NovelToon NovelToon
Ambil Saja Suamiku, Mbak

Ambil Saja Suamiku, Mbak

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ummu Umar

Ardila gadis yang selama ini mendapatkan pilih kasih dari keluarganya, harus kembali berhadapan dengan sang kakak ketika dirinya telah berumah tangga.

Sang kakak mengambil dan berselingkuh dengan suami yang begitu dia cintai

Mampukah dia melewati badai dari semua permasalahan yang tengah menghimpitnua

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ratu Drama Datang Ke Sidang

Pengadilan Agama Jakarta Selatan pagi itu penuh sesak.

Naya datang dengan Raka. Ia memakai gamis hitam sederhana dan kerudung hitam, wajahnya tanpa make-up, matanya sembab karena semalaman tidak tidur memikirkan siapa yang membocorkan soal Arka ke Bimo.

Ayahnya, Adam, tidak jadi ikut. Ibunya, Rahayu, juga tidak. Mereka beralasan malu. Padahal Naya tahu, mereka takut bertemu keluarga Bimo.

Di ruang tunggu mediasi, Bimo sudah ada. Dan benar saja, dia tidak sendiri.

Di sebelahnya, duduk seorang perempuan dengan dress merah menyala yang ketat, kacamata hitam besar, bibir merah menyala, dan perut yang sedikit membuncit.

Diandra.

Kakak kandung Naya sendiri.

Semua mata di ruang tunggu langsung menatap mereka. Bisik-bisik mulai terdengar.

"Itu kan pelakornya? Kok berani dateng ke sidang?"

"Gila, kakak kandung nikung suami adiknya?"

"Yang baju merah itu selingkuhannya? Cantik sih, tapi kelakuannya..."

Naya mengepalkan tangannya. Raka langsung menggenggam bahu Naya. "Tenang, Nay. Jangan terpancing. Inget, hari ini mediasi. Lo harus keliatan tenang dan dewasa di depan hakim."

Bimo melihat Naya dan tersenyum sinis. Ia berbisik sesuatu ke Diandra.

Diandra langsung berdiri. Dengan langkah angkuh seperti model di catwalk, ia berjalan mendekati Naya. Aroma parfumnya yang menyengat menusuk hidung.

"Hai, Dek," sapa Diandra dengan suara manis yang dibuat-buat, tapi matanya penuh kemenangan. "Gak nyangka ya, kita ketemu di sini. Harusnya kan kita ketemu di acara keluarga, bukan di pengadilan cerai."

Naya tidak menjawab. Ia menatap perut Diandra yang membuncit.

Diandra mengelus perutnya dengan bangga. "Oh, ini? Iya, Dek. Aku hamil. Dua bulan. Anaknya Bimo."

_DUAR!_

Seisi ruang tunggu langsung hening. Semua orang menatap Naya dengan kasihan.

Naya merasa lututnya lemas. Hamil? Jadi perselingkuhan mereka sudah selama itu? Bahkan sebelum ia memergoki mereka di apartemen?

Bimo ikut berdiri dan merangkul pinggang Diandra dengan mesra. "Iya, Naya. Makanya aku minta, tolong ya, proses cerainya dipercepat. Kasihan Diandra, dia butuh kepastian. Dia butuh status. Gak kayak kamu yang mandul."

Kata "mandul" itu adalah peluru terakhir yang Bimo simpan.

Naya selama 3 tahun menikah memang belum dikaruniai anak. Dan Bimo dan keluarganya selalu menyalahkannya.

Raka tidak tahan. Ia maju selangkah. "Jaga mulut lo, Bimo!"

"Oh, bodyguard-nya datang juga," Diandra tertawa. "Gimana, Dek? Enak ya punya dua cadangan? Satu sopir, satu pengusaha kaya? Pantes betah cerai. Udah laku keras ternyata adikku ini."

Saat itulah pintu ruang mediasi terbuka.

"Masuk, Naya Azzahra dan Bimo Saputra!"

Di dalam ruang mediasi yang dingin, hanya ada hakim mediator perempuan yang paruh baya dan bijaksana. Bimo dan Naya duduk berhadapan.

Diandra tidak boleh masuk, tapi ia mengintip dari kaca pintu dengan wajah puas.

Hakim mediator membuka berkas. "Bu Naya, benar ingin menggugat cerai suami karena KDRT dan perselingkuhan dengan kakak kandung sendiri?"

"Benar, Bu," jawab Naya dengan suara gemetar tapi tegas.

Hakim menatap Bimo. "Pak Bimo, bagaimana? Apa ada itikad untuk rujuk?"

Bimo bersandiwara. Ia tiba-tiba menangis. Air mata buaya.

"Bu Hakim, saya masih sayang istri saya. Saya khilaf. Saya selingkuh karena saya kesepian. Naya terlalu sibuk kerja, dia tidak pernah melayani saya. Saya minta maaf. Saya mau rujuk, Bu."

Naya terbelalak. "Bohong! Dia bohong, Bu! Dia yang pakai uang saya dan suami kakak saya buat selingkuh! Dia yang rusak apartemen saya!"

Hakim mengangkat tangan. "Tenang, Bu Naya. Ada buktinya?"

Naya mengeluarkan map yang kemarin ia tunjukkan ke Pak RT. Foto-foto, mutasi rekening, foto tulisan di dinding.

Hakim memeriksanya satu per satu. Wajahnya mengeras.

"Pak Bimo, ini benar? Anda pakai kartu debit istri untuk check-in hotel dengan perempuan lain?"

Bimo panik. "Itu... itu fitnah, Bu!"

Tiba-tiba, pintu ruang mediasi diketuk keras dan dibuka paksa.

Diandra masuk dengan membanting pintu.

"Maaf, Bu Hakim! Saya harus bicara! Saya Diandra, kakaknya Naya! Saya di sini sebagai saksi bahwa adik saya ini yang selingkuh duluan! Dia selingkuh sama sopirnya, Raka! Dan sekarang dia juga selingkuh sama mantan pacarnya, Arka Wijaya! Dia kasih mobil dan apartemen ke adik saya!"

Ruang mediasi jadi gaduh.

Hakim marah. "Ibu siapa? Keluar! Ini ruang mediasi, bukan pasar!"

Diandra tidak mau keluar. Ia malah menunjuk Naya.

"Dia mandul, Bu Hakim! Makanya suaminya cari saya! Saya bisa kasih anak! Saya sudah hamil anak Bimo! Lihat!"

Ia mencoba menunjukkan test pack dari tasnya.

Naya sudah tidak tahan lagi. Tiga tahun ia diam. Tiga tahun ia mengalah.

Ia berdiri dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia menampar kakak kandungnya sendiri.

_PLAK!_

Suara tamparan itu keras, menggema di seluruh ruangan.

Diandra memegangi pipinya yang merah, kaget bukan main. Bimo juga kaget.

"Kamu hamil? Kamu bangga hamil dari suami adikmu sendiri?" Naya berteriak, air matanya tumpah deras. "Kamu kakakku, Mbak! Kakak kandungku! Waktu kamu dicerai Mas Agam, siapa yang nampung kamu? Siapa yang kasih kamu uang? AKU! Waktu kamu bilang stres, siapa yang suruh Bimo hibur kamu? AKU! Dan ini balasan kamu? Kamu tidurin suamiku di ranjangku?"

Diandra terdiam. Untuk pertama kalinya, topeng angkuhnya retak. Ada rasa bersalah di matanya, tapi gengsinya terlalu besar.

"Aku... aku juga butuh kasih sayang, Naya... Bimo yang perhatian sama aku..."

"Gak usah bawa-bawa kasih sayang!" Naya membentak. "Kamu pelakor! Kamu perusak rumah tangga adikmu sendiri!"

Hakim mediator langsung berdiri dan melerai. "Cukup! Cukup! Sidang mediasi GAGAL! Kita lanjut ke sidang pokok minggu depan dengan bukti-bukti lengkap!"

Di luar ruang sidang, Raka menunggu dengan cemas. Ia melihat Naya keluar dengan mata merah, dan Diandra keluar sambil memegangi pipinya sambil menangis drama.

"Bimo! Lihat adikmu! Dia nampar aku! Padahal aku lagi hamil! Jahat!"

Bimo langsung memeluk Diandra. "Sabar, sayang. Nanti kita tuntut dia."

Di saat keributan itu memuncak, dari ujung koridor pengadilan, seorang laki-laki berjalan dengan langkah tenang, memakai jas hitam mahal, membawa map coklat tebal dan dikawal dua orang staf.

Arka.

Ia tidak melihat Diandra atau Bimo. Matanya hanya fokus pada Naya.

Ia berjalan melewati Bimo dan Diandra, dan langsung berdiri di samping Naya.

Ia menyerahkan map coklat itu kepada Naya.

"Pengacara terbaik di Jakarta. Sudah aku bayar. Untuk sidang minggu depan. Dan ini..." ia menyerahkan sebuah flashdisk kecil. "Rekaman CCTV apartemenmu tanggal 14, 18, dan 21 bulan lalu. Lengkap. Bimo dan kakakmu masuk pakai kunci duplikat. Serta bukti transfer pinjol Bimo atas nama kamu."

Bimo dan Diandra membeku. Wajah mereka pucat seperti mayat.

Arka lalu menatap Bimo dengan tatapan yang sangat dingin, tatapan seorang CEO yang biasa menghancurkan perusahaan orang.

"Kamu sentuh Naya sekali lagi, saya pastikan kamu tidak hanya kehilangan istri, tapi juga kebebasan kamu. Penipuan, KDRT, dan pemalsuan dokumen ada pasalnya."

Bimo mundur selangkah. Ia tahu siapa Arka Wijaya. Ia tidak berani melawan.

Diandra yang tadinya berani, kini bersembunyi di belakang Bimo.

Naya menatap Arka, lalu menatap flashdisk di tangannya. Air matanya mengalir lagi, tapi kali ini bukan karena sakit.

Karena akhirnya, ada seseorang yang benar-benar berperang untuknya, bukan melawannya.

Dan dari jauh, Raka melihat semua itu. Ia melihat bagaimana Arka bisa menyelesaikan semua masalah Naya hanya dengan satu map dan satu flashdisk, sementara ia hanya bisa menggenggam tangan Naya.

Raka sadar, ia mungkin akan kehilangan sahabatnya untuk selamanya.

*Bersambung...*

1
sunaryati jarum
Sahabat jika tulus tidak akan hilang Raka
sunaryati jarum
Baru mampir
Lee Mba Young
Semoga Ada orang yg lbih Dr Arka Dan Raka. Arka Dan Raka gk mungkin melawan vania, mereka Ada hati ke vania.
Lee Mba Young
Iuhhh mnjijikan banget ternyata Arka Dan Raka.

semoga dpt jodoh yg bner bner baik ya, gk kayak Raka Dan Arka.
Ummi Sulastri Berliana Tobing
👏👏👏👏👏
Ma Em
Naya kamu jgn salah pilih lagi untuk pasangan hdp mu jgn karena sahabat kamu memilih dia dan juga karena orang kaya Naya pilih tapi pilihlah lelaki yg baik yg bertanggung jawab cinta dan sayang pada Naya .
Lee Mba Young
Ingat kasus Andre Dan Erin. saat kaya Raya di tinggal cari bini baru.
mending yg kaya sekalian kn 😁
Lee Mba Young
jng mnemani lelaki Dr nol, krn nnti saat sukses km yg akn di buang 😄🤣.
Bimo juga bukan orang kaya selingkuh juga kan😄🤣.
Ragan Fian
"Kalau suka tema rumah tangga + perempuan yang perlahan bangkit, aku juga lagi nulis cerita dengan vibe seperti itu. Judulnya "Kau Sia siakan aku,kunikahi sahabatmu", kalau berkenan boleh mampir 🤍"
falea sezi
🤣🤣 ayah tangisan mu g tulus
falea sezi
🤣🤣 ayah ibunya cm numpang usir nay ortu bangsatt g sudi
falea sezi
goblok🤣 baru aja suka Badas ehh menye lemah
aku
beg* ngapain lu spill rencanamu dg gamblang pdhl tau bimoli tempramen. hadeh cari perkara 😌😌
nuanuan
masih memantau keseruan ceritanya..
jgn nyerah ya nay...
nuanuan
seruuuuuuu kkkk.. ayo lanjuttttt
Soraya
hadir thor
nuanuan
ditunggu lanjutannya ya thorrr💪
salam kenal
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!