**Surat Terakhir Bapak**
*Ada rahasia yang dikubur bersama Bapak. Dan ada yang sudah lama menunggu untuk digali.*
Tiga hari setelah pemakaman Hartono, keluarganya berkumpul untuk mendengar surat wasiat. Harta dibagi rapi, seperti sifat Bapak yang selalu teliti. Tapi di balik segel lilin merah, ada satu pengakuan yang meruntuhkan segalanya: Bapak punya anak lain, seorang pemuda bernama Dimas.
Laras, sulung yang dua belas tahun lari ke Jakarta, harus menghadapi kenyataan bahwa kecurigaannya dulu benar. Bima, yang menjaga toko dan keluarga seorang diri, tak sanggup menerima orang asing berwajah Bapak. Sekar, si bungsu, kehilangan sosok ayah yang ia kira ia kenal. Dan Ibu, yang paling tenang di antara semuanya, ternyata sudah tahu sejak awal.
Ketika satu per satu kebenaran terbuka, mereka sadar luka terbesar bukan pada apa yang Bapak sembunyikan, tapi pada siapa saja yang ikut diam selama dua puluh tiga tahun.
*Surat Terakhir Bapak* adalah kisah tentang pengkhianatan, pengampunan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachman Santoso, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Warung di Depan Stasiun Lama
Laras tidak mengatakan apa-apa.
Ia meletakkan ponsel Dimas di meja, pelan, seperti meletakkan sesuatu yang bisa meledak, lalu menarik napas dan mengatur wajahnya. Di sekelilingnya, enam orang yang tadi membeku mulai bergerak lagi: Sekar menyalakan kompor untuk merebus air, Bima mengambil cangkir, Pak Surya duduk akhirnya, bahunya turun seperti orang kehabisan tenaga. Semuanya wajar. Semuanya terlalu wajar.
Siapa yang tadi menghindari tatapannya? Ia mencoba mengingat, dan tidak bisa. Wajah-wajah itu sudah berbaur menjadi satu kelelahan yang sama.
"Kita semua perlu tidur," katanya. "Besok urusannya panjang."
"Mbak nggak mau bahas telepon tadi?" tanya Bima.
"Besok. Otakku sudah tidak bisa mencerna lagi."
Bima menatapnya sedikit lebih lama dari yang wajar, lalu mengangguk. Laras tidak tahu apakah itu curiga atau sekadar keletihan.
---
Dimas menyusulnya ke teras belakang menjelang tengah malam. Hujan sudah berhenti, dan udara berbau tanah dan kayu basah. Ia berdiri di dekat pohon jambu air dengan tangan di saku jaket.
"Mbak mau pergi, kan?"
"Jam empat. Pelan-pelan. Kamu tunggu di ujung gang."
"Mbak yakin ini bukan jebakan?"
"Tidak." Laras menatap langit. "Tapi aku lebih yakin ini bukan sesuatu yang bisa kita abaikan."
"Kenapa Mbak percaya dia?"
Laras diam sejenak. "Karena dia menelepon pakai nomor di kartu yang disimpan ibumu. Dan karena dia satu-satunya yang bilang, 'jangan percaya siapa pun, termasuk yang paling kalian percaya,' tanpa menunjuk siapa pun." Ia menoleh. "Orang jahat biasanya menunjuk satu orang. Orang yang jujur tahu dia sendiri tidak punya cukup bukti."
Dimas mengangguk pelan. "Mbak pintar."
"Aku cuma capek dibohongi." Laras tersenyum tipis. "Ayo tidur. Dua jam saja."
---
Ia tidak tidur.
Pukul empat kurang sepuluh, Laras mengendap turun dengan sepatu di tangan, melewati kamar Ibu yang pintunya tertutup, kamar Bima yang gelap, dan ruang tamu tempat Pak Surya tertidur di kursi rotan dengan mulut sedikit terbuka. Ia menahan napas di anak tangga terakhir.
"Mbak."
Laras tersentak. Sekar duduk di ujung tangga bawah dengan kerudung miring dan selimut di bahu, mata sembab tetapi jernih.
"Kamu belum tidur?"
"Aku nggak bisa." Sekar menatap sepatu di tangan Laras. "Mbak mau ke mana?"
"Beli sarapan."
"Mbak bohong."
Laras tidak membantah. Ia duduk di anak tangga di samping adiknya, memeluk sepatunya di pangkuan.
"Kamu sudah dengar semuanya tadi," katanya pelan. "Dia bilang jangan kasih tahu siapa pun."
"Termasuk aku?"
"Termasuk siapa pun yang ada di rumah ini."
Sekar diam. Lalu, pelan sekali, ia berkata, "Aku bukan orang yang Mbak curigai."
"Aku tahu."
"Tapi Mbak tetap nggak mau bilang."
"Kalau kamu tahu, kamu harus berbohong pada Ibu dan Bima. Kamu mau?" Laras menggeleng. "Aku nggak mau kamu jadi pembohong lagi hari ini."
Mata Sekar berkaca. Ia mengangguk, lama, lalu menyandarkan kepala ke bahu Laras.
"Jaga Ibu," bisiknya. "Jaga dirimu. Kalau jam delapan belum kabar, aku bangunkan semua orang."
"Jam delapan."
"Janji."
Laras mengecup puncak kepalanya, dan pergi lewat pintu dapur tanpa menoleh.
---
Stasiun lama itu sudah lama tidak melayani penumpang. Rel-relnya berkarat di antara ilalang, papan namanya miring, dan satu-satunya yang masih hidup di sana adalah sebuah warung beratap seng di sisi kiri, dengan lampu petromaks dan dua bangku panjang.
Dewi sudah duduk di bangku paling ujung ketika mereka tiba.
Ia tidak seperti yang Laras bayangkan. Perempuan lima puluhan, rambut pendek beruban dipotong asal, jaket kulit lusuh, celana kain, tanpa seragam dan tanpa lencana. Ia menyeruput kopi hitam dari gelas seng dengan sikap orang yang sudah melakukannya setiap pagi selama bertahun-tahun, dan hanya sudut matanya yang bergerak ketika melihat mereka mendekat.
"Duduk," katanya. "Pesan kopi. Pura-pura santai."
Laras dan Dimas duduk berseberangan. Penjual warung, seorang perempuan tua berkerudung, menuangkan dua gelas tanpa bertanya.
"Kalian datang berdua. Bagus." Dewi menatap Laras. "Kamu Laras. Mata Hartono."
"Saya tidak punya mata Bapak."
"Kamu punya cara memicingkannya kalau curiga." Dewi tersenyum miring. "Itu cukup."
Hening. Seekor kereta barang melintas jauh di kejauhan, klaksonnya terdengar seperti keluhan.
"Saya punya tiga pertanyaan," kata Laras. "Pertama, kenapa harus di sini dan bukan di telepon."
"Karena telepon bisa disadap, dan warung ini tidak." Dewi menyesap kopinya. "Kedua?"
"Siapa yang Bapak maksud di halaman empat puluh satu sampai enam puluh?"
"Itu pertanyaan yang tidak bisa saya jawab."
"Kenapa?"
"Karena saya sendiri tidak tahu." Dewi meletakkan gelasnya. "Hartono merobek halaman-halaman itu empat belas tahun lalu dan mengirimkannya padaku dalam amplop tertutup. Dia bilang jangan dibuka sampai dia meninggal, dan hanya boleh diserahkan pada anaknya, di depan orang yang namanya tertulis di dalamnya."
"Tapi Ibu sudah bilang ..." Dimas mengerutkan kening. "Ibu Dewi tadi bilang itu orang di meja makan kami."
"Itu petunjuk dari Hartono. Satu-satunya yang dia ceritakan." Dewi mengangkat bahu. "Saya sudah dua puluh lima tahun memegang amplop itu, dan saya tidak pernah mengintip. Itu satu-satunya hal yang saya jaga lebih dari nyawa saya."
Ia merogoh jaketnya dan mengeluarkan amplop cokelat tebal, segelnya masih utuh, sudutnya lecek oleh waktu. Di depannya, huruf-huruf tegak dan miring ke kanan:
*Untuk Laras. Dibuka hanya di depan dia yang sudah lama duduk di meja kami.*
Laras mengambilnya dengan kedua tangan.
"Pertanyaan ketiga?" tanya Dewi.
"Kenapa Anda mau melakukan ini? Dua puluh lima tahun."
Dewi diam lama. Matanya mengikuti kereta barang yang menghilang di balik pepohonan.
"Waktu saya polisi baru, ada kasus perdagangan perempuan di Wonosobo," katanya akhirnya. "Saya yang datang ke TKP. Korbannya gadis enam belas tahun, baru melahirkan, lari dari rumah suaminya." Ia menelan ludah. "Dia bilang namanya Ratna. Saya tahu itu bukan nama aslinya, tapi saya tidak bertanya. Saya antar dia ke terminal dengan uang pribadi saya, dan saya berjanji tidak akan menulis laporan."
Dimas tidak bergerak.
"Dua tahun kemudian, Hartono mendatangi saya. Dia tahu nama saya dari Ratna. Dia bilang, kalau saya serius ingin menebus kegagalan saya malam itu, saya bisa mulai dengan mengawasi orang yang membuat gadis itu lari." Dewi tersenyum pahit. "Saya setuju. Dan sekarang, setelah dua puluh lima tahun, saya akhirnya bisa berkata bahwa saya sudah memegang janji itu."
"Terima kasih," bisik Dimas.
"Jangan terima kasih dulu. Belum selesai."
---
Mereka sudah berdiri hendak pergi ketika ponsel Dimas bergetar di atas meja.
Satu pesan, dari Sekar. Ia membacanya dan wajahnya seketika memucat.
"Mbak ..."
"Apa?"
Dimas menyerahkan ponselnya tanpa kata.
*Mas, tolong bilang ke Mbak Laras. Pak Surya hilang dari ruang tamu. Pintu belakang terbuka. Koper dan buku besarnya ikut hilang. Ibu sedang mencari-cari di luar. Tapi satu hal lagi, Mas ... laci tempat Ibu menyimpan tas dan buku besar itu terbuka, dan ada satu kertas terselip di dalamnya. Tulisan Pak Surya.*
Laras membuka lampiran foto di bawahnya. Selembar kertas bergaris, tinta biru, tulisan yang bergetar dan terburu-buru:
*Maafkan saya. Saya tidak kuat lagi. Nama itu bukan Darmawan, bukan Ratih. Saya terlalu pengecut untuk mengucapkannya di depan Bu Wulan. Saya akan mencari dia lebih dulu dan membuatnya mengaku sendiri. Kalau saya tidak kembali, tanyakan pada Mas Bima apa yang ia sembunyikan di dalam kantong jaketnya waktu pertama kali datang ke rumah saya malam itu.*
Laras mengangkat pandangan. Dewi sudah berdiri di sampingnya, tidak bertanya, hanya menatap layar itu dengan sorot orang yang sudah menduga akhirnya.
"Bima," bisik Laras.
"Atau Surya sedang mengadu domba kalian," kata Dewi pelan. "Itu cara paling tua untuk memecah belah keluarga yang baru saja bersatu."
"Atau dia jujur."
"Atau dia jujur." Dewi mengangguk. "Dan itu lebih mengerikan. Karena kalau begitu, orang di meja makan kalian sudah tahu bahwa kalian akan datang ke sini."
Di kejauhan, kereta barang kedua melintas. Klaksonnya menggema seperti panggilan, dan di balik suara itu, Laras mendengar sesuatu yang lain: bunyi mesin motor yang dimatikan tepat di ujung jalan masuk stasiun, tidak jauh dari tempat mereka berdiri.