NovelToon NovelToon
Saga Delapan Kristal

Saga Delapan Kristal

Status: tamat
Genre:Epik Petualangan / Action / Anime / Tamat
Popularitas:123
Nilai: 5
Nama Author: AryaAulani

Seorang pengembara, lulusan pelatihan bela diri di distrik paling selatan, diutus gurunya berkelana untuk mencari tahu identitas sebuah ancaman misterius. Ia bukan pahlawan terpilih, hanya seorang petarung tangguh yang percaya diri pada kemampuannya. namun Keyakinan itu hancur, pada suatu hari, ketika sebuah entitas yang membenci manusia muncul dan menyerangnya. Ia melawan sekuat tenaga, namun kalah telak. Entitas itu lalu menyerap kedelapan kristal dan membawanya kabur ke langit, untuk dipersembahkan kepada tuannya, sang boss entitas, sementara si pengembara tergeletak pingsan.
Ketika ia sadar, dunia sudah berubah. Tanpa kristal penyeimbang, kawanan makhluk kroco keluar dari persembunyian, mendirikan kemah di mana-mana, dan menjarah harta serta persediaan makanan manusia. Mampukah seorang pengembara mengembalikan kedelapan kristal tersebut ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AryaAulani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4 OBAT YANG SALAH

Cecilia mengangguk pada Hana. Penyihir itu menjentikkan jarinya, dan peta bercahaya di atas meja meredup, berganti dengan gambar sebuah desa kecil di lembah, dengan atap-atap jerami dan asap dapur yang naik lurus ke langit.

"Ceritanya dimulai seribu tahun yang lalu," kata Hana. Suaranya pelan dan teratur, seperti seseorang yang sudah berkali-kali membaca kisah ini dari gulungan tua. "Bukan dengan perang, bukan dengan ramalan. Hanya dengan seorang pemuda yang sedang sakit."

Vivi turun dari bahuku dan duduk di tepi meja, kedua kakinya menjuntai. Aku mencondongkan tubuh, menahan rasa nyeri di rusukku.

"Dia awalnya hanya pemuda biasa, seorang anak petani. Suatu musim, ia terkena demam parah dan demamnya tak kunjung turun. Keluarganya memanggil seorang tabib pengembara yang kebetulan lewat. Tabib itu memberinya ramuan berwarna gelap dan menyuruhnya meminumnya sampai habis." Hana berhenti sebentar. "Tak ada catatan tentang siapa tabib itu, atau dari mana ramuannya. Beberapa orang bilang dia sengaja. Yang lain bilang dia sendiri tak tahu apa yang ia berikan."

Gambar di atas meja berubah. Seorang pemuda kurus terbaring di atas tikar, dan seseorang berjubah menyodorkan mangkuk ke bibirnya.

"Malam itu demamnya turun. Tapi esok harinya, ia mulai bertingkah aneh. Ia menolak makan. Ia mengamuk tanpa sebab, memecahkan perabot, mencakar dinding. Keluarganya menahannya, tapi kekuatannya tidak masuk akal untuk tubuh sekurus itu." Hana menatap gambar itu dengan sorot muram. "Lalu ia sadar. Untuk beberapa saat saja. Ia melihat bayangannya di air."

"Ah aku tau, pasti matanya," tebak Dax dari sudut ruangan, suaranya tak lagi bercanda.

"Benar matanya kini berubah seperti mata kucing," lanjut Hana. "Pupilnya menyempit menjadi garis, dan di ujung jari-jarinya tumbuh cakar. Ia mencoba berteriak, tapi yang keluar hanya rasa haus. Bukan haus air. Haus darah."

Bulu kudukku berdiri. Aku teringat sepasang mata merah di lembah itu, dan suara dingin yang berkata bahwa kami hanya menginjak dan mengambil.

"Dan Malam itu kalo tidak salah ," kata Robert, nadanya berat, "ia membantai seluruh desanya. Keluarganya, tetangganya, semua orang. Dan ia meminum darah mereka."

Vivi menutup mulutnya dengan kedua tangan.

"iya benar, dan Ketika fajar tiba," sambung Hana, "ia berdiri di tengah desa yang sunyi. Dan ia mencoba melangkah keluar ke bawah cahaya matahari."

Gambar di atas meja berganti. Sosok pemuda itu berdiri di ambang bayangan, satu tangannya terulur ke cahaya. Kulitnya mengepulkan asap, lalu menghitam seperti kayu yang dijilat api.

"Ia nyaris terbakar habis. Ia mundur, berteriak, berlindung di dalam rumah yang gelap. Saat itulah ia mengerti: ia bukan lagi manusia, dan dunia siang bukan lagi miliknya." Hana mengatupkan tangannya. "Dari kegelapan itu, ia menamai dirinya Zaranos."

Nama itu menggantung di udara. Entah kenapa, tengkukku terasa dingin hanya karena mendengarnya.

"Zaranos tidak hanya bersembunyi," kata Cecilia, mengambil alih cerita. Suaranya tenang, tapi tangannya menggenggam busurnya lebih erat. "Ia kini mulai menggigit orang-orang lain, dan sebagian dari mereka berubah sepertinya. mengumpulkan mereka, dan membentuk sebuah organisasi rahasia yang hidup di bayang-bayang. Kami menyebutnya entitas."

Peta di atas meja berubah menjadi bagan bertingkat, dengan tiga lapis yang tersusun seperti piramida.

"Zaranos membentuk menjadi tiga tingkatan. Paling atas adalah tujuh entitas terkuat, tangan kanan Zaranos. Di bawah mereka ada empat lapisan entitas tingkat bawah, yang bertugas menjalankan perintah dan menjaga wilayah. Dan di dasar piramida..." Cecilia menunjuk lapisan terluas. "Para Kroco yang awal gen mereka adalah seekor hewan. Mereka yang kau lihat mendirikan kemah di luar sana."

"Jadi yang menyerangku di lembah itu..." Aku menelan ludah.

"Kemungkinan besar dari tingkat atas," jawab Hana. "Karena Hanya mereka yang punya kekuatan untuk menyerap kristal."

Aku menunduk, menatap telapak tanganku. Pantas saja setiap seranganku hanya mengiris udara.

"Apakah tak ada yang mencoba menghentikan mereka?" tanya Vivi lirih.

"Sebenarnya Banyak," jawab Robert. "Para pendahulu kami. Prajurit, penyihir, bahkan ordo-ordo suci. Mereka bertarung selama puluhan tahun. Tapi entitas tak bisa dibunuh dengan cara biasa, dan setiap kali satu pasukan jatuh, jumlah kroco bertambah." Rahangnya mengeras. "Kami hampir kalah. Seluruh benua hampir jatuh ke tangan mereka."

"Oh ya.....kalo tidak salah ada seseorang muncul," kata Hana.

Layar di atas meja berganti lagi. Kali ini ia menampilkan siluet seorang pria tua di depan meja kerja yang penuh perkamen, dikelilingi delapan cahaya samar.

"Kami tak punya nama untuknya. Hanya julukan: sang jenius. Ia seorang pencipta, bukan prajurit. Ia tak mengangkat pedang sekali pun dalam hidupnya. Tapi ia mengerti sesuatu yang tak dimengerti orang lain: entitas tak bisa dikalahkan, tapi bisa dikurung."

"Ia menciptakan delapan kristal penyeimbang, Ia menyebarkan kedelapannya di titik-titik yang membentuk lingkaran besar di atas dunia. Cahayanya menyatukan sebuah segel, mengurung Zaranos dan seluruh pasukannya di balik celah antara dunia ini dan dunia gelap mereka. Selama kristal-kristal itu utuh, entitas tak bisa keluar. Tak seorang pun lagi dibantai. Dan dunia akhirnya bisa bernapas."

"Itu kejadiannya sudah Seribu tahun lamanya," tambah Dax pelan.

Aku teringat lembah sunyi itu, pilar-pilar yang berdenyut lembut, dan kedamaian aneh yang kurasakan sebelum semuanya hancur. Aku telah berdiri di tengah sesuatu yang dijaga seribu tahun, dan aku tak tahu.

"Tapi Zaranos tidak pernah berhenti menyerah," kata Cecilia. "Dari balik segel, ia memerintahkan pasukannya yang tersisa di luar untuk mencuri kedelapan kristal itu. Selama berabad-abad mereka gagal. Sampai hari ini."

Ruangan sunyi. Aku menatap titik-titik merah yang tadi menyebar di peta, dan bagan piramida di hadapanku terasa seperti jerat yang perlahan mengencang.

"Kalau begitu," ucapku, suaraku nyaris tak terdengar, "apakah semuanya sudah berakhir? Kristalnyanya juga sudah hilang. Zaranos pasti akan segera bebas."

"Belum," kata Hana.

Satu kata itu cukup untuk membuat jantungku berdetak lagi.

"Pencurian ini belum sempurna." Hana mengangkat tangannya, dan di atas meja tampak delapan cahaya yang kini terkumpul menjadi satu bola, menggantung di atas langit yang retak. "Kristal-kristal itu masih menjadi segel, hanya saja sekarang di tangan mereka. Yang berhasil mereka lakukan baru merobek langit. Celah itu cukup untuk melepas kroco-kroco, tapi tidak cukup untuk membebaskan Zaranos sepenuhnya."

"Benar, Karena sang jenius sudah memperhitungkannya," tambah Cecilia. Ia merogoh saku jubahnya dan mengeluarkan sebuah gulungan kecil yang menguning. "Dia meninggalkan catatan. Isinya jelas: jika suatu hari kristal-kristal itu dicuri, jangan putus asa. Ia menyiapkan cadangan."

Hana menyentuh gulungan itu, dan di atas meja muncul lima titik kecil berwarna pucat, tersebar di peta.

"Ini adalah Lima batu akik," jelas Hana. "Batu cadangan yang menjadi lapisan terakhir segel. Selama kelimanya masih utuh, Zaranos belum bisa bebas sepenuhnya. Ia hanya bisa mengirim pasukan rendahan, belum dirinya sendiri."

"Kalau begitu hancurkan saja batu-batu itu sebelum mereka," kataku tanpa pikir panjang.

Dax mendengus. "Kebalikannya, bodoh. Kita yang harus melindunginya. Dan kita harus tahu di mana semuanya."

"Lima batu itu tersebar di lima wilayah berbeda," kata Cecilia, menunjuk titik-titik di peta. "Empat di antaranya berada di distrik-distrik daratan, dan satu tersembunyi di lautan. Kami tahu dari catatan sang jenius bahwa batu-batu itu terjaga, tapi kami tak tahu seberapa lama lagi mereka bisa bertahan. Para entitas pasti sedang mencarinya."

Aku mengusap wajah dengan kedua tangan. Kepalaku penuh, dadaku terasa sempit. Tadi pagi aku hanya seorang pengembara yang yakin bisa menumpas bahaya dengan pedang. Sekarang aku duduk di tengah rahasia seribu tahun, dengan dunia yang tergantung pada lima batu kecil.

"Satu hal lagi," kata Robert. Ia menatapku dengan sorot yang berbeda, seperti seseorang yang hendak memberi peringatan. "Tentang Zaranos sendiri."

"Apa?"

"Kami tak punya pasti gambar wajahnya. Tapi kami punya laporan lama dari saksi yang selamat." Robert bersandar pada perisainya. "Ia tampak seperti manusia biasa. Tak ada taring, tak ada tanduk. Hanya matanya aja yang mirip mata kucing dengan pupil seperti garis. Dan kukunya yang tajam."

"Oh ya...saat aku patroli pada malam hari," sambung Dax, "aku pernah melihat ia kadang sering keluar dari persembunyiannya dan berkeliaran menyamar sebagai manusia biasa. Ia memakai topi koboi berlebar, menyembunyikan wajahnya di bawah bayangan topi itu. Sarung tangan menutupi cakarnya." Ia mengangkat bahu. "Kalau ada orang asing bertopi lebar yang menatapmu terlalu lama di bawah lampu jalan, jangan ajak bicara."

Vivi menelan ludah. "Dia berjalan di antara manusia?"

"Ya benar," jawab Hana. "Barangkali di antara kita, tanpa pernah ketahuan."

Aku teringat guruku. Cara ia tak mau menatap mataku sebelum aku berangkat, cara ia berkata cukup cari tahu. Aku bertanya-tanya sudah berapa lama ia tahu cerita ini, dan kenapa ia memilih diam.

Tapi pertanyaan itu bisa menunggu. Ada hal lain yang lebih mendesak, dan hal itu sudah mengendap di dasar dadaku sejak aku melihat peta tadi.

"Kalau lima batu itu tersebar," kataku perlahan, "dan aku sudah gagal menjaga delapan kristal..."

"Kamu tak gagal menjaga apa pun," potong Cecilia. "Delapan kristal tadi sudah diganggu oleh entitas yang menyerangmu namun sayang kristal itu malah ada padamu dan Ka.u tak tahu apa yang bakal kau hadapi."

"Itu sama aja dengan gagal." Aku mengangkat wajah dan menatap mereka satu per satu. "Tapi aku masih hidup. Dan aku sudah bertemu salah satu dari mereka. Itu berarti aku berutang sesuatu pada dunia ini."

Cecilia menatapku lama, seperti sedang menimbang sesuatu yang tak bisa diucapkan. Di sampingnya Hana dan Robert saling pandang, dan Dax tersenyum kecil dari bayangannya.

"Tapi kalo kamu melawannya sendiri, kemungkinan kamu tak akan bertahan lama," kata Cecilia akhirnya. "Tapi mungkin... kamu tak harus sendirian juga."

Di bahuku, Vivi mengepak pelan, lalu berbisik hanya untukku: "Kamu tahu, ini jauh lebih besar dari yang kita bayangkan."

"Aku tahu," bisikku balik.

Di luar jendela kaca istana, langit Sendira kini gelap sepenuhnya. Garis-garis retak di cakrawala berpendar samar, dan di suatu tempat di bawahnya, mungkin seorang pria bertopi lebar sedang berjalan di antara lampu jalan, mengamati dunia yang akan segera ia ambil.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!