Ini adalah cerita tentang seorang Putra Suci dari aliran lurus yang dikhianati gurunya sendiri. Tubuhnya dihancurkan dan tulangnya dicabut satu per satu sebelum ia dibuang hidup-hidup ke dasar Kegelapan.
Namun, ia tidak memilih mati.
Dengan sisa kekuatan yang dimilikinya, ia mencabut tulang fananya yang rapuh dan menggantinya dengan tulang para musuh yang telah ia bunuh.
Setiap tulang menjadi sumber kekuatan baru. Setiap rasa sakit membawanya selangkah lebih dekat pada jalan kultivasi yang menentang kehendak langit.
Di sisinya berdiri seorang iblis wanita yang menguasai Seni Darah. Dengan sihir terlarang itu, ia menyatukan kembali tubuh sang Putra Suci yang telah hancur dari dalam.
Bersama, mereka menapaki jalan berdarah menuju Surga Sembilan Lapis.
Ia tidak kembali untuk menuntut keadilan.
Ia kembali untuk mencabut tulang punggung para dewa dan menjadikannya singgasana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Racun Sembilan Kegelapan
Lonceng peringatan formasi tingkat tinggi menggema di seluruh Sekte Awan Ungu.
Seharusnya suara itu menjadi tanda bagi ribuan murid untuk menghunus pedang dan memburu penyusup. Namun malam itu, lonceng tersebut justru menjadi irama pembantaian yang berasal dari dalam sekte sendiri.
Kekacauan tidak datang dari luar kubah pertahanan.
Ia meledak di jantung asrama murid dan paviliun makan.
Beberapa jam sebelumnya, Xue Ling’er telah menyusup melalui aliran air bawah tanah. Tubuhnya berubah menjadi darah dan mengalir hingga mencapai mata air spiritual sekte.
Ia tidak memasukkan racun biasa.
Sebagai Sang Ratu Teratai Darah, Ling’er mencampurkan esensi Yin bawaan dengan Racun Sembilan Kegelapan, lalu menanamkannya ke dalam sumber air yang digunakan ribuan murid untuk berkultivasi.
Para kultivator Inti Emas dan Jiwa Baru Lahir mungkin masih mampu menekan racun itu dengan Qi murni. Namun bagi murid Kondensasi Qi dan Pembentukan Fondasi, air tersebut berubah menjadi kutukan yang langsung merusak tubuh dan meracuni meridian.
Di pelataran Asrama Timur, seorang murid muda yang baru saja menghunus pedang tiba-tiba jatuh berlutut.
Tangannya mencengkeram leher.
"Kakak Seperguruan! Apa yang terjadi?"
Belum sempat rekannya mendekat, murid itu mengangkat kepala.
Bagian putih matanya telah berubah hitam. Irisnya memancarkan cahaya merah darah, sementara urat-urat di leher dan wajahnya menghitam karena dipenuhi Racun Sembilan Kegelapan.
Rahangnya mendadak terbuka lebar.
Daging di sudut mulutnya terkoyak dan giginya memanjang menjadi taring bergerigi.
Dalam sekejap, ia menerkam murid di hadapannya.
Taringnya menancap ke leher sang korban.
Darah menyembur ke tanah.
"Ahhh!"
"Dia berubah menjadi monster!"
"Kakak Li menjadi iblis!"
Jeritan serupa segera terdengar dari berbagai penjuru sekte.
Ribuan murid tingkat rendah yang meminum air dari mata air spiritual mengalami perubahan yang sama. Tubuh mereka dipenuhi Racun, kesadaran mereka lenyap, dan yang tersisa hanyalah naluri untuk melahap darah serta Qi Yang dari orang hidup.
Monster Darah bermunculan di seluruh sekte.
Pembantaian pun pecah.
Para murid Inti Emas yang sebelumnya diperintahkan memburu Mo Xie kini terpaksa menghunus pedang untuk menghadapi adik-adik seperguruan mereka sendiri.
Jalan-jalan batu dipenuhi darah.
Formasi pertahanan internal mulai kacau karena para penjaganya terbunuh atau sibuk mempertahankan diri. Dalam waktu singkat, pertahanan Sekte Awan Ungu runtuh dari dalam.
Ling’er telah menghancurkan fondasi sekte tanpa perlu menyentuh gerbangnya.
Di tengah kekacauan itu, Mo Xie berjalan santai melintasi alun-alun utama.
Jubah abu-abunya terbuka, memperlihatkan dada pucat yang kini dilindungi Sangkar Besi Sembilan Kutukan. Cakar obsidian Lengan Harimau Kegelapan masih meneteskan darah Lu Feng.
Beberapa Monster Darah yang kehilangan akal mencoba menerkamnya.
Namun sebelum mereka mendekat, bayangan Mo Xie bergerak.
Benang-benang darah hitam muncul dari tanah, melilit leher para monster dan menyeret mereka hingga berlutut.
Tak satu pun berani menyerang.
Di hadapan ciptaan Ling’er, Mo Xie adalah penguasa yang lebih tinggi daripada naluri mereka sendiri.
Mo Xie terus berjalan hingga tiba di tengah alun-alun.
Di hadapannya berdiri patung besar pendiri Sekte Awan Ungu.
Ia berhenti di sana dan menunggu.
Tak lama kemudian, dua pilar cahaya spiritual turun dari langit dan menghantam alun-alun.
Boom!
Batu pecah dan debu membubung ke udara.
Dua sosok keluar dari dalam kawah.
Komandan Biao, pria bertubuh kekar, menggenggam tombak perang besar berwarna merah darah. Di sampingnya berdiri Komandan Feng dengan sepasang pedang pendek yang diselimuti Qi angin.
Keduanya merupakan kultivator Jiwa Baru Lahir Awal sekaligus dua komandan terakhir yang menjaga Sekte Awan Ungu.
Wajah mereka dipenuhi amarah ketika melihat sekte yang mereka lindungi telah berubah menjadi lautan darah.
"Kau... !"
Suara Biao mengguncang alun-alun.
"Kau mengubah murid-murid kami menjadi monster Sembilan Kegelapan! Dan aura kematian Lu Feng... Kau membunuhnya di Paviliun Utara!"
Mo Xie hanya memiringkan kepala. Tatapannya dingin dan kosong.
"Dia bahkan tidak sempat menjerit saat jantungnya kuremukkan."
Senyum tipis muncul di wajahnya. "Semoga kalian berdua lebih pandai berteriak."
"Mati kau,!"
Feng bergerak lebih dahulu.
Tubuhnya berubah menjadi bayangan angin dan menghilang dari pandangan.
Pada saat yang sama, Biao melompat ke udara. Tombak perangnya terangkat tinggi lalu menebas kepala Mo Xie dengan kekuatan yang sanggup membelah gunung.
Dua serangan datang bersamaan.
Mo Xie tidak menghindar.
Ia bahkan tidak mengangkat Lengan Kera Iblis. Ia hanya berdiri tegak dan membiarkan dadanya terbuka.
Feng melihat celah itu. "Kesombonganmu akan membunuhmu!"
Sepasang pedangnya melesat menuju jantung Mo Xie.
Trang!
Suara benturan menggema.
Pedang Feng berhenti setelah menembus kulit Mo Xie.
Darah hitam mengalir dari luka kecil di dadanya. Namun bilah itu tidak mampu menembus lebih jauh.
Di balik daging yang terkoyak, sembilan tulang rusuk abu-abu gelap membentuk sangkar kokoh yang melindungi organ dalamnya.
Sangkar Besi Sembilan Kutukan.
Retakan halus mulai menjalar di sepanjang bilah pedang Feng.
Wajahnya berubah. "Apa... tulang apa itu?"
Mo Xie menoleh.
Sebelum Feng sempat mundur, Lengan Harimau Kegelapan bergerak.
Krak!
Cakar obsidian mencengkeram pergelangan tangannya dan meremukkannya. Pecahan tulang mencuat dari daging.
Pada saat yang sama, tombak Biao telah tiba tepat di atas kepala Mo Xie.
Mo Xie bahkan tidak menoleh.
Lengan Kera Iblis terangkat.
Telapak logam kelabu itu menangkap mata tombak dengan satu tangan.
Boom!
Tanah di bawah kaki Mo Xie retak dan amblas.
Namun tubuhnya tetap tegak.
Tombak seorang kultivator Jiwa Baru Lahir Awal tidak mampu bergerak sedikit pun.
Biao yang masih berada di udara menatap dengan ngeri.
Kecepatan Harimau Kegelapan.
Kekuatan Kera Iblis.
Pertahanan Sangkar Besi Sembilan Kutukan.
Tubuh Mo Xie telah berubah menjadi senjata pembunuh yang sulit dipahami akal sehat.
"Sekarang giliranku."
Mo Xie menarik tangannya.
Tombak itu ikut tertarik bersama pemiliknya.
Biao kehilangan keseimbangan dan tubuh besarnya langsung dihantam ke tanah.
Bam!
Batu dihadapannya pecah.
Darah menyembur dari mulutnya.
Mo Xie melepaskan Feng lalu mengepalkan Lengan Kera Iblis.
"Hantaman Pemecah Langit."
Namun tepat sebelum tinjunya menghantam Biao, dunia mendadak membeku.
Debu berhenti di udara.
Darah yang baru saja menyembur menggantung tanpa bergerak.
Raungan Monster Darah di kejauhan lenyap. Bahkan angin pun berhenti.
Ruang di sekitar mereka berubah menjadi penjara tak kasatmata yang mengunci segala sesuatu.
Di dalam dada Mo Xie, Tulang Emas bergetar keras.
Ia mencoba mengalirkan Qi untuk melawan tekanan tersebut. Namun Domain Penghancur Gunung di bawah kakinya hancur dalam sekejap.
Tekanan itu terlalu kuat, Jauh melampaui kekuatan Jiwa Baru Lahir.
Langit malam tiba-tiba terbelah.
Kabut beracun di atas Sekte Awan Ungu terpisah dan membentuk celah panjang, memperlihatkan hamparan bintang di baliknya.
Tekanan spiritual yang mengerikan turun dari langit.
Daun-daun di hutan sekitar sekte berguguran serentak.
Ratusan Monster Darah yang berada terlalu dekat bahkan langsung meledak menjadi kabut darah.
Kemudian seseorang melangkah keluar dari celah langit.
Seorang pria berambut putih keperakan berjalan turun seolah sedang menapaki tangga yang tidak terlihat.
Setiap langkahnya membuat ruang bergetar.
Matanya memancarkan kilatan Pedang Dao yang begitu tajam hingga seolah mampu menebas jiwa dari kejauhan.
Leluhur Pedang Pembelah Angin, Jian Feng.
Penguasa Transformasi Ilahi dari Istana Dao Surgawi.
Ia akhirnya tiba.
Tekanan auranya menimpa seluruh alun-alun, bahkan tubuh Mo Xie terdorong ke bawah.
Lututnya berderak.
Otot-otot kakinya menegang hingga terasa hampir robek.
Untuk pertama kalinya sejak memasuki Sekte Awan Ungu, Mo Xie merasakan tekanan yang benar-benar mampu menghancurkan tubuhnya.
Ia mengangkat kepala perlahan.
Tatapannya bertemu dengan Jian Feng yang melayang di langit.
Jarak antara Jiwa Baru Lahir dan Transformasi Ilahi akhirnya terbentang jelas di hadapannya.
Bahkan tubuh yang telah ditempa oleh tulang iblis mulai merasakan ancaman kehancuran.
Namun mata Mo Xie tidak menunjukkan rasa takut.
Sebaliknya, perlahan senyum muncul di wajahnya.