"Demi menyelamatkan ayahnya, Alya setuju menggantikan kakaknya untuk memenuhi janji pernikahan dengan Mayor Damar. Namun, pada akhirnya semua hanyalah status dan diikat surat perjanjian yang berlaku selama tiga tahun. Di samping itu, Alya dan Damar menjalani kehidupan mereka masing-masing.
Namun, dua tahun kemudian, keduanya dipertemukan kembali di medan perang. Alya sebagai dokter ditugaskan ke perbatasan NTT, tempat Damar bertugas. Kontrak yang awalnya dianggap sebagai garis aman perlahan-lahan berubah menjadi bom waktu ketika cinta mengetuk hati Mayor Damar."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Bab 16 - Anak Kecil di Parkiran Rumah Sakit
Pagi setelah ciuman itu, Alya dan Damar bersikap sangat sopan.
Terlalu sopan.
Tante Nadia yang sedang menuang teh di ruang makan menatap mereka bergantian.
"Kalian bertengkar?"
Alya hampir tersedak.
Damar meletakkan cangkir.
"Tidak, Ma."
"Kalau tidak bertengkar, kenapa kaku sekali?"
"Kami kurang tidur," jawab Alya cepat.
Tante Nadia tersenyum aneh.
Damar menatap Alya.
Alya menatap piring.
Sarapan itu terasa lebih sulit daripada operasi kecil.
Setelah makan, mereka kembali ke rumah sakit. Eyang sudah membuka mata sebentar, meski belum bisa bicara jelas. Tante Nadia menangis bahagia. Om Bima berkali-kali mengucap syukur.
Alya membantu menjelaskan kondisi medis Eyang kepada keluarga. Damar berdiri di sampingnya. Mereka kompak dalam urusan itu, seolah tidak ada kejadian semalam yang membuat keduanya nyaris lupa bernapas.
Menjelang siang, Alya turun ke minimarket rumah sakit untuk membeli air mineral dan bubur untuk Tante Nadia. Damar masih bersama dokter neurologi.
Lobi rumah sakit ramai. Keluarga pasien duduk di kursi panjang. Anak-anak berlarian di dekat mesin minuman. Seorang petugas keamanan menegur pelan, tapi tidak ada yang benar-benar mendengar.
Alya baru keluar dari minimarket ketika melihat seorang anak perempuan kecil menangis di dekat pintu parkir.
Usianya mungkin lima tahun. Rambutnya dikuncir dua, memakai kaus kuning bergambar kelinci. Di tangan kirinya ada gelang pasien anak.
Di sebelahnya berdiri seorang pria bertopi, menggenggam pergelangan tangannya terlalu kuat.
"Ayo, Mama nunggu di mobil," kata pria itu.
Anak itu menggeleng sambil menangis. "Bukan. Aku mau Mama."
Langkah Alya berhenti.
Pria itu menunduk, suaranya berubah lebih tajam.
"Jangan rewel."
Alya mendekat.
"Maaf, Pak. Ada apa?"
Pria itu menoleh. Wajahnya biasa. Terlalu biasa. Tapi matanya langsung menghitung.
"Anak saya rewel."
Alya menatap anak itu.
"Namanya siapa, Sayang?"
Anak itu terisak. "Naya."
"Naya, ini Papa?"
Mata anak itu membesar.
Pria itu langsung tertawa kaku.
"Dia memang suka begitu kalau ngambek. Saya ayahnya."
Alya melihat gelang pasien di tangan Naya. Ada nama: Anindya Putri. Nama wali: Rina Mahendra.
Tidak ada nama pria.
"Boleh lihat kartu identitas, Pak?"
Senyum pria itu hilang.
"Kamu siapa?"
"Dokter."
"Ini urusan keluarga."
"Kalau begitu mudah. Tunjukkan identitas, lalu saya minta maaf."
Pria itu mencengkeram tangan Naya lebih kuat. Anak itu meringis.
Alya meletakkan kantong belanja di lantai.
"Lepaskan tangannya."
"Minggir."
Dia menarik Naya ke arah parkiran.
Alya bergerak cepat, memegang tangan anak itu yang bebas.
"Security!"
Pria itu panik. Tangannya masuk ke saku jaket.
Alya melihat kilatan pisau kecil.
Semua terjadi cepat.
Orang-orang menjerit. Naya menangis makin keras. Pria itu menarik anak itu ke depan tubuhnya, pisau menempel di dekat bahu kecilnya.
"Jangan dekat! Mundur!"
Petugas keamanan berlari, tapi berhenti saat melihat pisau.
Alya mengangkat kedua tangan.
"Tenang, Pak. Jangan sakiti anak itu."
"Mundur!"
Kerumunan mulai berkumpul. Beberapa orang merekam dengan ponsel. Alya ingin berteriak agar mereka berhenti, tapi fokusnya harus pada Naya.
Anak itu gemetar.
"Naya, lihat Kakak," kata Alya pelan.
"Jangan bicara sama dia!" bentak pria itu.
Alya menatap pria itu.
"Anda butuh jalan keluar, kan? Bukan anak."
Pria itu berkeringat.
"Mobil saya di bawah. Semua minggir."
"Anak itu akan memperlambat Anda. Dia menangis, semua orang melihat. Ambil saya."
Kerumunan terkejut.
Petugas keamanan menatap Alya seperti dia gila.
Pria itu menyipitkan mata.
"Apa?"
"Saya ikut dengan Anda sampai parkiran. Lepaskan anak itu. Saya dokter di sini, orang dewasa, bisa jalan sendiri."
"Kamu pikir saya bodoh?"
"Saya pikir Anda panik."
Pisau itu bergerak sedikit. Naya menjerit.
Alya memaksa suaranya tetap rendah.
"Kalau Anda melukai anak, semua pintu keluar ditutup. Kalau Anda melepasnya, saya bantu Anda keluar dari kerumunan."
Itu bohong.
Tapi orang panik kadang hanya butuh kalimat yang terdengar seperti jalan.
Pria itu berpikir.
Satu detik.
Dua detik.
Lalu suara Damar terdengar dari belakang kerumunan.
"Alya."
Jantung Alya jatuh.
Jangan.
Jangan sekarang.
Damar berdiri beberapa meter dari mereka. Wajahnya dingin, tapi matanya menilai situasi dengan cepat. Di belakangnya ada dua petugas keamanan dan satu polisi rumah sakit.
Pria berpisau langsung makin panik.
"Jangan dekat!"
Damar berhenti.
Alya menatapnya, memberi isyarat kecil dengan mata.
Jangan rusak.
Damar mengerti.
Dia mengangkat kedua tangan perlahan.
"Aku tidak mendekat."
Pria itu menodongkan pisau lebih kuat ke Naya.
Alya mengambil satu langkah kecil.
"Pak, lihat saya. Kesepakatan tadi masih berlaku. Lepaskan anaknya. Ambil saya."
"Alya, jangan," suara Damar rendah.
Alya tidak melihatnya.
"Saya dokter," katanya pada pria itu. "Kalau Anda terluka atau panik di jalan, saya bisa bantu. Anak kecil ini hanya akan membuat Anda ditangkap lebih cepat."
Pria itu ragu lagi.
Naya menangis, "Aku mau Mama..."
Kalimat itu mungkin yang membuat pria itu kehilangan kendali. Dia mendorong Naya ke arah Alya dan sekaligus meraih lengan Alya.
Alya menarik Naya dengan tangan kanan, mendorongnya ke arah petugas keamanan.
Pisau pria itu pindah ke dekat pinggang Alya.
"Jalan!"
Alya berjalan.
Dia mendengar Damar bergerak, tapi tidak menyerbu.
Pria itu menarik Alya menuju tangga parkir. Kerumunan terbelah. Damar mengikuti dari jarak aman, setiap langkahnya seperti menahan ledakan.
Di dekat pintu tangga, pria itu membuat kesalahan.
Dia melirik ke belakang terlalu lama.
Alya menginjak kakinya sekuat mungkin, memutar pergelangan tangannya seperti teknik dasar yang pernah diajarkan Damar, lalu menunduk saat pisau bergerak.
Damar menerjang.
Dalam satu gerakan, dia memelintir tangan pria itu, menjatuhkan pisau, lalu membantingnya ke lantai. Petugas keamanan dan polisi langsung menahan pelaku.
Alya mundur, napasnya terputus-putus.
Damar berbalik.
"Kamu terluka?"
"Tidak."
Dia memegang bahu Alya, memeriksa wajah, lengan, pinggang.
"Alya, jawab yang benar."
"Saya tidak terluka."
Tangannya berhenti di pinggang Alya, lalu perlahan turun.
Naya berlari ke arah seorang perempuan yang datang histeris dari lift. Ibunya memeluknya sambil menangis. Suara tangis itu membuat lutut Alya melemas.
Damar menangkapnya sebelum jatuh.
"Aku baik," bisiknya.
"Jangan."
Suaranya kasar.
Alya mengangkat wajah.
Damar marah. Sangat marah. Tapi di baliknya ada ketakutan yang tidak sempat dia sembunyikan.
"Kamu menawarkan diri jadi sandera."
"Anaknya lima tahun."
"Kamu juga bisa mati."
"Tapi anak itu tidak."
Damar mengatupkan rahang. "Suatu hari kalimat itu tidak akan cukup."
Alya tidak menjawab.
Karena dia tahu.
Di lorong rumah sakit, dengan kerumunan menonton dan ibu anak itu masih menangis, Damar menarik Alya ke dalam pelukannya.
Alya membeku.
Pelukan itu hanya satu detik.
Mungkin dua.
Lalu Damar melepasnya seolah baru sadar di mana mereka berada.
Tapi terlambat.
Semua orang melihat.
Termasuk Siska Paramitha yang berdiri di ujung lorong dengan wajah yang tidak lagi bisa tersenyum.
Malamnya, ibu Naya datang ke ruang tunggu ICU membawa bingkisan kecil. Dia menangis lagi saat melihat Alya.
"Dokter, anak saya tidur sambil memegang gelang pasien. Dia bilang kakak dokter berani."
Alya menerima bingkisan itu dengan canggung.
"Saya senang Naya aman."
Perempuan itu menunduk berkali-kali, lalu pergi setelah Tante Nadia menenangkannya.
Damar berdiri di samping Alya.
"Kamu dengar? Dia bilang kamu berani."
"Anak kecil mudah tertipu."
"Tidak. Anak kecil biasanya paling jujur."
Alya menatap bingkisan di tangannya. Isinya hanya roti dan susu kotak, mungkin dibeli dari minimarket rumah sakit.
Entah kenapa, hadiah sederhana itu membuat matanya perih.
Hari itu dia hampir menjadi sandera, dimarahi Damar, dilihat Siska, dan direkam orang asing.
Tapi seorang anak kecil selamat.
Untuk alasan itu saja, Alya akan memilih hal yang sama lagi.
Damar sepertinya tahu apa yang dia pikirkan.
"Kalau kejadian seperti itu terulang, panggil aku lebih cepat."
"Kalau saya sempat."
"Alya."
"Saya tidak mencari bahaya."
"Tapi bahaya seperti mengenal alamatmu."
Kalimat itu membuat Alya diam.
Damar mengambil susu kotak dari bingkisan, menusukkan sedotan, lalu menyerahkannya.
"Minum."
"Ini punya saya?"
"Kamu hampir jadi sandera. Anggap bonus."
Alya menerima susu itu dan akhirnya tertawa kecil.
Dari ujung lorong, Siska melihat tawa itu.
Kali ini, dia benar-benar tidak tersenyum.