"Memosisikan dirimu sebagai musuhku adalah kesalahan terbesar dalam hidupmu, Aleeza!"
AUSTIN VANDERBILT — Miliarder Spanyol yang sempurna, kaya, dan berkuasa. Pria yang disembah semua wanita, kecuali ALEEZA WIRA, paparazzi blasteran Indonesia yang paling ia benci.
Hidup Aleeza hancur saat berita skandal panas Austin mendadak meledak dan namanya difitnah sebagai dalang utama. Demi membalas dendam, Austin menyeret Aleeza masuk ke dalam sangkarnya.
Di antara kebencian, jebakan konspirasi, dan pesona berbahaya, akankah Aleeza berhasil lolos atau justru sang miliarder yang akan berlutut pada wanita yang paling ia benci?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veyra Noir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33 | SEMANGKUK BUBUR DAN PILIHAN UNTUK TINGGAL
Suasana dapur utama kediaman Vanderbilt pagi itu tampak tidak biasa.
Olivia Vanderbilt berdiri mematung di dekat pulau dapur, mengerjap-ngerjapkan matanya berulang kali seolah tidak percaya dengan apa yang sedang disaksikannya. Seorang billionaire berdarah dingin penguasa imperium bisnis, Austin Vanderbilt, kini berdiri di depan kompor dengan kemeja kerjanya yang lengannya digulung sampai siku, sibuk mengaduk panci berisi bubur hangat.
"Austin apa yang kaulakukan?" tanya Olivia dengan nada takjub bercampur ngeri. "Di mana para koki pribadi? Kenapa kau memasak sendiri?"
Austin melirik ibunya sekilas tanpa menghentikan adukannya. "Koki tidak tahu cara memasak bubur dengan takaran gula dan garam yang pas untuk orang sakit, Mommy. Sudah, tolong siapkan teh hijau hangat di nampan itu," perintah Austin tenang namun mutlak.
Olivia menggelengkan kepalanya tak habis pikir, sementara senyuman penuh arti terukir di wajahnya. Putra kebanggaannya yang arogan itu benar-benar sudah bertekuk lutut pada sang jurnalis.
Beberapa menit kemudian, kamar tidur utama bernuansa monokrom itu dipenuhi aroma gurih bubur hangat.
Aleeza Wira mengerjap pelan ketika merasakan ranjangnya sedikit berderit. Ia mendapati Austin sudah duduk di tepi tempat tidur, memegang mangkuk keramik putih dengan tangan kanannya.
"Bangun, Mi Amor." Suara bariton Austin terdengar lembut namun tegas. "Waktunya makan dan minum obat."
Aleeza mengerutkan kening, mencoba bangkit meski kepalanya masih terasa berat. Begitu melihat mangkuk di tangan Austin, ia langsung memasang wajah ngeri. "Rasanya pasti seperti bubur rumah sakit yang mengerikan. Aku tidak mau," tolak Aleeza sambil menutup mulutnya rapat-rapat.
Austin mendengus pelan, menatap tunangannya dengan kilat mata jahil yang mematikan. " Makan Atau, kau mau aku menyuapkan bubur ini dari mulutku langsung ke mulutmu?"
Mendengar ancaman seksi sekaligus konyol itu, Aleeza langsung membelalakkan mata. Tanpa buang waktu, ia membuka mulutnya lebar-lebar dan membiarkan Austin menyuapinya sesendok demi sesendok hingga habis.
Di sela-sela suapan, batin Aleeza kembali bergolak. Rasanya aneh sekaligus mengharukan menyadari bahwa seorang penguasa besar seperti Austin mau merendahkan diri demi memasak dan merawatnya. Namun di saat yang sama, rasa iri masa lalu sempat melintas mengapa bukan wanita lain yang dicintainya sejak dulu yang mendapat perlakuan istimewa ini? Cih, berhenti memikirkan hal bodoh itu, Aleeza! batinnya menyadarkan diri.
"Cepat sembuh," bisik Austin lembut setelah menyuapkan suapan terakhir, menatap Aleeza lekat-lekat. "Kau merepotkan, tahu? Aku merasa sedang merawat seorang anak kecil yang keras kepala."
Aleeza mendelik kesal, meski pipinya merona hangat. "Kalau begitu, bukankah kau harusnya sudah berangkat ke Dubai, Tuan Vanderbilt? Kenapa masih bercokol di sini?" protes Aleeza tiba-tiba teringat jadwal penerbitan sang billionaire semalam.
Austin terdiam sejenak, lalu tersenyum miring penuh makna. "Aku salah tanggal. Ternyata pertemuan penting di Dubai itu dijadwalkan ulang minggu depan."
Aleeza mengangguk-angguk kecil, merasa lega sekaligus konyol karena sempat mengira Austin membatalkan agendanya semata-mata karena mencemaskannya. "Mana mungkin seorang Austin Vanderbilt menunda pekerjaan hanya karena seorang pasien," batinnya pelan.
"Antar aku Pulang," Pinta Aleeza tiba-tiba, berniat beranjak dari tempat tidur.
Austin menahan Pergelangan tangan Aleeza, menarik tubuh gadis itu kembali berbaring dengan tatapan yang menghujam tajam dan penuh kepemilikan.
"Tempat pulang seorang wanita yang akan menjadi istriku adalah mansion keluarga Vanderbilt, Aleeza," bisik Austin serak di dekat telinganya. "Jadi kau tidak perlu pulang ke mana-mana lagi. Kau sudah berada di rumahmu yang sesungguhnya."
Di bawah selimut hangat dengan aroma tubuh Austin yang menenangkan, Aleeza akhirnya memejamkan mata. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa aman dari badai dunia luar.
▪️▪️▪️
Aleeza: Langsung membuka mulut.
PEMBACA: AHAHAHAHA! Aleeza, ternyata ancaman El Oso cukup ampuh!