NovelToon NovelToon
Dewi Angin Utara

Dewi Angin Utara

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:640
Nilai: 5
Nama Author: AraLum

Jauh sebelum sejarah manusia dimulai, Dewi Angin Utara telah menjaga bumi dari balik bayang-bayang.

Namun ketika perang besar mengancam Agharta, Utara harus berpisah dari Zhuin, sosok yang telah dicintainya sejak ribuan tahun lalu.

Zhuin akan terus Ada, dengan berbagai wujudnya.

Dan setiap kehidupan, dia akan melupakan Utara.

Sementara Utara tetap mengingatnya.

Satu Dewi. Satu jiwa. Ribuan kehidupan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AraLum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30 : PERMAINAN KECAPI YIN SHUANG

Di wilayah Klan Serigala Perak, suasana malam terasa tenang. Yin Shuang duduk di beranda sambil menikmati secangkir teh.

Seorang anak buahnya datang tergesa-gesa dan langsung membungkuk. "Tuan."

"Hm?"

"Baru saja ada kabar dari arah Lembah Feng Yin."

Yin Shuang meletakkan cangkir tehnya. "Apa yang terjadi?"

"Se Chang baru saja menyerang lembah."

Yin Shuang terdiam sebentar. "Se Chang?"

"Benar." Anak buah itu mengangguk. "Pasukan Klan Ular terlihat di sekitar lembah. Ketua Klan Beruang Hitam juga turun tangan."

Yin Shuang hanya tersenyum kecil. *Jadi akhirnya dia bergerak.*

Beberapa waktu terakhir, Yin Shuang memang sudah mendengar informasi tentang seorang gadis yang tinggal di Lembah Feng Yin namanya Feng Yao, gadis misterius yang dikaitkan dengan Agharta. Namun sampai sekarang ia belum pernah bertemu dengannya, dan ia juga tidak berniat terburu-buru.

"Bagaimana keadaan di lembah?"

"Belum ada laporan lengkap."

Yin Shuang kembali mengangkat cangkir tehnya. "Kalau begitu, kita tunggu."

Anak buahnya tampak bingung. "Tidak perlu mengirim pasukan?"

"Tidak," jawabnya tenang. "Belum waktunya kita muncul."

Yin Shuang menatap kabut yang menggantung di kejauhan. Se Chang tidak mungkin berhenti hanya karena satu serangan. Kalau ia benar-benar mengincar Feng Yao, pertempuran berikutnya kemungkinan akan lebih besar.

Yin Shuang tersenyum tipis. "Besok aku mau ke Lembah Feng Yin."

Anak buahnya mengangguk. "Sendirian, Tuan?"

"Ya."

"Untuk menemui Feng Yao?"

Yin Shuang terdiam sesaat. "Bukan." Ia meletakkan cangkirnya. "Aku hanya ingin melihat keadaan di sana."

Ia berdiri dan berjalan meninggalkan beranda. "Jangan libatkan klan kita dulu."

"Baik, Tuan."

Yin Shuang berhenti sejenak sebelum masuk ke dalam. Tatapannya kembali mengarah ke utara. Ia belum pernah bertemu Feng Yao. Belum tahu seperti apa gadis itu. Belum tahu apakah semua cerita tentang dirinya benar. Karena itu, untuk sekarang, ia hanya akan mengamati.

*Belum waktunya kita muncul.*

 

Keesokan paginya, Yin Shuang meninggalkan wilayah Klan Serigala Perak seorang diri. Ia tidak membawa pasukan, tidak membawa pengawal—hanya sebuah kecapi berwarna putih keperakan yang dibawanya di punggung.

Menjelang siang, ia tiba di sekitar Lembah Feng Yin. Yin Shuang tidak langsung memasuki lembah. Ia memilih sebuah paviliun tua yang berdiri di atas bukit kecil, tidak jauh dari jalan menuju lembah. Dari sana, ia bisa melihat sebagian hutan dan jalan setapak menuju kediaman Feng Yao.

Ia duduk dengan tenang. Kecapi diletakkan di atas pangkuannya. Jarinya mulai memetik senar.

*Ting...*

Suara kecapi mengalun lembut di antara pepohonan. Angin membawa suara itu jauh ke dalam hutan.

Yin Shuang memejamkan mata. Ia tidak sedang memainkan lagu untuk siapa pun. Ia hanya menunggu menunggu sesuatu terjadi.

Namun kecapi di tangannya bukan kecapi biasa. Setiap senarnya telah dilapisi qi miliknya. Jika dimainkan dengan aliran qi tertentu, suara lembutnya dapat berubah menjadi serangan. Satu petikan mampu membentuk bilah angin. Dua petikan dapat menahan serangan lawan. Dan jika seluruh senarnya dimainkan bersamaan, kecapi itu dapat berubah menjadi senjata mematikan. Karena itu, Yin Shuang tidak pernah membiarkan orang sembarangan menyentuhnya.

*Ting... ting...*

Ia kembali memainkan melodi pelan. Tiba-tiba telinganya bergerak sedikit. Ada suara langkah dari dalam hutan.

Yin Shuang tidak berhenti bermain. Jarinya tetap bergerak. Satu petikan terdengar lebih tajam.

*Ting!*

Sebuah bilah angin melesat dari kecapi dan menghantam pohon di belakangnya.

*Brak!*

Seekor burung yang bersembunyi di dahan langsung terbang panik.

Yin Shuang membuka mata. Ternyata hanya seekor burung. Ia tersenyum kecil. "Maaf."

Ia kembali memainkan kecapi. Namun kali ini tatapannya mengarah ke Lembah Feng Yin. Ia bisa merasakan sisa-sisa qi pertempuran dari hari sebelumnya. Aroma racun Klan Ular masih samar di udara. Berarti laporan anak buahnya benar Se Chang memang telah menyerang tempat itu.

Yin Shuang memetik satu senar lagi. Suara kecapi kembali lembut. Dari tempatnya duduk, ia belum bisa melihat siapa pun. Tetapi ia tahu gadis bernama Feng Yao berada tidak jauh dari sana.

Yin Shuang tidak berniat mendekat. Belum. Untuk sekarang, ia hanya ingin mengetahui satu hal: siapa sebenarnya gadis yang membuat Klan Ular mulai bergerak itu?

Jarinya terus memainkan kecapi. Dan di bawah suara musik yang tenang itu, qi Yin Shuang perlahan menyebar ke seluruh kawasan. Mengawasi. Menunggu.

Tanpa seorang pun di Lembah Feng Yin menyadari bahwa seekor serigala perak sedang duduk di kejauhan.

 

Alunan kecapi Yin Shuang perlahan menyebar ke seluruh kawasan Lembah Feng Yin. Suara itu begitu lembut, hingga tidak hanya para siluman wanita yang berada di sekitar lembah tertarik mendengarnya. Beberapa peri yang tinggal di antara pepohonan juga mulai keluar dari persembunyian. Mereka duduk di atas dahan, di balik bunga-bunga, bahkan ada yang melayang rendah di antara kabut. Tidak ada yang berani mengganggu. Mereka hanya ingin mendengarkan.

Suara kecapi Yin Shuang terasa seperti angin yang melewati padang rumput setelah hujan. Tenang. Dingin. Namun menenangkan.

Yin Shuang sendiri tidak menyadari berapa banyak makhluk yang sudah berhenti untuk mendengarkan permainannya. Ia hanya terus memetik senar.

*Ting... ting...*

Di sebuah jalan setapak tidak jauh dari sana, Feng Yao yang sedang membawa keranjang bunga tiba-tiba berhenti. Ia mengangkat kepala.

"Suara apa itu?"

Melodi kecapi kembali terdengar. Feng Yao tersenyum kecil. "Indah sekali."

Tanpa sadar, kakinya mulai mengikuti arah suara.

 

Di sisi lain lembah, Xiong Yan yang sedang memeriksa beberapa penjaga juga mendengar suara tersebut. Ia berhenti.

Xiong Ling yang berada di belakangnya ikut menoleh. "Ketua?"

"Diam."

Xiong Yan mendengarkan. Suara kecapi itu terdengar samar dari kejauhan.

"Siapa yang bermain kecapi?"

Xiong Ling menggeleng. "Tidak tahu."

Xiong Yan mengerutkan kening. "Periksa."

Namun baru beberapa langkah berjalan, ia menyadari satu hal suara itu berasal dari arah yang sama dengan tempat Feng Yao biasa berjalan. Xiong Yan langsung mempercepat langkah.

 

Tidak jauh dari sana, Mo Xuan juga mendengar alunan yang sama. Ia sedang berjalan santai melewati hutan ketika suara kecapi membuatnya berhenti. Ia mengangkat alis.

"Menarik."

Mo Xuan tidak langsung melanjutkan perjalanan. Ia justru mengubah arah. "Siapa yang bermain musik di sekitar sini?"

Senyum tipis muncul di wajahnya. "Sepertinya hari ini tidak akan membosankan."

 

Sementara itu, di paviliun kecil di atas bukit, Yin Shuang masih memainkan kecapinya. Ia belum tahu bahwa tiga orang sedang berjalan menuju tempat yang sama Feng Yao karena tertarik pada musik, Xiong Yan karena khawatir, dan Mo Xuan karena penasaran. Sementara para peri kecil dan siluman wanita di sekitar lembah masih duduk diam menikmati alunan kecapi.

Untuk pertama kalinya, musik Yin Shuang perlahan mempertemukan orang-orang yang sebelumnya belum saling mengenal.

Namun Yin Shuang sendiri masih belum mengetahui bahwa gadis yang selama beberapa hari terakhir hanya ia dengar dari berbagai laporan sedang berjalan mendekati paviliunnya.

1
Aralum
ikuti terus yaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!