Pada tahun 1940-an di Jayakarta, Bella Anastasya, seorang pemburu jejak (tracker) tangguh, bertaruh nyawa demi mencari ibunya yang hilang secara misterius selama sepuluh tahun.
Demi melacak petunjuk, Bella terpaksa bekerja sama dengan Gilang Fahrezi, pengusaha kaya pemilik jaringan informan terbesar di kota. Penelusuran berdarah ini membawa mereka menyusup ke fasilitas militer rahasia, tempat eksperimen parasit ilegal yang mengubah manusia menjadi monster mengerikan. Di sana, Bella harus berjuang melawan ancaman monster sekaligus menghadapi kenyataan pahit tentang takdir sang ibu.
akankah Bella menemukan sang Ibu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Van pen., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Malam merambat pelan di dalam kamar penginapan yang temaram. Keheningan menyelimuti ruangan, hanya terbiaskan oleh cahaya hangat dari lampu meja berwarna kekuningan.
Sepasang tangan berjemari lentik bergerak pelan, mengeluarkan selembar kertas berlukiskan sosok wanita dari balik gulungan kain usang. Bella duduk termangu, menatap lekat lukisan itu. Gambar seorang wanita anggun dengan kalung berbandul daun semanggi melingkar di lehernya, sosok ibu yang amat ia rindukan.
Jemarinya mengusap lembut permukaan kertas yang mulai melapuk. Pupil matanya bergerak menyusuri setiap detail garis wajah di lukisan tersebut. Seketika matanya membasah, meretas genangan air mata yang sekuat tenaga ia tahan agar tidak menetas.
Beberapa saat sebelumnya...
Bella duduk bersila tepat di hadapan sang ayah di sudut ruangan penginapan.
"Kenapa Ayah setuju menerima permintaannya?" tanya Bella, menyuarakan ganjalan di dadanya.
"Tidak ada alasan khusus untuk menolaknya, Nak. Dia membantu kita menemukan orang yang hilang, dan sebagai gantinya kita mendapatkan informasi tentang Sachimoto," jawab sang ayah tenang seraya menatap putri cantiknya penuh kasih.
Bella menghembuskan napas jengkel. "Tapi dia sangat tak tahu malu dan kasar, Yah!"
Pria paruh baya itu tersenyum tipis, meredam emosi putrinya. "Jangan terlalu cepat menilai seseorang dari luarnya."
Bella melirik ke samping, berdecak pelan. "Lihat saja dari cara bicaranya! Belum lagi kecerobohannya dalam menangani masalah."
"Bagi dia, kita ini hanyalah sepasang detektif," sang ayah menjeda kalimatnya sejenak. "Tapi kita sudah sepakat. Sebuah janji harus dipegang teguh agar kedua belah pihak saling menguntungkan."
Bella menunduk. Raut wajahnya berubah murung dan diselimuti kecemasan mendalam. Ada firasat buruk yang mendadak melintas di benaknya. Ia mendongak, kembali menatap sang ayah.
"Kasus ini... Aku punya firasat yang sangat buruk, Yah," bisik Bella pelan.
Sang ayah menatap Bella dengan binar mata yang sulit diartikan.
"Firasat ini... persis seperti saat kita di Pulau Komodo waktu itu," lanjut Bella ragu.
Pulau Komodo? Ada tragedi apa di sana?
"Waktu itu... Ayah terluka sangat parah," lirih Bella. Memori kelam itu kembali berputar, membakar rasa cemasnya akan keselamatan sang ayah saat ini.
Pria paruh baya itu bernama Raden Harto. Berambut hitam dengan kumis dan brewok tipis yang terawat, paras tegasnya memancarkan ketenangan. Ia menatap hangat putri tunggalnya.
"Ini akan menjadi kasus terakhir kita, Nak," ucap Harto pelan, mengedipkan matanya perlahan. "Setelah tugas ini selesai, kau harus pulang ke rumah."
"Lalu bagaimana dengan Ibu?" potong Bella cepat.
Harto menundukkan kepalanya, menyembunyikan getar emosi di matanya. "Mencari ibumu adalah takdir dan beban Ayah." Ia kembali menatap Bella tajam namun lembut. "Ayah tidak bisa membiarkanmu terus menanggung beban ini lagi."
"Ayah...!" gumam Bella menahan sesak.
Harto tidak ingin Bella terus mengorbankan masa depannya. Setelah ini selesai, ia ingin putrinya kembali ke kampung halaman dan menjalani hidup normal tanpa bayang-bayang masa lalu.
"Kau harus menjalani hidupmu sendiri," tegas sang ayah perlahan.
Bella mengerutkan kening. Kecewa dan cemas bercampur aduk. Bagaimana mungkin ia tega membiarkan ayahnya menanggung semua beban berat ini sendirian?
"Ini adalah yang terakhir..." gumam Harto menyuarakan ketetapan hatinya.
Malam makin pekat ketika Bella melangkah keluar dari penginapan. Tubuhnya terbungkus rapat oleh mantel cokelat tebal, syal yang melilit leher, serta topi hitam dan sarung tangan yang menutupi kulitnya.
Setelah menutup pintu rapat-rapat, ia membetulkan letak topinya. Bella menoleh ke sebelah kiri, menatap deretan bangunan khas Nusantara yang bercahaya hangat oleh lampu dari pintu dan jendela. Namun di balik bangunan itu, pandangannya tertuju pada sebatang pohon sakura dengan kelopak bunga yang sedang bermekaran indah.
Seketika gema suara Gilang kembali berbisik di ingatannya, “Sampai bunga sakura gugur,” lengkap dengan sorot mata pria itu yang kosong dan datar.
******
Sementara itu, di kediamannya, Bibi Sinta memperhatikan Gilang yang melangkah masuk ke ruang makan sambil mengusap tengkuknya yang pegal.
"Bagaimana pendapatmu tentang sepasang detektif tadi?" tanya Gilang seraya mengangkat sebelah tangannya, sedangkan tangan yang lain tenggelam di dalam saku celana. "Menurutmu... apakah mereka sehebat reputasinya?"
"Melihat dari cara mereka bicara, sepertinya mereka bukan amatiran, Mas," sahut Bibi Sinta sembari menatap Gilang.
Gilang menoleh ke arah jendela di sebelah kirinya, menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan.
Sampai bunga sakura gugur, batinnya pada diri sendiri, mengulang kalimat misterius itu.
****
Di tempat lain, Bella memantapkan hatinya. Langkah kakinya berayun cepat menuju area pohon sakura.
Suasana malam terasa amat sunyi di area jalanan berderet bangunan khas Jepang dan pepohonan hijau yang rindang. Bella menyelinap dengan sangat berhati-hati di balik pagar tanaman. Sesekali ia menoleh ke belakang penuh waspada, takut jika pergerakannya terendus orang lain.
Dari balik kerimbunan, matanya mengawasi dua orang petugas yang berdiri bersiaga di depan pintu masuk sasaran persembunyiannya.
Menunggu celah selama beberapa detik, Bella melompati tembok pembatas tanpa menimbulkan suara dan langsung memposisikan tubuhnya di balik batang pohon besar. Di hadapannya kini membentang bangunan bergaya arsitektur Jepang yang dikelilingi rindangnya pepohonan. Angin malam berembus pelan, menggoyangkan dedaunan dan menyamarkan derap pergerakannya.
Dengan gerakan lincah, cepat, dan senyap bagaikan seorang ninja, Bella berpindah dari satu balik pohon ke pohon lainnya menerobos kegelapan malam.
Dari balik pohon terakhir, ia menahan napas seraya memperhatikan dua orang penjaga yang mulai melangkah pergi meninggalkan pos.
"Sift berikutnya siapa yang jaga, ya?" tanya salah satu petugas dari kejauhan.
"Sepertinya Inoshita," sahut temannya.
"Oh, si anak baru itu?"
"Iya. Tapi dia kurang bisa diandalkan, sih."
Salah satu penjaga mendadak menghentikan langkah dan menoleh ke arah taman. Nalurinya menangkap gesekan halus seolah ada suara tersembunyi, namun karena tak melihat apa pun, ia memilih mengabaikannya dan melanjutkan berjalan.
Begitu celah terbuka, Bella mengintip cepat lalu melesat bagai kilat. Ia melompati tembok pembatas lainnya, mendarat mulus di atas atap bangunan bergaya Nusantara. Di atas genteng, ia berlari tanpa menyisakan jejak suara sedikit pun, persis seperti seorang assassin profesional.
Dari ketinggian genteng, pandangan Bella tertuju pada sebuah bangunan khas Jepang dengan pintu yang terbuka lebar.
Tampak punggung seorang wanita berkimono sedang duduk bersimpuh di dalam ruangan tersebut. Dengan cekatan, Bella merogoh saku mantelnya, mengeluarkan teropong monokular satu lensa, lalu menempelkannya ke mata.
Lewat lensa teropong, fokus Bella bergeser menyusuri ruangan lain. Ia menangkap sosok pria paruh baya yang juga mengenakan kimono yaitu sang Komisari Ichikawa. Pria itu tampak sibuk mengerjakan sesuatu sebelum akhirnya beranjak melangkah ke ruangan berbeda.
Lensa teropong Bella terus membuntut pergerakan Ichikawa, hingga pandangannya kembali beralih pada wanita berkimono tadi. Wanita itu masih duduk bersimpuh di lantai. Tanpa menoleh sedikit pun, wanita itu menyerahkan seamplop cokelat tebal berisi tumpukan uang kepada seorang pria berjas yang berdiri menunduk di sampingnya.
Pria berjas itu menerima amplop tersebut, bergegas memasukkannya ke dalam saku jas, lalu membungkuk penuh hormat.
Ketika pria berjas itu melangkah keluar, ia berpapasan dengan dua orang pelayan yang langsung membungkukkan badan memberi penghormatan khas Jepang. Di luar pintu utama, sebuah becak tradisional tarik jinrikisha sudah menunggunya. Pria berjas itu meletakkan topinya di dudukan lalu naik. Penarik becak pun ikut membungkuk hormat.
"Ayo jalan," perintah pria berjas itu singkat.
"Baik, Tuan," sahut si penarik becak seraya menggenggam erat dua bilah besi penarik.
Becak itu mulai melaju meninggalkan lokasi. Bella segera menurunkan teropongnya. Tanpa membuang waktu, ia berlari menuju ujung atap, melompat bebas lalu meluncur di atas genteng bangunan berikutnya. Kendati ada celah lebar yang memisahkan bangunan-bangunan itu, Bella melompat dari satu atap ke atap lain dengan pendaratan yang begitu presisi. tak ada satu pun genteng yang retak atau menimbulkan gemeretak.
Di bawah sana, becak penarik manusia itu terus melaju menyusuri jalanan malam yang sepi.
Srettt!
Bella melompat turun dari puncak atap menuju tanah tepat di area miring di belakang rute becak. Tubuhnya bertumpu rendah menahan benturan mendarat, lalu dalam sekejap ia melesat mengejar kendaraan tersebut.
Ia mengambil jalan pintas dengan menyusup ke balik gang sempit yang gelap. Dari celah gang, ia melihat becak melintas cepat. Bella kembali memacu kecepatannya.
Di balik bayang-bayang bangunan, Bella berlari sejajar dengan becak tradisional tersebut, menjaga jarak agar tidak mengundang kecurigaan.
Beberapa saat kemudian, becak itu berhenti. Bella langsung menarik diri, mengawasi dari jarak aman di balik kegelapan.
Penumpang pria berjas itu turun dan melangkah menaiki anak tangga.
Bella membuntutinya secara senyap, menuruni tangga jembatan yang berada di dekat sana. Dari sudut pandangannya, ia melihat pria berjas itu membungkuk memberi salam hormat khas Jepang kepada pria lain di dalam sebuah bangunan megah. Di samping pintu, seorang pelayan pria bergegas membukakan jalan. Pria berjas itu melangkah masuk, disusul oleh sang pelayan.
Dari balik pilar bangunan yang kokoh, Bella berdiri bergeming, mata tajamnya terus mengawasi setiap pergerakan di dalam sana tanpa terlewat satu detail pun.