NovelToon NovelToon
PRADA TRACE : Melacak Jejak Arwah

PRADA TRACE : Melacak Jejak Arwah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / TKP
Popularitas:26.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ichageul

Pradipta mendirikan divisi PRADA TRACE. Dia menerima klien yang ingin mencari anggota keluarga, teman, atau kerabat yang hilang. Pradipta bekerja sama dengan Gilang dalam menjalankan PRADA TRACE.

Namun setiap kasus yang mereka dapat, selalu menuntun mereka ke sebuah misteri yang harus dipecahkan.

Terkadang, orang yang mereka cari sudah menjadi arwah. Gilang pun harus menggunakan kemampuannya untuk menemukan jejak arwah dibantu oleh Prisa dan Jung Kook.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menelusuri Jejak

Gilang mengajak Pradipta keluar. Dia perlu bicara dengan pria itu mengenai Arga. Bahkan mungkin mereka harus menghubungi Nino dan Asep.

“Ada apa?” tanya Pradipta.

“Hasil penyelidikan Prisa dan Jung Kook, Arga udah meninggal.”

“Apa?” tanya Pradipta dengan ekspresi terkejut. “Gimana meninggalnya? Kecelakaan?”

“Kalau kata Prisa, pas di hutan pinus, motor Arga ditabrak. Kayaknya sih, sengaja ditabrak. Terus dia dibawa ke vila dan disiksa di sana sampai meninggal.”

“Berarti yang nabrak dia orang yang kenal dia.”

“Bisa jadi. Nggak mungkin tiba-tiba nabrak terus nyiksa sampai meninggal kalau nggak ada sesuatu. Mungkin dia dendam sama Arga.”

Pradipta terdiam sebentar. Pandangannya kemudian tertuju pada Indri yang berada dalam bus PRADA TRACE.

“Kayaknya kita harus hubungi Bang Nino sama Kang Asep, deh,” usul Gilang.

“Bentar, jangan dulu. Lebih baik kita selidiki dulu. Prisa bilang apa sebelumnya?”

“Ehm… dia bilang, pas di jalan, Arga sempat nolongin cewek di daerah Padalarang. Ada cowok-cowok yang gangguin dia atau gimana gitu. Terus ditolong sama Arga. Si cewek malah diantar sampai ke rumahnya sama Arga.”

“Padalarangnya di mana?”

“Katanya sih, dekat Kota Baru Parahyangan.”

Pradipta bergegas kembali ke dalam bus. Dia mulai mencari rekaman CCTV yang berada di daerah Padalarang. Setelah mencari-cari, akhirnya dia menemukan satu rekaman CCTV. Namun, rekaman tersebut tidak terlihat jelas.

“Kayaknya kita harus ke sana,” putus Pradipta. Dia harus melihat langsung lokasi kejadian. Siapa tahu ada tempat lain yang memiliki kamera CCTV dan menangkap kejadian tersebut.

“Ya, udah. Kita pergi aja sekarang.”

“kalian mau ke mana?” tanya Indri yang melihat Pradipta dan Gilang hendak pergi.

“Kami harus pergi ke suatu tempat. Kamu tunggu di sini aja dengan Gia. Ayo, Lang.”

Tanpa menunggu jawaban Indri, Pradipta dan Gilang bergegas pergi.

Butuh waktu hampir satu jam untuk tiba di lokasi Arga membantu seorang perempuan. Pradipta memarkir mobilnya, lalu turun bersama Gilang. Dia mengamati lokasi sekitar, lalu menyamakannya dengan lokasi yang ada di rekaman CCTV.

“Ini tempatnya, kan?” tanya Gilang sambil membandingkan lokasi yang dilihatnya di rekaman dengan tempatnya berada sekarang.

“Iya, ini tempatnya,” jawab Pradipta yakin.

Pandangan keduanya beredar ke sekeliling. Di dekat terdapat lokasi itu deretan ruko dan rumah warga. Namun hanya ada dua rumah yang memasang CCTV tepat ke arah mereka sekarang. Satu lagi adalah minimarket yang ada di seberang.

“Kita harus lihat rekaman CCTV mereka,” ujar Pradipta.

“Kira-kira dikasih nggak, Bang? Kan kita bukan polisi.”

“Coba aja dulu. Siapa tahu mereka mau kasih lihat.”

“Kalau nggak mau, gimana?”

“Paling gue hack,” jawab Pradipta santai.

Keduanya segera berpencar. Pradipta menuju dua rumah yang memiliki kamera CCTV. Sementara itu, Gilang menuju minimarket.

Pradipta menekan bel yang ada di dekat pintu pagar. Tidak berapa lama kemudian, seorang wanita paruh baya muncul. Dari gaya berpakaian, Pradipta menebak bahwa wanita itu hanyalah asisten rumah tangga di rumah itu.

“Cari siapa, Mas?” tanya wanita itu dari balik pintu pagar.

“Maaf, Bu. Saya dari PRADA TRACE.” Pradipta menyerahkan kartu namanya pada asisten rumah tangga itu. “Saya lagi cari seseorang. Sebulan yang lalu, dia tertangkap kamera CCTV di sana.” Pradipta menunjuk lokasi Arga tertangkap kamera CCTV.

“Tapi rekaman sebelumnya kurang jelas. Saya lihat di sini ada kamera CCTV yang mengarah ke sana. Apa saya bisa lihat rekaman CCTV-nya, Bu?”

Wanita itu tidak langsung menjawab. Dia melihat kartu nama yang diberikan Pradipta, lalu melihat pria itu. Wajahnya menunjukkan keraguan.

“Kalau soal itu, bicara ke majikan saya aja, Mas. Tapi sekarang mereka nggak ada di sini.”

“Kapan mereka pulang, Bu?”

“Pulangnya pas weekend aja, Mas.”

“Ya sudah, nggak apa-apa. Makasih, Bu.”

Tahu kalau wanita itu hanya pekerja di rumah tersebut, Pradipta pun tidak memaksa. Pria itu berpindah ke rumah kedua.

Namun ternyata rumah itu kosong. Pradipta memutuskan kembali ke mobil. Dia memilih cara kedua, yakni meretas sistem kamera CCTV tersebut.

Sementara itu, di minimarket, Gilang masih berbicara dengan pegawai di sana. Setelah menyerahkan kartu namanya, dia pun memperkenalkan diri.

“Jadi begini, Mas, Mbak. Saya tuh lagi cari orang, namanya Arga. Nah ada yang bilang dia terlihat di sini sekitar sebulan yang lalu. Ini fotonya.”

Gilang memperlihatkan foto Arga kepada dua pegawai minimarket tersebut. Namun keduanya menggelengkan kepala. Mereka belum pernah melihat Arga.

“Katanya ada yang lihat dia di sana, Mas.” Gilang menunjuk area tempat Arga tertangkap kamera CCTV. “Kalau diizinkan, saya mau lihat rekaman CCTV minimarket ini dari sebulan yang lalu. Siapa tahu dia sempat tertangkap kamera.”

Kedua pegawai itu saling berpandangan. Tentu saja mereka tidak boleh memperlihatkan rekaman CCTV ke sembarang orang, kecuali ada polisi yang memintanya.

“Saya tahu mungkin Mas atau Mbak keberatan. Tapi saya mohon, Mas, Mbak, sekali ini aja. Kasihan ini calon istrinya nyariin.

Coba kalian bayangkan calon istri atau calon suami kalian tiba-tiba menghilang menjelang hari pernikahan, gimana coba? Tolong, ya.”

Gilang menangkupkan kedua tangannya sambil memasang wajah memelas. Akhirnya mereka pun mengizinkan. Karyawan pria mengajak Gilang masuk ke dalam untuk melihat rekaman kamera di komputer.

Gilang langsung meminta hari dan waktu rekaman saat Arga tertangkap. Wajahnya tampak sumringah, ternyata kamera di minimarket ini menangkap jelas Arga saat itu.

“Itu calon istrinya?” tanya pegawai minimarket tersebut.

“Bukan, Mas. Kalau itu calonnya, ngapain dia nyariin.”

“Iya juga. Wah kayaknya dia selingkuh tuh. Buktinya dia pergi sama cewek lain.”

“Bisa jadi,” jawab Gilang sekenanya. Yang penting dia bisa mendapatkan rekaman tersebut.

Gilang kemudian menyalin rekaman tersebut ke ponselnya, lalu berpamitan. Sebelum pergi, dia menyempatkan diri membeli minuman dan camilan. Malu saja pergi dengan tangan kosong.

Sambil berlari, Gilang segera menuju mobil. Begitu masuk, tampak Pradipta tengah sibuk dengan laptopnya.

Dia sudah berhasil meretas sistem kamera CCTV dua rumah tadi. Wajah pria dan wanita yang bersama Arga terlihat cukup jelas.

Gilang kemudian memperlihatkan rekaman yang didapatnya. Dari rekaman CCTV di minimarket, mereka bisa melihat nomor plat mobil pria yang bersama Arga.

“Kalau dari keterangan Prisa tadi, Arga ditabrak mobil, terus dibawa ke vila. Jumlahnya empat orang. Pas dengan orang-orang ini. Terus gimana, Bang?” tanya Gilang.

“Kayaknya sekarang kita butuh Nino dan Asep,” jawab Pradipta.

Pradipta segera menyalakan mesin mobilnya. Dia kembali melajukan kendaraan roda empat tersebut. Kali ini, tujuan mereka adalah kantor Polda.

Tidak sampai satu jam, mereka sudah tiba di kantor Polda. Pradipta menghubungi Nino terlebih dahulu. Dia mengajak duo kancing cetet bertemu di rumah makan yang tidak jauh dari kantor Polda.

Sepuluh menit kemudian, Asep dan Nino tiba. Tanpa basa-basi, Pradipta langsung menceritakan kasus yang tengah ditanganinya.

“Dari hasil penyelidikan, orang-orang inilah yang terakhir kali bertemu dengan Arga.”

Pradipta menunjukkan rekaman CCTV yang berhasil didapatnya. Begitu juga Gilang yang memperlihatkan rekaman CCTV di minimarket.

“Kita harus cari tahu mereka dulu.”

Nino segera menghubungi salah satu rekannya. Dia meminta rekannya itu mencari tahu pemilik mobil yang ada dalam rekaman. Pria itu menyebutkan nomor plat mobil tersebut.

“Mobil tercatat atas nama Bimo Handika. Dia anak salah satu anggota DPR RI dari Fraksi Demokrat Bersatu,” ujar rekan Nino dari seberang.

***

Anak pejabat rupanya🤭

1
vania larasati
lanjut kak
Umma Ridwan
iiiiih kalo bener yang ngikutin Giana teh si Ruben, berarti yang gondal gandulnya segede uprit punya nya si Ruben donk 🤣🤣
semoga neng Giana baik baik aja 🙏
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
kena sial dia 🤣🤣
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
senasib🤣🤣
Ani
bisa iya bisa nggak sih tapi kok yo beneran diikuti 🤔🤔🤔🤔
Safitri Agus
kenapa lari gi, tendang aja biar kapok kan reflek itu ya pas terkejut 🤭
Safitri Agus
Oalah kasihan 🤭🤣
Safitri Agus
🤭🤣🤣🤣
Safitri Agus
bisa jadi
Safitri Agus
sadiz ya😱
tehNci
Dari motor trail ke sepeda BMX,..jauh bangettt seenggaknya motor bebek atau matic gitu, masih sama¹ motor😂😂😛😛😛
tehNci
Wuiiih keren banget. si Leya ini😍🤩
tehNci
kirain Kania...
tehNci
Kania bukan ya?
tehNci
Giana lagi cosplay jadi detektif😄
tehNci
Mau mengumpankan dirikah? Semoga hanya menyelidiki saja
tehNci
Dasar gila nih orang. Buang mayat manusia kayak buang kresek bekas gorengan aja
tehNci
Kalo sudah mati, arwahnya bisa jadi petunjuk buat Jungkook dan Prisa
Lina Suwanti
semoga yg meninggal bukan Anjani n arwah korban ketemu sm Prisa atau Jun Kok biar bisa jd petunjuk
Ria alia
Murah banget tuh rudal dikeluarin mulu 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!