Menikahi seorang duda beranak dua memaksa seorang wanita muda bergelut dalam dinginnya rumah tangga yang penuh penolakan. Di tengah perjuangan dan perlawanannya menembus benteng prasangka sebagai ibu tiri, sebuah rahasia terkuak dan menyadarkannya akan arti takdir yang sebenarnya. Sebuah drama pernikahan yang sarat air mata, sindiran kehidupan, dan ketulusan cinta yang akan mengaduk emosi pembaca wanita dewasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lewier Lisye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10 : TAHTA DI ATAS PUING KEPERCAYAAN
Bauan krisan putih yang tadinya menenangkan di dalam ruang perawatan VIP itu seketika terasa mencekik. Udara pagi yang hangat bagaikan tersedot habis, menyisakan keheningan mencekam yang menusuk hingga ke tulang sumsum. Kata-kata Pak Wijaya menggantung di udara seperti vonis mati yang dijatuhkan tanpa ampun: Kakek Hendra adalah otak di balik semua ini.
Kirana mencengkeram sprei rumah sakit hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa nyeri di perut bawahnya yang baru saja mereda mendadak berdenyut kembali, seolah janin di dalam rahimnya ikut merasakan dorongan ketakutan yang hebat. Kakek Hendra—pria tua yang selama ini dipandang Aris sebagai pilar pelindung keluarga, sosok yang menyuruh Aris menikahi Kirana demi 'menyelamatkan' reputasi Pratama Group—ternyata adalah dalang utama yang merajut benang-benang kebohongan ini.
"Apa yang kamu katakan, Wijaya?!" Suara Aris terdengar rendah, namun sarat akan kehancuran yang amat sangat. Pria itu berdiri kaku, menatap orang kepercayaannya dengan mata merah menyala. "Kakek... Kakek yang menyuruhku melindungi Leo dan Maya dari Sheila! Kakek yang menandatangani persetujuan pernikahan pra-nikahku dengan Kirana!"
Pak Wijaya menunduk dalam-dalam, menyerahkan berkas-berkas dari dalam amplop cokelat itu ke jemari Aris yang gemetar. "Kakek Hendra tidak pernah berniat menyelamatkan siapa pun, Pak Aris. Rekaman transaksi sanatorium lima tahun lalu membuktikan bahwa Kakek Hendra yang menukar identitas Sheila dan Shinta. Dia membutuhkan rahim Sheila untuk melahirkan keturunan berdarah murni Pratama, lalu membuang Sheila ke luar negeri setelah wanita itu mulai menuntut hak saham. Saat Sheila kembali untuk membalas dendam, Kakek Hendra memanfaatkannya sekali lagi—menggunakannya untuk menghancurkan posisi Anda, memindahkan seluruh aset Pratama Corp ke rekening cangkang di Singapura, dan membiarkan Nyonya Kirana menjadi kambing hitam atas kemelut keluarga ini."
Aris meremas dokumen-dokumen itu hingga terlipat hancur. Napasnya memburu, kasar dan berat. "Jadi... semua pernikahan ini... semua kebencian yang kubangun untuk Kirana..."
"Semua itu adalah panggung sandiwara yang dirancang Kakek Hendra untuk memastikan Anda dan Nyonya Kirana saling menghancurkan dari dalam," potong Pak Wijaya dengan suara berat. "Kakek Hendra tahu, jika Anda dan Nyonya Kirana bersatu, kekuatan hukum atas hak asuh anak-anak dan warisan almarhumah Ibu Anda akan berada penuh di tangan Anda berdua. Dia sengaja menanamkan rasa curiga bahwa Nyonya Kirana adalah pelakor pemburu harta, agar Anda tidak pernah membuka hati."
Bugh!
Pukulan keras tinju Aris menghantam dinding marmer di samping pintu. Darah segar merembes dari buku-buku jarinya, namun Aris tidak merintih sedikit pun. Rasa sakit di fisiknya tak ada apa-apanya dibandingkan hantaman penyesalan yang kini menghancurkan dadanya.
Ia membalikkan badan, menatap Kirana yang terbaring lemah. Wanita muda berusia dua puluh empat tahun itu menatapnya tanpa kilat kemarahan, hanya ada kedalaman duka dan ketegaran yang luar biasa di dalam manik matanya.
"Mas Aris..." panggilan Kirana memecah keheningan yang menyiksa.
Aris melangkah mendekat dengan tubuh gemetar, jatuh berlutut di samping ranjang Kirana, persis seperti pria yang memohon ampunan atas dosa-dosa terbesarnya. Ia membenamkan wajahnya di tepi kasur, tepat di samping jemari Kirana.
"Maafkan aku, Kirana... Demi Tuhan, maafkan aku..." bisik Aris, suaranya parau tercekik tangis yang ditahannya sejak semalam. "Aku telah menjadi orang bodoh yang paling buta. Aku membiarkan pria tua itu mendikte pikiranku. Aku melempar surat perjanjian pra-nikah itu ke wajahmu... aku mencurigaimu setiap kali kamu mendekati anak-anak... aku membuatmu menangis sendirian di kamar mandi hanya karena aku ketakutan diriku akan dikhianati lagi. Aku... aku adalah monster dalam pernikahan ini."
Kirana mengulurkan tangannya yang terpasang selang infus. Jemarinya yang kurus menyusup ke dalam rambut Aris yang acak-acakan, mengelusnya dengan kelembutan yang teramat sangat. Tidak ada sindiran, tidak ada amarah yang meledak-ledak. Yang ada hanyalah kepasrahan seorang wanita yang telah melintasi badai air mata dan memilih untuk tidak tenggelam di dalamnya.
"Lihat aku, Mas," bisik Kirana lembut.
Aris mendongak, memperlihatkan wajahnya yang sembap dan hancur oleh rasa bersalah.
"Dulu, saat aku pertama kali melangkah ke rumah mewahmu dengan status sebagai ibu tiri, aku merasa seperti burung yang dimasukkan ke dalam sangkar emas penuh duri," tutur Kirana dengan pendar air mata di sudut matanya. "Setiap pandangan dinginmu, setiap hinaan dari keluarga besarmu, dan setiap penolakan dari Leo dan Maya adalah duri yang menancap di dadaku. Aku pernah sangat membencimu, Mas. Aku pernah berdoa agar Tuhan membebaskanku dari ikatan pernikahan yang terasa seperti perbudakan emosi ini."
Kirana jeda sejenak, mengusap air mata Aris dengan ibu jarinya.
"Tapi takdir punya cara yang sangat kejam sekaligus indah untuk menyindir kita," lanjut Kirana dengan senyum tipis yang menggetarkan jiwa. "Takdir membiarkan kita bergelut dalam pertempuran luka, saling melukai dengan prasangka, hanya untuk membenturkan kita pada kenyataan bahwa kita sama-sama jiwa yang kesepian dan terluka. Aku bertarung melawan rasa sakitku bukan karena aku ingin diakui sebagai Nyonya Pratama, tapi karena aku mencintaimu dan anak-anak. Jika pernikahan ini adalah neraka yang diciptakan Kakek Hendra, maka kita akan mengubahnya menjadi rumah bersama-sama."
"Kirana..." Aris mengecup telapak tangan Kirana berkali-kali, air matanya membasahi kulit pucat wanita itu. "Bagaimana bisa kamu memiliki hati sebesar ini setelah semua yang kulakukan padamu?"
"Karena aku seorang ibu, Mas," tegas Kirana, suaranya menguat, memancarkan kedewasaan yang melampaui usianya. "Seorang ibu tidak bertarung untuk ego pribadinya. Seorang ibu bertarung untuk melindungi rumahnya. Kakek Hendra boleh saja memegang harta Pratama Corp, tapi dia tidak akan pernah bisa merebut keluarga kita."
Gerakan kecil di sisi lain kasur menghentikan ucapan mereka. Maya, yang terbangun akibat bisikan-bisikan itu, mengucek matanya yang sembap. Anak perempuan kecil itu menatap Kirana dengan mata bulatnya yang polos, lalu mengulurkan tangan mungilnya untuk menyentuh pipi Kirana.
"Ibu Kirana... sakit?" bisik Maya dengan suara serak khas bangun tidur. "Adik bayi di dalam perut Ibu... tidak jadi pergi, kan?"
Kirana tersenyum manis, membiarkan air mata keharuannya menetes. Ia meraih tangan kecil Maya dan menempelkannya ke perutnya yang masih terbalut selimut. "Tidak, Maya. Adik bayi sangat kuat, seperti Maya dan Kak Leo. Adik bayi bilang, dia tidak mau pergi karena dia ingin punya Kakak yang hebat seperti kalian."
Di sisi lain, Leo yang ternyata sudah terbangun sejak tadi hanya diam tertunduk. Anak laki-laki berusia delapan tahun itu mengepalkan jemarinya kuat-kuat. Bahunya yang kecil naik turun menahan isak tangis.
"Leo?" Aris memanggil putra sulungnya.
Leo mendongak, wajahnya merah padam oleh rasa penyesalan yang teramat dalam. Tanpa diucapkan, anak itu memburu ke dalam pelukan Kirana, membenamkan wajahnya di bahu ibu tirinya itu seraya menangis sesenggukan.
"Ibu... maafkan Leo..." jerit anak laki-laki itu histeris. "Dulu Leo jahat sama Ibu! Leo pernah lempar piring sampai tangan Ibu lecet... Leo pernah siram air ke lukisan Ibu... Leo pikir Ibu wanita jahat yang mau usir Mama! Tapi semalam... Ibu rela dipukul om jahat itu demi lindungi Maya dan Leo... Ibu bledding karena lindungi kami..."
Kirana meringis sedikit menahan rasa nyeri di punggungnya, namun ia memeluk tubuh kecil Leo dengan erat, menciumi puncak kepala anak itu tanpa henti. "Sudah, Sayang... sudah. Kak Leo tidak salah. Ibu tidak pernah marah sama Kak Leo. Ibu tahu Kak Leo hanya anak yang merindukan kasih sayang. Mulai hari ini, tidak ada lagi rasa takut, ya? Ibu akan selalu ada di sini."
Aris merengkuh ketiga insan yang paling berharga dalam hidupnya itu ke dalam satu pelukan hangat. Di dalam kamar hospital yang berbau karbol dan krisan itu, benteng dingin yang selama ini memisahkan mereka akhirnya runtuh sepenuhnya. Tidak ada lagi prasangka ibu tiri, tidak ada lagi dendam duda berdarah dingin. Yang tersisa hanyalah empat jiwa yang saling menyembuhkan di atas puing-puing kepalsuan masa lalu.
Tiga hari kemudian.
Suasana di markas besar Pratama Group di pusat bisnis Jakarta mendadak mencekam. Rapat Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dipanggil secara mendadak oleh kuasa hukum Kakek Hendra sedang berlangsung di lantai lima puluh. Puluhan investor kawakan dan jajaran direksi duduk dengan raut wajah cemas.
Di ujung meja jati yang panjang, berdiri seorang pria tua berambut perak dengan tongkat berkepala perak. Hendra Pratama—pria berusia tujuh puluh lima tahun yang selama ini berpura-pura sakit dan meratapi nasib di sanatorium—berdiri dengan postur tegap dan senyum dominan yang menakutkan.
"Aris telah gagal mengelola konflik domestiknya dan mengancam stabilitas saham perusahaan!" seru Kakek Hendra dengan suara lantang yang bergema di seluruh ruangan. "Pelarian Sheila dan skandal yang menyertainya telah membuktikan bahwa cucu saya tidak memiliki kapabilitas kepemimpinan. Oleh karena itu, berdasarkan kuasa penuh aset yang saya pegang di Singapura, saya mengumumkan pengambilalihan kembali seluruh kendali Pratama Group!"
Para direksi saling berbisik panik. Beberapa di antaranya mengangguk setuju karena takut akan pengaruh dan kekuasaan Kakek Hendra yang masih mengakar kuat.
"Pernyataan yang sangat dramatis, Kakek."
Pintu ruang rapat yang terbuat dari kayu mahoni tebal terbuka lebar.
Aris melangkah masuk dengan langkah mantap dan penuh wibawa. Ia mengenakan setelan jas hitam elegan, memancarkan aura ketegasan seorang pemimpin sejati yang telah lepas dari bayang-bayang trauma. Namun, bukan Aris yang menjadi pusat perhatian utama ruangan itu.
Di sampingnya, berjalan Kirana.
Wanita muda itu tampak begitu anggun dalam balutan gaun blazer berwarna abu-abu gelap yang terpotong rapi. Wajahnya yang pucat dipoles dengan kosmetik tipis yang mempertegas garis kecantikan dan ketegarannya. Meski langkahnya pelan dan berhati-hati untuk menjaga janin di dalam kandungannya, sorot mata Kirana memancarkan keberanian yang mampu membungkam seluruh ruangan. Di belakang mereka, Pak Wijaya memegang dua koper hitam tebal bersama tiga pengacara papan atas Jakarta.
Kakek Hendra menyipitkan matanya, menghentakkan tongkatnya ke lantai marmer dengan gusar. "Aris! Mau apa kamu ke sini?! Dan mengapa kamu membawa wanita simpananmu itu ke dalam ruang rapat terhormat ini?!"
Aris tersenyum dingin, menyilangkan tangannya di dada saat ia berhenti tepat di hadapan meja utama. "Wanita yang Kakek sebut 'wanita simpanan' ini adalah Nyonya Kirana Pratama—istri sahku, pemegang hak asuh tunggal atas Leo dan Maya, dan pemilik sah dari lima puluh persen saham yang Kakek coba curi ke Singapura."
"Omong kosong!" bentak Kakek Hendra, wajahnya mulai memerah murka. "Aset Singapura itu terdaftar atas nama yayasan keluarga yang saya kendalikan! Kamu tidak punya hak atas satu sen pun!"
Kirana melangkah satu tingkat ke depan. Ia menatap pria tua di hadapannya tanpa ada sedikit pun pendar ketakutan.
"Kakek Hendra," suara Kirana mengalun tenang, namun setiap kata yang diucapkannya bagaikan bilah pisau yang memotong kebohongan pria tua itu. "Anda mungkin sangat ahli dalam memanipulasi identitas Shinta dan Sheila. Anda mungkin sangat licik saat memalsukan dokumen medis di sanatorium dan memanfaatkan rasa trauma suami saya. Tapi Anda lupa satu hal: almarhumah Ibu kandung Mas Aris bukanlah wanita bodoh."
Ruang rapat seketika hening total. Kakek Hendra tampak tersentak, garis-garis di wajahnya mengeras secara dramatis.
Pak Wijaya maju dan membuka koper hitam di atas meja rapat, mengeluarkan sebuah bundel dokumen tua bertinta emas lengkap dengan segel notaril internasional dari Swiss.
"Dua puluh tahun yang lalu," lanjut Kirana seraya menatap lurus ke dalam mata Kakek Hendra, "Ibu kandung Mas Aris telah meramalkan bahwa kelak kekuasaan keluarga Pratama akan merusak nurani Anda. Beliau membuat sebuah wasiat tersembunyi yang disahkan di Jenewa—bahwa seluruh hak atas yayasan Singapura dan saham utama Pratama Group tidak akan pernah bisa dialihkan kepada siapa pun, kecuali kepada wanita yang secara tulus menerima hak asuh atas anak-anak Aris tanpa mempedulikan harta kekayaan."
Kirana mengambil dokumen itu dan menunjukkannya ke hadapan para dewan direksi.
"Pernikahan pra-nikah yang Anda paksa Mas Aris untuk menandatanganinya dahulu? Anda pikir surat itu dibuat untuk membatasi ruang gerakku?" Kirana tertawa kecil, sebuah tawa yang sarat akan sindiran indah dari takdir. "Surat itu justru menjadi pemicu sahnya wasiat mendiang Ibu! Karena aku menandatangani perjanjian tanpa menuntut satu sen pun harta, maka secara otomatis per hari ini, seluruh hak veto atas Pratama Group Singapura berpindah penuh ke tanganku!"
Bugh!
Tongkat Kakek Hendra terlepas dari genggamannya, jatuh memantul di lantai. Pria tua itu mundur dua langkah dengan wajah pucat pasi. Bibirnya gemetar hebat, tak mampu menyusun satu patah kata pun untuk membalas.
Para dewan direksi yang melihat keabsahan dokumen berstempel Swiss tersebut seketika berdiri satu per satu, memberikan penghormatan penuh kepada Kirana dan Aris. Rencana jahat yang dibangun Kakek Hendra selama belasan tahun hancur berantakan dalam hitungan menit, ditumbangkan oleh dokumen yang dipicu oleh ketulusan seorang ibu tiri yang pernah dihina.
"Pak Wijaya," perintah Aris dengan suara dingin tanpa ampun. "Tim kepolisian dari Unit Tindak Pidana Pencucian Uang dan Subdit Jatanras sudah menunggu di luar. Serahkan Kakek Hendra atas tuduhan pemalsuan identitas, konspirasi tindak kejahatan, dan pemindahan aset secara ilegal."
Dua petugas kepolisian berpakaian preman melangkah masuk dan memegang kedua lengan Kakek Hendra. Pria tua yang dahulu berkuasa bagaikan raja itu kini tampak begitu ringkih dan menyedihkan saat diseret keluar dari ruang rapat yang pernah didominasinya.
Saat melewati Kirana, Kakek Hendra menatap wanita muda itu dengan mata melotot penuh kekalahan. "Kamu... wanita muda sialan... bagaimana bisa kamu tahu tentang wasiat itu?!"
Kirana menatap pria tua itu dengan tatapan penuh rasa simpati dan ketegasan.
"Takdir tidak pernah bisa dilawan dengan kelicikan, Kakek," jawab Kirana pelan. "Anda menggunakan anak-anak dan pernikahan sebagai alat kekuasaan. Tapi Tuhan menggunakan pernikahan ini untuk menyadarkan kami tentang arti kasih sayang yang sesungguhnya. Anda kalah bukan olehku, tapi oleh ketulusan yang Anda anggap remeh."
Sore harinya, angin sepoi-sepoi berhembus lembut di halaman belakang kediaman Pratama. Asap merah dari flare dan sisa-sisa kekacauan beberapa hari lalu telah dibersihkan sepenuhnya. Rumput hijau yang terhampar luas kini dihiasi oleh gelak tawa riang anak-anak.
Leo dan Maya tampak berlarian mengejar balon udara berwarna-warni bersama Bik Sumi. Tawa renyah Maya membumbung tinggi ke udara, memantul di dinding-dinding kaca kediaman megah yang kini tak lagi terasa dingin dan mencekam.
Di sudut gazebo yang dikelilingi bunga krisan dan mawar putih, Kirana duduk bersandar di kursi kayu yang empuk. Sebuah selimut lembut menutupi kakinya. Di sampingnya, Aris berlutut, meletakkan kepalanya di pangkuan Kirana seraya memeluk pinggang wanita itu dengan protektif.
Jemari Kirana menyusup pelan di antara rambut hitam suaminya, menikmati ketenangan luar biasa yang akhirnya mereka raih setelah melintasi badai air mata.
"Mas..." bisik Kirana, menatap langit sore yang berwarna jingga keemasan.
"Hmm?" Aris mendongak, menatap paras cantik istrinya dengan tatapan yang sarat akan pemujaan dan cinta yang mendalam.
"Kadang aku berpikir..." ujar Kirana seraya tersenyum tipis. "Betapa lucunya takdir mempermainkan kehidupan kita. Aku masuk ke rumah ini dengan rasa takut, dikelilingi oleh air mata pernikahan yang terasa begitu pahit. Aku melawan dinginmu, aku bergelut dengan penolakan anak-anak, dan aku hampir saja menyerah..."
Aris meraih jemari Kirana, mencium punggung tangan itu dengan lembut. "Lalu apa yang membuatmu bertahan, Sayang?"
"Tiba-tiba aku sadar," jawab Kirana dengan pendar mata yang berkilau indah, "bahwa takdir tidak pernah berniat menyakitiku. Takdir sedang menyindir kesombongan kita berdua. Takdir menguji ketulusanku sebagai ibu tiri, dan menguji keberanianmu sebagai seorang pria. Semua penderitaan, cemoohan orang, dan luka bakar masa lalu itu... hanyalah cara Tuhan untuk menempah kita agar siap menerima kebahagiaan hari ini."
Aris bangkit perlahan, mendaratkan kecupan hangat dan lama di dahi Kirana, lalu turun ke perut Kirana yang tersimpan kehangatan calon buah hati mereka.
"Terima kasih telah menjadi rumah bagiku dan anak-anak, Kirana," bisik Aris parau, matanya berkaca-kaca oleh rasa syukur yang tak terhingga. "Pernikahan ini mungkin berawal dari takdir yang penuh sindiran... tapi aku berjanji, sisa hidupku akan menjadi bukti ketulusan cintaku padamu."
Dari kejauhan, Leo dan Maya berlari mendekat sambil membawa sebundel gambar baru. Maya melompat ke pangkuan Aris, sementara Leo berdiri di samping Kirana, menggenggam tangan ibu tirinya dengan erat.
"Ibu! Lihat!" seru Maya gembira sambil memamerkan gambarnya.
Di atas kertas putih itu, terlukis empat sosok manusia yang saling bergandengan tangan di depan sebuah rumah besar, dengan satu sosok bayi kecil di dalam perut sang ibu. Di atasnya, terdapat tulisan tangan khas anak-anak yang jujur dan murni: Keluarga Bahagia Ibu Kirana dan Papa Aris.
Kirana memeluk kedua anak itu ke dalam dadanya, menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Aris. Di bawah naungan langit sore yang hangat, air mata yang menetes di pipi Kirana bukan lagi air mata duka dan penolakan, melainkan air mata keharuan atas indahnya kasih sayang yang dihadiahkan oleh takdir.
Namun, di tengah kedamaian yang baru saja merekah itu, ponsel Pak Wijaya yang berdiri di kejauhan mendadak bergetar hebat. Pak Wijaya melihat layar ponselnya, dan raut wajahnya seketika berubah pucat pasi.
Sebuah pesan singkat masuk dari otoritas kepolisian interpol luar negeri:
'Helikopter yang membawa Sheila saat melarikan diri dari balkon belakang kediaman Pratama ditemukan jatuh di perairan perbatasan. Namun, tidak ditemukan jasad Sheila di dalam bangkai helikopter tersebut. Ditemukan sebuah pesan tertulis darah di atas pecahan kaca helikopter: Aku akan kembali untuk mengambil bayi itu.'
Pak Wijaya menatap keluarga kecil yang sedang tertawa bahagia di gazebo itu dari kejauhan. Badai besar mungkin telah berlalu dari dalam rumah, namun bayangan kegelapan dari luar tampaknya baru saja menyiapkan permainan takdir yang jauh lebih mematikan.
Apakah Sheila benar-benar masih hidup dan sedang merencanakan pembalasan dendam yang lebih kejam untuk merebut bayi di dalam kandungan Kirana? Dan bagaimana Kirana serta Aris akan mempertahankan ikatan cinta mereka saat ancaman nyata dari masa lalu itu kembali membayangi keselamatan anak-anak mereka?