihat di balik senyumnya.

Namun, hari itu, ia menyadari bahwa Lili tampak lebih pendiam daripada biasanya.

“Kau baik-baik saja?” tanyanya.

Lili menoleh.

“Ya. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu.”

Tyson meletakkan sendoknya.

“Kalau kau ingin bercerita, aku akan mendengarkan.”

Kalimat sederhana itu membuat Lili terdiam.

Sudah lama tidak ada seseorang yang menawarkan dirinya untuk mendengarkan tanpa menuntut apa pun sebagai balasan.

Ia menatap pepohonan di hadapannya, lalu tersenyum tipis.

“Tyson, menurutmu, apakah seseorang bisa memulai hidup baru setelah kehilangan sesuatu yang sangat berharga?”

Tyson berpikir sejenak sebelum menjawab.

“Tentu saja. Terkadang, kehilangan justru menjadi kesempatan untuk menemukan sesuatu yang lebih baik. Kau tidak harus terus tinggal di tempat yang membuatmu terluka hanya karena kau pernah mencintai tempat itu.”

Lili menunduk, menggenggam kedua tangannya di atas pangkuan.

Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa keputusannya untuk pergi bukanlah sebuah kegagalan.

Mungkin, meninggalkan Satoshi bukan berarti ia kalah dalam memperjuangkan cinta.

Mungkin, itu justru caranya menyelamatkan dirinya sendiri.

Di taman kecil tersebut, Lili menghabiskan waktu bersama Tyson tanpa mengetahui bahwa pertemuan sederhana itu kelak akan menjadi salah satu kenangan yang paling berarti baginya.

Sementara itu, di balik jendela tinggi ruang kerjanya, Satoshi berdiri memandangi taman yang terletak tidak jauh dari gedung perusahaan.

Tatapannya berhenti pada sosok perempuan bergaun sederhana yang sedang duduk di samping seorang pria berambut pirang.

Istrinya.

Lili sedang tersenyum.

Senyum yang selama tiga tahun tidak pernah benar-benar ia hargai.

Dan untuk alasan yang belum mampu dipahaminya, melihat Lili tersenyum kepada pria lain membuat hatinya terasa panas.

Satoshi mengepalkan tangan perlahan.

Ia belum menandatangani surat perceraian itu.

Namun, untuk pertama kalinya, ia mulai bertanya-tanya apakah perempuan yang selama ini selalu menunggunya justru sedang belajar menjalani hidup tanpa dirinya.

1
⌓̈⃝𓆩ImAntifragile𓆪દᵕ̈૩
aku mampir, semangat upnya. tulisannya seruuu😍
mampir juga yuk kak ke new sc akuu😁
Lili Pinarsih: mkasih ya 🥰 aku jugaa udah mampir kok dicerita kamu😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!