NovelToon NovelToon
Musuh Bebuyutan Kok Pacaran?

Musuh Bebuyutan Kok Pacaran?

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis / Komedi
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

Dafa Mahendra itu kapten basket paling keren se-antero sekolah, tapi otaknya suka agak lemot kalau urusan cinta. Niatnya mau nembak Kinar Kirana (kapten basket putri) pakai cara super romantis di koridor yang gelap, Dafa malah salah sasaran! Akibat salah narik tangan karena panik, dia justru menyatakan cinta ke Lilis Nurmala—kapten cheerleader sekaligus musuh bebuyutannya yang super galak dan hobi adu mulut dengannya.

Sialnya, momen salah tembak itu viral! Demi menjaga gengsi dan menghindari hukuman dari guru karena bikin keributan, mereka terpaksa pura-pura pacaran. Di sisi lain, Kinar yang aslinya naksir Dafa mulai panik dan mencoba merebut Dafa kembali. Belum lagi Azril, kapten futsal yang protektif banget sama Lilis, siap menghajar Dafa kapan saja. Tapi, siapa sangka? Dari yang tadinya hobi bertengkar, saling mengejek, dan pasang jebakan jail tiap hari di kelas, Dafa dan Lilis justru pelan-pelan malah saling bikin baper beneran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hasil UTS 35.

Kerumunan di depan mading lantai dua SMA Wahidin sudah mirip seperti antrean sembako gratis.

Bedanya, yang dibagikan hari ini bukan beras, melainkan vonis mati berupa daftar nilai Ujian Tengah Semester matematika wajib kelas dua belas.

Bau keringat bercampur parfum murah khas anak sekolahan menguar di udara koridor yang pengap.

Di sudut pilar dekat tangga, Lilis berdiri sambil meremas tali tas ranselnya.

Aroma permen mint yang biasa menenangkannya kali ini gagal total. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat.

"Minggir, minggir! Tuan muda mau lewat!"

Suara familier yang cempreng dan sarat akan nada sarkasme itu membuat Lilis menoleh.

Rian, sahabat Dafa, sedang sibuk membuka jalan dengan gaya seperti ajudan presiden yang overakting.

Di belakang Rian, berjalanlah Dafa. Cowok itu sengaja memakai jaket almamater basketnya yang belum dikancingkan, menampilkan kaus seragam putih yang pas di badannya.

Wajahnya santai, terlalu santai untuk seseorang yang masa depan kehidupan sosialnya di sekolah sedang dipertaruhkan.

Mata Dafa langsung menemukan Lilis di antara kerumunan. Senyum tipisnya mengembang, tapi sebelum dia sempat mendekat, sebuah langkah berat memotong jalur mereka.

Azril. Si peringkat umum paralel dari kelas XII B, lengkap dengan kacamata berbingkai hitam dan senyum meremehkan yang sudah menjadi ciri khasnya. Di belakang Azril, gerombolan anak kelas B mengekor, siap bersorak.

"Gak usah sok tenang, Daf," sindir Azril, melipat tangan di dada. "Gue dapet delapan puluh lima. Lo tahu artinya apa, kan? Kamar perpus bakal balik sepi, dan lo bisa fokus lagi megang bola basket daripada megang pulpen yang bikin otak lo korslet."

Dafa menghentikan langkahnya tepat dua meter di depan Azril. Dia tidak membalas dengan makian. Dia justru memasukkan kedua tangannya ke saku celana abu-abunya, menatap Azril dari atas ke bawah dengan tatapan kasihan yang luar biasa menyebalkan.

"Delapan lima?" Dafa melempar pandangan ke langit-langit koridor, seolah sedang menghitung bintang. "Wah, angka yang cantik untuk ukuran orang yang tiap malam tidurnya ditemenin kamus kalkulus. Keren, Zril. Gue bangga."

"Jangan banyak bacot. Liat madingnya dulu kalau berani," tantang Azril, dagunya menunjuk ke arah papan yang dikerumuni siswa.

"Yan, tolong bacain. Mata gue agak minus kalau ngelihat angka di bawah standar gue," perintah Dafa pada Rian dengan nada angkuh yang dibuat-buat.

Rian dengan sigap merangsek ke depan mading, menyikut beberapa anak kelas sepuluh, lalu menatap kertas putih berstempel sekolah itu.

Detik berikutnya, mata Rian membelalak. Dia berbalik dengan dramatis, tangannya menunjuk ke arah Dafa seperti kontestan kuis yang baru memenangkan hadiah utama.

"Delapan puluh enam, Bos! Dafa Mahendra, delapan puluh enam!" teriak Rian heboh. "Selisih satu poin, tapi menang tetap menang! King Dafa is back!"

Koridor mendadak riuh. Kasak-kusuk langsung pecah seperti petasan renteng.

Wajah Azril berubah instan dari percaya diri menjadi pucat pasi. "Nggak mungkin! Lo pasti nyontek! Mana bisa lo dapet nilai segitu?"

Dafa melangkah maju, memangkas jarak. Senyum usilnya kini berubah menjadi seringai kemenangan yang mutlak. "Nyontek? Zril, lo tahu kan pengawas ruang gue itu Bu Retno? Jangankan nyontek, gue napasnya agak keras aja hampir dilempar penghapus papan tulis."

Dafa mencondongkan tubuhnya sedikit, berbisik namun cukup jelas untuk didengar orang-orang di sekitar mereka. "Itu namanya keajaiban doa dan tutor yang berkualitas. Satu poin itu mahal harganya, Zril. Sama kayak harga diri gue yang baru aja lo pertaruhkan kemarin."

Azril mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras. Dia melirik Lilis yang masih berdiri kaku di dekat pilar. "Taruhan tetap taruhan. Lo cuma beruntung, Daf."

"Keberuntungan itu cuma buat orang yang gak belajar," sahut Dafa santai.

Kemudian, tanpa peringatan, Dafa berbalik badan membelakangi Azril. Dia berjalan lurus ke arah Lilis. Tatapan matanya yang tadi tajam dan penuh provokasi mendadak melembut, menyisakan binar jenaka yang hanya ditunjukkan pada cewek itu.

Di depan Lilis, Dafa berhenti. Tanpa memedulikan puluhan pasang mata yang sedang menonton mereka, termasuk Azril yang masih menahan malu, Dafa mengulurkan tangan kanannya.

"Sesuai janji. Gue menang," ucap Dafa pelan. Suaranya rendah, terdengar begitu privat di tengah kebisingan koridor.

Lilis menatap telapak tangan Dafa yang terbuka di depannya. Ada bekas kapalan tipis akibat sering mendribel bola, tangan yang semalam memegang pensil hingga larut malam demi membuktikan kata-katanya.

Lilis merasakan pipinya mulai menghangat. Dia tahu, kalau dia menyambut tangan ini, tidak akan ada lagi jalan kembali. Statusnya di sekolah ini akan bergeser dari 'Lilis si kutu buku yang tak kasatmata' menjadi sesuatu yang jauh lebih rumit.

Namun, mengingat bagaimana cowok ini berjuang selama ini, Lilis tidak peduli lagi.

Lilis perlahan meletakkan telapak tangannya di atas tangan Dafa.

Detik itu juga, jemari Dafa bergerak cepat, menyelip di antara jemari Lilis, menguncinya dalam sebuah genggaman yang erat dan hangat. Tidak ada keraguan di sana. Kuat dan protektif.

Dafa berbalik lagi menghadap koridor, masih dengan tangan Lilis yang tergenggam erat di tangan kanannya. Dia sengaja mengangkat tangan mereka yang bertautan sedikit lebih tinggi, memastikan Azril melihatnya dengan jelas.

"Yuk, Lis. Udah gerah di sini, banyak yang mendadak kalah taruhan jadi hawanya panas," kata Dafa dengan volume suara yang sengaja dikeraskan.

"Dafa, ih! Malu dilihatin orang!" bisik Lilis setengah panik, wajahnya sudah semerah tomat. Dia mencoba menarik tangannya, tapi Dafa justru mempererat genggamannya, malah membawa tangan Lilis masuk ke dalam saku jaket almamaternya yang lebar.

"Gak usah malu. Biar seantero Wahidin tahu, tutor gue gak cuma pinter bikin gue lulus matematika, tapi juga pinter bikin jantung gue mau copot," balas Dafa asal, terkekeh pelan melihat reaksi Lilis.

Rian yang melihat itu langsung bersiul heboh. "Asyik! Pajak 'jadian beneran' jangan lupa ya, Kapten! Minimal mi ayam kantin pake bakso ganda!"

Dafa melambaikan tangan kirinya tanpa menoleh ke belakang, menuntun Lilis berjalan membelah kerumunan siswa yang otomatis memberikan jalan untuk mereka.

Sementara itu, Azril hanya bisa berdiri membatu di depan mading, menatap punggung Dafa yang menjauh bersama kekalahan paling memalukan dalam sejarah hidupnya.

Saat mereka berdua sudah mencapai tangga menuju lantai bawah, menjauh dari kerumunan, Lilis akhirnya berhasil membuat Dafa menghentikan langkahnya.

Di undakan tangga yang sepi, Lilis menatap Dafa tajam, meski dadanya masih bergemuruh hebat akibat kontak fisik yang tiba-tiba tadi.

"Lo bener-bener gila ya, Daf," cetus Lilis, napasnya agak memburu. "Delapan puluh enam? Lo sengaja bikin gue jantungan? Kalau lo dapet delapan puluh empat gimana?"

Dafa bersandar pada besi pegangan tangga, menatap Lilis dengan senyum yang tidak luntur sedikit pun. Tangan mereka masih berada di dalam saku jaket Dafa, belum terlepas.

"Tapi buktinya gue delapan puluh enam, kan? Rumus eliminasi lo manjur," jawab Dafa enteng. "Gue kan udah bilang semalam, gue gak mau kelihatan bego di depan lo."

Lilis menghela napas, rasa kesalnya menguap digantikan oleh rasa lega yang membuncah.

Dia bisa melihat lingkaran hitam tipis di bawah mata Dafa—bukti nyata kalau cowok ini benar-benar begadang demi memenuhi ekspektasinya. Perlahan, sudut bibir Lilis ikut terangkat.

"Selamat ya," ucap Lilis tulus, suaranya melembut. "Lo hebat, Dafa. Gue gak nyangka lo bisa teliti di bagian minus-plusnya."

Dafa terdiam sejenak. Pujian sederhana dari Lilis entah kenapa terasa jauh lebih memuaskan daripada sorak-sorai satu stadion saat dia mencetak poin kemenangan di pertandingan basket. Dia menarik tangannya dari saku jaket, yang otomatis menarik tangan Lilis juga, lalu menatap jemari mereka yang masih bertautan.

"Jadi..." Dafa menaikkan sebelah alisnya, kembali ke mode usilnya yang menyebalkan tapi manis. "Sekarang kita udah selevel belum untuk ukuran jalan bareng di koridor?"

Lilis memutar bola matanya, tapi dia tidak melepaskan genggaman tangan Dafa. "Jangan besar kepala dulu. Ini baru UTS. Masih ada UAS. Kalau nilai lo turun lagi, gue gak segan-segan lempar lo pake kamus bahasa Inggris setebal bantal."

Dafa tertawa lepas, suaranya menggema di lorong tangga yang sepi. "Siap, Ibu Guru. Apapun buat lo."

Hari itu, di bawah tangga SMA Wahidin, Dafa tahu dia tidak hanya memenangkan taruhan konyol melawan Azril.

Dafa telah memenangkan sesuatu yang jauh lebih berharga: sebuah tempat di sebelah cewek yang berhasil mengubah barisan angka rumit menjadi hal paling menyenangkan dalam hidupnya.

......................

...****************...

Tbc,

1
Gege Mas
yaaah pikir plotnya lilis hilang ingatkan..trus jadi berpuluh puluh episode buat kembali ingat dafa..🤣
Gege Mas
apik Dan epic
Gege Mas
perasaan di bab berapa sudah di perjelas..disini di putar balik lage.. othor memainkam durasi ini..🤣🤭
Rofiwan: satu bab doang /Sob/🤣
total 1 replies
falea sezi
makanya jangan bego dava.. ayo lis putusin hubungan pura2 kalian
falea sezi
makanya jd cowok jangan serakah suka lilis malah nemenin mantan gebetan🤣🤣 plin plan elu🤣
falea sezi
abis ne bodoh amat m dava donk lis jual. mahal putusin hubungan pura2🤣 berjuang apanya pret si dava
mars-venus
ceritanya gak bosenin asliii
mars-venus
jujur ini gimana caranya berenti baca novel.. berasa males kerja pen baca sampe akhir😫
falea sezi
lanjut
falea sezi
jual mahal lis ngapain ngejar cowok duluan🤣 ogah amat mending di cintai Dripada mencintai
falea sezi
biarin aja lis dava ma Kinar 🤣 nanti jg dia nyesel tp uda telatt🤣
falea sezi
lanjut q kirm hadiah
Gege Mas
luncurkan 10k kata Thor...gasskeun
Nita Nita
wekwekwekwek 😄
Queen Aisyah
woy, sampe keselek siomay saya baca ginian/Sob//Curse/
Nita Nita
😄😄😄😄😄🤣🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!