"Woy sampah rendahan."
"Sampah? Sampah? Sampah seperti ku masih bisa di daur ulang, tapi sampah seperti mu pantasnya dihancurkan."
Juna Adiwiyata hanya siswa beasiswa yang datang dengan tangan kosong ke Akademi Arcapolis—sekolah elite tempat nama keluarga menentukan siapa yang berhak menunduk dan siapa yang berhak menginjak.
Di sana, tidak ada yang peduli seberapa keras kau belajar. Yang ada hanya empat faksi, empat Raja, dan satu aturan tak tertulis: yang lemah akan diinjak sampai lupa cara berdiri.
Juna pernah jadi bagian dari yang lemah itu. Dihina, dipukuli, diseret ke gudang gelap sampai tubuhnya nyaris tak bernyawa—sampai malam itu, sebuah sistem bangkit dari titik matinya sendiri dan mengubah segalanya.
Bukan sistem yang memberi kekuatan cuma-cuma. Sistem yang mengukur kekuasaan.
"Aku bangkit bersama orang-orang terbuang, dan akan menghancurkan mereka yang membuang"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Kedua petarung itu tergeletak di lantai gudang yang dingin, napas mereka sama-sama memburu, tubuh mereka penuh luka dan memar yang menjadi saksi bisu betapa brutalnya pertarungan yang baru saja berlangsung.
Kaisar Dirgantara tertawa pelan di tengah rasa sakitnya sendiri, suaranya serak namun terdengar tulus, jauh berbeda dari tawa mengejek yang biasa ia tunjukkan.
"Gila," ucapnya, masih tertawa kecil sambil menatap langit-langit gudang yang berlubang, "udah lama banget gue nggak ngerasa sampai gue kehabisan tenaga saat lawan orang."
Juna tidak menjawab, hanya mengatur napasnya yang masih memburu, matanya menatap langit malam yang terlihat samar lewat celah atap yang bolong.
"Lu menang," Kaisar Dirgantara melanjutkan, suaranya kini lebih tenang, lebih serius. "Bukan cuma menang pertarungan. Lu juga udah berhasil bikin anak buah gue sendiri mulai ragu sama gue. Itu bukan hal gampang."
"Bukan cuma soal menang," Juna menjawab pelan, masih berbaring di lantai, "tapi soal gimana cara bertarung. Lu curang, licik, main api, tapi tetep aja kalah."
Kaisar Dirgantara tertawa lagi, kali ini lebih keras meski membuatnya meringis menahan sakit di rusuknya sendiri. "Makanya, gue akui lu pantes. Bukan karena gue takut sama lu. Tapi karena gue hormatin cara lu main."
"Lu nggak kayak Raja yang lain," Kaisar Dirgantara melanjutkan, menatap langit-langit gudang dengan tatapan yang jauh lebih dalam dari sebelumnya. "Mereka main sesuai aturan yang udah ada. Lu main sesuai aturan yang lu buat sendiri."
Ia memaksa dirinya duduk, menatap Juna yang masih berbaring kelelahan di sampingnya.
"Mulai sekarang," Kaisar Dirgantara berkata, nadanya penuh ketegasan yang jarang ia tunjukkan, "gue tunduk sama lu. Bukan sebagai budak. Tapi sebagai bawahan yang hormat sama rajanya."
"Anak buah lu yang seratus orang itu," Juna bertanya, memaksa dirinya duduk juga meski setiap otot di tubuhnya menjerit protes, "bakal ngikutin lu juga?"
"Mereka ngikutin gue," Kaisar Dirgantara menjawab mantap, "kalo gue bilang tunduk sama lu, mereka bakal tunduk juga. Itu udah aturan di antara kita."
Sebelum Juna sempat menjawab, panel sistem berkedip terang di sudut pandangannya, memenuhi hampir seluruh penglihatannya dengan deretan informasi yang muncul begitu cepat.
[Misi Selesai: Pecahkan Kepercayaan dalam Hierarki Bully]
[Kaisar Dirgantara Bergabung sebagai Pengikut]
[Total Pengikut: 3]
[Seluruh Anggota Bully (100 Orang) Bergabung ke dalam Pengaruh Juna]
[Level Naik! Level 3 → 9]
[Gelar Baru: Penakluk Bully]
[Pencapaian Didapatkan]
[Penakluk Bully: Mengalahkan Bully]
[Kelahiran Raja: Mendapatkan 100 Pengikut Pertama]
[Hadiah: Mata Petarung, Rp200.000.000]
[Regenerasi Luka Dipercepat Secara Permanen]
Juna terbelalak, mendadak lupa pada rasa sakit di sekujur tubuhnya, matanya terpaku pada deretan panel yang terus bermunculan silih berganti.
'Mata petarung... dan uang dua ratus juta!?'
Ia merasakan sesuatu yang aneh menjalar di balik matanya, seperti ada lapisan baru yang terpasang, membuat setiap detail di sekelilingnya, retakan kecil di lantai, arah angin dari celah dinding, bahkan napas Kaisar Dirgantara yang masih tersengal di sampingnya, terasa jauh lebih jelas dari sebelumnya.
Luka-luka di tubuhnya juga mulai terasa berbeda, rasa perih yang tadi menyiksa kini berangsur mereda jauh lebih cepat dari yang seharusnya, seolah tubuhnya sendiri tengah memperbaiki diri tanpa ia perlu melakukan apa pun. Memar di pelipisnya mengempis pelan-pelan, luka bakar kecil di lengannya mulai mengering dan menutup dengan sendirinya.
"Kenapa lu?" Kaisar Dirgantara menoleh, melihat ekspresi Juna yang berubah drastis. "Udah ngeliat surga yah?"
"Nggak," Juna menjawab pelan, seringai lebar perlahan terbentuk di wajahnya yang masih penuh luka, matanya berkilat dengan sesuatu yang jauh berbeda dari kelelahan yang baru saja ia rasakan. "Cuma baru sadar, kalau sekolah ini bakal jauh lebih menarik dari yang aku bayangkan sebelumnya."
Ia bangkit perlahan, menjulurkan tangannya ke arah Kaisar Dirgantara yang masih duduk di lantai, membantunya berdiri meski tubuhnya sendiri masih gemetar menahan rasa lelah yang belum sepenuhnya hilang.
Kaisar Dirgantara menerima uluran tangan itu, berdiri dengan sedikit terhuyung, menepuk-nepuk debu dari jaket hitamnya yang sudah kotor dan terbakar di beberapa bagian.
"Besok," Kaisar Dirgantara berkata sambil melangkah menuju pintu keluar gudang, "gue bakal kumpulin semua anak buah gue, kasih tau mereka siapa raja mereka yang baru."
"Nggak usah buru-buru," Juna menjawab, mengikuti langkahnya meski masih sedikit terpincang. "Istirahat dulu. Luka lu juga belom sembuh."
Kaisar Dirgantara menoleh, menyeringai tipis mendengar perhatian yang tidak terduga itu. "Baru kali ini ada yang mikirin kesehatan gue selain diri gue sendiri."
'Satu faksi penuh,' batin Juna, menatap cahaya bulan yang menembus lubang atap gudang di atas mereka. 'Dan ini baru permulaan.'