NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Ketua OSIS

Menikah Dengan Ketua OSIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Teen / Ketos
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: DM🌚

Bagi Kirana, Kenan Alister adalah definisi iblis berkulit manusia. Sebagai Ketua OSIS SMA Garuda yang dingin, disiplin, dan tak berhati, Kenan selalu punya seribu cara untuk menghukum Kirana, bahkan hanya gara-gara masalah sepele seperti tali tas yang terseret di luar gerbang. Kirana bersumpah membenci cowok es itu seumur hidupnya.

Namun, dunia Kirana mendadak runtuh saat sebuah jamuan makan malam keluarga membongkar rahasia besar, rencana perjodohan dari amanah almarhum kakek mereka. Dalam hitungan hari, status Kirana berubah dari murid biasa menjadi istri siri rahasia dari Ketua OSIS paling ditakuti di sekolahnya.

Kini, kehidupan baru mereka dimulai di bawah satu atap dengan empat aturan ketat.

Akankah pernikahan rahasia ini bertahan di tengah intrik sekolah, tatapan curiga para sahabat, dan benih-benih perasaan yang pelan-pelan mulai tumbuh di balik benteng gengsi masing-masing?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DM🌚, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 10

Keheningan malam Minggu berganti dengan hembusan angin dingin yang menusuk tulang di dalam mobil SUV hitam. Setelah ledakan emosi di area parkir cafe, suasana kabin perlahan tenang, hanya tersisa suara sapuan wiper yang membelah rintik hujan di kaca depan.

Kenan mengemudikan mobilnya membelah jalanan kota yang lengang. Tangannya di atas kemudi masih sedikit bergetar, sementara tangan kirinya menggenggam erat jemari Kirana.

Kirana menatap keluar jendela, menyandarkan kepalanya di kursi sambil menyunggingkan senyum tipis yang tak mampu ia sembunyikan.

"Kenan..." panggil Kirana pelan.

"Kenapa?" sahut Kenan tanpa berpaling dari jalanan, namun genggaman tangannya mengencang hangat.

"Tangan lo dingin banget," goda Kirana sambil melirik ke samping. "Katanya Ketua OSIS paling tangguh se-SMA Garuda, masa cuma gara-gara cemburu langsung gemetaran begini?"

Kenan berdehem pelan, mencoba menguasai raut wajahnya yang mulai merona. "Fokus ke jalanan. Lagian siapa yang cemburu? Gue cuma menjalankan tugas memastikan keselamatan anggota keluarga di rumah."

"Halah, gengsi terus lo!" Kirana tertawa kecil, rasa canggung di antara mereka akhirnya mencair sepenuhnya. "Tadi aja teriak-teriak 'Gue nggak sanggup kehilangan lo!'. Mau gue rekam terus putar di speaker sekolah pas apel esok pagi?"

"Kirana," tegur Kenan dengan nada bernuansa peringatan, walau sudut bibirnya terangkat tipis. "Kalau lo berani bikin ulah begitu, poin pelanggaran lo gue tambah dua kali lipat."

"Biarin! Gue gak takut!" Cibir Kirana.

Meskipun candaan itu menghangatkan suasana, di dalam hati kecil Kirana ada kecemasan baru yang bersarang. Sorot mata Rendy saat mereka pergi tadi sungguh tidak bisa diabaikan. Cara Rendy menatap Kenan bukan lagi tatapan persaingan antar-ketua murid, melainkan tatapan seseorang yang curiga dan sedang mencari celah.

….

Keesokan harinya, Senin pagi di SMA Garuda disambut oleh udara cerah yang membakar semangat para murid. Namun bagi Kirana, melangkah melewati gerbang sekolah terasa seperti berjalan di atas ladang ranjau.

Di koridor utama, kasak-kusuk murid sudah riuh terdengar. 

Maya yang berdiri di depan kelas XII IPA 2 langsung menarik lengan Kirana begitu cewek itu muncul.

"Kir! Lo utang penjelasan sama gue!" bisik Maya histeris, matanya melotot lebar.

"Penjelasan apa lagi sih, May? Pagi-pagi udah bikin senam jantung aja," sahut Kirana sambil membetulkan tali tasnya.

"Soal Sabtu malam kemarin di Kafe Alun-Alun!" Maya mendekatkan wajahnya. 

"Anak-anak basket pada heboh! Katanya Rendy hampir baku hantam sama si Ketos Kenan gara-gara rebutan lo! Beneran?!"

Muka Kirana mendadak pucat. "H-hah?! Baku hantam dari mananya?! Nggak ada yang baku hantam, May! Itu cuma... cuma salah paham!"

"Salah paham gimana kalau si Ketos sampai datang langsung narik tangan lo di depan umum?" potong sebuah suara dingin dari arah belakang.

Kirana dan Maya tersentak, berbalik bersamaan.

Clarissa berdiri bersedekap dada di tengah koridor, mengenakan seragam rapi dengan lambang OSIS emas yang berkilau di kerahnya. Di belakangnya, dua anggota OSIS putri ikut berdiri menatap Kirana dengan pandangan menghakimi.

"Clarissa...?" gumam Kirana, menyembunyikan rasa gugupnya.

"Gue perlu bicara sama lo. Sekarang. Di ruang OSIS," perintah Clarissa dengan nada dingin yang menuntut tanpa bantahan.

"Tunggu dulu, Clar," sela Maya membela sahabatnya. "Bel masuk bentar lagi bunyi. Kalau mau nanya-nanya nanti aja pas istirahat."

"Ini urusan kedisiplinan dan reputasi OSIS, Maya. Lo gak ada hak buat ikut campur," potong Clarissa tajam, mematikan nyali Maya seketika.

Clarissa kembali menatap Kirana. 

"Ayo, Kirana. Atau gue perlu minta Kenan sendiri yang memanggil lo?"

Kirana mengepalkan tangannya di samping badan, mencoba memberanikan diri. Ia tahu cepat atau lambat momen ini akan datang. "Oke. Gue ikut."

Di dalam ruang OSIS yang sepi, Clarissa menutup pintu rapat-rapat dan menguncinya dari dalam. Dua anggota OSIS lainnya menunggu di luar.

Kenan tidak ada di ruangan itu karena sedang memimpin rapat persiapan Ujian Akhir Semester bersama para guru di ruang rapat utama. Clarissa sengaja memanfaatkan celah waktu ini.

"Langsung ke intinya aja, Clarissa. Lo mau ngomong apa?" tanya Kirana santai, berusaha tidak menunjukkan kelemahannya.

Clarissa melangkah mendekati Kirana, melempar sebuah foto hasil cetakan ke atas meja kaca. Foto itu memperlihatkan gambar Kirana dan Kenan yang sedang berada di dalam mobil SUV hitam di area parkir kafe Sabtu malam lalu. Gambar dari luar kaca mobil yang agak buram itu merekam momen saat Kenan menangkup kedua pipi Kirana.

Jantung Kirana terasa berhenti berdetak seketika.

"Rendy yang ngirim foto ini ke gue kemarin malam," ujar Clarissa dengan senyum miring yang penuh kemenangan. "Dia minta gue buat konfirmasi, karena dia merasa ada yang gak wajar dari sikap Kenan yang terlalu posesif sama murid biasa kayak lo."

Kirana menelan ludah, berusaha menyusun alibi di kepalanya. "Foto ini... ini gak seperti yang lo pikirkan. Malam itu gue kemasukan air hujan dan Kenan cuma..."

"Cuma apa?! Cuma mau nolongin lo?!" potong Clarissa, suaranya meningkat satu oktaf dipenuhi amarah terpendam. "Gue udah merhatiin kalian berdua sejak lama, Kirana! Soal bekal kemarin, soal kotak pulpen, dan sekarang foto ini! Lo pikir gue bodoh?!"

Clarissa melangkah maju hingga wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari Kirana.

"Jawab jujur sama gue," bisik Clarissa tajam. "Ada hubungan apa lo sebenarnya sama Kenan? Kenapa Ketua OSIS yang paling menjaga jarak sama cewek bisa biasanya mau sampai menyentuh lo kayak gitu?!"

Kirana menatap balik mata Clarissa. Ada dorongan kuat dalam dirinya untuk berteriak bahwa Kenan adalah suaminya, bahwa cowok yang dikejar-kejar Clarissa selama ini adalah milik sahnya. Namun, ingatan akan janji pada Kenan dan resiko skandal sekolah yang bisa merusak masa depan mereka berdua menahan lidahnya.

"Gak ada hubungan apa-apa," jawab Kirana tegas, menatap Clarissa tanpa berkedip. "Kenan cuma menjalankan amanah dari orang tuanya buat memantau gue di sekolah. Ibu kita saling kenal dekat. Foto itu cuma kesalahpahaman karena Kenan marah gue keluyuran malam-malam sama Rendy."

Clarissa tertawa hambar, penuh dengan nada sinis "Alasan basi! Lo pikir gue percaya sama dongeng ibu-ibu kenalan itu?!"

"Kalau lo gak percaya, silahkan tanya langsung sama Kenan," tantang Kirana berani. "Kenapa lo harus menginterogasi gue di belakang Kenan begini? Takut kalau Kenan makin benci sama lo gara-gara lo suka mengusik hidup orang lain?"

Brakk

Clarissa menggebrak meja kayu di sampingnya dengan keras. "Jaga mulut lo, Kirana! Lo tuh cuma cewek pembawa masalah! Gara-gara lo, fokus Kenan buat OSIS dan persiapan Ujian Nasional jadi terganggu!"

"Ada apa ini?"

Suara bariton yang dingin dan teramat familiar tiba-tiba memotong perdebatan panas itu.

Pintu ruang OSIS terbuka. Kenan berdiri di ambang pintu dengan kunci cadangan di tangannya. Raut wajahnya menyiratkan amarah yang pekat saat melihat Kirana tersudut di dekat meja dan Clarissa yang tampak emosi.

"Kenan...?" Clarissa terperanjat, berusaha mengubah raut wajahnya menjadi lebih tenang. 

"Ini... kita cuma lagi bahas ketertiban murid..."

Kenan melangkah masuk, mengabaikan Clarissa dan berjalan lurus berdiri di depan Kirana, menyembunyikan cewek itu di balik punggung tegapnya.

"Gue gak ingat pernah ngasih izin ke lo buat mengadakan penertiban individu di ruang terkunci begini, Clarissa," tegur Kenan dengan nada menusuk.

Clarissa menunjuk foto di atas meja dengan jari gemetar. "Kenan! Rendy ngirim foto kalian berdua malam Minggu kemarin! Kalian berdua bikin rumor miring yang bisa mencoreng nama baik pengurus OSIS! Aku cuma mau minta penjelasan!"

Kenan melirik foto di atas meja dengan pandangan sekilas yang acuh tak acuh. Tanpa ragu, Kenan mengambil kertas foto itu, menyobeknya menjadi dua bagian, lalu membuangnya ke dalam tempat sampah di sudut meja.

Clarissa membelalakkan mata panik. "Kenan! Kenapa disobek?!"

"Karena foto itu gak penting dan gak ada hubungannya sama kegiatan OSIS," jawab Kenan dingin dan datar. "Rendy cuma sengaja memprovokasi lo buat bikin kekacauan sebelum Ujian Akhir Semester minggu depan."

"Tapi foto itu bukti kalau kalian punya hubungan sangat dekat!" paksanya dengan emosi meledak.

Kenan menatap Clarissa lurus-lurus, sorot matanya begitu dingin hingga Clarissa terdiam kaku.

"Urusan pribadi gue di luar sekolah bukan urusan publik atau bahan gosip OSIS," tegas Kenan. "Kalau lo masih mau mempertahankan posisi lo sebagai Wakil Ketua OSIS sampai masa jabatan selesai, fokus ke persiapan UAS dan Pensi. Jangan mencampuri hal-hal yang bukan wewenang lo."

Clarissa menggigit bibirnya rapat-rapat, dadanya naik turun menahan rasa malu dan cemburu yang membakar. Ia menatap Kirana di balik punggung Kenan dengan pandangan penuh rasa benci.

"Oke," bisik Clarissa sinis. "Kita lihat aja nanti saat nilai UAS keluar. Kalau sampai nilai murid bermasalah kayak dia bikin rata-rata kelas jatuh, aku sendiri yang bakal bawa masalah ini ke Kepala Sekolah!"

Clarissa menyambar tasnya dan berjalan keluar dari ruang OSIS, membanting pintu dengan keras.

Suasana ruang OSIS mendadak hening.

Kenan menghembuskan napas panjang, memutar badannya untuk menghadapi Kirana. Raut wajah dinginnya seketika mencair, berganti dengan binar cemas.

"Lo gak apa-apa? Dia ada nyakitin lo kan?" tanya Kenan cepat, memegang kedua bahu Kirana.

Kirana menggeleng pelan, tersenyum tipis berusaha menenangkan Kenan. "Gue gak apa-apa kok. Tapi foto itu... Kayak nya Rendy bener-bener mencurigai kita."

"Biar Rendy jadi urusan gue," potong Kenan tegas. "Yang harus lo khawatirkan sekarang adalah ancaman Clarissa soal nilai UAS minggu depan."

Kirana mendesah pasrah, menyandarkan kepalanya sejenak di dada tegap Kenan. "Kimia sama Matematika gue masih berantakan banget, Kenan. Kalau nilai gue anjlok, Clarissa pasti punya alasan kuat buat makin menyudutkan kita di depan guru-guru."

Kenan mengelus lembut rambut Kirana, membiarkan cewek itu bersandar sejenak untuk menyerap rasa aman.

"Gak akan gue biarkan nilai lo anjlok," bisik Kenan mantap. "Mulai malam ini, sesi belajar di rumah diperketat. Tiga jam setiap malam tanpa protes."

Kirana mendongak dengan wajah meringis. "Tiga jam?! Yang bener aja! Bisa geger otak gue selama itu!"

"Pilihan lo cuma dua," Kenan mengerlingkan matanya jahil. 

"Belajar tiga jam tiap malam bareng gue, atau biarkan Clarissa melaporkan kita ke Kepala Sekolah?"

"Ck, iya iya gue pilih yang pertama!" omel Kirana, namun ada rasa hangat di hatinya melihat cara Kenan melindunginya.

Malam-malam berikutnya di rumah minimalis dua lantai itu menjadi saksi bisu perjuangan keras mereka menghadapi ancaman Ujian Akhir Semester.

Tidak ada lagi perang dingin atau saling abaikan. Meja makan lantai satu kini dipenuhi oleh tumpukan buku ringkasan rumus, kertas kalkir, dan dua cangkir teh hangat. Kenan berubah menjadi tutor paling menuntut sekaligus paling telaten. Ia membedah satu per satu materi kimia organik dan kalkulus, membimbing jemari Kirana saat menuliskan penyelesaian soal cerita yang rumit.

Di tengah rasa lelah belajar hingga larut malam, momen-momen kecil yang manis terselip secara alami. Saat Kirana tertidur lelap dengan kepala bertumpuk di atas buku Matematika, Kenan dengan lembut menyelipkan bantal di bawah kepalanya, menyelimuti tubuh kecil itu, dan mengusap dahinya penuh rasa kasih sayang sebelum melanjutkan belajarnya sendiri.

Namun, badai di SMA Garuda belum sepenuhnya berlalu. Ujian Akhir Semester resmi dimulai pada hari Senin pekan berikutnya.

Hari pertama ujian berjalan dengan ketegangan tinggi. Kirana duduk di deretan meja belakang kelas XII IPA 2, memegang pensil 2B-nya dengan mantap. Berkat porsi belajar ketat dari Kenan, soal-soal Matematika Lanjutan yang biasanya tampak seperti bahasa asing baginya kini terasa jauh lebih masuk akal untuk dikerjakan.

Namun, di tengah berlangsungnya ujian pelajaran kedua Kimia Terapan,

Clarissa yang bertugas sebagai tim pengawas keliling OSIS bersama guru piket, melangkah masuk ke dalam kelas XII IPA 2. Saat melewati meja Kirana, Clarissa berpura-pura menyenggol tepi meja hingga tempat pensil Kirana terjatuh ke lantai.

Brak!

Beberapa pulpen dan penghapus berhamburan.

"Ups, sorry," ucap Clarissa tanpa rasa bersalah.

Saat Kirana membungkuk untuk mengambil pulpennya, Clarissa dengan cepat menyelipkan selembar kertas lipat kecil di bawah kaki meja Kirana menggunakan ujung sepatunya.

Beberapa detik kemudian, Clarissa tiba-tiba membelalakkan mata dan berteriak cukup keras hingga mengejutkan seluruh isi ruangan.

"Pak ! Ada kertas catatan rumus di bawah meja Kirana!" panggil Clarissa nyaring, menunjuk ke arah lantai di dekat kaki Kirana!

Seluruh murid kelas IPA 2 mendadak menoleh. Pak Bambang, guru pengawas yang terkenal paling killer di sekolah, langsung berdiri dari kursinya dan berjalan cepat menghampiri meja Kirana dengan wajah memerah murka.

"Kertas apa ini?!" bentak Pak Bambang sambil memungut kertas lipat berisikan deretan rumus kimia halus tersebut.

Kirana terperanjat berdiri, panik setengah mati. "P-pak! Itu bukan punya saya! Saya gak pernah bawa kertas catatan itu!"

"Jelas-jelas kertas ini ada di bawah meja kamu, Kirana!" tuduh Clarissa sinis. "Pantas saja nilai latihan kamu mendadak naik drastis beberapa hari ini, ternyata kamu menyontek saat ujian!"

"Gue gak menyontek! Lo yang sengaja melempar kertas itu pas menyenggol meja gue tadi kan!" amuk Kirana membela diri.

"Cukup!" potong Pak Bambang keras. "Kirana, ikut saya ke ruang Kepala Sekolah sekarang! Lembar jawaban kamu saya sita!"

Kirana yang sudah panik hanya bisa menangis, dia adalah jebakan terang-terangan yang dirancang Clarissa untuk menghancurkan reputasinya dan memaksa Kenan bertindak.

Kabar mengenai Kirana yang tertangkap basah menyontek di ruang ujian menyebar bagaikan api menyambar semak kering di seluruh penjuru SMA Garuda dalam hitungan menit.

Di ruang OSIS, Kenan yang sedang memeriksa lembar evaluasi ujian terperanjat berdiri saat Maya berlari masuk sambil terengah-engah. Sebenarnya dia kurang yakin meminta tolong pada Kenan tapi dia tidak tahu minta tolong siapa lagi, mengingat perkataan Kenan tempo hari karena orang tua teman dekat orang tua Kirana, mungkin Kenan bisa membantunya.

"KENAN! KELAKUAN SI CLARISSA UDAH KELEWATAN!" jerit Maya histeris. 

"KIRANA DIFITNAH MENYONTEK DAN SEKARANG DIA LAGI DIANCAM DIKELUARKAN SAMA PAK BAMBANG DI RUANG KEPALA SEKOLAH!"

Genggaman Kenan pada pulpennya patah seketika. Manik matanya memancarkan amarah paling mengerikan yang pernah ada. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, sang Ketua OSIS melangkah lebar membelah koridor sekolah menuju ruang utama Kepala Sekolah untuk menyelamatkan istrinya. 

Maya yang melihat Kenan langsung pergi seketika merasa lega.

Bersambung…

1
Reni Anjarwani
lanjutt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!