Pernikahan kami sempurna. Harta, takhta, dan sepasang anak kembar yang rupawan telah kami miliki. Sebagai sesama pemilik perusahaan, aku dan Mas Hanif adalah definisi pasangan ideal di mata dunia.
Namun, kesempurnaan itu runtuh saat Mas Hanif meminta izin untuk menikah lagi. Didukung oleh ibu mertuaku, seorang wanita polos datang dan mengaku siap berjuang dari bawah bersamanya.
Dunia mengira aku akan mengamuk. Nyatanya, di balik anggunnya hijabku, aku justru tersenyum tenang. Aku mengiyakan, bahkan mengantarnya langsung ke pelaminan maduku.
Mereka pikir aku pasrah? Salah besar.
Sebelum melepasnya, sebuah perjanjian gono-gini rahasia telah kutandatangani bersama Mas Hanif. Lewat strategi bisnis yang rapi, perlahan akan kutarik semua aset dan kejayaan yang menyokongnya selama ini.
Katanya siap berjuang dari bawah? Silakan nikmati perjuangan itu tanpa sepeser pun sisa hartaku. Selamat datang di skenario dendam manisku!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
Aroma ayam kecap yang manis dan sambal bajak yang menggugah selera memenuhi ruang makan rumah Ibu mertua siri itu. Namun, bagi Hanif, makanan di piringnya mendadak terasa hambar. Rasa pusing di kepalanya yang sempat mereda saat disambut manja oleh Sarah, kini kembali berdenyut samar ketika bayangan berkas pinjaman bank dan penolakan keluarga tirinya membayangi pikiran.
Di seberang meja, Sarah duduk dengan anggun, sesekali menyuapkan makanan ke mulutnya dengan gerakan lembut yang dibuat-buat agar terlihat seperti wanita ningrat yang santun. Sementara itu, Ibu tiri Sarah yang malam ini ikut menumpang makan duduk di samping Ibu kandung Hanif, Ibu Rahma. Kedua wanita paruh baya itu tampak saling melempar senyum penuh arti sejak Hanif duduk di sana.
"Oh iya, Hanif," Ibu Rahma membuka suara setelah menyeka bibirnya dengan tisu. "Tadi siang Sarah cerita kalau kamu sudah mentransfer uang delapan puluh juta untuk mahar untuk membeli set perhiasan berliannya. Ibu senang sekali mendengarnya. Kamu memang anak Ibu yang bertanggung jawab dan royal pada istri. Calon istri muda itu memang harus dimuliakan dengan emas dan berlian, biar tidak kalah saing dengan perempuan kantoran."
Ibu Sarah ikut menimpali dengan tawa kecil yang terdengar culas di telinga siapa pun yang berakal sehat. "Iya, Nak Hanif. Terima kasih banyak, ya. Saya tadi sempat khawatir Sarah dibilang matre karena memilih set perhiasan yang harganya lumayan. Tapi ya bagaimana, namanya juga pernikahan sekali seumur hidup untuk Sarah, tentu harus berkesan. Tetangga-tetangga di kampung juga biar tahu kalau Sarah dinikahi oleh pengusaha sukses kelas kakap."
Sarah memang tadi membeli set perhiasan di antar oleh ibunya Hanif dan ibunya sendiri lalu mengajak ibunya Sarah dan Sarah untuk kerumah ibunya Hanif.
Hanif memaksakan sebuah senyuman tipis, menyembunyikan fakta bahwa tabungan pribadinya kini tersisa angka kritis akibat transferan tersebut. "Sama-sama, Bu. Bagi saya, delapan puluh juta itu bukan masalah besar selama Sarah dan Ibu senang. Yang penting pernikahan kita minggu depan berjalan lancar tanpa ada hambatan."
"Pasti lancar, Mas," bisik Sarah manja sambil menyentuh lengan Hanif di bawah meja. "Sarah sudah tidak sabar ingin mengabdi sepenuhnya pada Mas Hanif."
Ibu Rahma (ibunya Hanif) tersenyum bangga melihat kemesraan itu. Namun, raut wajah tua yang dipenuhi kerutan itu mendadak berubah menjadi serius. Ada satu hal penting yang sejak sore mengganjal di pikirannya, sesuatu yang menyangkut gengsi dan kenyamanan hidupnya setelah anaknya beristri dua.
"Nah, bicara soal pernikahan minggu depan, ada satu hal lagi yang krusial, Nif," ujar Ibu Rahma, memajukan tubuhnya ke arah meja makan. "Masalah mahar sudah beres. Sekarang, bagaimana dengan masalah rumah? Kemarin kan waktu si Hanum kita panggil ke rumah ini, kita sudah sempat singgung sedikit soal pembagian aset dan rumah mewah yang kalian tempati sekarang. Ibu mau tanya, bagaimana hasil pastinya tadi pagi dengan pengacaranya si Hanum? Bagian rumah yang mana yang resmi jadi milikmu secara hukum? Kamar utama atau paviliun belakang yang mau kamu renovasi untuk ditempati bersama Sarah nanti?"
Pertanyaan beruntun dari ibunya seketika membuat sendok di tangan Hanif berdenting keras menabrak piring porselen. Tubuh Hanif menegang kaku. Pertanyaan itu laksana pisau yang menguliti kembali luka harga dirinya yang baru saja dihancurkan oleh Pak Baskoro beberapa jam yang lalu.
Hanif meletakkan sendoknya, menarik napas dalam-dalam, lalu menatap ibunya dengan tatapan kuyu yang dipenuhi rasa frustrasi.
"Aku tidak dapat apa-apa, Bu," jawab Hanif dengan suara lirih, nyaris seperti bisikan putus asa.
"Apa?!"
Ibu Rahma langsung terlonjak dari kursinya, matanya membelalak lebar seolah baru saja mendengar petir di siang bolong padahal hal ini kemarin memang sudah di bahas oleh Hanum akan tetapi saat ini ada calon besannya jadi ibu Rahma harus berakting. Wajahnya yang tadi dihiasi senyum kebanggaan seketika berubah pucat lalu memerah padam akibat syok yang luar biasa. Bahkan, Sarah dan ibunya pun menghentikan kunyahan mereka, menatap Hanif dengan pandangan tidak percaya.
"Jangan bercanda kamu, Hanif!" bentak Ibu Rahma, suaranya meninggi hingga menggema di ruang makan. "Tidak dapat apa-apa bagaimana maksudmu?! Rumah mewah tiga lantai bergaya klasik di kawasan elit itu, yang halamannya seluas lapangan bola, kamu tidak dapat bagian sepeser pun?! Mobil-mobil mewah koleksimu yang berjejer di garasi itu juga tidak ada yang jatuh ke tanganmu?!"
Hanif memijat pangkal hidungnya yang terasa sangat pening. "Tadi pagi pengacara Hanum membawa surat perjanjian pasca-nikah yang sudah berkekuatan hukum tetap, Bu. Hanum mengunci semua aset Amara Modest. Dan yang lebih parah... seluruh aset bergerak dan tidak bergerak yang selama ini kita nikmati di bawah atap rumah itu, mulai dari bangunan, perabotan, barang seni, sampai tiga mobil mewah koleksiku... semuanya telah dialihkan kepemilikannya oleh Hanum."
"Dialihkan ke siapa?! Ke nama dia semua iya?!" cecar Ibu Rahma dengan dada kembang kempis menahan amarah yang meluap-luap.
"Bukan, Bu. Dialihkan langsung atas nama Kayla dan Kenzie. Hanum hanya bertindak sebagai wali sah sampai anak-anak dewasa. Jadi secara hukum asal... aku telanjang secara finansial di rumah itu. Aku tidak punya hak milik sepeser pun atas rumah dan mobil-mobil itu lagi," jelas Hanif dengan nada penuh tekanan, menahan malu di depan calon mertua barunya.
Mendengar penjelasan itu, Ibu Rahma mendadak merasa lemas dan kembali terduduk di kursinya. Wajahnya dipenuhi rasa tidak percaya sekaligus dongkol yang teramat sangat pada menantu pertamanya.
"Hanum... benar-benar perempuan ular yang licik!" umpat Ibu Rahma, tangannya menggebrak meja makan dengan gemas. "Bagaimana bisa dia sekejam itu pada suaminya sendiri?! Padahal waktu kita panggil dia ke rumah ini kemarin, pembicaraan soal berbagi rumah dan madu ini sudah jelas dibahas! Dia diam saja kan waktu itu? Ibu pikir dia setuju untuk membagi sebagian hartanya untuk kenyamanan pernikahan keduamu! Ternyata di belakang kita, dia menyiapkan pengacara untuk memiskinkan anak laki-lakiku?!"
Sarah yang duduk di samping Hanif mendadak merasa dunianya agak goyang. Bayangan awal untuk langsung pindah ke rumah mewah bak istana dan pamer menumpangi mobil sport milik Hanif pasca-menikah minggu depan seketika buyar. Wajahnya berubah muram, meskipun dia mencoba menahannya agar tetap terlihat sebagai wanita yang tulus.
"Lalu... bagaimana dengan nasib pernikahan kita minggu depan, Mas?" tanya Sarah dengan suara yang dibuat bergetar, matanya mulai berkaca-kaca menatap Hanif, akting sedihnya mulai keluar. "Kalau Mas Hanif tidak punya rumah pribadi... kita setelah menikah mau tinggal di mana? Pabrik Mas juga katanya lagi goyang... Sarah tidak apa-apa hidup sederhana, Mas, tapi Sarah takut menyusahkan Ibu jika harus terus menumpang di sini setelah kita sah..."
Melihat air mata calon istri mudanya yang mulai menggenang, ego Hanif kembali tercabik-cabik. Dia merasa gagal menjadi pria pelindung. Dia buru-buru menggenggam erat tangan Sarah. "Jangan menangis, sayang. Mas berjanji tidak akan membiarkan kamu hidup telantar. Besok pagi Mas akan mengurus pinjaman besar ke bank. Mas akan usahakan agar kita bisa segera membeli rumah baru yang tidak kalah mewah dari rumah itu. Percayalah pada Mas."
Ibu Rahma yang otaknya dipenuhi kelicikan dan kelicikan materi, mendadak menatap anaknya dengan pandangan tajam. Pikirannya berputar cepat, mencari celah dari situasi pelik ini. Mengajukan pinjaman ke bank di saat pabrik sedang goyang adalah hal yang berisiko, dan Ibu Rahma tidak mau anak laki-lakinya menderita kerugian lebih dalam hanya untuk urusan sewa properti.
Sebuah ide gila, picik, dan teramat tidak tahu malu mendadak melintas di kepala tua Ibu Rahma. Sebuah senyuman culas kembali terukir di sudut bibirnya yang keriput.
"Tunggu dulu, Hanif. Kenapa kamu harus pusing-pusing memikirkan pinjaman bank hanya untuk urusan tempat tinggal? Kenapa kamu dan Sarah harus keluar dari rumah itu?" tanya Ibu Rahma dengan nada suara yang mendadak berubah santai, seolah-olah idenya adalah solusi paling jenius di dunia.
Hanif mengernyitkan dahi bingung. "Maksud Ibu apa? Bukankah tadi aku sudah bilang kalau rumah itu sudah dialihkan atas nama anak-anak dan dikuasai penuh oleh Hanum?"
"Astaga, Hanif! Kamu itu kadang-kadang terlalu lurus jadi laki-laki," cibir Ibu Rahma sambil mengibaskan tangannya di udara. "Coba kamu pakai logikamu yang jernih. Biar saja rumah itu atas nama Kayla dan Kenzie, toh mereka itu anak kandungmu sendiri, darah dagingmu sendiri! Dan yang paling penting, status hukum mu saat ini sampai minggu depan... bukankah kamu masih menjadi suami sah dari Hanum? Kamu belum bercerai dengannya, kan?"
"Belum, Bu. Kami hanya menandatangani perjanjian pemisahan harta, bukan surat cerai," jawab Hanif lambat, mulai menerka arah pembicaraan ibunya.
"Nah! Itu dia kuncinya!" seru Ibu Rahma dengan mata berbinar culas. "Lagian rumah si Hanum itu kan sangat besar, kamarnya melimpah, ada paviliun samping yang luas dan kosong tidak terpakai. Kamu itu suaminya, kepala rumah tangga yang sah di mata hukum dan agama. Kamu punya hak mutlak untuk tinggal di bawah atap yang sama dengan istri sah mu!"
Ibu Rahma menjeda kalimatnya, menatap Sarah yang kini mulai mendengarkan dengan saksama dengan binar harapan baru di matanya.
"Ibu usulkan, setelah pernikahanmu dengan Sarah minggu depan selesai, kamu langsung bawa Sarah masuk dan tinggal di rumah besar itu!" ujar Ibu Rahma tanpa rasa malu sedikit pun. "Tinggal saja di paviliun samping atau kamar lantai dua yang kosong. Lagian, rumah itu besar sekali, Hanum tidak akan kekurangan ruang hanya karena ada Sarah di sana."
Hanif tertegun, teringat kata-kata meremehkan dari Pak Baskoro tadi pagi yang menantangnya untuk meminta izin langsung pada Hanum. "Tapi, Bu... apa Hanum tidak akan mengamuk jika aku membawa Sarah tinggal di sana? Tadi pagi saja pengacaranya sudah menatapku seolah-olah aku ini makhluk paling menjijikkan karena menyinggung masalah ini."
"Peduli setan dengan pengacaranya atau amukan si Hanum!" dengus Ibu Rahma bersikap acuh tak acuh. "Dia mau mengamuk seperti apa? Di mata agama, poligami itu sah dan ibadah. Di mata hukum, kamu masih suaminya yang punya hak tinggal di rumah itu. Kalau dia berani mengusir suaminya sendiri dan madunya yang sah, dia yang akan terlihat buruk di mata publik dan kolega bisnisnya! Gengsi si Hanum itu kan tinggi, dia pasti akan berpikir dua kali untuk membuat keributan di lingkungan elit itu."
Ibu Rahma memajukan tubuhnya lagi, memberikan wejangan beracun yang dibungkus dengan dalih agama kepada anak laki-lakinya yang sudah buta itu.
"Lagipula, Hanif... ini juga demi kebaikan anak-anakmu, Kayla dan Kenzie," lanjut Ibu Rahma dengan nada suara yang dibuat-buat seolah dia adalah nenek yang sangat bijaksana dan penuh kasih sayang. "Anak-anak kembar itu harus tahu sejak dini bahwa mereka sekarang punya dua orang Ibu. Mereka harus tahu kalau mereka punya Bunda dua! Biarkan Sarah tinggal di sana agar dia bisa ikut merawat Kayla dan Kenzie, menunjukkan kasih sayangnya sebagai Ibu kedua yang tulus. Dengan begitu, anak-anak tidak akan terasing dari keluarga barumu."
Sarah yang mendengar ide dari calon ibu mertuanya itu seketika tersenyum lebar di dalam hati. Menempati paviliun di rumah mewah milik Hanum, dilayani oleh pembantu-pembantu di sana, dan perlahan menggeser posisi Hanum dari dalam rumah itu sendiri adalah skenario mimpi yang teramat indah baginya.
"Iya, Mas Hanif..." Sarah menimpali dengan nada suara yang teramat lembut, memasang wajah polos tanpa dosa andalannya. "Sarah ikhlas kok kalau harus tinggal satu atap dengan Mbak Hanum. Sarah janji akan menghormati Mbak Hanum sebagai istri tua, dan Sarah juga ingin sekali menyayangi Kayla dan Kenzie seperti anak Sarah sendiri. Sarah ingin membantu Mbak Hanum mengurus rumah yang besar itu agar Mbak Hanum tidak terlalu lelah sepulang dari kantor."
Mendengar dukungan penuh dari ibunya dan keikhlasan palsu dari Sarah yang terlihat begitu mulia di matanya, keraguan di hati Hanif seketika sirna tanpa sisa. Logikanya yang sudah lumpuh total oleh ego dan asmara buta kini sepenuhnya menerima ide picik tersebut. Dia merasa apa yang dikatakan ibunya adalah kebenaran yang mutlak. Statusnya yang masih suami sah Hanum adalah tameng hukum yang paling kuat untuk membawa Sarah masuk ke dalam istana milik istrinya sendiri.
"Ibu benar," ucap Hanif, rahangnya mengencang, memancarkan keyakinan semu yang bodoh. "Rumah itu terlalu besar untuk Hanum sendirian dengan anak-anak. Aku masih suaminya, dan aku punya hak atas kenyamanan tempat tinggal di sana. Masalah anak-anak juga benar... Kayla dan Kenzie harus belajar menerima kenyataan bahwa mereka memiliki Bunda dua sekarang. Sarah adalah bagian dari keluarga ini mulai minggu depan."
Hanif menatap Sarah dengan pandangan penuh rasa terima kasih dan cinta yang mendalam. "Terima kasih ya, sayang, karena kamu sudah begitu pengertian dan mau mengalah demi kebaikan kita bersama. Minggu depan, setelah akad nikah kita selesai, Mas sendiri yang akan membawa kamu melangkah masuk ke rumah itu sebagai nyonya kedua."
"Sama-sama, Mas Hanif sayang," jawab Sarah dengan senyuman manis, menyembunyikan kilat kemenangan dan keserakahan yang menyala-nyala di balik pelupuk matanya.
Di ujung meja, kedua wanita paruh baya itu kembali saling melempar senyum penuh kelicikan, merasa telah berhasil menyusun strategi sempurna untuk merongrong kehidupan Hanum. Mereka bertiga benar-benar telah buta oleh keserakahan dan ilusi kemenangan semu, sama sekali tidak menyadari bahwa di luar sana, Hanum tidak lagi memiliki sedikit pun rasa cinta atau toleransi untuk Hanif. Dan membawa Sarah masuk ke rumah itu bukanlah langkah menuju istana kebahagiaan, melainkan langkah kaki sukarela Hanif masuk ke dalam jebakan hukum dan kehancuran total yang telah Hanum rancang dengan sangat rapi dan tanpa ampun.
blng aja pgn d tmani mkn gt,ga ush ngeles sna sni....gengsi aja d gdein.....🙄🙄🙄
kalo mau ngajak makan bareng lngsung aj ngomong ,, gx usah gengsi gtuuu🤣🤣🤣🤣
Yg gengsiny stnggi gunung.....kt tau lh kl situ holang kaya,ya kali kelaparan.....🤣🤣🤣....
bkannya bruntung pnya istri cntik,mndiri,kaya raya pula...d tmbh kluarga yg mau nrima dia...
ni mlah ngelunjak...d kira dnia bkln kiamat kali kl hanum ga sm dia....
ccckkk.....🙄🙄🙄
udh emnk si hanif ,, seharusny tnggal di tempat yg skrang ,, gx cocok dy tnggal di rumah mewaah ,,
🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
aku setuju banget klo mereka bersatu, biar Hanif semakin merana....
semangat thor, ceritanya bagus banget
Dr kulkas 6 pntu,jd cair kl sm ponakannya....