NovelToon NovelToon
Nak, Ayo Kita Pergi, Tinggalkan Papa.

Nak, Ayo Kita Pergi, Tinggalkan Papa.

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Cintapertama
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Isti arisandi

Hari ini adalah ulang tahun Prastyo Bharata Utama. Mikhaila ingin membuat malam ulang tahun Pras berbeda dari biasanya. Ia telah menyiapkan kejutan yang selama ini mereka nantikan: sebuah test pack dengan dua garis merah. Di bungkus hadiah itu dengan rapi, lalu ia mengantarkannya ke kantor karena tak sabar menunggu Pras pulang.

Namun, kenyataan justru menghancurkan kebahagiaannya. Sore itu, Mikha mendapati seorang wanita tengah bermanja-manja di ruang kerja bersama suaminya. Hatinya remuk, bahkan ia tak sanggup mendorong pintu untuk meminta penjelasan. Mikha memilih pergi dan mengubah rencananya. Kali ini, ia ingin membuat Pras jatuh miskin dan hidup dalam penyesalan.



Ayo kita dukung rencana Mikhaila, biar lelaki tukang selingkuh itu jera.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isti arisandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1. Hancur

Sejak pagi, Mikha sudah sibuk di meja makan.

Di hadapannya tergeletak sebuah kotak mungil berbungkus kertas putih dengan pita biru muda. Ukurannya tidak seberapa, bahkan mungkin terlalu kecil untuk disebut sebagai hadiah istimewa. Namun, bagi Mikha, benda di dalamnya jauh lebih berharga daripada barang mahal apa pun yang pernah dibelikan Pras untuknya.

Sesekali, ia melirik kotak itu, lalu tersenyum sendiri.

Senyum yang belakangan ini semakin sering menghiasi wajahnya.

Tangannya perlahan menyentuh perut yang masih rata. Belum ada perubahan berarti pada tubuhnya. Belum ada yang bisa ditebak orang lain. Bahkan, Pras yang setiap hari tidur di sampingnya pun belum mengetahui rahasia yang sedang ia simpan.

"Apa Papa bakal senang, ya Nak?" bisiknya pelan.

Matanya berkaca-kaca, tetapi kali ini bukan karena kesedihan.

Sudah beberapa minggu terakhir Mikha menahan diri agar tidak langsung memberi tahu suaminya tentang kehamilannya. Bukan karena ia ragu pada reaksi Pras, melainkan karena ia ingin menyampaikan kabar itu pada hari yang istimewa.

Ia membayangkan wajah Pras yang terkejut, kemudian senyum lebarnya ketika mengetahui bahwa sebentar lagi mereka akan menjadi orang tua.

Mungkin lelaki itu akan memeluknya erat. Mungkin juga akan mengangkatnya berputar-putar seperti yang pernah dilakukannya ketika mereka baru menikah.

Mikha tersenyum membayangkan semuanya.

Sudah lama sekali ia tidak merasakan kebahagiaan yang begitu utuh, mengingat pernikahan mereka sudah berjalan lima tahun.

Pernikahan mereka memang tidak selalu sempurna. Ada masa-masa ketika Pras begitu sibuk dengan pekerjaan, pulang larut malam, atau bahkan tidak sempat menghabiskan waktu bersamanya. Namun, Mikha selalu berusaha memahami.

Ia tahu suaminya bekerja keras untuk masa depan mereka.

Dan selama ini, ia percaya bahwa apa pun yang terjadi, mereka tetap memiliki satu sama lain.

Sayangnya, ada satu hal yang tidak pernah benar-benar bisa mereka miliki, yaitu hadirnya seorang anak.

Mikha sudah berkali-kali melihat kesedihan yang berusaha disembunyikan Pras setiap kali mereka menghadiri acara keluarga dan seseorang bertanya kapan mereka akan mempunyai momongan.

Meski lelaki itu tidak pernah menyalahkannya secara langsung, Mikha tahu betapa besar keinginannya untuk menjadi seorang ayah.

Karena itulah, ketika dua garis merah muncul di alat tes kehamilan yang dibelinya diam-diam, Mikha menangis sendirian di kamar mandi.

Ia memeriksa hasilnya berkali-kali, seolah takut kedua garis itu menghilang jika ia terlalu lama berkedip.

Kemudian ia tertawa sambil menangis.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa Tuhan akhirnya mengabulkan doa yang terus-menerus ia panjatkan.

Dan hari ini, ia akan membagikan kebahagiaan itu kepada lelaki yang paling ingin ia bahagiakan.

Mikha meraih kotak mungil di atas meja, mengangkatnya sebentar, lalu meletakkannya kembali.

"Sebentar lagi, Sayang," gumamnya kepada calon bayi dalam kandungannya. "Kita kasih tahu Papa malam ini, ya."

Ponselnya yang tergeletak di samping kotak tiba-tiba bergetar.

Senyum Mikha langsung mengembang ketika melihat nama yang muncul di layar. Siapa lagi kalau bukan suaminya.

Ia segera mengangkat panggilan itu.

"Halo, Mas?"

"Sayang, kamu sudah makan?"

Suara berat yang sudah bertahun-tahun dikenalnya itu terdengar dari seberang. Sederhana, bahkan hanya pertanyaan yang biasa dilontarkan setiap hari. Namun, entah mengapa, pagi itu Mikha merasa begitu bahagia mendengarnya.

"Sudah. Mas sendiri?"

"Nanti aku makan di kantor."

Mikha mengerutkan kening. "Hari ini Mas pulang tepat waktu, kan?"

"Ada apa?"

"Nggak ada." Ia menahan senyum. "Cuma mau menghabiskan waktu sama Mas."

Terdengar tawa kecil dari seberang.

"Memangnya selama ini aku kurang perhatian?"

Mikha ikut tertawa.

"Siapa yang bilang begitu?"

"Ya sudah. Nanti malam kita makan bersama. Aku usahakan pulang cepat."

"Janji?"

"Iya, Sayang. Janji."

Panggilan berakhir beberapa saat kemudian.

Mikha masih memandangi layar ponselnya dengan senyum yang sulit dihapus.

Ia percaya pada janji itu.

Mikha percaya bahwa suaminya adalah lelaki yang akan menyambut kehadiran anak mereka dengan bahagia.

Menjelang siang, Mikha mulai menyiapkan makan malam.

Ia memilih beberapa hidangan kesukaan Pras, memastikan semuanya tersedia, lalu memesan kue tart berukuran kecil. Tidak ada perayaan besar. Ia hanya ingin malam itu menjadi milik mereka berdua.

Tiga puluh lima tahun.

Usia yang menurut Pras menandai semakin banyaknya tanggung jawab. Namun, bagi Mikha, usia itu juga menjadi awal yang indah karena mereka akhirnya akan memiliki seorang anak.

Sesekali, tangannya kembali menyentuh perut.

Ada kehidupan kecil di sana. Seseorang yang belum pernah ia lihat, belum pernah ia peluk, tetapi sudah berhasil membuatnya mencintai dunia dengan cara yang berbeda.

"Semoga kamu sehat, ya, Nak," bisiknya.

Ia tidak tahu bahwa kebahagiaan yang sedang dirawatnya dengan sepenuh hati akan segera berubah menjadi sesuatu yang nyaris tidak sanggup ia tanggung.

Menjelang sore, ponselnya kembali berbunyi.

Mikha yang sedang merapikan pita pada kotak mungil itu langsung menoleh.

Sebuah pesan dari Pras muncul di layar.

Sayang, maaf, hari ini aku harus lembur. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Kamu makan duluan saja, nggak perlu menunggu aku.

Senyum di wajah Mikha perlahan memudar.

Ia membaca pesan itu sekali lagi.

Lembur?

Padahal pagi tadi Pras berjanji akan pulang cepat.

Mikha menatap kue tart di atas meja, kemudian kotak kecil di sampingnya. Ia sempat merasa kecewa, tetapi buru-buru menepis perasaan itu.

Mungkin memang ada pekerjaan mendesak.

Ia tidak ingin merusak malam ulang tahun suaminya hanya karena harus menunggu sedikit lebih lama.

Lagi pula, bukankah kejutan akan terasa lebih istimewa jika diberikan langsung?

Mikha meraih ponselnya dan mengetik balasan.

Baik, Mas. Jangan lupa makan. Aku tunggu.

Ia sempat hendak menambahkan kalimat lain, tetapi mengurungkan niatnya.

Akhirnya, sebuah ide terlintas di benaknya.

Bagaimana jika ia datang langsung ke kantor Pras.

Ia bisa membawa kue tart dan hadiah kecil itu. Mereka tetap dapat merayakan ulang tahun bersama, meskipun hanya sebentar.

Barangkali Pras akan terkejut melihatnya datang, dan akan jadi kado paling spesial sepanjang hidupnya.

Mikha tersenyum lagi.

Tanpa membuang waktu, ia mengambil tas, memasukkan kotak mungil itu dengan hati-hati, lalu memastikan kue tart pesanannya sudah siap dibawa.

Sebelum berangkat, ia berdiri sebentar di depan cermin.

Wajahnya terlihat cerah. Matanya menyimpan harapan yang bahkan tidak bisa disembunyikan oleh senyum paling sederhana sekalipun.

Ia mengusap perutnya sekali lagi.

"Malam ini kita ketemu Papa, Nak."

Lalu ia melangkah keluar rumah, membawa hadiah kecil dan seluruh kebahagiaan yang selama ini ia simpan sendirian.

Mikha lalu naik taxi, selama pernikahan dia baru saja memiliki satu mobil Innova dan itu dibawa Pras ke kantor sejak pagi tadi.

Mikha membawa hadiah untuk Pras dengan sangat hati hati dan jantung terus berdebar sepanjang perjalanan.

1
Ma Em
Ayo Mikha jgn sampai pelakor yg menikmati hartanya Pras ambil semua yg Pras punya biar si Alena gigit jari dan Mikha jadi janda kaya .
Sri Widiyarti
kutunggu penyesalanmu Pras...
ArchaBeryl
kak kenapa kemrin gak up
hari ini 4 bab ya kak
penasaran
menanti pembalasan istri sah
dan penyesalan suaminya 🤭🤭
Sari Nilam
mikha terlalu main hati . kelamaan ambil.keputusan
Sari Nilam
saran aja thor, mungkin jangan.terlalu lama kebohongan ditutupi
Sari Nilam
bagus suka gayamu pelakormah dipites aja
Sari Nilam
gaskeun mikhahadapi pelakor dengan elegan
Sari Nilam
bagus setelah itu pergilah janga menunda2 lagi
Sari Nilam
ayo mikha pergi sekarang ...biarkan.pras merasa bebas untuk.menikahi sepupu maut.
Sari Nilam
sepupu maut ini
Sari Nilam
harus pintar n cerdik sana laki2 selingkuh
Sari Nilam
pekakor gak tahu malu
Sari Nilam
kalau tabu suami selingkuh tinggalin aja
Sari Nilam
sedih
Sari Nilam
jadi deg2 an..ada apa ya
sunaryati jarum
Nanti setelah Mikha pergi bawa anakmu dalam kandungannya dan tahu sifat asli Alena baru tahu rasa.Mikha segera pergi saja,Mikha sebelum kandungan kamu terlihat
Sari Nilam: serakah ..pras serakah dan.egois.
total 1 replies
Dinda Putri
lanjut
sunaryati jarum
Mampir
Ma Em
Mikha kamu hebat berani membuat pelakor tdk bisa berkutik buat pelakor iri sama Mikha biar dia tersiksa karena mengharapkan sesuatu dari suami orang .
Sri Widiyarti
lanjut thor ditunggu up-nya 🌹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!