NovelToon NovelToon
Memeluk Bayangan

Memeluk Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Penyesalan Suami
Popularitas:896
Nilai: 5
Nama Author: neng_86

Abimana Rahardjo adalah putra pemilik sebuah pesantren dan merupakan penerus dari pondok pesantren milik keluarganya karena dia merupakan putra satu-satunya keluarga tersebut.

Sejak kecil dia telah di jodohkan dengan seorang gadis yang merupakan putri asuh keluarga Rahardjo yakni Kemala Putri Dewi yang merupakan putri sahabat kedua orangtuanya.

Kemala yang telah lama jadi yatim piatu sejak usia 10 tahun harus merelakan cita-citanya yang ingin jadi dokter karena sebuah balas budi.

Pernikahan karena dijodohkan itu benar-benar mencekik Kemala dikarenakan sang suami yang rupanya memilih poligami dengan perempuan yang telah lama ada dihati Abimana.

Hati Kemala hancur karena cinta suami yang tak kunjung dia dapatkan dan karena kehadiran orang ketiga dalam rumah tangga mereka.

Hingga suatu hari, seorang pemuda mampu menggoyahkan hati Kemala.

Laki-laki yang dianggap urakan dan bertato layaknya preman.

simak kisahnya di Memeluk Bayangan...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bu Halimah

"Apakah saya akan g*la?"

Pertanyaan itu sering muncul diantara nafas yang tersengal dan pikiran yang tak mau diam.

Semakin malam, semakin banyak hal yang datang tanpa diundang.

Kemala mencoba memejamkan mata, tapi pikirannya justru semakin pandai mencari alasan untuk tetap terjaga.

Pertemuannya dengan Abimana setelah insiden itu sungguh mengusik hatinya.

Berkali-kali Kemala mencoba abai, namun wajah teduh Abimana semakin mengusik kepalanya.

"Haaahh...!"

Kemala bangkit, dan mengusap rambut panjangnya.

Melirik jam digital di atas nakas.

"Pukul 3..." bisiknya.

Meski dia bukanlah orang yang sering 'mengadu' pada Sang Khalik di tengah malam, tapi setidaknya Kemala masih mau melakukannya walau tidak sering.

Hanya disaat-saat hatinya sedang gelisah dan sepi.

Sajadah berwana coklat pemberian Ummi telah dibentang oleh Kemala.

Usai melakukan sholat dua rakaat, Kemala membuka kembali kitab suci yang rasa-rasanya telah lama tidak ia sentuh.

Suara merdunya saat melantunkan ayat-ayat al quran sangat menyentuh hati dan menghangatkan jiwa.

Hingga usai melaksanakan ibadah subuh, tanpa sengaja, Kemala tertidur di atas sajadahnya.

Disaat itu, Abimana masuk kekamar Kemala namun mengurungkan niatnya karena melihat betapa damainya wajah istrinya ketika tidur.

Entah mengapa, sejak pertemuan di lorong kemarin membuat Abimana terus dibayangi oleh wajah sendu Kemala yang selama ini dia acuhkan.

Kelopak mata Kemala bergerak.

"Astaghfirullah, saya ketiduran..." lekas Kemala melipat mukenanya, keluar kamar tanpa mengenakan hijab instannya karena ia berfikir, hanya dirinya yang berada dirumah seperti selama ini.

Hampir saja Kemala menjerit karena menyadari seseorang berada di dapurnya.

"Sudah bangun?" sapa Abimana dengan senyum manisnya yang membuat Kemala memicing curiga.

"Sedang apa mas disini?" Kemala sedikit berjinjit, melongok dengan apa yang dikerjakan oleh laki-laki itu di atas kompornya dan dengan wajan kesayangannya.

"Sopankah seorang istri berkata demikian? Bukankah saya masih sah suamimu? Jadi, saya juga berhak dengan rumah ini..." ucap Abimana tanpa menoleh pada Kemala yang berdiri dibalik punggungnya.

"Ohh... Masih sadar ya jika kamu masih punya istri disini... Saya kira sudah lupa..." jawaban acuh Kemala sambil membuka lemari pendingin dan meneguk air putih dingin.

Abimana menoleh dan terpaku dengan penampilan Kemala yang kelewat santai.

Daster batik berwarna biru lengan panjang melekat indah di tubuh mungilnya.

Dan jangan lupakan rambut panjang ikal tergerai indah, menambah kesan manis, dan imut bersamaan.

Kemala yang tak menyadari tatapan 'lapar' Abimana di sampingnya hanya terus mengoceh sendiri masih berdiri di depan lemari pendingin seperti sedang menyerap hawa dinginnya yang sejuk.

"Kamu sudah mandi?" tanya Abimana kemudian.

"Sudah... Kenapa?" sahut Kemala balik bertanya.

"Tidak apa... Hanya memastikan saja agar kamu tidak mandi dua kali..." sahut Abimana yang terdengar absurd.

Kemala berdehem begitu otaknya terkoneksi.

"Tidak bisa... Saya sedang halangan..." sahut Kemala lagi dengan segera berlalu kekamarnya.

Rupanya Abimana mengekori dari belakang dan langsung mendekap tubuh mungil Kemala.

Tubuhnya yang tinggi mampu menenggelamkan Kemala dalam pelukannya.

"Jangan bohongi suamimu... Bagaimana mungkin kamu mengatakan kamu sedang halangan sementara kamu saja baru sholat subuh..?" bisik Abimana tepat di sisi wajah Kemala hingga membuat bul* kuduk merinding.

Kemala menelan ludah kasar.

Demi apapun, dirinya tidak ingin melayani Abimana saat ini.

Perlakuan Abimana masih terngiang di kepalanya.

Tapi bukan Abimana jika tidak egois.

Laki-laki itu bahkan telah menjelajah keselurahan leher Kemala dan meninggalkan jejak disana.

Kemala mencengkram sisi bajunya, menahan suara 'haram' keluar dari bibirnya.

Tak puas sampai disitu, Abimana langsung menyerang bibir Kemala meski perempuan itu menolak dengan mengatup erat bibirnya.

"Dosa jika menolak permintaan suami..." bisik Abimana.

Dengan arogannya, Abimana mendorong tubuh Kemala hingga keduanya terjatuh di atas ranjang.

Kembali, bibirnya bergerilya di atas kulit Kemala yang mulus.

Tanpa disadari, Kemala mulai hanyut dalam keegoisan suaminya.

Dering ponsel di saku celana Abimana berhasil menghentikan keg*laan laki-laki itu.

"Ya sayang..."

"Saya... Saya sedang lari pagi..".

"Baiklah... Saya akan pulang..."

Tanpa berbicara apapun atau menjelaskan apapun, Abimana pergi begitu saja meninggalkan Kemala dengan pakaian yang berantakan.

Kemala meringkuk, memeluk dirinya yang lemah dan tak berdaya.

Tangisnya terdengar pilu.

Tadi dia seperti diinginkan, tapi setelah seseorang menghubungi, suami lekas pergi, mengabaikannya tanpa berbicara apapun atau mejelaskan apapun kepadanya.

"Apa kamu lupa jika saya juga istri mu, mas...?"

"Kenapa selalu Kirana...? Seolah hidupmu hanya berpusat padanya..."

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Di ruang majelis, Kemala masih dihadapkan oleh setumpuk pekerjaannya ketika seseorang duduk di kursi seberang meja kerjanya.

Wanita paruh baya yang wajahnya mirip sekali dengan wajah madu-nya.

Bu Halimah tersenyum sopan dan ramah.

Meletakkan sekotak makanan yang ia bawa dari luar kota.

Kemala hanya melirik saja tanpa bertanya apapun.

"Apa kabar Kemala?" sapa bu Halimah.

Kemala menatap sopan kepada wanita itu karena sebuah sopan santun.

"Baik.. Alhamdulilah" sahutnya.

Bu Halimah mendorong bingkisan yang ia bawa mendekat pada Kemala.

"Ini saya bawakan kue lapis legit untukmu... Kata Bu Dewanti mertuamu, kamu sangat menyukai kue ini..."

Mata Kemala terarah kepada kue lapis legit yang wanginya sungguh menggugah selera.

"Terima kasih bu...." sahutnya singkat, belum berniat menyentuh.

Kemala harus waspada akan kebaikan dari bu Halimah mengingat dia adalah ibu dari Kirana.

Entah aduan apa yang dikatakan oleh Kirana padanya sehingga setelah sekian lama, wanita ini berani menemuinya.

Bu Halimah melirik seisi ruangan yang sedikit sunyi karena hanya ada mereka berdua sementara para guru sedang mengajar di kelas.

"Saya bahagia karena Kirana sedang hamil calon bayi Abimana sekaligus saya juga sedih karena kondisinya yang akhir-akhir ini kurang bagus..." Bu Halimah memandang Kemala yang setengah acuh.

Entah kenapa, Kemala merasa kata-kata 'calon bayi Abimana' itu seperti sebuah ejekan untuknya.

"Kemala....?" panggilnya yang mendapat respon dingin dari Kemala.

Bu Halimah tersenyum kecut.

"Saya tahu ini cukup lancang, tapi saya harus mengatakannya...."

Kemala melipat keningnya, mulai menebak-nebak apa yang akan di ucapkan oleh bu Halimah selanjutnya.

"Saya meminta dan mohon padamu... Tolong lepaskan Abimana untuk Kirana...."

Pena yang berada di tangan Kemala terlepas seketika.

Mata beningnya menatap lurus pada wajah wanita berusia sekitar 50 tahunan itu.

Tak lama, Kemala menyunggingkan senyum kecil dibibirnya.

Dingin tapi juga penuh luka.

Kemala menegakkan punggungnya.

Gestur ini menunjukkan, jika dirinya tidak mudah di tekan oleh siapapun termasuk bu Halimah.

"Jika saya tidak salah tangkap dari arah pembicaraan ini, bu Halimah meminta saya untuk berpisah dengan mas Abimana. Begitukan?"

Bu Halimah menekan telapak tangan yang berada di pangkuannya.

"Bukan berpisah secara langsung. Tapi, alangkah baiknya jika kamu merelakan jika Abimana lebih banyak menghabiskan waktu bersama Kirana dan calon bayi mereka. Apalagi kini kondisi Kirana yang kurang baik dan dia tidak bisa ditinggal oleh Abimana jika dia sedang ke tempatmu... Kamu tahu sendiri jika perempuan hamil itu juga tidak boleh stres atau ditinggal.... Tidak baik untuk dirinya dan janinnya..."

"Saya tidak tahu itu karena saya belum hamil..."

"Maka dari itu.... Saya meminta padamu Kemala agar kamu untuk beberapa waktu ini jangan menghubungi atau meminta Abimana kerumahmu.. Lagipula, kamu hidup sangat baik. Rumah, nafkah lahir yang lebih, serta pekerjaan yang bagus... Tolong jangan egois dengan meminta Abimana bersamamu disaat Kirana sedang hamil.... Dia jauh lebih membutuhkan Abimana daripada kamu..."

Kemala menyandarkan punggung pada kursinya dan melipat kedua tangan di dada.

Tatapan tajam itu serasa menguliti bu Halimah secara kasat mata.

Mata yang biasa teduh memandang kini penuh bara yang siap kapanpun membakar lawan bicaranya.

"Bukankah tindakan anda saat ini sungguh tidak tahu malu, Bu Halimah?"

"Saya tahu Kemala..."

"Lalu, jika anda sudah tahu, mengapa masih bersikap arogan kepada saya...?"

Bu Halimah menelan ludahnya.

Kepalanya tertunduk.

"Saya... Saya hanya ingin yang terbaik untuk putri saya dan calon cucu saya... Kamu juga kalau masih punya orangtua, mereka juga pasti akan melakukan seperti yang saya lakukan..." cicit bu Halimah yang terdengar begitu angkuh di telinga Kemala dengan membawa-bawa nama orangtua.

Kemala bukannya marah, justru dia terkekeh.

Badannya merapat pada sisi meja.

"Tapi sayangnya kedua orangtua saya sudah berada disisi Allah.. Dan jika anda tidak lupa, doa anak yatim itu langsung dijabah oleh Allah... Bagaimana jika saya meminta pada Sang Pencipta agar mencabut nikmat putri anda karena telah menyakiti saya? Bukankah kedengarannya itu menyenangkan agar manusia-manusia angkuh seperti kalian mengerti apa itu hukum sebab akibat! Lagipula, jika kedua orangtua saya masih hidup, beliau tidak akan mengajarkan saya untuk menghancurkan hidup perempuan lain demi keegoisannya!" tajam, lugas dan menohok.

Kalimat itu mampu membuat wajah bu Halimah memerah karena menahan amarah yang siap meledak.

"Lancang kamu Kemala!!" hardik bu Halimah berdiri dari posisi duduknya.

"Anak yatim seperti kamu itu memang tidak pernah diajari sopan santun!" tunjuk bu Halimah tepat di depan wajah Kemala. Suaranya menggelegar, mengusik kesunyian ruangan tersebut.

Kemala berdiri dengan elegan. Mensejajarkan tingginya dengan bu Halimah.

"Singkirkan tangan anda dari wajah saya dan silahkan pergi dari sini karena saya sibuk!" usirnya yang semakin membuat bu Halimah semakin berang.

Tanpa banyak bicara, bu Halimah lekas pergi dengan nafas memburu emosi.

"Satu lagi bu Halimah" Kemala berjalan ke sisi meja dan meraih bingkisan kue lalu memberikannya kepada bu Halimah "Bawa ini sekalian. Saya masih sanggup membelinya" ujarnya.

Bu Halimah meraih dengan kasar dan langsung pergi tanpa ucapan apapun lagi.

bersambung....

1
Mundri Astuti
ni ga kebongkar juga yak...kasihan di fitnah terus si kemala...he abi..koreksi diri dong...kamu pernah hidup bareng Kemala sebagai kakak angkatnya..masa ga tau sifat Kemala gimana
falea sezi
moga abis ne kebongkar borok istri sok alim elu🤣🤣 nunggu elu nangis darah trs kemala dpet jodoh cogan bujang kaya raya👍
Mundri Astuti
belum kebongkar juga ...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!