Dibuang oleh keluarga sendiri. Dikhianati oleh orang yang paling ia percaya. Dan kehilangan segalanya karena ulah mereka.
Reyna pernah menjalani hidup seperti itu sampai kematian menjadi satu-satunya akhir yang tersisa.
Namun ketika membuka mata, ia justru kembali ke masa lalu. Kali ini, Reyna tahu siapa yang akan mengkhianatinya.
Mereka mengira Reyna masih gadis naif yang mudah dimanfaatkan, namun mereka salah.
Dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya, Reyna akan merebut kembali apa yang menjadi haknya, melindungi orang-orang yang dulu gagal ia selamatkan, dan membongkar satu per satu kebusukan yang pernah menghancurkan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Singapura menyambut Reyna dengan udara lembap yang berat dan langit abu-abu yang menggantung rendah. Jet pribadinya mendarat di Seletar Airport tepat pukul sembilan malam. Di landasan, sebuah mobil sedan hitam sudah menunggu.
Vincent turun lebih dulu, memindai area sekitar dengan mata waspada. "Aman, Nona. Sopir ini dari firma keamanan lokal yang saya sewa. Tidak ada koneksi dengan Arland Group maupun Blackwood."
Reyna mengangguk dan melangkah masuk ke mobil. Di dalam, ia membuka ponselnya dan memindai alamat yang tertera di surat digital ibunya, Gavin Sterling, 47 Orchard Turn, Unit 32-01.
"Cari siapa Gavin Sterling," perintah Reyna pada Vincent. "Aku ingin tahu segalanya tentang pria ini sebelum kita bertemu dengannya besok pagi."
Vincent mengetik cepat di tabletnya. Beberapa menit kemudian, ia mengangkat kepalanya dengan ekspresi terkejut. "Gavin Sterling. Warga negara Inggris-Singapura. Mantan agen MI6 yang beralih profesi menjadi konsultan keamanan siber dan pengelola aset privat untuk klien ultra-kaya. Dia dikenal sebagai The Vault di kalangan elit karena kemampuannya menyimpan rahasia dan aset dengan keamanan tingkat militer. Klien-kliennya termasuk keluarga kerajaan Timur Tengah dan beberapa oligarki Rusia."
Reyna menatap ke luar jendela, melihat lampu-lampu Marina Bay yang berkilauan di kejauhan. "Ibu mempercayakan sesuatu yang sangat penting pada mantan agen intelijen. Sesuatu yang cukup berharga hingga ia merasa perlu melindunginya dari orang terdekatnya sendiri."
"Dan dari seseorang yang cukup berbahaya untuk membunuhnya," tambah Vincent pelan.
Keheningan yang berat menyelimuti mobil itu. Kata membunuh masih terasa asing dan menyakitkan di lidah Reyna, meskipun ia sudah membacanya langsung dari tulisan tangan ibunya sendiri.
***
Keesokan paginya, Reyna berdiri di depan gedung pencakar langit di Orchard Turn. Lobi gedung itu berbau marmer dingin dan uang lama. Di meja resepsionis, Reyna menyebutkan nama Gavin Sterling.
Resepsionis itu mengetik sesuatu, lalu mengangkat telepon. Setelah percakapan singkat, ia mengangguk. "Tuan Sterling akan menemui Anda. Lantai 32. Lift di sebelah kanan."
Lift itu meluncur tanpa suara. Ketika pintunya terbuka di lantai 32, Reyna langsung disambut oleh sebuah lorong pendek yang berujung pada pintu baja setebal sepuluh sentimeter. Tidak ada nama, tidak ada nomor. Hanya sebuah pemindai retina dan panel sidik jari.
Sebuah kamera kecil di atas pintu berkedip merah, lalu berubah hijau. Pintu baja itu terbuka dengan bunyi *hiss* pneumatik.
Di balik pintu itu, terdapat sebuah ruangan yang lebih mirip bunker daripada kantor. Dindingnya dilapisi panel kedap suara berwarna abu-abu gelap. Di tengah ruangan, duduk seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun dengan rambut perak pendek dan mata biru yang tajam seperti pisau bedah. Ia mengenakan kemeja putih sederhana tanpa dasi, dan di pergelangan tangannya terpasang jam tangan yang Reyna kenali sebagai Patek Philippe edisi terbatas senilai sebuah apartemen di Jakarta.
"Nona Reyna Arland," sapa Gavin tanpa berdiri. Suaranya tenang, beraksen Inggris yang halus. "Ibumu bilang kau akan datang. Meskipun aku berharap kau datang dalam keadaan yang lebih baik."
Reyna duduk di kursi di hadapan Gavin. "Kau mengenal ibuku?"
"Elena adalah klien dan sahabat," jawab Gavin, matanya melembut sedikit, satu-satunya retakan dalam topeng profesionalnya. "Dia wanita paling cerdas dan paling berani yang pernah kutemui. Dan dia satu-satunya orang yang pernah membuatku merasa takut."
"Takut? Kenapa?"
Gavin menatap Reyna lekat-lekat, seolah sedang mengukur seberapa banyak kebenaran yang bisa ditanggung oleh gadis muda di hadapannya. "Karena Elena tahu bahwa suatu hari, orang-orang yang paling ia cintai akan mencoba membunuhnya. Dan dia tetap tersenyum setiap hari, seolah tidak ada yang terjadi."
Jantung Reyna berdetak keras. "Surat ibuku bilang jangan percaya pada laporan polisi. Jangan percaya pada kecelakaan itu. Apa yang sebenarnya terjadi pada malam Ibu meninggal?"
Gavin berdiri, berjalan menuju sebuah brankas dinding yang tersembunyi di balik panel. Ia memasukkan kombinasi yang rumit, dan brankas itu terbuka. Di dalamnya, terdapat sebuah amplop cokelat tebal dan sebuah kunci kuningan kuno dengan ukiran angka 77.
"Lima tahun lalu, tiga hari sebelum kematian ibumu, Elena datang ke sini dalam keadaan panik. Itu pertama dan terakhir kalinya aku melihatnya kehilangan kendali," Gavin menyerahkan amplop dan kunci itu pada Reyna. "Dia bilang seseorang di lingkaran dalamnya telah menemukan bukti bahwa dia sedang menyiapkan dokumen untuk melaporkan penggelapan dana besar-besaran di Arland Group ke otoritas. Orang itu mengancamnya."
"Siapa?" tanya Reyna, suaranya bergetar.