NovelToon NovelToon
Balas Dendam Seorang Istri Yang Tersakiti

Balas Dendam Seorang Istri Yang Tersakiti

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Jefika Isabell

Celine Wang pernah percaya bahwa cinta mampu mengubah hati seorang pria yang dingin.

Selama tiga tahun pernikahannya dengan Alexander Wu, pewaris keluarga konglomerat Wu Group, Celine berusaha menjadi istri yang sempurna. Ia merawat rumah mereka, mendampingi Alexander ketika menghadapi kesulitan, dan diam-diam membantu menyelamatkan perusahaan suaminya dari krisis keuangan.

Namun, semua pengorbanannya tidak pernah dianggap berarti.

Bagi Alexander, Celine hanyalah wanita biasa yang beruntung mendapatkan tempat di keluarga Wu. Terlebih lagi, kehadiran Evelyn Zhao, cinta pertama Alexander yang kembali ke Shanghai, perlahan menghancurkan rumah tangga mereka.

Atas hasutan Evelyn dan tekanan keluarganya, Alexander menuduh Celine sebagai wanita yang tidak tahu diri, menandatangani surat perceraian, lalu mengusirnya dari rumah tanpa memberinya kesempatan menjelaskan kebenaran.

Pada malam yang sama, Celine mengetahui bahwa sebagian besar penderitaan yang dialaminya bukanlah kebetulan. Ada

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jefika Isabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 — Pengkhianat di Balik Nama Keluarga

Pagi itu, Celine Wang tiba di kantor Daniel Zhou dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Semalaman ia memikirkan kalimat dalam dokumen yang dikirim Alexander: Jika Yiran ditemukan, tanyakan kepadanya siapa yang menerima amplop dari William sebelum kecelakaan.

Kalimat itu membuka kemungkinan baru yang jauh lebih mengganggu daripada sebelumnya.

William mungkin telah mengetahui bahwa dirinya berada dalam bahaya. Ia mungkin juga telah mencoba menyerahkan bukti kepada seseorang yang dipercaya. Namun, jika dokumen itu jatuh ke tangan yang salah, seluruh penyelidikan selama lima belas tahun terakhir bisa saja dibangun di atas kebohongan.

“Apakah kau sudah memeriksa nomor referensi pada halaman itu?” tanya Celine begitu memasuki ruangan Daniel.

Daniel mengangguk dan memutar laptopnya.

“Aku menemukan catatan pengiriman dokumen dari kantor lama Shengyuan. Nomor referensinya cocok dengan kode yang tercantum pada halaman perjanjian.”

“Siapa penerimanya?”

“Itulah masalahnya.” Daniel menunjuk sebuah kolom yang sebagian rusak. “Nama penerima sudah tidak terbaca, tetapi ada tanda tangan dan nomor identitas pegawai yang bertugas menyerahkan dokumen.”

Celine mendekat.

Tanda tangan tersebut tampak seperti dua huruf yang ditulis terburu-buru.

“Bisakah kau mengidentifikasinya?”

“Aku sedang mencocokkannya dengan daftar pegawai lama. Ada satu nama yang muncul beberapa kali dalam arsip pembayaran.”

Daniel membuka dokumen lain.

Liang Zhen.

Celine teringat lelaki tua yang pernah ditemuinya pada malam gala Huaxia Foundation. Liang mengaku pernah bekerja bersama William dan menyarankan Celine mencari perjanjian pengalihan aset asli.

“Dia mengatakan ayahku menolak menandatangani perjanjian itu,” ujar Celine. “Mengapa dia tidak pernah menyebut bahwa dirinya menerima dokumen dari ayahku?”

“Mungkin dia tidak tahu isi amplopnya. Atau mungkin dia mengetahui lebih banyak daripada yang dikatakannya.”

Celine merasakan kecurigaan kembali tumbuh.

“Kalau begitu, aku ingin menemuinya.”

Daniel segera menggeleng.

“Kita tidak akan datang tanpa persiapan. Setelah kejadian di gudang, jelas ada seseorang yang mengikuti penyelidikanmu.”

“Aku tidak akan menemuinya sendirian.”

“Bagus. Aku akan menghubunginya melalui jalur resmi dan meminta pertemuan di tempat umum.”

Celine mengangguk, tetapi pikirannya sudah melayang ke tempat lain.

Jika Liang Zhen benar-benar menerima amplop terakhir ayahnya, lelaki itu mungkin mengetahui apa yang terjadi sebelum kecelakaan. Namun, jika ia sengaja menyembunyikan informasi tersebut selama bertahun-tahun, apakah ia masih bisa dipercaya?

Celine mulai memahami bahwa mencari kebenaran tidak selalu berarti menemukan seseorang yang bersedia memberikan jawaban.

Terkadang, kebenaran tersembunyi di antara orang-orang yang masing-masing memiliki alasan untuk diam.

Pada siang hari, Alexander Wu menerima panggilan dari ayahnya.

“Datanglah ke rumah malam ini,” kata Victor tanpa basa-basi. “Kita perlu membicarakan dokumen yang kau serahkan kepada Daniel.”

Alexander menatap gedung-gedung di balik jendela kantornya.

“Kalau yang ingin Ayah bicarakan adalah bagaimana menghentikan penyelidikan Celine, jawabanku tetap sama.”

“Ini bukan hanya tentang Celine.”

“Kalau begitu, ceritakan apa yang sebenarnya terjadi.”

Victor terdiam sejenak.

“Ada hal-hal yang tidak bisa kau pahami tanpa mengetahui seluruh keadaan saat itu.”

“Kalau begitu, beri tahu aku seluruh keadaan itu.”

“Aku tidak bisa.”

Alexander tertawa pendek tanpa kegembiraan.

“Selama ini Ayah mengajariku bahwa keluarga harus melindungi keluarga. Aku menganggap itu berarti kami harus saling mendukung. Sekarang aku mulai mengerti bahwa Ayah mungkin hanya ingin memastikan tidak ada seorang pun yang membocorkan rahasia.”

“Jaga ucapanmu, Alexander.”

“Tidak. Aku sudah terlalu lama membiarkan Ayah menentukan pertanyaan mana yang boleh kuajukan.”

Ia mengakhiri panggilan.

Namun, setelah kemarahannya mereda, muncul perasaan lain yang lebih sulit ia hadapi.

Ketakutan.

Jika Victor benar-benar terlibat dalam pengalihan aset Shengyuan, maka kekayaan yang diwariskan kepada Alexander mungkin sebagian berasal dari penderitaan keluarga lain. Jika ayahnya mengetahui sesuatu tentang kematian William, maka selama bertahun-tahun Alexander telah menikmati kehidupan yang dibangun di atas kebohongan.

Dan jika Celine akhirnya menemukan semuanya, tidak ada permintaan maaf yang cukup untuk mengembalikan ayahnya.

Alexander mengambil ponselnya dan membuka foto Celine yang pernah diambil diam-diam saat acara gala. Ia segera menghapusnya.

Ia tidak ingin menjadikan perempuan itu seseorang yang terus ia awasi dari kejauhan.

Jika ia benar-benar ingin memperbaiki kesalahan, ia harus mulai dengan menghormati keputusan Celine, sekalipun keputusan itu berarti tidak pernah memberinya kesempatan kedua.

Pertemuan dengan Liang Zhen berlangsung pukul empat sore di sebuah kedai teh kecil di kawasan bekas konsesi Prancis.

Lelaki tua itu sudah menunggu ketika Celine dan Daniel tiba. Wajahnya tampak lebih pucat daripada saat mereka bertemu di gala, dan tangannya sesekali bergetar ketika mengangkat cangkir.

“Kau menemukan sesuatu yang baru?” tanyanya kepada Celine.

“Nama Anda muncul dalam catatan pengiriman dokumen milik Shen Yiran.”

Liang terdiam.

Daniel mengeluarkan salinan catatan tersebut dan meletakkannya di meja.

“Kami ingin mengetahui apakah Anda menerima amplop dari William Wang sebelum kecelakaan.”

Liang menatap dokumen itu lama sekali.

“Aku menerima sebuah amplop,” jawabnya akhirnya. “Tetapi aku tidak membukanya.”

“Kenapa?” tanya Celine.

“William memintaku menyerahkannya kepada seseorang jika ia tidak kembali.”

“Siapa orang itu?”

Liang memandang Celine dengan mata yang tampak lelah.

“Seorang perempuan muda.”

“Shen Yiran?”

Lelaki tua itu tidak menjawab secara langsung.

“Dia ketakutan. Ayahnya baru meninggal, dan ia percaya bahwa orang-orang yang mengendalikan perusahaan akan mengambil semua yang tersisa dari keluarganya.”

“Apakah Anda menyerahkan amplop itu kepadanya?”

Liang menunduk.

“Tidak.”

Keheningan menyelimuti meja.

Celine merasakan dadanya menegang.

“Di mana amplop itu sekarang?”

“Aku tidak tahu. Pada malam yang sama, seseorang datang ke rumahku dan meminta dokumen tersebut. Dia mengatakan William mengalami kecelakaan dan keluarga Wu membutuhkan semua berkas yang berkaitan dengan transaksi Shengyuan.”

“Siapa orang itu?”

Liang mengangkat wajah. Matanya tampak dipenuhi rasa bersalah.

“Aku mengenal suaranya, tetapi tidak melihat wajahnya dengan jelas. Dia memakai sarung tangan dan tidak pernah menyebut namanya.”

“Apakah dia berhasil mengambil amplop itu?”

“Ya.”

Celine menahan napas.

“Lalu mengapa Anda tidak melapor kepada polisi?”

Liang memejamkan mata.

“Karena keesokan harinya, aku menerima foto cucuku di depan sekolahnya. Di belakang foto itu tertulis bahwa keluargaku akan mengalami nasib yang sama seperti William jika aku membuka mulut.”

Celine tidak segera menjawab.

Ia datang dengan harapan menemukan seseorang yang bersedia mengungkap kebenaran. Namun, yang ia temukan justru seorang lelaki tua yang hidup selama bertahun-tahun dalam ketakutan.

“Apakah Anda masih memiliki foto itu?” tanya Daniel.

Liang mengangguk pelan.

“Aku menyimpannya.”

“Kalau begitu, kami ingin memeriksanya. Kami juga ingin membantu Anda melaporkan ancaman itu melalui jalur hukum.”

Liang menatap mereka bergantian.

“Jika kalian benar-benar ingin menemukan kebenaran, jangan hanya mencari siapa yang mengambil amplop itu. Carilah orang yang tahu isi amplop tersebut sebelum William menyerahkannya kepadaku.”

Celine mengerutkan kening.

“Siapa yang tahu?”

Liang menatapnya dengan sorot mata yang sulit diartikan.

“Evelyn Zhao.”

Malam itu, Celine duduk sendirian di apartemennya. Nama Evelyn terus berputar dalam pikirannya.

Jika Evelyn mengetahui isi amplop itu, ia mungkin mengetahui apa yang sebenarnya ingin diserahkan William kepada Shen Yiran. Namun, jika ia sudah mengetahui semuanya sejak lima belas tahun lalu, mengapa ia terus mendekati Alexander dan berusaha menjauhkan Celine dari penyelidikan?

Apakah ia sedang melindungi dirinya sendiri?

Ataukah ia takut seseorang akan membunuhnya jika ia mengungkapkan kebenaran?

Celine membuka percakapan dengan Alexander, tetapi tidak segera mengetik pesan. Ia ingin bertanya apakah Alexander pernah mendengar tentang amplop tersebut. Namun, ia tidak ingin membuat keputusan berdasarkan kepercayaan yang belum sepenuhnya pulih.

Akhirnya, ia menghubungi Daniel.

“Aku ingin kau meminta Alexander menyerahkan semua catatan komunikasi ayahnya yang berkaitan dengan Evelyn dan Shen Yiran. Melalui jalur hukum jika memungkinkan.”

“Baik. Ada hal lain?”

Celine memandang foto ayahnya di atas meja.

“Ya. Aku ingin memastikan bahwa jika kita menemukan siapa yang bertanggung jawab, kita memiliki bukti yang cukup untuk menuntutnya. Aku tidak ingin membalas dendam kepada orang yang salah.”

Daniel terdiam sejenak.

“Itu keputusan yang tepat.”

Setelah panggilan berakhir, Celine memeluk lututnya dan menunduk.

Ia merasa lelah. Bukan hanya karena penyelidikan, tetapi karena setiap jawaban membuatnya semakin sulit menentukan siapa yang harus dipercaya.

Ia masih membenci kebohongan keluarga Wu. Ia masih terluka oleh Alexander. Dan ia masih menginginkan keadilan bagi William.

Namun, ia tidak ingin kemarahannya menjadi alasan untuk mengabaikan penderitaan orang lain.

Ia tidak ingin menjadi seperti orang-orang yang menyembunyikan dokumen demi melindungi diri sendiri.

Pukul sebelas malam, sebuah pesan masuk dari nomor yang sama yang selama ini mengirimkan petunjuk anonim.

Liang Zhen mengatakan yang sebenarnya tentang amplop itu.

Celine segera membalas.

Siapa kamu?

Jawaban datang beberapa detik kemudian.

Seseorang yang pernah mencoba menyelamatkan Shen Yiran, tetapi gagal.

Pesan berikutnya membuat Celine terdiam.

Amplop William tidak pernah sampai kepada Yiran. Evelyn tahu siapa yang mengambilnya. Namun, ada alasan mengapa dia memilih diam.

Celine mengetik pertanyaan lain, tetapi pesan baru muncul sebelum ia sempat mengirimkannya.

Jika kau ingin mengetahui alasannya, tanyakan kepada Alexander mengapa ayahnya menyimpan sebuah foto keluarga yang tidak pernah diperlihatkan kepada siapa pun.

Celine menatap layar.

Beberapa detik kemudian, sebuah foto dikirimkan.

Foto itu memperlihatkan Victor Wu, seorang perempuan yang tidak dikenal Celine, dan seorang anak kecil berdiri di depan rumah tua. Di bagian belakang foto terdapat tanggal lima belas tahun lalu.

Namun, yang membuat Celine membeku bukanlah wajah Victor.

Melainkan anak kecil yang berdiri di samping perempuan itu.

Anak tersebut mengenakan kalung kecil dengan liontin berbentuk bunga perak—liontin yang sama dengan yang dikenakan Shen Yiran dalam foto lama di arsip Shengyuan.

Celine memperbesar gambar tersebut.

Di belakang foto, terdapat tulisan tangan yang hampir pudar.

Untuk keluarga yang harus tetap tersembunyi.

Celine merasakan napasnya tercekat.

Jika Shen Yiran pernah berada di rumah Victor Wu, berarti hubungan mereka jauh lebih dekat daripada sekadar urusan bisnis.

Dan jika Victor menyimpan foto itu selama lima belas tahun, mungkin ia tidak hanya mengetahui ke mana Shen Yiran pergi.

Mungkin ia mengetahui siapa yang membawanya pergi.

Celine meletakkan ponselnya perlahan.

Malam itu, ia menyadari bahwa setiap orang yang ia temui membawa potongan kebenaran masing-masing. Namun, tidak seorang pun bersedia memberikan seluruh cerita.

Dan di tengah semua kebohongan itu, ia harus menjaga satu-satunya hal yang masih bisa ia kendalikan: pilihan tentang siapa dirinya akan menjadi.

Ia tidak akan berhenti.

Namun, ia juga tidak akan membiarkan rasa sakit mengubah keadilan menjadi hukuman tanpa bukti.

Sebab kini, ia tidak lagi hanya mencari orang yang menyebabkan ayahnya meninggal.

Ia sedang mencari tahu siapa yang telah mengubah begitu banyak kehidupan menjadi rahasia—dan mengapa semua orang yang mengetahui jawabannya begitu takut untuk berbicara.

1
niaww
semngat kak jangan lupa mampir🥰❤
Isabell: siap kakak terimakasih 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!