Setelah menjadi istri Ardiaz Kavian, Tya semakin tahu karakter orang-orang di keluarga besar Kavian. Sebagai seorang insan yang biasa hidup tenang meski ekonomi pas-pasan, kini dirinya harus terbiasa dengan pasang surut permasalahan di keluarga suami yang tidak kekurangan harta tapi miskin ilmu agama.
"Yang penting suami dan mertua baik, yang sirik biarkan saja berisik."
MENANTU IBU 2
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Nia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Ada yang Senyum-senyum
Langit telah berubah pekat berhias bintang gemintang begitu Diaz melajukan mobilnya meninggalkan apartemen. Keindahannya berpadu gemerlap city light yang dilihat dari ketinggian jalan layang. Dalam kesendirian mengemudi, Diaz teringat akan tingkah Tya kemarin yang berhenti ngambek setelah dihadiahi gelang. Istrinya itu sepanjang jalan pulang berubah menjadi komedian yang membuatnya tertawa-tawa.
Dalam suasana hati yang buruk setelah berlama-lama di apartemen sang ayah, Diaz merindukan kekonyolan Tya yang mampu mencairkan suasana. Pedal gas diinjak lebih dalam begitu ada kesempatan jalanan lengang. Rumah menjadi tujuan. Mengabaikan chat dari teman yang mengajak hangout di cafe dengan dalih hiburan melepas penat. Hiburannya sekarang berada di rumah.
Diaz melihat ibunya memainkan ponsel sambil duduk selonjoran di sofa bersama dua anabul. Ada si Cumi yang meringkuk di ujung kaki dan si Luna di pangkuan. Dengan satu kali berdehem, dua kucing kesayangan itu terperanjat bangun dan menatap ke arahnya.
"Tahu aja siapa yang datang." Suri menipiskan bibir melihat Cumi dan Luna berlomba menghampiri Diaz.
Diaz mengelak dengan menjauhkan wajahnya sambil tertawa karena si putih dan si abu berlomba menyosor pipinya. Dua makhluk yang dirawat sejak umur dua bulan itu kentara rindu karena hanya bertemu tadi pagi saja.
"Udah makan, Nak?" Suri menatap Diaz yang mengusap-usap dua kucing yang mulai tenang di pangkuan.
See. Ibu sama sekali nggak kepo sama hasil pertemuan aku dengan Ayah. Benar-benar tidak peduli lagi dengan berita yang berkaitan dengan Ayah.
"Belum."
"Tya juga belum. Katanya mau nunggu Abey aja. Kalau Ibu sih asam lambung bisa kambuh kalau harus nunggu kalian."
"Tya di mana, Bu?" Diaz mulai menguap. Bukan karena kantuk. Tetapi akumulasi lelah karena lebih dari empat jam di apartemen sang ayah. Setelah hukuman yang disarankan disetujui Ayah Hilman, ia tidak serta merta bisa pulang. Harus menyaksikan dulu drama Leony yang menolak sambil meraung-raung bahkan memelas padanya.
Untungnya, sang ayah tetap teguh dengan keputusan yang dibuat. Leony tidak diperkenankan pulang. Akan 'dipenjara' di apartemen, toh libur sekolah sudah dimulai. Yandi akan mencarikan informasi pesantren yang cocok dengan yang dibutuhkan. Diaz tersenyum samar. Puas karena Leony tidak jadi merayakan pergantian tahun di Bali.
"Tya baru aja naik. Katanya mau salat isya dulu."
Mulut yang baru menguap mendadak berhenti bergerak dalam posisi menganga maksimal. Lupa mengatup seolah baru saja terkena hipnotis.
Gerakan Luna yang lompat dari pangkuan barulah menyadarkan Diaz. Sambil menyembunyikan senyum, ia menurunkan Cumi dari pangkuan. "Bu, aku mandi dulu."
"Ibu juga mau ke kamar. Ada janji VC sama Tante Hani jam delapan. Itu anabul suruh pulang, Diaz."
Karena ingin buru-buru ke kamar, Diaz menghubungi Mbak Tuti agar memasukkan Cumi dan Luna ke rumahnya di halaman belakang. Kemudian menaiki tangga setengah berlari dengan dada mengembang dan senyum kecil yang tak lagi disembunyikan karena tidak ada yang melihat. Jadi lupa dengan keruwetan yang sudah dialami tadi selama di apartemen.
Pintu kamar dibuka dengan perlahan. Tidak terlihat adanya Tya. Tetapi pintu menuju walk in closet terbuka. Bibirnya merekah lebar selebar pintu begitu melihat sang istri berbalut mukena dalam posisi bersujud. Rasanya ingin melompat dan berteriak, "YES!"
***
Tya melipat mukena dengan cepat. Berniat akan turun kembali untuk menemani Ibu Suri sekalian menunggu kepulangan Diaz. Spontan dirinya berucap istigfar begitu memutar badan. Laki-laki yang ditunggunya berada di belakang sedang duduk sila sambil bersandar pada pintu lemari.
"Ngagetin ih. Abey kapan datang?" Tya mengusap dada karena benar-benar terkejut.
Bukannya langsung menjawab, Diaz malah senyum-senyum dengan tatapan penuh arti.
"Apa sih malah senyum-senyum." Tya pura-pura tidak paham. Padahal kulitnya merespon dengan merinding.
"Katanya paling cepat dua hari lagi. Bisa-bisanya bikin prank, sayang. But, I'm so happy. Mau mandi dulu ah." Tanpa menunggu jawaban Tya, Diaz segera melesat ke kamar mandi.
Tya geleng-geleng kepala lalu tersenyum geli. "Bey, aku ke bawah ya mau siapin makan," ujarnya berteriak dari depan pintu kamar mandi. Tak perlu repot menyiapkan baju ganti, Diaz lebih suka mengambil sendiri karena terkadang selera warna yang diinginkan berbeda.
"Iya, sayang."
Tya langsung menuju ruang makan setelah tak melihat adanya Ibu Suri di ruang tengah. Melihat jam dinding menunjukkan pukul delapan, itu artinya sang mertua sedang memulai video call dengan kakaknya yang tinggal di Bandung.
Tak ada kesibukan berarti karena menu makan malam sudah tersaji di meja. Tya hanya mengeluarkan pepaya potong dari dalam kulkas yang sudah diiris-iris satu jam yang lalu. Menuruti peringatan Ibu Suri, bahwa pepaya menjadi buah yang wajib dikonsumsi di malam hari agar lancar buang air besar di pagi hari.
Diaz menghampiri Tya dan mengecup leher jenjang yang terbuka karena rambutnya dicepol. Ajakan dari sang ayah untuk makan malam ditolak karena sudah janjian dengan sang istri akan makan bersama di rumah. Perutnya sudah terasa lapar. Menjadi double lapar setelah melihat Tya mengerjakan salat.
"Cepat sekali. Udah isya belum?" Tya menatap wajah tampan yang tampak lebih segar dan bercahaya serta tubuhnya menguar wangi aroma bergamot dan woody. Menjadi ciri khas aroma tubuh Diaz di malam hari. Memikat ingin selalu ada didekatnya.
"Udah dong. Sat set soalnya lapar."
Acara makan tidak berlangsung tenang. Tya dua kali menegur Diaz yang duduk di sisi kanannya karena tangan kiri laki-laki yang makan dengan lahap itu meremas-remas pahanya. Mengganggu konsentrasi makan. Memang berhenti meremas. Tetapi berhentinya di pangkal paha dan berdiam di sana hingga selesai makan.
"Jadi gimana hasil dipanggil Ayah tadi? Soal video Leony, bukan?" Tya menagih cerita yang dijanjikan Diaz akan diceritakan setelah makan.
"Iya. Pas masuk ke apartemen, pemandangannya seperti kapal pecah. Kemarahan Ayah sama Leony dilampiaskan dengan lempar barang-barang yang ada."
Tya menganga. "Apa emang suka gitu tiap kali Ayah marah?"
"kalau marah besar aja."
"Bey, apa Ibu pernah kena marah seperti itu?" tanya Tya dengan suara pelan. Sangat takut pertanyaannya terdengar orang lain.
"Setau aku nggak pernah. Tapi ke ibunya Leon pernah mungkin sering. Ibu malah bagian menghibur Ayah yang sering datang ke rumah ini dengan banyak pikiran."
"Kenapa ya Ayah nggak bisa bersyukur punya istri seperti Ibu. Tak habis pikir aku." Tya mendecak lalu geleng-geleng kepala.
"Mungkin Allah sengaja butakan mata hati Ayah karena jarang beribadah. Banyak uang tapi banyak masalah juga. Nikmatnya mungkin udah Allah kurangi."
"Bisa jadi. Terus gimana selanjutnya nasib Leony?"
Sepotong pepaya disuapkan ke mulut Diaz. Setiap harinya Tya mempelajari sifat dan sikap Diaz. Diantaranya, suaminya itu sangat suka jika dimanjakan dengan perhatian-perhatian kecil. Ini salah satu contohnya.
"Ayah nunjukin video yang diterimanya dari nomor tidak dikenal. Aku pura-pura kaget. Terus..."
Tya mendengarkan kelanjutan cerita sambil menikmati potongan pepaya California bergantian disuapkan ke mulutnya dan ke mulut Diaz. Dengan penuh antusias mendengarkan sampai selesai sambil memperlihatkan beragam reaksi.
"Tahu nggak, Yang. Pas pulang tadi, Ibu sama sekali nggak kepo sama hasil pertemuan aku dengan Ayah. Malah tanya udah makan belum."
"Abey nggak usah heran. Kan Ibu udah ultimatum ke kita."
"Iya sih. Eh gak kerasa udah jam sembilan. Ke kamar yuk, sayang. Giliran icibos yang lapar nih."
Tya memicingkan mata saat tangannya diusapkan di pangkal paha Diaz yang teraba keras.
***
Masuk ke dalam kamar yang kemudian dikunci oleh Diaz. Rencana akan bermesraan tertahan oleh telepon yang masuk. Ia tak bisa mengabaikan telepon dari Jordan yang mendapat tugas khusus di luar pekerjaan kantor.
"Ya, Jo."
Tya meninggalkan Diaz yang menerima telepon di sofa. Memilih ke kamar mandi melakukan ritual sebelum tidur ditambah malam ini harus siap melayani suami yang 'lapar'. Tadi siang sengaja menyembunyikan kabar kalau sore ini sudah bisa mandi wajib biar menjadi kejutan.
Meski telah gosok gigi dan memakai skincare rutin malam, Tya mendengar Diaz belum selesai menerima telepon. Tak jelas apa yang dibahas karena Diaz lebih banyak mendengarkan dan menanggapi dengan kata-kata pendek.
Kalau aku hampiri pakai baju dinas ini apa bisa bikin Abey stop terima telepon? Tes ah.
Sehat selalu 🤲🏻
Pak Husein kan..yg sebenarnya punya pekerbunan sawit itu?
Koi rela menunggu ibu suri sampai segitunya pak?
cerita dong pak..🤭😄
Ada something sama pak Husein ini pasti, semoga segera bersatu ya..ibu suri dan pak Husein😁