"Katanya sahabat masa kecil itu cuma masa lalu, tapi kenapa kehadirannya bisa menghancurkan masa depanku?"
Bagi Nawang, Timy adalah segalanya—cowok yang berjanji melindunginya di bawah inisial kalung T&N. Tapi segalanya berubah saat Kanaya, teman masa kecil Timy yang rapuh dan penuh trauma, kembali hadir. Demi alasan kemanusiaan, Timy perlahan melangkah terlalu jauh hingga melupakan janji-janjinya pada Nawang.
Saat Nawang memilih mundur karena lelah dianaktirikan, Rendy—Ketua OSIS berhati es—hadir menawarkan sandaran baru.
Di saat Timy tersadar dirinya hanya dijadikan pelampiasan egois oleh Naya, semuanya sudah terlambat. Penyesalan Timy membawanya pada Jihan, gadis misterius yang diam-diam membalut lukanya.
Ini bukan sekadar cerita tentang cinta segitiga, melainkan tentang melepaskan yang sia-sia, menyembuhkan luka, dan menemukan kedewasaan di koridor sekolah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji dan Ingkar 12.
Hari Kamar mandi perempuan di lantai dua gedung dua selalu menjadi tempat paling sunyi saat jam pelajaran dimulai.
Bunyi air kran yang mengucur deras menyamarkan suara gesekan kain seragam yang sedang dikucek. Nawang menatap pantulan dirinya di cermin di atas wastafel.
Noda hijau jus alpukat di bagian dada seragamnya sudah memudar, menyisakan lingkaran basah yang dingin dan transparan.
Dia tidak menangis. Sama sekali tidak.
Hanya ada rasa lelah yang teramat sangat, jenis kelelahan yang membuat seluruh persendiannya terasa ngilu.
Nawang mengeringkan bagian depan bajunya di bawah mesin pengering tangan.
Angin hangat yang bertiup kencang memicu lamunannya kembali pada kejadian tiga puluh menit lalu di kantin.
“Wang… bukan gitu, maksud Aa—”
Kata-kata Timy tadi terus berputar seperti kaset rusak. Lucu. Selama satu tahun pacaran, panggilan 'Aa' selalu menjadi pelindung paling hangat bagi Nawang.
Tapi hari ini, panggilan itu terdengar seperti sebuah ironi yang dipaksakan.
Pintu toilet berdecit terbuka, memutus lamunan Nawang.
Sesosok jangkung berwajah panik muncul di ambang pintu. Timy.
Cowok itu nekat masuk ke area luar toilet perempuan yang untungnya sedang sepi.
"Neng," panggil Timy, suaranya serak dan napasnya agak memburu. Dia pasti berlari dari kantin setelah mengurus Naya.
Nawang mematikan mesin pengering. Dia berbalik, menyampirkan tas sekolahnya di pundak, lalu menatap Timy datar. "Ini toilet cewek, A. Kalau ada guru piket lewat, bisa repot."
"Aa nggak peduli," Timy melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka.
Matanya menyiratkan rasa bersalah yang amat besar saat melihat seragam Nawang yang masih basah dan agak kusut. "Maaf. Demi tuhan Neng, Aa minta maaf banget soal tadi di kantin. Aa refleks. Aa nggak bermaksud ngebentak kamu."
Nawang diam, memberikan ruang bagi Timy untuk membela diri. Dia ingin mendengar sejauh mana cowok ini bisa meyakinkan dirinya sendiri.
"Kamu tahu kan, Naya itu teman Aa dari kecil. Dia punya panic attack yang parah sejak bokapnya meninggal karena kecelakaan berdarah di depan matanya. Tadi pas dia gemeteran dan nangis, Aa cuma panik trauma dia kambuh di depan umum. Aa bener-bener nggak lihat kalau baju kamu basah, Wang. Fokus Aa langsung pecah." Timy mencoba meraih tangan Nawang, menggenggam jemari cewek itu yang terasa sedingin es. "Maafin Aa, ya? Tolong jangan diem kayak gini."
Nawang menatap tangan mereka yang bertautan. Otaknya berjalan dengan sangat jernih.
Dia memahami alasan Timy. Sangat paham. Penjelasan Timy masuk akal, proteksinya terhadap masa lalu Naya juga bisa diterima secara moral. Namun, yang membuat hati Nawang mati rasa adalah satu fakta sederhana, dalam skala prioritas Timy, ketakutan Naya jauh lebih mendesak daripada harga diri Nawang sebagai pacarnya.
Timy memilih untuk mempermalukan Nawang demi menenangkan Naya.
"Nawang nggak marah, A," kata Nawang pelan, menarik tangannya perlahan tapi pasti dari genggaman Timy. "Nawang paham kok. Naya lebih butuh Aa tadi."
"Jangan ngomong gitu, Wang. Kamu pacar Aa. Tetap kamu yang nomor satu," potong Timy cepat, seolah takut jika kalimat Nawang akan menjadi kenyataan.
Cowok itu meraba saku celananya, mengeluarkan dua lembar tiket bioskop yang sudah agak lecek. "Nih, lihat. Kemarin kamu bilang mau nonton film romance yang baru rilis kan? Pulang sekolah ini, kita langsung berangkat. Aa yang traktir, kita beli popcorn yang gede, terus kita makan malam di tempat sate kesukaan kamu. Gimana? Anggap ini penebus dosa Aa."
Nawang menatap dua tiket di tangan Timy. Ada binar penuh harap di mata cowok itu.
Timy tulus ingin meminta maaf, Nawang tahu itu. Sisi kekanak-kanakan di dalam diri Nawang ingin langsung mengangguk dan melupakan semuanya. Tapi ada bagian lain dari dirinya yang merasa bahwa tiket itu hanyalah sebuah plester murah untuk luka yang cukup dalam.
"Ya? Mau ya, Neng?" bujuk Timy lagi, senyumnya mulai terbit saat melihat Nawang tidak menolak.
Nawang menghela napas pendek, lalu mengangguk tipis. "Yaudah. Pulang sekolah kita berangkat."
Timy langsung tersenyum lega, mengacak rambut Nawang pelan sebelum pamit untuk kembali ke kelasnya. Nawang menatap punggung cowok itu yang menjauh.
Di dalam hatinya, ada harapan kecil yang menyala: semoga bioskop sore nanti bisa mengembalikan Timy yang dulu.
Sore harinya, langit Bandung mendung tipis saat motor matic vespa putih milik Timy membelah jalanan kota menuju mal di kawasan Bandung Raya.
Di atas motor, suasana terasa agak canggung, walau Timy berusaha keras mencairkan suasana dengan bertanya-tanya soal film yang akan mereka tonton.
Nawang diatas motor tidak menedekapnya, jaga jarak aman seperti ia naik ojol, ia menatap rintik hujan yang mulai membasahi aspal.
Timy sesekali meliriknya di balik spion, mencoba menggenggam tangan kiri Nawang walau tangan itu jaraknya agak menjauh di belakang.
"Habis nonton, kita langsung ke kedai sate ya. Aa udah laper banget nih," ujar Timy membuka obrolan sambil terkekeh pelan.
"Terserah Aa aja," jawab Nawang, mencoba tersenyum sealami mungkin.
Tepat saat mobil berbelok memasuki area parkir mal, ponsel Timy yang ditaruh di tas ransel nya bergetar hebat.
Sebuah nama muncul di layar: Tante Ratna (Mamah Naya).
Atmosfer di aras motor langsung berubah tegang. Timy buru-buru berhentikan sepeda motornya di pinggir dan mengangkat telepon tersebut.
"Halo, iya, Tante? Ada apa?" Timy bertanya, nadanya langsung berubah panik.
Suara di seberang telepon tidak terdengar jelas oleh Nawang, namun intonasi panik dan isak tangis seorang wanita paruh baya bisa tertangkap oleh indra pendengarannya.
Wajah Timy mendadak pias. Kulitnya kehilangan warna.
"Naya mengurung diri di kamar? Sejak pulang sekolah?" Timy turun dari motor untuk berdiri di pagar mall. "Dia nggak mau buka pintu? Obat penenangnya udah diminum belum, Tante?"
Timy mendengarkan penjelasan di seberang sana dengan rahang yang mengeras.
Matanya melirik ke arah Nawang dengan tatapan yang dipenuhi rasa bersalah yang amat sangat—tatapan yang sama persis seperti di kantin tadi siang. Dan saat itu juga, Nawang tahu, sore mereka sudah berakhir bahkan sebelum dimulai.
"Dia... dia bilang apa, Tante?" tanya Timy lagi, suaranya merendah. "Kepikiran soal kejadian di kantin tadi siang? Dia merasa bersalah sama Nawang?"
Mendengar namanya disebut, Nawang hanya bisa tersenyum sinis di dalam hati.
Hebat.
Naya berhasil memenangkan permainan ini tanpa harus berada di tempat yang sama.
"Iya, Tante. Timy... Timy ke sana sekarang. Tante coba panggil Pak RT dulu kalau emang pintunya harus didobrak, jangan sampai Naya melakukan yang aneh-aneh. Timy jalan sekarang."
Timy memutus sambungan telepon. Keheningan di parkiran mall sana terasa begitu mencekik.
Timy berjalan menunduk, memegang setir dengan kedua tangannya yang gemetar.
"Wang..." Suara Timy terdengar sangat rapuh, penuh permohonan. "Naya... Naya ngunci diri di kamar. Dia histeris. Mama nya panik banget karena Naya punya riwayat mencoba menyakiti diri sendiri kalau traumanya kambuh. Dia kepikiran soal tadi siang, dia merasa udah ngerusak hubungan kita."
Nawang menatap lurus ke depan, ke arah dinding beton parkiran yang dingin. "Terus?"
"Aa... Aa harus balik sekarang. Aa nggak bisa tenang kalau tahu Naya kayak gitu. Maafin Aa, Wang. Demi apapun, Aa sayang banget sama kamu, tapi nyawa Naya..." Kalimat Timy menggantung, tidak sanggup melanjutkan.
"Nggak apa-apa, A. Pulang aja. Urusin Naya," kata Nawang, suaranya seringan angin.
"Kita pulang bareng, Aa anter kamu dulu ke rumah—"
"Nggak usah," potong Nawang tegas, kali ini nadanya tidak bisa dibantah. "Rumah aku dekat dari mall ini A. Kalau Aa anter aku dulu, makan waktu satu jam karena macet jam pulang kantor. Kasihan Naya, nanti dia telat diselamatkan."
Kata 'diselamatkan' keluar dari mulut Nawang dengan penekanan yang halus namun sarat akan sindiran.
"Wang, jangan kayak gini. Aa jadi merasa makin bersalah," Timy memegang pundak Nawang, matanya berkaca-kaca. Dia benar-benar terjebak di antara kewajiban moral masa lalunya dan perasaan cewek yang dia cintai.
Nawang tersenyum, sebuah senyuman paling asing yang pernah Timy lihat dari pacarnya. Nawang turun dari motor Timy, dan menghirup udara parkiran yang pengap.
Sebelum melangkah, Nawang menatap Timy dengan pandangan yang mulai mendingin.
"Aa nggak usah merasa bersalah. Aa cuma melakukan apa yang menurut Aa paling penting." Nawang menjeda kalimatnya, membiarkan deru mesin motor mengisi keheningan. "Hati-hati di jalan, A."
Nawang berbalik, berjalan menuju eskalator mal tanpa sekalipun menengok ke belakang. Dia membiarkan Timy pergi dengan kepanikan dan seluruh dunia masa kecilnya, sementara dia memilih untuk berjalan sendirian di tengah keramaian kota, dengan seragam yang masih menyisakan noda samar yang dingin.
......................
...****************...
Tbc,