NovelToon NovelToon
Gadis Cantik Di Arena Pertarungan

Gadis Cantik Di Arena Pertarungan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: R251Aje

Terjebak dalam utang dan tidak memiliki jalan keluar, dia terpaksa memasuki arena pertarungan ilegal demi mendapatkan hadiah uang yang cukup untuk bertahan hidup. Bagi orang lain, arena itu adalah tempat kematian. Tetapi bagi Aira, arena hanyalah tempat mencari nafkah. Selama ada uang dan masih bernafas, dia bersedia bertarung dan tidak menyerah.

Dia tidak mengenal kata cinta tapi tiga pria tampan tanpa sengaja menempel dan ingin memilikinya. Tapi Aira tidak mudah ditakhlukkan, hanya uang yang bisa membuatnya patuh walau cuma sebentar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R251Aje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 Tagihan, Tiga Pria, dan Keputusan yang Tidak Bisa Dibeli

“Diatur bagaimana?” Tanya Aira bingung.

“Saya yang tanggung.” Jawab Keenan

Raka langsung menatapnya. “Tidak perlu. Saya yang bayar semua.”

Reza menghela napas. “Negara juga bisa menanggung sebagian karena ini terkait investigasi.”

Aira mengangkat tangan. “Cukup. Saya pusing. Bisakah kalian sedikit lebih tenang?”

Dia menatap langit-langit putih. Cahaya neon terasa terlalu terang. Di luar jendela, kota masih gelap. Dia bisa mendengar napas tiga pria di sekelilingnya. Satu terlalu dekat di kanan, satu di kiri, satu berdiri di kaki tempat tidur seperti patung.

Raka tiba-tiba meraih tangan Aira. Jemari kapalnya menggosok punggung tangan dengan gerakan lambat. “Aira. Saya serius. Ikut saya. Saya tidak akan minta apa-apa.”

“Semua orang bilang begitu di awal.”

“Saya bukan semua orang.”

Reza menatap tangan mereka yang bertaut. Rahangnya mengeras. “Lepas. Dia pasien.”

“Dia bukan milik siapa-siapa,” balas Raka.

Keenan melangkah lebih dekat. Suaranya rendah. “Kalau kalian berdua tidak bisa mengontrol diri, saya akan minta security mengeluarkan kalian.”

Aira menarik tangannya pelan dari genggaman Raka. Kulitnya masih terasa panas. “Saya mau tidur. Kalian boleh ribut di luar. Atau di koridor. Atau di mana saja selain di samping telinga saya.”

Raka berdiri, tapi tidak pergi jauh. “Saya tidur di kursi.”

“Kursi itu keras.”

“Saya tahan.”

Reza menatapnya. “Saya juga tinggal.”

Keenan menghela napas panjang. “Kalau begitu saya juga. Saya ada shift malam.”

Aira menutup mata. “Tiga pria dewasa berebut kursi di kamar pasien. Ini lucu. Kalau saya tidak sakit, saya mungkin ketawa.”

Raka tersenyum kecil. “Nanti kalau kamu sembuh, kita ketawa bareng.”

“Nanti kalau saya sembuh, saya tagih semua makanan yang kalian belikan. Plus bunga dan uang bensin.”

Reza duduk di kursi dekat jendela. “Tagih saja. Saya bayar bagian saya.”

Keenan memeriksa monitor sekali lagi. Jari-jarinya sempat menyentuh perban di dada Aira, menekan pelan untuk memastikan tidak ada pembengkakan. Sentuhan itu terlalu lama. “Tidur. Saya akan cek lagi dalam dua jam.”

Aira membuka satu mata. “Dok, kalau Anda terus pegang perban saya seperti itu, saya bisa minta tambahan diskon jasa medis?”

Keenan menarik tangan seolah terbakar. Telinganya memerah. “Tidur... Aira.”

Raka tertawa pelan di sisi lain. Reza hanya menggelengkan kepala, tapi sudut bibirnya sedikit terangkat. Aira memejamkan mata lagi. Di balik kelopak matanya, dia masih bisa merasakan panas di bibir dari ciuman Raka, tekanan jari Keenan di kulitnya, dan tatapan Reza yang terlalu dalam. Tiga pria satu tempat tidur. Dan satu gadis yang hanya ingin tagihan rumah sakitnya lunas secepat mungkin.

Dia menghela napas pelan, menahan rasa sakit di rusuk. "Besok saya harus cari cara dapat uang lagi. Karena kalau terus begini, saya bisa bangkrut sebelum organisasi itu sempat membunuh saya."

Keesokan paginya Aira terbangun karena suara bising di luar kamar. Bukan suara tembakan atau orang berlari. Melainkan suara tiga pria dewasa yang berbisik-bisik terlalu keras di koridor.

“…saya yang antar.”

“Tidak. Saya punya wewenang resmi.”

“Wewenang tidak mengisi kulkas. Saya punya.”

Aira membuka mata. Cahaya pagi sudah masuk dari celah gorden. Rusuknya masih nyeri, tapi lebih tertahankan dibanding semalam. Dia menekan bel di sisi tempat tidur.

Beberapa detik kemudian pintu terbuka. Keenan masuk lebih dulu, masih mengenakan jas dokter yang agak kusut. Di belakangnya Raka dan Reza masuk bersamaan seperti dua anak kecil yang baru saja bertengkar.

“Selamat pagi,” kata Keenan, suaranya profesional tapi matanya langsung turun ke perban di dada Aira. “Bagaimana rasanya?”

“Seperti ada yang memukul saya dengan batang besi. Oh tunggu, memang ada.” Aira menegakkan tubuh pelan. “Saya boleh pulang hari ini?”

Keenan memeriksa monitor, lalu menyentuh perban dengan jari-jari yang terlalu hati-hati. “Hasil lab bagus. Tidak ada infeksi. Tapi kamu masih harus istirahat total. Tidak boleh sendirian minimal seminggu.”

Aira menatap ketiga pria itu bergantian. “Jadi siapa yang akan bayar tagihan akhir?”

Raka angkat tangan lebih dulu. “Saya. Sudah saya bilang ke bagian administrasi tadi pagi.”

Reza menatapnya tajam. “Negara juga bisa menanggung sebagian karena ini terkait kasus.”

Keenan menutup tablet. “Saya sudah potong biaya jasa medis saya. Sisanya bisa dibicarakan.”

Aira menghela napas. “Bagus. Saya tidak mau utang ke tiga orang sekaligus. Itu merepotkan. Nanti saya harus mengingat siapa yang kasih berapa.”

Raka mendekat ke sisi tempat tidur. Bau parfum mahal dan sedikit minyak masih menempel di jaketnya. “Tidak usah diingat. Anggap saja hadiah.”

“Hadiah biasanya bisa dijual. Ini tidak.”

Reza berdiri di sisi lain. “Aira, fokus. Kamu tidak bisa kembali ke kost. Organisasi itu sudah tahu wajahmu dan pola gerakmu. Kamu butuh tempat aman.”

“Tempat aman yang mana? Yang bayar sewa berapa?”

Keenan meletakkan tangan di pagar tempat tidur. Jemari panjangnya mengetuk pelan. “Apartment saya kosong sebagian. Dekat rumah sakit. Saya bisa kontrol setiap hari.”

Raka langsung menoleh. “Atau rumah saya. Lebih luas. Ada security 24 jam. Ada dapur. Ada saya.”

Reza menyilangkan tangan. “Atau safe house yang disediakan unit saya. Resmi. Aman. Dan tidak melibatkan orang sipil.”

Aira menatap langit-langit. “Tiga pilihan. Semua bilang aman. Semua bilang tidak minta balasan. Saya tidak percaya.”

Raka tersenyum miring. “Kalau kamu tidak percaya, coba dulu. Kalau tidak suka, pindah.”

“Kalau saya coba di tempatmu, terus saya tidak suka, siapa yang bayar ojek pindah?”

Reza menggeleng. “Kamu ini… benar-benar.”

Keenan memeriksa perban sekali lagi. Tangannya turun sedikit terlalu rendah, menyentuh kulit di bawah tepi kain. “Secara medis, saya sarankan tempat yang dekat dengan fasilitas kesehatan. Kalau ada komplikasi, bisa langsung ditangani.”

Aira menatap jari Keenan yang masih menempel. “Dok, tangan Anda lagi di tempat yang tidak perlu.”

Keenan menarik tangan seolah kena setrum. “Maaf. Refleks.”

Raka tertawa pelan. “Refleks apa, Dok?”

“Refleks memastikan tidak ada hematoma.”

“Hematoma di bawah perban atau di bawah baju?”

Reza memotong sebelum suasana semakin panas. “Cukup. Aira, kamu harus pilih hari ini. Saya tidak bisa jaga kamu di rumah sakit terus. Atasan sudah mulai bertanya.”

Aira terdiam lama. Dia menghitung di kepala.

"Kalau ikut Raka: makan gratis, tempat mewah, tapi dia akan terus mencoba mendekat. Kalau ikut Keenan: kontrol medis mudah, tapi dokter itu terlalu sering menyentuh. Kalau ikut Reza: aman secara resmi, tapi bisa saja saya ditahan kapan saja."

Dia akhirnya berkata, “Saya pilih yang paling murah.”

Ketiganya menatapnya. “Yang paling murah,” ulangnya. “Karena saya tidak punya penghasilan selama minimal dua minggu. Jadi siapa di antara kalian yang bisa jamin saya tidak perlu mengeluarkan uang sama sekali?”

Raka langsung angkat tangan. “Saya. Makan, tempat, obat, transportasi, semuanya saya tanggung. Tanpa syarat.”

1
falea sezi
lanjut
falea sezi
🤣🤣🤣🤣 raka cemburu
falea sezi
suka cwek Badas gini 🤣🤣 sat sett gk menye 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!