NovelToon NovelToon
Gadis Dalam Lukisan

Gadis Dalam Lukisan

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Janda / Romansa
Popularitas:27.7k
Nilai: 5
Nama Author: Hana Reeves

Alethea adalah seorang kurator museum yang bekerja di museum national gallery art di Washington. Dia sudah dua tahun ditingga! suaminya yang meninggal akibat kecelakaan ski. Suatu hari, dia mendapatkan kiriman lukisan wajahnya. Pengirimnya tertanda dari kota kecil di Irlandia. Alethea diutus oleh bossnya untuk mencari pelukisnya. Tidak mudah untuk mencari hingga dia tiba di desa kecil bernama Cedliff. Di sebuah hotel desa dia bertemu dengan Satoru Shinoda yang terkejut melihatnya. Tanpa Alethea tahu, Satoru adalah pelukisnya. Satu pertanyaan. Mereka belum pernah bertemu sebelumnya tapi bagaimana Satoru bisa melukis wajah Alethea?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hati Satoru Yang Kacau

Satoru menatap ke arah hutan yang ada di teras hotel Susan sambil menyesap kopinya. Hatinya sangat bimbang, karena dia tidak tahu bagaimana bisa memberitahukan bagaimana lukisan itu.

Pria yang dominan darah Jepangnya itu menghela napas panjang. Satu sisi dia ingin memberitahukan bahwa dia pelukisnya tapi pasti dikira orang gila nanti.

"Satoru ...."

Satoru menoleh dan terkejut melihat Alethea berdiri di depan pintu dengan memakai selendang tebal. Wajah wanita itu tampak gusar.

"Ada apa Thea?" tanya Satoru.

"Boleh aku duduk di sebelah kamu?" balas Alethea.

"Boleh. Kamu tidak bisa tidur?" Satoru mempersilakan Alethea duduk di kursi sebelahnya.

Alethea lalu duduk dan menatap pemandangan hutan di sekitar hotel Susan. Dia menghela napas panjang berulang kali membuat Satoru menoleh.

"Apakah ada masalah di museum?" tanya Satoru sambil menuangkan kopi panas dari termos ke gelasnya. "Aku ambilkan gelas dulu buat kamu ya."

"Tidak usah. Aku pakai gelasmu saja. Kamu tidak flu kan?" Alethea langsung mengambil gelas Satoru dan menyesap kopinya.

Satoru melongo. "Aku memang tidak flu, Thea tapi kan ..."

Alethea menatap datar ke Satoru. "So? Aku tidak masalah kok!"

Satoru tersenyum manis. "Tapi kan kita baru dua hari ketemu."

Satoru Shinoda

"Tidak apa-apa," jawab Alethea sambil tertawa. "Selama kamu tidak flu, it's okay!"

Satoru tertawa kecil. "Kenapa kamu takut sekali dengan flu?"

"Karena kalau aku sakit flu, benar-benar ambruk. Aku memang lemah kalau soal flu. Toshiro sangat paham, jadi dia selalu berusaha aku tidak flu." Alethea tampak murung.

"Aku minta maaf membuka ...."

"Tidak apa-apa." Alethea melihat ke arah tangan Satoru. "Tangan kamu tipikal seniman ya?"

"Maksudnya gimana?" tanya Satoru.

"Itu jari kamu panjang dan katanya itu tangan seniman." Alethea menatap wajah Satoru. "Pengalaman aku yang sudah bertemu banyak seniman dan rata-rata tangannya seperti kamu."

"Sebenarnya tidak menjadi patokan sih. Tapi memang, rata-rata seperti ini, apalagi kalau pianis kan?" senyum Satoru.

Alethea baru menyadari jika pria di hadapannya punya lesung pipi. Mirip suaminya. Dia sedikit tertegun.

"Thea, boleh aku bertanya padamu," ucap Satoru.

"Tanya apa?"

"Jika kamu tahu siapa yang melukis kamu ... Apa yang akan kamu lakukan?" Satoru menatap Alethea.

"Aku ... akan bertanya ... bertemu denganku di mana dan bagaimana bisa melukiskan wajah aku dengan detail?" jawab Alethea.

"Misal kalau mendapatkan jawaban yang tidak masuk akal?" Satoru mencoba mencari tahu.

"Seberapa tidak masuk akal. Itu yang patut dipertanyakan. Mungkin kalau bisa aku terima, kita bisa bicarakan. Tapi kalau aneh-aneh dan macam stalker, maka aku akan marah!" Alethea tampak gusar.

"Bisa jadi bukan stalker. Tapi terinspirasi dengan wajah kamu?" tanya Satoru.

"Pertanyaaan. Kapan dia ketemu denganku dan di mana?" Alethea tampak serius.

Satoru mengangguk. "Apakah kamu akan marah?"

Alethea terdiam. "Aku ... tergantung siapa yang melakukannya."

"Begitu ...." Satoru menatap Alethea.

"Aku butuh jawaban dari banyak pertanyaan," ucap Alethea.

"Aku yakin kamu akan mendapatkan jawaban," senyum Satoru.

"Aku yakin itu."

Satoru menarik jaketnya. "Kamu tidak kedinginan dan ini sudah jam sebelas malam. Kita istirahat yuk."

Alethea pun berdiri namun dia tersandung kakinya sendiri. Satoru dengan sigap memegang bahu Alethea agar tidak jatuh.

Begini kira-kira visualnya

"Kamu baik-baik saja?" tanya Satoru.

"Aku ... baik-baik saja," jawab Alethea gugup. Jujur ini semenjak kematian suaminya, Satoru adalah pria pertama yang memegangnya.

"Tidak usah terburu-buru kalau berjalan. Tidak ada yang membuat kamu harus keburu kan?" ujar Satoru.

Alethea tertawa kecil. "Terima kasih.".

Satoru kemudian menoleh ke arah jam yang tergantung di dinding. "Sudah cukup malam."

Alethea mengikuti arah pandangannya. "Sepertinya begitu."

"Kalau begitu, sebaiknya kita beristirahat Kamu bisa kembali ke kamarmu. Aku juga akan masuk ke kamar sendiri."

Alethea menatapnya sebentar sebelum berjalan ke lantai dua. "Baik. Selamat malam, Satoru."

"Selamat malam, Alethea."

Di atas tangga, Alethea memanggil. "Satoru."

Pria itu menoleh. "Ya Thea?"

"Terima kasih untuk malam ini."

Satoru memandangnya. "Untuk apa?"

"Untuk menemani aku. Dan ... untuk percakapan kita."

Satoru terdiam sejenak. "Kau tidak perlu berterima kasih."

Alethea tersenyum kecil. "Tetap saja. Selamat malam."

"Selamat malam."

Alethea berbalik dan berjalan menuju kamarnya. Satoru masih berdiri di tempatnya, memandangi punggung wanita itu hingga akhirnya menghilang di balik pintu.

Barulah dia mengembuskan napas panjang. Napas yang sejak tadi seolah tertahan di dadanya.

Satoru masuk ke kamarnya dan menutup pintu dengan perlahan. Begitu suara kunci terdengar, senyum tipis yang sejak tadi dia pertahankan menghilang.

Dia bersandar sebentar pada pintu, menundukkan kepala, lalu memejamkan mata. Hening. Namun, pikirannya justru semakin ramai.

Wajah Alethea kembali muncul di dalam benaknya.

Cara wanita itu memandangnya ketika sedang berbicara. Cara bibirnya membentuk senyum kecil. Tatapan matanya yang terkadang terlihat penuh rasa ingin tahu, terkadang menyimpan kesedihan yang tidak pernah sepenuhnya dia ungkapkan.

Dan yang paling mengganggunya malam itu adalah satu hal.

Lukisan itu.

Lukisan wajah Alethea yang ditemukan di hotel milik Susan. Lukisan yang selama ini dia simpan sebagai bagian dari masa lalu yang tidak pernah ingin dibuka kembali.

Lukisan yang dibuatnya dengan tangannya sendiri.

Satoru membuka mata. Dia melepaskan mantel, menggantungnya di dekat pintu, kemudian berjalan menuju meja kecil di dekat jendela. Lampu kamar dinyalakan. Cahaya kekuningan memenuhi ruangan, memperlihatkan beberapa buku dan catatan yang terletak di atas meja.

Dia menarik kursi dan duduk. Kedua tangannya saling bertaut di depan wajah.

"Apa yang sebenarnya ingin kulakukan?" gumamnya.

Tidak ada yang menjawab. Hanya hujan yang mengetuk kaca jendela.

Satoru menoleh ke luar. Pantulan wajahnya tampak samar pada kaca. Wajah seorang pria yang terlihat tenang, tetapi menyimpan sesuatu yang bahkan sulit dia jelaskan kepada dirinya sendiri.

Dia tahu alasan mengapa dirinya enggan mengakui bahwa dialah pelukis lukisan tersebut. Namun, semakin lama dia memikirkan hal itu, semakin dia merasa alasan itu tidak sesederhana yang selama ini dia yakini.

Dia tidak takut Alethea akan membencinya semata-mata karena sebuah lukisan. Yang dia takuti adalah cara Alethea memandangnya setelah mengetahui kebenaran.

Apakah wanita itu akan merasa dirinya telah diam-diam diawasi?

Apakah Alethea akan menganggap lukisan itu sebagai sesuatu yang mengganggu, bahkan menyeramkan?

Apakah dia akan bertanya mengapa Satoru melukis wajah seseorang yang belum pernah ditemuinya secara langsung?

Dan yang paling menyakitkan bagi Satoru ...

Apakah Alethea akan menganggap perasaan yang melatarbelakangi lukisan itu sebagai sesuatu yang tidak pantas?

Dia mengusap wajahnya. "Seharusnya aku tidak perlu serumit ini."

Namun, dia tahu dirinya sedang berbohong. Sebab, jika semuanya memang sesederhana itu, dia tidak akan duduk sendirian pada tengah malam, memikirkan kalimat yang bahkan belum pernah dia ucapkan.

Dia masih mengingat perasaan aneh yang muncul ketika melihatnya. Bukan sesuatu yang dapat dengan mudah disebut sebagai cinta. Bukan pula keinginan untuk memiliki atau mendekati wanita tersebut.

Lebih seperti dorongan artistik yang datang tiba-tiba. Keinginan untuk mengabadikan sebuah ekspresi. Keinginan untuk memahami bagaimana wajah itu akan terlihat jika diterjemahkan ke dalam sapuan warna.

Satoru menghela napas. "Aku hanya ingin melukis wajahnya."

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, di dalam pikirannya, kalimat tersebut terus berbenturan dengan pertanyaan lain.

Kalau memang hanya itu, mengapa aku tidak bisa mengatakannya kepada Alethea?

Dia menutup buku sketsa. Satoru tahu bahwa keinginan melukis itu memang berasal dari dirinya sendiri. Tidak ada yang memaksanya. Tidak ada yang menyuruhnya. Tidak ada kesepakatan atau permintaan dari Alethea.

Dia melukis karena dia ingin melukis.

Karena wajah yang belum pernah ditemuinya secara nyata itu meninggalkan kesan tertentu dalam pikirannya. Namun, dia juga menyadari bahwa niat yang menurutnya sederhana tidak selalu akan diterima dengan cara yang sama oleh orang lain.

Sebuah lukisan bisa menjadi bentuk kekaguman bagi sang pelukis. Tetapi bagi orang yang menjadi objeknya, lukisan itu mungkin menimbulkan pertanyaan.

Mengapa aku?

Mengapa dia melukis wajahku?

Apa yang sebenarnya dia pikirkan tentang diriku?

Satoru menatap buku di hadapannya. Dia tidak ingin Alethea merasa dirinya telah melampaui batas. Tidak ingin wanita itu menganggapnya sebagai seseorang yang menyimpan obsesi terhadap dirinya.

Tetapi pada saat yang sama, Satoru juga tidak ingin alasan sebenarnya hilang di balik kebohongan. Dia ingin Alethea tahu bahwa lukisan itu lahir dari keinginannya sendiri untuk berkarya.

Bukan karena sebuah rencana tersembunyi.

Bukan karena perintah seseorang.

Bukan karena dia ingin memanfaatkan wajah wanita itu untuk sesuatu yang tidak diketahui Alethea.

Hanya karena dia ingin melukis. Dan justru karena itulah, Satoru semakin merasa tertekan. Satoru mengacak-acak rambutnya.

***

Yuhuuu up Siang Yaaaaaa

Thank you for reading and support author

Don't forget to like vote and gift

Tararengkyu

1
Teuing Saha🙃
🤣🤣🤣 Gemesin banget sih kalian berdua
Elsa Fanie
🤣🤣🤣🤣🤣 yakin Nina kram itu pipi karena ketawa terus gara gara satoru🤣🤣🤣🤦🤦,tapi y MW gimana lagi mang seperti itulah Satoru,,dan y bener Thea kamu yg pertama buat Satoru dan semoga kalian jodoh aamiin 🤲
amilia amel
gapapa.... sekali-kali nepo memang diperlukan
D_wiwied
nepo dikit gpp lah wong kamunya udah cantik spektakuler gini.. pdhl biasanya seniman tu rata2 romantis lho koq yg ini oraaa,,, gpp wong masih dalam tahap belajar romantis ya Toru kencan berjalan lancar aja udah bagus bgt itu 🤭😆
Sayem Sayem
yakin tu Toru dah mentok cinta ny sama gadis dlm lukisan ny...jika ia d tunggu rostingan ala pria Pratomo
Elsa Fanie
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 maaf Satoru y Thea tapi yakin , Toru pria baik kok cuma y gen Pratomo ny masih ada JD y begitu 🤣🤣🤣
Kaylaa
lha wes piye....emang modelnya gitu...gak suka basa basi....🤭
D_wiwied
setidaknya hargai kejujuran Satoru, The.. itu udah ajakan paling romantis menurut dia 🤭
ayo kita ke pojokan Nin, kita ketawa bareng 🤣🤣🤣🤣
Sayem Sayem
mb hana visual e makin imut walau mode anime tp lucu bikin gemes🥰🥰
Sayem Sayem
TTS d mulai y toru..
Marsiyah Minardi
Maafkan aku ya Thea ,aku pun ikut ketawa sama kaya Nina
Duh moga kalian akan terus bersama hingga menua hingga ujung usia
Teuing Saha🙃
Berhenti ngakak kamu, Nina🤣🤣🤣 takutnya ngompol 🤭
amilia amel
Thea belum tau kalo "unromantic" adalah nama tengah para lelaki Pratomo 🤭🤭🤭
Nuraisah Aisah
sangat sangat luar biasa, tidak perlu diragukan lagi kalo karyanya Mbak Hana memang the best, tetap semangat dalam membuat karya-karya yang luar biasa kapanpun akan selalu ditunggu
Hana Reeves: mamaciih 🙏🙏🙏
total 1 replies
Elsa Fanie
🤣🤣🤣🤣 biasanya kalo seniman romantis y Thea tapi maaf Satoru masih keturunan Pratomo kok JD y g2, ngajak nikah kaya orang ngajak beli cilok 😁😁😁,tapi nti pas udah nikah pasti romantis kok🤭
Elsa Fanie
nah bener kan blm ketemu j pusing apalagi kalo udah ketemu smw 🤣🤣🤣🤣,
Elsa Fanie
Masyaa Allah cantik ny anak pak Ben dan Bu Joy,,,g sabar y Thea pengen ketemu m yg lain tapi nti kalo udah ketemu jgn pening y 😁😁😁
D_wiwied
jujur aja ya The, cowok2 di klan Pratomo tu hampir semua ga ada yg romantis.. nglamar anak gadis orang ky ngjakain beli bakso 🤭😆😆
Teuing Saha🙃
Tarik terus sampai copot tu kuping, Thea... Ampun deh🤣🤣🤣
Mira Hastati
bagus
Hana Reeves: mamaciih 🙏🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!