Kisah ini menceritakan perjalanan seorang anak bernama Kai,
seorang pangeran dari kerajaan yang sama sekali tidak memiliki bakat dalam sihir,
dan memiliki takdir yang sangat buruk.
Dijauhi. Disakiti. Bahkan dikhianati.
Seluruh hidupnya hanya dipenuhi oleh rasa sakit yang tiada akhir.
Namun pada suatu waktu, dia tiba-tiba mendapatkan kekuatan misterius.
Kekuatan yang bahkan tidak bisa dijelaskan oleh para Dewa.
Dengan kekuatan yang dimilikinya itu, dia mulai merasakan perbedaan pada dirinya sendiri.
Namun seiring berjalannya waktu, dia terus-menerus dihajar oleh sebuah fakta:
Takdirnya yang buruk.
Tapi saat dia ingin menyerah dan lari karena sangat takut untuk melawan takdirnya sendiri,
dia bertemu dengan banyak orang-orang yang akan membantunya sedikit demi sedikit.
Pada akhirnya, hanya dia yang akan memutuskan:
Lari dan pasrah menghadapi takdirnya...
atau
Menghancurkan takdirnya dan membuat takdirnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon * z *, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10_Titik balik pertama
Aku membuka mataku. Penglihatanku buram.
Dan hal pertama yang kulihat adalah diriku yang terjebak di reruntuhan bebatuan yang cukup besar.
Tubuhku tidak bisa digerakkan. Nafasku tercekat.
Lalu aku menoleh ke belakang dengan susah payah. Mataku membelalak ngeri.
Aku melihat kakiku yang sudah terputus dari tubuhku. Tulangku bahkan benar-benar terlihat sangat jelas.
Bersamaan dengan itu darahku terus mengucur tidak karuan, membasahi batu di bawahku.
Aku tak kuat lagi menahan air mataku. Bahuku terguncang.
"Tidak.. tidak.. aku mohon."
Aku mengepalkan tanganku sampai kuku menancap. Dan terus berusaha untuk mengangkat bebatuan yang menimpa tubuhku. Ototku menjerit sakit.
Aku terus merintih kesakitan karena luka yang sudah dialami. Suaraku serak.
"Aku mohon.. tolong hentikan penderitaan ini.."
Lalu tiba-tiba saat aku sedang berusaha mengangkat puing-puing reruntuhan itu, jantungku berdetak kencang. Dadaku sakit.
"Apa.. yang.. terjadi."
Pandanganku mulai kabur. Gelap. Dan akhirnya aku kembali pingsan.
---
Saat aku sadar, aku sudah terjebak di suatu tempat yang berisi kan semua kenangan ku selama ini. Udara nya hangat.
"Bukankah itu semua.. adalah kenangan hidupku??" Bisikku pelan.
Aku pun tersenyum tipis. Air mata mengalir.
"Sepertinya aku kali ini benar-benar sudah mati.
Syukurlah... mungkin memang tidak mungkin untuk orang sepertiku hidup di dunia ini."
Aku langsung berlutut. Lututku menghantam tanah. Kakiku sudah tidak kuat lagi menahan semua beban mental yang kualami.
"Maaf Ibu.."
Air mataku berjatuhan, dan aku mulai menangis tersedu-sedu. Bahuku naik turun.
"Sepertinya aku sudah mencapai batasku."
Aku menundukkan kepalaku, dan terus menangis tanpa henti.
Tapi tiba-tiba saja ada yang mengelus kepalaku. Lembut.
Dan kemudian muncul kedua tangan yang mengusap air mataku. Tangan yang hangat. Benar-benar sangat hangat.
Seperti tangan seseorang yang sudah berjuang dalam menghadapi banyak tantangan di dunia ini.
Tangan itu pun mengangkat wajahku. Aku tersentak.
Tangan ini?? Mengingatkanku kepada seseorang.
Lalu saat aku melihat wajahnya, napasku berhenti. Mataku melebar.
Betapa terkejutnya diriku melihat sesosok yang sangat kurindukan.. seakan-akan kami sudah berpisah selama ribuan tahun.
"I-ibu.."
Saat aku menyebut namanya, dia langsung tersenyum dengan lembut ke arahku.
Melihat senyumannya yang menyilaukan itu, hatiku runtuh. Aku tidak tahan lagi untuk menahan air mataku.
Aku pun menangis sambil terus memanggilnya dan memeluknya dengan erat.
"Ibu.. Ibu.. maafkan aku. Aku tidak berhasil bertahan hidup dan melanjutkan kehidupanku.
Padahal Ibu sudah berkorban agar aku tetap hidup."
Dia mengusap kepalaku dengan lembut dan langsung memelukku dengan kehangatannya. Aku tenggelam di pelukannya.
"Hmm.. kau benar-benar sangat ceng ya Kai. Sama sekali tidak berubah sejak kecil."
Suaranya yang lembut membuat diriku tenang dan melupakan semua rasa sakit yang kualami selama ini.
Dia mengangkat wajahku. Jempolnya mengusap pipiku.
Dan memperlihatkan wajahnya yang sedang tersenyum lebar kepadaku.
"Duhh.. dasar Kai ini." Dia mengusap air mataku dengan jarinya yang lembut.
"Padahal Ibu tidak pernah mengajarimu ceng seperti ini."
Aku menggertakkan gigiku. Mengepalkan tanganku. Dan melepaskan diri dari pelukannya.
Dengan cepat aku mengusap kedua air mataku dengan kedua tanganku.
"Maaf Ibu, tapi lihat.."
Aku langsung mengangkat wajahku dan tersenyum lebar ke arahnya. Walau masih ada sisa air mata.
"Aku sudah berhenti menangis kok. Karena.. karena.. Ibu sudah di sini.
Dan itu sudah cukup untuk membuatku tersenyum bahagia seperti ini."
Dia lalu menggandeng tanganku. Genggamannya hangat. Dan membawaku berjalan lurus ke depan.
"Kalau begitu.. bisa Kai ikut dengan Ibu?"
Sambil tertawa kecil dan berlari di depanku.
Aku pun langsung tertawa. Dadaku terasa ringan. Dan ikut berlari mengejar Ibu dari belakang.
Tapi saat tangan Ibu terlepas, dunia berputar.
Hehh.. dimana aku??
Saat aku sedang melihat sekitar, aku menyadari bahwa aku berada di depan kamar Ibuku.
Kenapa?? Kenapa aku bisa ada di Kerajaan Eiden lagi, terlebih lagi di depan kamar Ibuku.
Aku mengambil nafas yang dalam. Dadaku bergetar.
Dan mengepalkan tanganku. Membulatkan tekadku untuk masuk ke dalam kamar Ibuku.
"Aku akan masuk."
Saat aku membuka pintunya, jantungku berhenti. Aku melihat sosok Ibuku.
Wajahnya terlihat pucat dan lemas. Dan di sampingnya ada seorang perempuan, yang memberikan sihir heal kepada Ibuku.
"Kenapa?? Kenapa Ibu hanya diberikan sihir seperti itu?
Padahal keadaannya sedang sangat menderita."
Aku pun berjalan ke arahnya dengan langkah tertahan. Dan mendengar percakapan mereka.
"Maafkan aku Nyonya Flora. Padahal Nyonya sudah menanggung biaya sekolahku. Tapi aku hanya bisa menggunakan sihir heal untuk Nona."
Wanita itu menangis. Air matanya jatuh. Karena tidak tahan melihat kondisi Ibuku yang begitu parah.
Tapi Ibuku, dia tersenyum lembut. Walau bibirnya pucat.
Dan mengusap pipi wanita itu dengan lembut.
"Tidak apa-apa Helen. Tidak perlu menyalahkanmu sendiri. Pada dasarnya setiap orang memiliki jumlah mana yang berbeda-beda. Jadi aku mohon, janganlah menangis."
Lalu dia menoleh ke samping. Dan tersenyum sangat lebar.
Saat aku penasaran dengan apa yang membuat Ibu tersenyum, aku pun langsung maju.
Dan mengarah ke samping kasurnya. Jantungku berdegup.
Dan melihat seorang bayi yang baru lahir sedang tertidur lelap di tempat tidurnya.
"Mungkinkah itu adalah.. aku."
Aku langsung berjalan dan menghampiri bayi itu. Lututku lemas.
Rambutnya yang berwarna hitam, dan kulitnya yang lembut seperti salju benar-benar membuat diriku terdiam karena terkejut.
"Tidak salah lagi.. bayi ini adalah aku.. lebih tepatnya aku saat baru pertama kali lahir."
Saat aku menoleh ke arah Ibuku...
Dia sudah tertidur lelap karena kelelahan. Wajahnya damai.
"Tentu saja dia kelelahan. Melahirkan bayi seorang diri tanpa ada suami ataupun anggota keluarga lain yang menyemangatinya pasti sangatlah berat.
Tapi.."
Ibuku tidak henti-hentinya tersenyum. Bahkan saat dia tidur karena kelelahan seperti itu.
"Aku tidak melihatnya putus asa."
Wanita itu memegangi tangan Ibuku dengan erat. "Nyonya Flora. Ada hal yang lupa aku sampaikan.
Memang benar jumlah mana di setiap orang pasti adalah berbeda-beda. Tapi bukan berarti tidak bisa berkembang. Dan aku sudah membuktikannya."
Dia mengambil sebuah surat dari kantung bajunya dan menaruhnya di telapak tangan Ibuku. Tangannya gemetar.
"Aku berhasil masuk sebagai pengajar magang di akademi sihir di kerajaan Salfaria. Berkat Nona, aku bisa melangkah lebih jauh lagi."
Dia mengatakan itu semua dengan senyum dan diiringi dengan air mata di wajahnya.
Ibuku terbangun. Matanya sayu. Dan langsung memegangi tangannya dengan erat.
"Syukurlah kau berhasil maju untuk mencapai impianmu sendiri."
Dia langsung mengusap sisa air mata di wajahnya. "Jika.. jika saja Nona sedang sakit lagi seperti ini.. dan jika tidak ada satupun penyembuh yang merawat Nona satupun juga.
Aku akan segera kembali ke sini untuk menyembuhkan Nona."
Ibuku langsung tersenyum setelah mendengar perkataannya. "Benarkah?? Aku sangat senang mendengarnya.
Ahh.. tapi jika saja bayi ini yang terluka, aku ingin kau menyembuhkan dirinya dengan sepenuh hati. Layaknya menyembuhkan diriku."
Dia langsung mengangguk. Lalu mengepalkan tangan kanannya dan menaruhnya di dadanya.
"Aku berjanji akan menyembuhkan bayi ini. Apapun yang terjadi.
Aku pasti akan menyembuhkan dirinya dan membuatnya kembali tersenyum seperti sedia kala."
Dia mengatakan itu dengan lantang dan percaya diri.
Lalu dia penasaran dan bertanya. "Nyonya Flora. Karena Ra-.. ah maksudku Ayah anak ini sedang tidak ada di sini.
Jangan-jangan Anda yang akan memberinya nama??"
Ekspresi Ibuku langsung berubah. Matanya meredup. Dia terlihat sedih sekarang.
"Tentu saja. Karena aku tahu bahwa ayahnya sangat sibuk dengan pekerjaannya sekarang. Jadi akan kuberikan langsung nama kepadanya."
Ibuku langsung berpikir dengan keras. Matanya berbinar.
"Ahh.. aku dapat nama yang bagus.. bagaimana dengan Kai." Sambil tersenyum kepada wanita itu.
"Kai ya.. kalau boleh tahu apa arti nama itu?"
Ibuku melihat ke arahku yang sedang tertidur. Matanya berkaca.
"Arti nama itu adalah perubahan. Saat aku melihat wajahnya, aku langsung teringat dengan sosok Pahlawan yang selalu dibicarakan Ayahku."
"Maksud Anda Pahlawan Sora yang menghilang secara tiba-tiba 50 tahun yang lalu? Yang berhasil melindungi kerajaan ini dari serangan para iblis?"
"Benar sekali. Berkat dia, Ayahku yang bodoh karena menantang duel Iblis bisa selamat."
Dia berkata seperti itu dengan nada yang jengkel, tapi ada bangga di matanya.
"Tapi apa hubungannya nama anak Anda dengan Pahlawan Sora??"
Dia langsung tersenyum. Lalu duduk di kasurnya dan mengusap pipiku dengan lembut.
"Karena mungkin saja anak ini akan berhasil membuat perubahan pada takdir dirinya, orang lain, ataupun dunia ini."
Setelah mendengar hal itu, dadaku sesak. Aku langsung menangis tersedu-sedu.
Dan berjalan ke arah pintu keluar. Bahuku terguncang.
"Kenapa?? Kenapa Ibu bisa terus tersenyum seperti itu.. padahal Ibu terus berjuang sendiri.
Dan padahal aku yakin Ibu menyadarinya, bahwa Raja sama sekali tidak mencintainya."
Aku langsung mengusap air mataku dengan kedua tanganku.
"Tapi kenapa?? Ibu bisa setegar itu??"
Lalu tepat saat aku ingin membuka pintu kamar itu, suara Ibu terdengar lagi.
"Aku yakin anak ini akan mewarisi tekadku."
Aku langsung berbalik. Dan melihat ke arah Ibuku.
"Bahwa pantang menyerah adalah bagian dari kekuatanku."
Dia berkata seperti itu sambil tersenyum dan menghadap ke arahku.
Aku pun tersenyum. Air mataku jatuh.
Dan langsung berbalik dan membuka pintu keluar.
"Terima kasih Ibu.. karena sudah membantuku untuk mengingat hal itu."
Aku langsung berjalan ke luar. Punggungku tegak.
---
Lalu aku tersadar kembali di lembah. Napasku tersengal.
Dan aku melihat semua lukaku sudah sembuh kembali. Wajahku masih belum berhenti tersenyum.
"Terima kasih Ibu.. berkat Ibu. Aku bisa menjadi lebih kuat lagi."
Tanpa pikir panjang, aku pun mengerahkan seluruh tenagaku untuk mengangkat puing-puing bebatuan itu. Ototku menegang.
Seluruh badanku gemetar hebat. Dan semua ototku kembali robek dan pulih dengan cepat. Sakit.
Seluruh mana di dekatku juga memadat. Dan urat-urat seluruh tubuhku semuanya berubah menjadi warna hitam.
Aku berteriak dengan sangat keras. Suaraku menggema.
"Aku mohon... Bertahanlah.. wahai diriku!"
Aku langsung menggeram dan mulai mendapatkan pijakan untuk kakiku menapak.
"ARGHHH!!"
Tiba-tiba mana-mana di dekatku berubah menjadi sebuah rantai raksasa berwarna hitam yang menghancurkan puing-puing bebatuan tersebut. Batu berhamburan.
Nafasku terengah-engah karena kelelahan. Dadaku naik turun.
Dan saat kupikir semua masalah sudah selesai, tapi justru malah bertambah buruk.
Segerombol goblin berkumpul di dekat mayat Orc itu untuk memakan dagingnya.
Saat mereka melihatku, mata mereka menyala. Mereka mulai berlari ke arahku tanpa pikir panjang.
Melihat keadaan itu, aku langsung tersenyum. Senyum yang dingin.
"Sepertinya aku masih harus menjadi lebih kuat untuk bertahan hidup di tempat ini."
Aku pun berlari ke arah mereka. Angin menerpa wajahku.
Dan mulai mengumpulkan mana di sekitarku dan merubahnya menjadi pedang dan rantai yang mengikat beberapa dari mereka.
"Aku masih tidak mengerti, kenapa tiba-tiba bisa merasakan proses pemadatan mana di dalam dan luar tubuhku. Tapi aku mulai berubah pikiran..
Punya kekuatan seperti ini.. tidaklah buruk.."
Sambil menebas para goblin yang mulai menyerangku. Mataku menyala.