NovelToon NovelToon
RODA DUA Dan RAHASIA BIRU

RODA DUA Dan RAHASIA BIRU

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Zildiawan

Gavin Dewantara adalah pewaris tunggal Dewantara Group, salah satu keluarga old money terpandang di negeri ini. Bosan dengan kepalsuan kelas atas dan kekangan keluarganya, Gavin memilih kuliah di universitas negeri di luar kota, tinggal di kosan sederhana, dan menyembunyikan identitas aslinya. Di kampus, ia dikenal sebagai mahasiswa teknik yang slengean, ugal-ugalan, hobi naik motor tua, dan sering terlibat perkelahian jalanan menggunakan teknik bela diri praktis yang ia pelajari dari jalanan. Meski terlihat berandalan, Gavin memiliki prinsip hidup yang kokoh dan kesetiaan tanpa batas kepada teman-temannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zildiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 Malam Balapan Liar

Udara malam di jalur lingkar luar kota terasa sedingin es yang menusuk pori-pori kulit. Jalanan aspal dua jalur yang lurus dan sepi itu hanya diterangi oleh lampu neon kuning dari beberapa pabrik yang sudah tutup di sisi kiri. Namun malam ini, keheningan distrik industri tersebut pecah oleh deru puluhan mesin motor yang sengaja digas berulang-ulang, menciptakan polusi suara yang pekak.

Di tengah kerumunan remaja berjaket kulit dan bertato murahan, Dono duduk bersimpuh di atas tanah berkerikil. Wajah mahasiswa tingkat akhir itu babak belur; sudut bibirnya pecah dan matanya sembap. Di depannya, Tyson—bos geng motor "Srigala Jalanan" yang bertubuh kekar dengan kepala plontos—sedang memainkan kunci motor matic milik Dono di jarinya.

"Empat juta rupiah, atau malam ini tangan kanan temen lu gue patahin buat jaminan utang judi bolanya," gertak Tyson, suaranya berat dan penuh intimidasi. Beberapa anak buahnya tertawa, sesekali mengayunkan rantai besi ke arah tanah untuk menakut-nakuti Dono yang makin menciut ketakutan.

"Tolong, Bang... duit beasiswa gue belum cair. Jangan patahin tangan gue, gue minggu depan harus praktikum akhir..." ratap Dono dengan suara bergetar, air matanya menetes menahan rasa sakit di wajahnya.

Tepat saat Tyson mengangkat kakinya untuk menendang dada Dono, suara knalpot bebek yang cempreng, pecah, dan bergetar hebat memotong kebisingan malam.

BREEEEM! POP! POP! BREEEEM!

Kerumunan anak motor itu menoleh. Dari kegelapan jalan, meluncur sebuah Astrea Grand tahun 1995 berwarna hitam pudar. Di atasnya, Gavin Dewantara duduk dengan santai, hanya mengenakan kaus oblong hitam polos dan celana jins robek. Ia mematikan mesin, menurunkan standar samping motornya dengan sentakan kaki yang acak-acakan, lalu berjalan melewati kerumunan preman tanpa ada rasa takut sepeser pun.

"Utang judi dibayar pake kekerasan itu kuno, Bang. Gimana kalau kita ganti taruhannya pake roda dua?" celetuk Gavin sambil melempar cengiran slengean andalannya. Ia berdiri tepat di antara Tyson dan Dono.

Tyson melirik Astrea Grand milik Gavin, lalu meledak dalam tawa terbahak-bahak yang diikuti oleh seluruh anggotanya. "Lu mau nantang gue balapan pake rongsokan itu? Lu gila atau bosen hidup, hah?!"

Gavin menunduk sejenak, menatap Dono yang menatapnya dengan pandangan penuh rasa bersalah dan ketakutan. "Gavin... ngapain lu ke sini? Lu pulang aja, Gav! Mereka bahaya!" bisik Dono lemas.

Gavin berlutut satu kaki, menepuk pundak Dono yang bergetar hebat dengan sangat pelan. Detik itu, sorot mata slengean Gavin menghilang, digantikan oleh kilatan mata yang dalam dan kokoh. "Tenang, Bang Don. Anak Kos Bu Broto gak pernah ninggalin temennya sendirian di jalanan. Abang duduk yang rapi, biar gue yang ambil kembali harga diri lu."

Gavin berdiri kembali, menatap Tyson tegak lurus. "Motor gue emang rongsokan, Bang. Tapi surat-suratnya lengkap. Kalau gue kalah, motor ini jadi milik lu, plus lu bisa ambil kartu debit di dompet gue. Tapi kalau gue menang, utang Dono lunas, motornya balik, dan lu harus minta maaf karena udah bikin muka senior gue jadi kayak keset."

Tyson yang merasa di atas angin karena mengendarai motor sport 150cc yang sudah dimodifikasi balap langsung menyeringai. "Oke, bocah gembel. Dua kilometer trek lurus sampai jembatan layang di depan, muter balik, dan finis di sini lagi. Siap-siap pulang jalan kaki."

Kedua motor disejajarkan di garis start darurat yang digaris menggunakan pilox putih. Tyson terus memblayer motor sport-nya, membuat asap knalpot mengepul tebal. Di sebelahnya, Gavin hanya menatap lurus ke depan dengan fokus penuh, kedua tangannya mencengkeram stang Astrea-nya dengan sangat rileks.

Seorang gadis berpakaian minim maju ke tengah jalan, mengangkat syal merah tinggi-tinggi.

Tiga... Dua... Satu... Syal dijatuhkan!

VROOAMMM!

BREEEEMMM!

Motor sport Tyson melesat instan, ban belakangnya sempat berdecit menciptakan traksi kuat di aspal. Gavin tertinggal dua panjang kendaraan di awal karena kapasitas mesin motor bebeknya kalah jauh. Namun, Gavin tidak panik. Ia merebahkan tubuhnya serendah mungkin di atas tangki motor, menyembunyikan kepalanya di balik stang untuk meminimalkan hambatan angin—sebuah teknik aerodinamika presisi.

Memasuki satu kilometer pertama, Tyson memimpin jauh di depan. Namun, tantangan sesungguhnya adalah tikungan putar balik (u-turn) tajam di bawah jembatan layang yang dilapisi pasir halus di sisi jalan.

Tyson memotong kecepatan dengan drastis, mengerem keras, dan mengambil sudut aman agar motor sport-nya tidak tergelincir di atas pasir.

Melihat hal itu, Gavin justru menarik gasnya lebih dalam. Ia tidak mengerem. Dari belakang, motor bebek tuanya melesat seperti peluru bunuh diri menuju sudut dalam tikungan yang sangat sempit.

"Dia gila! Gak ngerem!" teriak salah satu anak buah Tyson yang menonton dari kejauhan menggunakan teropong.

Tepat di titik kritis sebelum menabrak pembatas jalan, Gavin menghentakkan kaki kirinya ke aspal sebagai poros keseimbangan, menarik rem belakang sedikit hingga ban Astrea-nya sliding terkontrol, lalu merebahkan motornya hingga batas ekstrem. Knalpot bobokannya bergesekan dengan aspal, menciptakan percikan api yang menyala terang di tengah kegelapan malam.

SREEEETTT!

Manuver ugal-ugalan namun taktis itu berhasil. Gavin memotong jalur Tyson tepat di titik puncak tikungan dari sisi dalam yang mustahil. Sebelum Tyson sempat menegakkan motornya kembali, Astrea Grand Gavin sudah melesat lebih dulu keluar dari tikungan, mencuri keunggulan akselerasi awal.

"Sialan!" umpat Tyson gila-gilaan, langsung memuntir gasnya untuk mengejar.

Di jalur lurus kembali menuju finis, motor sport Tyson perlahan mulai memangkas jarak berkat keunggulan tenaga mesin. Jarak mereka menyusut: tiga meter... dua meter... satu meter... Ban depan motor Tyson kini sudah berada sejajar dengan ban belakang Gavin. Garis finis tinggal berjarak lima puluh meter di depan.

Gavin melirik spion sesaat. Ia memanfaatkan momentum aliran angin (slipstream) di belakang bayangan angin jalanan, lalu dengan sedikit sentakan tubuh ke depan untuk memberi beban pada ban depan, ia melakukan operan gigi terakhir dengan entakan tumit yang kasar. Mesin Astrea tua itu menjerit di batas maksimalnya, bergetar hebat seolah-olah baut-bautnya akan lepas.

BRRRRRRRRRR!

Astrea Grand hitam lusuh itu menyentuh garis pilox putih hanya selisih setengah ban lebih cepat daripada motor sport mahal milik Tyson.

"GAVIN MENANG!!" teriak Rian yang baru saja datang menyusul, melompat kegirangan di pinggir jalan.

Sorak-sorai riuh dari beberapa penonton netral memecah malam, sementara anggota Srigala Jalanan terdiam seribu bahasa. Tyson mengerem motornya dengan frustrasi, wajahnya penuh rasa malu dan murka.

Gavin memutar motornya santai, berhenti tepat di depan Tyson yang masih terengah-engah menahan amarah. Gavin turun dari motor, menghampiri Dono, lalu membantunya berdiri. Ia merangkul pundak Dono yang masih gemetar karena syok dan haru.

"Utang lunas, Bang Tyson," kata Gavin sambil menunjuk Dono, lalu menatap Tyson dengan pandangan dingin yang membuat bos geng motor itu tidak berani membantah. "Dan jangan lupa, minta maaf ke senior gue. Sekarang."

Tyson mengepalkan tangannya, namun melihat ratusan mata penonton yang menyaksikan kekalahannya secara adil di jalanan, ia terpaksa menelan harga dirinya. "Gue... minta maaf," gumam Tyson pendek, lalu melempar kunci motor Dono ke tanah sebelum berbalik pergi bersama gengnya.

Dono memeluk Gavin erat-erat sambil menangis sesenggukan di tengah jalan lingkar luar yang sepi itu. "Makasih, Gav... makasih banyak. Gue gak tahu harus gimana kalau gak ada lu..."

Gavin tertawa renyah, menepuk-nepuk punggung Dono dengan gaya slengean andalannya untuk mencairkan suasana drama yang terlalu melow baginya. "Aduh, Bang Don, udah ah meluknya. Geli gue. Lagian baju lu penuh jelaga rokok tuh, ntar jaket gembel gue ketularan kotor. Yuk balik, gue laper banget, taruhan menang gini harusnya Cak Min mau ngasih kita mi instan gratis!"

Di bawah sorot lampu neon jalanan, Rian dan Dono berjalan beriringan menuntun motor mereka di samping Gavin yang berkendara pelan dengan siulan santainya. Di malam yang dingin itu, solidaritas anak Kos Bu Broto terikat semakin kuat, tanpa pernah mereka tahu bahwa pahlawan jalanan yang baru saja mempertaruhkan nyawanya dengan motor bebek rongsokan adalah orang yang sama yang memiliki kuasa atas sebagian besar roda ekonomi di ibu kota.

1
Mey-mey89
lanjut
Azmi Zildiawan: Terima kasih sudah membaca
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!