NovelToon NovelToon
Bulan Merah Dari Timur

Bulan Merah Dari Timur

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Epik Petualangan
Popularitas:446
Nilai: 5
Nama Author: Biruwarna

Ketika bulan merah muncul di langit Timur, dua saudara kembar terlahir kembali membawa kekuatan yang seharusnya tidak pernah kembali ke dunia.

Yang satu dingin dan lebih suka diam. Yang satunya galak, mageran, sombong seenaknya, dan paling malas menunjukkan kekuatannya—sampai-sampai orang di sekitarnya sering dibuat tepok jidat. Namun di balik sikap mereka yang menyebalkan, keduanya menyimpan hati yang jauh lebih baik daripada yang terlihat.

Di tengah kerajaan yang dipenuhi keindahan, sihir, dan makhluk-makhluk gaib, kemunculan mereka perlahan membangunkan sesuatu yang telah lama tertidur.

Sebab kelahiran kembali mereka bukanlah kebetulan.

Dan ketika bulan merah kembali bersinar, kekacauan dari masa lalu mulai menagih sesuatu yang pernah hilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biruwarna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 2 : Hukuman Yang Sangat Tidak Adil

Pagi setelah kekacauan itu, Perguruan Tianlan belum pernah terasa setenang ini, dan anehnya justru ketenangan itulah yang membuat Shen Rui merasa ada sesuatu yang sangat tidak beres. Ia berdiri di tepi danau halaman timur sambil memegang sapu bambu, menatap permukaan air yang dipenuhi daun kering dengan tatapan kosong. Rambutnya masih berantakan, jubah putih kebiruan yang dikenakannya sedikit kusut, dan yang paling menyedihkan adalah kenyataan bahwa ia bahkan belum sempat sarapan.

Di sebelahnya, Shen Yuan berdiri dengan wajah sedingin batu.

“Lima puluh putaran di sekitar danau,” kata Yuan datar.

Rui menoleh perlahan. “Apa?”

“Bukan lima puluh. Seratus.”

“Kenapa berubah?”

“Karena kau mengeluh.”

Rui terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menghela napas panjang. “Aku merasa dunia ini tidak adil.”

Yuan meliriknya. “Dunia tidak peduli.”

“Itu lebih menyakitkan.”

Di depan mereka berdiri seorang tetua perguruan yang sejak tadi menatap keduanya dengan ekspresi sulit dijelaskan. Setelah kejadian semalam, para tetua akhirnya mengetahui bahwa kekuatan elemen telah muncul dalam tubuh kedua pemuda tersebut. Masalahnya, tidak ada seorang pun yang yakin apakah mereka harus menganggapnya sebagai bakat luar biasa atau bencana yang berjalan menggunakan dua kaki.

“Danau ini harus bersih sebelum matahari berada tepat di atas kepala,” ujar sang tetua. “Jika tidak selesai, hukuman ditambah.”

Rui langsung mengangkat tangan.

Tetua itu mengerutkan kening. “Apa?”

“Kalau saya pura-pura pingsan, hukuman dikurangi?”

“Tidak.”

“Kalau saya benar-benar pingsan?”

“Tidak.”

“Kalau—”

“Shen Rui.”

Rui menurunkan tangannya.

“Baiklah.”

Tetua itu pergi meninggalkan mereka, sementara Rui menatap punggungnya dengan tatapan penuh penderitaan.

“Aku tidak cocok hidup seperti ini,” gumamnya.

“Kau cocok.”

“Bagaimana kau tahu?”

“Karena sejak kecil kau memang seperti ini.”

Rui menoleh cepat. “Kita baru saling mengenal tiga tahun di perguruan.”

Yuan terdiam sesaat.

Kemudian ia berkata, “Benar.”

Rui menyipitkan mata. Ada sesuatu dalam jawaban itu yang terasa aneh, tetapi rasa penasarannya hanya bertahan selama beberapa detik sebelum matanya menangkap seekor capung biru yang terbang rendah di atas permukaan danau.

Matanya langsung berbinar.

“Yuan.”

“Apa?”

“Lihat.”

“Aku melihat.”

“Capung!”

“Aku tahu.”

“Biru!”

“Aku juga tahu.”

“Bagus sekali.”

Yuan menatap adiknya yang sekarang mengikuti gerakan capung dengan kepala bergerak ke kiri dan kanan. Ia bahkan sudah melupakan hukuman mereka.

“Rui.”

“Hm?”

“Danau.”

Rui menoleh ke sapu di tangannya.

Kemudian ke danau.

Kemudian kembali melihat capung.

“Aku sedang mengawasi keadaan.”

“Kau sedang mengejar capung.”

“Itu bagian dari pengawasan.”

Yuan menarik napas dalam-dalam.

Ia mulai mengerti mengapa para tetua sering terlihat tua sebelum waktunya.

Namun ketika Rui akhirnya mengambil sapu dan mulai membersihkan permukaan danau, sesuatu yang lebih aneh terjadi. Ujung jarinya kembali memancarkan cahaya biru tipis. Air di sekitar sapu perlahan membeku.

Rui berhenti.

“Yuan.”

“Jangan bergerak.”

“Aku tidak bergerak.”

“Jangan gunakan kekuatanmu.”

“Aku tidak menggunakannya.”

Es terus menyebar.

Rui menatap permukaan air yang mulai membeku dengan mata membesar.

“Aku benar-benar tidak melakukan apa-apa.”

Yuan segera mendekat dan mencoba menghentikan aliran energi spiritual yang keluar dari tubuhnya, tetapi begitu ia menyentuh bahu Rui, angin kencang tiba-tiba berembus dari arah berlawanan.

Daun-daun beterbangan.

Air danau bergelombang.

Dan sapu bambu Rui terbang begitu saja.

“Eh!”

Sapu itu melayang beberapa meter sebelum jatuh ke dalam air.

Rui mematung.

Yuan memejamkan mata.

“Ambil.”

“Kenapa aku?”

“Karena kau yang menjatuhkannya.”

“Tapi anginmu yang menerbangkan.”

“Es milikmu yang membuatku menggunakan angin.”

Rui menunjuk dirinya sendiri. “Jadi ini salah kita berdua?”

“Ya.”

“Bagus. Berarti aku tidak sendirian.”

Yuan menatapnya tajam.

Rui tersenyum.

“Jangan marah.”

“Aku tidak marah.”

“Kau kelihatan marah.”

“Aku memang seperti ini.”

“Oh.”

Rui mengambil langkah menuju danau, tetapi tiba-tiba berhenti.

Capung biru tadi hinggap di atas batu.

Ia berjongkok perlahan.

“Cantik sekali.”

Yuan menatapnya dari belakang.

“Jangan bilang kau mau menangkapnya.”

Rui tidak menjawab.

“Rui.”

“Aku cuma mau melihat.”

“Kau tersenyum.”

“Memangnya kenapa?”

“Kau terlihat seperti anak kecil.”

“Aku memang sedang bahagia.”

Untuk sesaat, wajah dingin Yuan melunak sedikit.

Kemudian capung itu terbang dan hinggap tepat di atas kepala Yuan.

Yuan membeku.

Rui menatapnya.

Capung itu diam di sana.

“Yuan.”

“Apa?”

“Jangan bergerak.”

“Aku tidak bergerak.”

“Bagus.”

Rui perlahan mengangkat tangannya untuk menyentuh capung tersebut. Namun sebelum jarinya sampai, energi biru kembali muncul dari tubuhnya.

Kali ini lebih kuat.

Permukaan danau membeku dalam sekejap.

KREK!

Rui terkejut dan mundur.

Capung itu terbang.

“Wah!”

Es menjalar sampai ke kaki Yuan.

Yuan menunduk melihat sepatunya yang kini membeku.

Rui menatapnya dengan wajah bersalah.

“Maaf.”

“Berhenti menggunakan kekuatan.”

“Aku tidak sengaja.”

“Kau bahkan belum belajar mengendalikannya.”

“Aku tahu.”

“Lalu kenapa kau terus melakukannya?”

Rui berpikir cukup lama.

“Karena... capungnya lucu.”

Yuan terdiam.

Benar-benar terdiam.

Untuk pertama kalinya sejak mereka datang ke Perguruan Tianlan, ia tidak memiliki jawaban.

Tiba-tiba dari arah paviliun terdengar suara seseorang tertawa.

“Hehehe... kalian sedang dihukum atau sedang membuat danau baru?”

Rui menoleh.

Seorang gadis berdiri di bawah pohon persik tidak jauh dari sana. Ia mengenakan pakaian murid perguruan berwarna putih dengan pita merah muda di rambutnya. Senyumnya terlihat sangat santai, seolah menyaksikan dua orang membekukan danau adalah hiburan pagi yang biasa.

Rui menunjuk danau.

“Dia yang mulai.”

Yuan langsung menoleh.

“Aku?”

Gadis itu tertawa semakin keras.

“Menarik.”

Rui memiringkan kepala.

“Kau siapa?”

Gadis itu tidak langsung menjawab. Ia hanya berjalan mendekat sambil memperhatikan lapisan es yang memenuhi sebagian danau.

“Aku anak perempuan dari pulau sebelah,”

“Namamu?”

“Untuk apa kau tahu?”

Rui mengangkat bahu.

“Supaya kalau nanti kita dihukum bersama, aku tahu harus memanggil siapa.”

Gadis itu tertawa kecil.

Namun sebelum ia sempat menjawab, lonceng Perguruan Tianlan tiba-tiba berbunyi.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Wajah Yuan berubah.

Itu bukan lonceng biasa.

Lonceng tersebut hanya dibunyikan jika sesuatu yang berbahaya memasuki wilayah perguruan.

Rui yang tadi masih memikirkan capung perlahan berdiri.

“Yuan...”

“Aku tahu.”

Dari balik hutan, kabut hitam mulai merayap turun menuju danau.

Dan kali ini, suara raungan yang terdengar dari dalamnya jauh lebih dekat daripada malam sebelumnya.

***

Like kasihannn niii AKUUUU

1
Tai
kapan selesai nya pakai sikat gigi😭
Tai
cukup aku tertawa 😭
Tai
yuan tega🤣
Tai
Rui😭😭😭
Tai
bisa bisanya 😭dasar anak nakal
Tai
ngakak membayangkan nya😭
Tai
😭😭😭
Tai
aku membayangkan perannya anak sd😭
Tai
iya es buah emang enak Rui 😭
Tai
ada es buah juga 😭
Biru
🤭
Tai
gara gara lucu,😭
Tai
pink
Tai
suka pertama 😭
Tai
panik sendiri jadinya🤣
Tai
ngakak bagian ini😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!