Saga Mahendra percaya satu hal, pengkhianatan tidak pernah memiliki alasan. Itulah yang ia yakini sejak hari ia melihat Sahira, wanita yang ia cintai, berpelukan dengan sahabatnya sendiri. Sejak saat itu, Saga memilih pergi. Meninggalkan cinta, mimpi, dan masa lalu yang terlalu menyakitkan.
Lima tahun kemudian, ia kembali. Bukan lagi remaja yang rapuh, tapi seorang dokter dengan hati yang telah membeku. Namun, takdir mempermainkannya. Sahira muncul kembali bersama seorang anak berusia empat tahun.
Waktu tidak pernah berbohong. Lalu, siapa ayah dari anak itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Di tempat lain, mobil Revano melaju membelah jalanan kota yang mulai lengang malam itu. Lampu-lampu jalan memantul samar di kaca mobil. Suasana di dalam kendaraan terasa sunyi sejak tadi.
Revano baru saja menyimpan kembali ponselnya setelah berbicara dengan Saga. Ririn yang duduk di sampingnya melirik perlahan.
“Kamu bicara sama Dokter Saga?” tanyanya pelan.
Revano mengangguk kecil tanpa mengalihkan pandangan dari jalan.
“Iya.”
Ririn terdiam beberapa detik sebelum akhirnya kembali bertanya dengan hati-hati.
“Kenapa dia benar-benar nggak ingat soal malam itu?”
Pertanyaan tersebut membuat tangan Revano di atas setir sedikit mengeras. Ia menghela napas panjang. Tatapannya perlahan berubah jauh, seolah kembali mengingat kejadian lima tahun lalu yang selama ini selalu ia sembunyikan.
“Malam itu…” suara Revano terdengar pelan, “hari ulang tahun Saga.”
Rumah keluarga Mahendra malam itu sangat ramai. Lampu pesta menghiasi halaman rumah besar itu. Musik terdengar keras, sementara puluhan murid SMA memenuhi area taman dan ruang utama rumah.
Semua orang terlihat bersenang-senang. Termasuk Saga, pria itu menjadi pusat perhatian malam itu. Berkali-kali teman-temannya mengajaknya minum untuk merayakan ulang tahunnya sebelum kelulusan SMA. Awalnya semua terlihat biasa saja. Sampai perlahan Saga mulai berubah, langkahnya goyah. Cara bicaranya mulai kacau. Bahkan wajahnya terlihat sangat merah.
“Aku pikir dia cuma mabuk,” lanjut Revano lirih. “Karena malam itu dia memang banyak minum.”
Tetapi, berbeda dengan yang lain Sahira justru terlihat panik. Wanita itu terus berada di samping Saga dan beberapa kali meminta pria itu berhenti minum.
“Sa, udah jangan minum lagi,” ucap Sahira waktu itu sambil menahan gelas dari tangan Saga. Namun, Saga malah tertawa pelan dengan wajah setengah sadar.
“Hari ini gue ulang tahun…” gumamnya. “Sekali aja.”
Sahira menghela napas pasrah. Saat kondisi Saga semakin memburuk, Sahira akhirnya membawa pria itu ke kamar di lantai atas untuk beristirahat. Dan di situlah semuanya mulai berubah.
Sementara itu, di bawah Revano yang sedang mengambil minuman tak sengaja mendengar percakapan Clara dan Aldi di dekat dapur belakang.
“Aman nggak dosisnya?” tanya Clara pelan waktu itu.
Aldi tertawa kecil.
“Tenang aja. Paling besok dia cuma nggak inget apa-apa.”
Langkah Revano langsung terhenti. Jantungnya mendadak berdetak tidak tenang.
“Jangan sampai ada yang tahu, Gue harus bisa miliki Saga,” suara Clara terdengar antusias.
“Tenang,” balas Aldi santai.
Wajah Revano langsung berubah pucat. Ia langsung sadar ada sesuatu yang salah. Tanpa pikir panjang, Revano segera berlari menuju lantai atas.
Pikirannya kacau, yang ada di kepalanya saat itu hanya satu Sahira. Namun, ketika tiba di depan kamar Saga dan membuka pintunya tubuh Revano langsung membeku.
Lampu kamar redup, suasana kamar berantakan dan di sana Sahira berdiri di dekat tempat tidur sambil menangis.
Wajah wanita itu pucat, tubuhnya gemetar. Sementara, Saga terbaring di atas ranjang dalam keadaan tidak sadar.
“Sa…” suara Revano langsung melemah.
Sahira menoleh cepat, matanya merah penuh air mata. Saat itu Revano melihat Sahira sedang merapikan pakaiannya dengan tangan gemetar.
Hanya dalam satu detik Revano langsung memahami semuanya. Sementara Sahira menutup wajahnya sambil menangis pelan.
“Aku nggak tahu kenapa dia jadi seperti gitu…” suaranya bergetar hancur. “Aku udah nyoba berhentiin dia…”
Revano langsung mengepalkan tangannya kuat. Amarahnya memuncak saat itu. Namun, melihat kondisi Sahira, ia tahu bukan saatnya melampiaskan emosi.
Saga malam itu benar-benar kehilangan kesadaran. Bahkan, tubuhnya mulai panas tidak normal. Tak lama kemudian, kondisi pria itu semakin memburuk hingga akhirnya dilarikan ke rumah sakit.
Di rumah sakit Kasih Ibu, Dokter Mario langsung menangani Saga. Dan hasil pemeriksaan membuat semua orang syok.
“Darahnya terdapat obat perangsang dosis tinggi.” Kalimat dokter waktu itu langsung membuat suasana menjadi kacau.
Nyonya Tatih murka besar. Tatapan keluarga Mahendra justru tertuju pada Sahira. Seolah wanita itu adalah penyebab semuanya.
“Mama Saga marah besar,” gumam Revano lirih. “Dan yang pertama kali mereka salahin … Sahira.”
Ririn menatap Revano diam-diam. Dadanya terasa sesak mendengar cerita itu.
Sementara Revano tersenyum pahit kecil.
“Padahal malam itu…” suaranya melemah, “Sahira juga korban.” Keheningan memenuhi mobil beberapa saat.
Hingga akhirnya Revano kembali bicara pelan “dan sejak malam itu…”
Tatapannya lurus ke depan.
“Saga nggak pernah benar-benar inget apa yang terjadi di dalam kamar itu.”
Mobil masih melaju pelan di tengah jalanan malam yang mulai sepi.
Suasana di dalam kendaraan terasa tenang, tetapi hati Ririn justru dipenuhi banyak pikiran setelah mendengar semua cerita Revano.
Wanita itu menatap pria di sampingnya perlahan.
“Jadi…” suaranya lirih, “selama ini Sahira benar-benar nanggung semuanya sendirian?”
Revano mengangguk kecil.
“Tiga hari setelah kejadian itu…” ucapnya pelan, “Sahira benar-benar menjauh dari Saga.”
Ririn terdiam mendengarkan.
“Bukan karena dia benci Saga,” lanjut Revano. “Tapi karena dia takut.”
“Takut?”
Revano menghela napas panjang.
“Orang tua Saga datang nemuin dia.”
Tatapan pria itu berubah berat.
“Mereka ngancem Sahira supaya ninggalin Saga.”
Ririn langsung mengernyit.
“Mereka juga nyodorin uang,” lanjut Revano lirih. “Tapi Sahira nolak.”
Mobil melambat saat lampu merah menyala. Revano memejamkan mata sejenak sebelum kembali melanjutkan,
“Waktu itu…” suaranya mulai melemah, “aku yang nemenin dia beli obat pencegah hamil darurat.”
Ririn menatap Revano pelan.
“Aku pikir semuanya bakal selesai setelah itu.”
Namun, pria itu tertawa kecil hambar.
“Ternyata nggak ngaruh buat Sahira.”
Ririn perlahan menunduk.
“Dua bulan setelah Saga berangkat ke London…” lanjut Revano, “Sahira tahu dia hamil.”
Keheningan memenuhi mobil. Suara mesin kendaraan terdengar samar di antara keduanya.
“Aku orang pertama yang tahu.”
Tatapan Revano perlahan berubah lembut.
“Dan sejak itu…” gumamnya lirih, “aku yang jagain dia.”
Ririn menggigit bibir bawahnya pelan. Ada rasa sesak aneh di dadanya. Revano melirik Ririn sekilas sebelum akhirnya berkata pelan,
“Ririn…”
Wanita itu menoleh.
“Kalau kamu cemburu sama Sahira…” suara Revano terdengar lembut, “aku ngerti perasaan kamu.”
Ririn langsung diam. Revano kembali melanjutkan,
“Tapi kamu harus tahu satu hal.” Tatapannya terlihat serius sekarang.
“Sahira dan Saga itu dua hati yang nggak bisa dipisahin.”
Jantung Ririn berdegup pelan. Pria itu segera melanjutkan kalimatnya—l,
“Aku nggak pernah lihat Sahira sebagai perempuan yang aku cintai.”
Tatapan Revano berubah hangat.
“Aku selalu nganggep dia kayak adik perempuan sendiri.”
Ririn menatap pria itu lekat-lekat. Ia melihat ketulusan di mata Revano saat berbicara tentang Sahira. Pria itu tersenyum kecil lalu berkata pelan,
“Aku cuma cinta sama kamu.”
Pipi Ririn langsung terasa hangat. Ia perlahan menunduk malu. Tak lama kemudian mobil berhenti di depan sebuah kontrakan kecil yang baru. Tempat sementara yang akan ditinggali Sahira dan Sahir.
Lampu terasnya masih menyala redup.
Sementara dari dalam rumah kecil itu terlihat Lina dan Rani masih membereskan barang-barang pindahan. Revano mematikan mesin mobil perlahan.
Ririn tiba-tiba memeluknya erat, Revano sedikit terkejut.
“Kamu kenapa?” tanyanya pelan sambil tersenyum kecil.
Ririn menggeleng sambil tetap memeluk pria itu.
“Cuma pengen meluk kamu aja…” Suara wanita itu terdengar lirih.
Ririn mulai benar-benar memahami kenapa Revano rela melindungi Sahira selama bertahun-tahun.
orang yang terobsesi bisa melakukan hal yang sangat berbahaya.