Tiga pemuda bokek di Desa Kertajaya nekat mencari cara mendapatkan uang. Alih-alih menemukan keberuntungan, mereka justru selalu terjebak dalam masalah kocak yang bikin hidup mereka semakin kacau. Tanpa mereka sadari, petualangan aneh yang lebih besar sudah menunggu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My Chubby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi Pertama Yang Kacau
BAB 10
Cahaya matahari pagi merangsek masuk melalui celah ventilasi kamar nomor empat. Debu halus beterbangan di udara. Suara ayam berkokok bersahut-sahutan dari perkampungan sekitar, disusul suara motor bebek lewat dan suara ibu-ibu menyapu halaman.
Hari baru telah dimulai di Desa Kertajaya.
Namun, suasana di dalam kamar sempit itu sama sekali tidak terasa menyegarkan.
Bayu adalah orang pertama yang bergerak.iya mengerjap-ngerjapkan matanya yang terasa berat, lalu menggeliat malas di atas kasur busa tipisnya yang sudah kempes di bagian tengah. Begitu kesadarannya pulih sepenuhnya, iya langsung teringat pada kenyataan yang menanti mereka hari ini.
Waktu mereka untuk mencari uang hari itu semakin sedikit.
"Aduh..." gerutu Bayu sambil memegang perutnya yang kembali berbunyi keroncongan. Ia menoleh ke arah sudut ruangan, tempat Zahmira beristirahat semalam.
Kosong.
Tidak ada gaun ungu.
Bayu langsung terduduk tegak dengan mata terbelalak lebar.
"Dim, bangun, Dim! Gawat!" Iya menyenggol lengan Dimas yang masih tidur meringkuk di sebelah kanannya.
Dimas mengerang malas, menepis tangan Bayu dengan kasar. "Apaan sih, Bay? Masih pagi juga."
"Bukan pagi, tapi ratu jin kita kabur!" seru Bayu panik sambil menunjuk ke arah sudut kamar yang kosong melompong.
"Hilang!"
Raka, yang sudah terbangun lebih dulu, sedang duduk di dekat meja plastik pendek. Di depannya ada teko plastik, gelas kaca, dan tumpukan kertas catatan kecil miliknya kertas coretan angka, daftar utang warung, dan hitungan uang kos. Iya menoleh dengan tenang.
"Dia tidak kabur, Bay. Dia ada di dekat jendela sejak subuh tadi."
Bayu dan Dimas langsung menoleh serempak ke arah jendela. Di sana, di balik korden kusam yang sedikit disingkap, Zahmira berdiri tegak dengan anggun. Perempuan bergaun ungu itu menatap ke arah halaman bawah kos dengan ekspresi datar.
"Bagaimana kalian bisa tahan hidup di tempat yang penuh dengan suara bising dan bau asap seperti ini setiap pagi?" tanya Zahmira tanpa menoleh ke belakang, suaranya dingin namun elegan. "Di bawah sana ada manusia membakar sampah, ada manusia berteriak memanggil ayam, ada manusia menyalakan kotak besi yang berisik."
Raka bangkit berdiri, merapikan kaus oblongnya yang kusut. "Namanya juga perkampungan padat, Mbak Zahmira. Pagi-pagi memang begitu."
Zahmira membalikkan badannya, melangkah perlahan mendekati ketiga pemuda itu. Sulaman benang di gaunnya berkilau menangkap pantulan cahaya matahari pagi, menciptakan kontras yang sangat mencolok dengan dinding kamar kos yang kusam.
"Aku tadi sempat mengamati perempuan pemilik tempat ini yang kalian takuti itu dari atas sini," kata Zahmira sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Perempuan berambut digelung dengan pakaian hijau menyala yang sedang menagih uang kepada seorang pemuda di halaman bawah. Suaranya sangat keras untuk ukuran manusia sekecil itu."
Mendengar deskripsi itu, Bayu langsung bergidik ngeri.
"Itu Bu Ratna! Radar penagih utangnya memang aktif setiap jam tujuh pagi tanpa pernah meleset. Dia ibarat alarm kos yang tidak bisa di-snooze."
"Perempuan itu datang ke lantai bawah," lanjut Zahmira dengan nada tenang, sama sekali tidak terpengaruh oleh kepanikan Bayu. "Dia membawa buku cokelat kecil di tangannya. Dan sepertinya, pintu kamar kalian akan menjadi tujuan berikutnya setelah dia selesai menceramahi pemuda di bawah sana."
Seketika, suasana di dalam kamar nomor empat berubah menjadi genting. Raka, Bayu, dan Dimas saling berpandangan dengan wajah pucat. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh lewat sepuluh menit dari jam dinding bulat yang baterainya sudah lemah.
Dompet mereka bertiga jika digabungkan mungkin hanya cukup untuk membeli sebungkus nasi kucing dan dua buah gorengan dingin.
"Mati kita," desis Bayu lemas, kembali menjatuhkan tubuhnya ke kasur dengan dramatis. "Hari ini kasur kesayangan kita bakal resmi disita Bu Ratna."
Dimas menghela napas panjang, berjalan pelan ke dekat pintu dan menempelkan telinganya ke daun pintu kayu untuk mendengarkan suara di luar. Kipas angin kecil di langit-langit masih berputar miring dengan suara berderak.
"Belum. Suara sandal jepitnya masih di lantai bawah. Dia baru selesai marah-marah soal jemuran handuk yang sembarangan di tangga."
Raka mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Iya tahu mereka tidak boleh hanya duduk diam menunggu nasib buruk menghantam.
"Kita harus keluar sekarang. Lewat tangga belakang. Menyelinap turun sebelum dia sempat naik ke lantai dua. Kita cari kerjaan harian apa saja di luar, entah itu jadi kuli panggul pasar atau buruh angkut gabah lagi. Yang penting dapat uang pegangan buat sore nanti."
Zahmira mengamati kepanikan tiga pemuda di depannya dengan tatapan heran. Iya tidak habis pikir mengapa makhluk fana itu harus gemetar hanya karena seorang perempuan pemilik tempat.
"Kalian benar-benar makhluk paling menyedihkan yang pernah kutemui," cibir Zahmira pelan, menggelengkan kepalanya. "Hanya karena secarik kertas dan ruangan sekecil ini, kalian rela merendahkan harga diri hingga berlari ketakutan."
"Bukannya penakut, Mbak, tapi ini namanya taktik bertahan hidup," sahut Bayu memelas dari kasur.
"Taktik anak kos. Kalau Mbak punya cara lain yang lebih elegan misalnya mengubah daun kering di halaman jadi koin emas murni silakan dipraktikkan sekarang juga. Kami pasti sujud menyembah."
Mendengar itu, mata Zahmira menyipit tajam. Iya melangkah maju satu langkah. Udara di dalam kamar mendadak terasa lebih dingin. Kipas angin yang berputar miring di atas tiba-tiba berhenti berderak sesaat.
"Jangan pernah meremehkan kekuatan seorang bangsawan dari alam gaib, manusia lancang," ucap Zahmira dengan suara rendah.
Raka langsung mengangkat tangan. "Mbak Zahmira, jangan. Bayu cuma bercanda. Di sini gak boleh pakai kekuatan sembarangan. Kalau Mbak tiba-tiba bikin daun jadi emas di depan Bu Ratna, kita malah dikira pakai pesugihan. Bisa diusir sekampung."
Zahmira menatap Raka, lalu menatap Bayu yang sudah menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangan.
Sebelum Raka sempat melanjutkan kalimatnya, sebuah suara yang sangat keras dan sangat familier tiba-tiba menggema dari luar kamar. Suara yang membuat tiga pemuda itu hafal mati nadanya.
Tok! Tok! Tok!
Ketukannya keras, tidak sabar, dan penuh wibawa.
"Raka! Bayu! Dimas! Keluar kalian bertiga! Jangan pura-pura tuli, saya tahu kalian ada di dalam! Jam segini masih ngorok saja di dalam kamar!"
Suara melengking penuh amarah milik Bu Ratna terdengar jelas menembus pintu kayu tipis, membuat tiga pemuda di dalam kamar langsung terlonjak kaget secara bersamaan.
Bayu langsung menutup mulutnya rapat-rapat, Dimas menahan napas, dan Raka mematung di tempat.
Di tengah kepanikan itu, Zahmira justru berdiri paling tenang. Ia menatap pintu kayu itu dengan alis terangkat, seolah baru pertama kali mendengar manusia bisa berteriak sekeras itu tanpa menggunakan sihir pengeras suara.
"Perempuan itu," gumam Zahmira pelan, "suaranya lebih keras dari komandan pasukan istanaku."