Ulfa Apriyani (Ketua OSIS, perfeksionis, anti-kriminal) harus menelan pil pahit saat dijodohkan paksa dengan musuh bebuyutannya, Langit Pradipta (Kapten Basket, bad boy, biang onar).
Masalahnya, Langit sudah punya pacar yang sama populernya: Zara Aprilia (Kapten Cheerleader).
Di sekolah mereka perang dingin, di rumah mereka terpaksa tinggal satu atap.
Awalnya Langit cuek dan kasar karena menjaga hati Zara, tapi perlahan, pesona ketegasan Ulfa mulai meruntuhkan tembok ego Langit.
Saat Langit mulai jatuh cinta, rahasia pernikahan mereka bocor. Badai besar pun dimulai, memaksa Langit harus memilih antara ego masa mudanya atau kehilangan Ulfa selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jebakan Zara & Hati Yang Terluka 26.
Bel pulang sekolah baru saja berbunyi dua menit lalu, tapi koridor kelas dua belas sudah seperti pasar malam. Riuh, padat, dan penuh kepulan debu tipis dari sepatu-sepatu yang bergesekan dengan lantai. Di antara lautan seragam putih-abu-abu itu, Zara berjalan dengan langkah santai namun penuh percaya diri. Tujuannya satu yaitu kelas XII MIPA 3.
Zara tahu persis siapa yang dia cari. Bukan pacarnya, Langit. Melainkan Ulfa, ketua osis yang belakangan ini terasa punya "jarak misterius" dengan Langit.
Naluri Zara sebagai pacar mengatakan ada yang tidak beres, meski dia belum tahu kalau Ulfa dan Langit sebenarnya sudah terikat pernikahan rahasia akibat wasiat keluarga. Zara hanya ingin menguji ombak.
Di ambang pintu MIPA 3, Zara langsung menangkap sosok Ulfa yang sedang memasukkan buku binder kumal ke dalam tasnya.
Di sudut lain, Langit sedang memakai jaket denimnya sambil tertawa mendengar guyonan temannya.
"Ulfa!" panggil Zara setengah berteriak, memotong kebisingan kelas.
Ulfa mendongak, matanya agak membulat. Langit yang mendengar nama itu disebut, langsung menghentikan tawa. Gerakan tangannya yang sedang merapikan kerah jaket mendadak kaku, walau hanya sedetik.
"Iya Zara? Ada apa?" Ulfa tersenyum canggung, merapatkan tas ranselnya ke dada.
Zara menghampiri meja Ulfa dengan senyum manis yang kelewat ramah. "Lo pulang naik apa, Ul? Rumah lo seingat gue kan searah sama rumah nya Langit. Bareng kita aja, yuk? Kebetulan hari ini Langit masih pakai mobil papanya. Dari pada lo nunggu ojek online mahal jam segini."
Ulfa langsung melirik Langit lewat sudut matanya. Langit tampak datar, menatap layar ponselnya seolah-olah tidak peduli, padahal ibu jarinya bergerak gelisah di atas layar yang mati.
"Nggak usah, Ra. Ngerepotin. Gue bisa naik angkot kok," tolak Ulfa halus, berusaha menyembunyikan getar gugup di suaranya. Dia tahu betul posisinya. Di sekolah, dia bukan siapa-siapa bagi Langit.
"Ih, nggak ngerepotin sama sekali tahu!" Zara langsung menyambar pergelangan tangan Ulfa, sedikit menariknya. "Iya kan, Sayang? Ulfa bareng kita aja, ya? Kasihan panas-panasan."
Langit mendongak, menatap Zara, lalu pandangannya bergeser ke Ulfa selama setengah detik—tatapan dingin yang mengisyaratkan peringatan. "Ya. Masuk aja. Daripada lo bikin Zara ribet ngebujuk lo."
Kalimat Langit barusan terdengar santai, tapi bagi Ulfa, itu seperti tamparan pelan.
Akhirnya, dengan berat hati dan jebakan situasi yang dibuat Zara, Ulfa terpaksa mengangguk setuju.
**
Suasana di dalam mobil Honda Civic hitam milik papa Langit terasa sangat mencekam bagi Ulfa, walau dari luar tampak normal.
Zara duduk di kursi depan, di samping Langit yang menyetir. Sementara Ulfa duduk sendirian di kursi belakang, menatap keluar jendela, mencoba memosisikan diri bak hantu yang tidak eksis.
Begitu mobil membelah jalan raya yang mulai macet, pertunjukan dimulai.
Langit, yang biasanya menyetir dengan fokus dan agak cuek, tiba-tiba mengubah tabiatnya.
Dia sengaja ingin menepis badai kebingungan di dalam dadanya. Belakangan ini, kehadiran Ulfa di rumah mulai mengusik pikirannya. Dia benci fakta bahwa dia mulai peduli pada Ulfa. Jadi, untuk menyangkal perasaan asing itu, Langit memutuskan untuk menjadi "pacar terbaik" bagi Zara di depan mata Ulfa.
"Haus nggak, Ra? Itu di cup holder ada matcha latte yang gue beli tadi siang sebelum kelas dimulai. Belum gue minum kok. Buat lu aja ya," ucap Langit dengan suara yang sengaja dilembutkan, jauh lebih lembut dari biasanya.
Zara menoleh, matanya berbinar. "Serius? Kok tahu banget gue lagi pengen yang manis-manis?"
"Tahu dong. Apa sih yang gue nggak tahu tentang lo?" Langit mengulurkan tangan kirinya, mengacak-acak rambut depan Zara dengan gemas, lalu membiarkan tangannya mendarat di puncak kepala Zara selama beberapa saat. Mata nya tetap menatap jalanan, tapi senyumnya mengembang lebar.
Di kursi belakang, Ulfa merasakan dadanya mendadak sesak. Jemarinya meremas tali tas ranselnya dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Interaksi di depannya terasa begitu nyata, begitu intim, dan sah.
Sementara dia? Di rumah, Langit jarang bicara manis. Jangankan mengacak rambut, menatap matanya saat makan malam saja Langit enggan.
Gue cuma istri di atas kertas, Ulfa. Sadar diri,
dalam hati Ulfa, mencoba mengobati luka yang mulai berdarah egois di dalam sana.
"Oh iya, Yang, Sabtu ini jadi kan kita nonton konser?" tanya Zara sengaja meninggikan volume suaranya, melirik kaca spion tengah untuk melihat reaksi Ulfa. Namun, Ulfa hanya menatap keluar jendela, wajahnya terpantul di kaca dengan ekspresi kosong yang sialnya terlihat sangat menyedihkan.
"Jadi, Sayang. Apa sih yang nggak buat lo," jawab Langit. Kata 'Sayang' itu sengaja ditekankan oleh Langit. Dia melirik spion tengah, sengaja ingin melihat apakah Ulfa terpengaruh.
Ketika mata Langit bertemu dengan pantulan mata Ulfa yang berkaca-kaca di spion, ada kedutan instan di rahang Langit. Hati kecilnya mencelos. Ada rasa bersalah yang mendadak menghantam dadanya seperti batu besar. Dia tahu dia keterlaluan.
Namun, alih-alih berhenti, ego Langit justru menolak kalah. Dia malah meraih tangan kiri Zara yang bebas, menggenggamnya erat di atas persneling mobil, lalu mengecup punggung tangan Zara sekilas tanpa melepaskan pandangan dari jalan.
"Langit, ih! Malu tahu, ada Ulfa di belakang!" bisik Zara dengan rona merah di pipi, meski sebenarnya dia merasa menang. Jebakannya berhasil. Dia bisa melihat atmosfer tidak nyaman di antara mereka berdua, walau dia belum bisa menyimpulkan apa hubungan sebenarnya antara pacarnya dan si ketua osis itu.
"Nggak apa-apa, Ulfa kan temen lo juga waktu SMP. Dia nggak bakal keberatan," sahut Langit dingin, kata-katanya terdengar santai tapi penuh racun yang menusuk tepat ke ulu hati Ulfa.
Ulfa memejamkan matanya rapat-rapat. Air mata yang sejak tadi ditahannya hampir saja lolos. Dia menggigit bibir bawahnya sendiri demi menahan isakan agar tidak lolos ke udara.
Rasa sakitnya bukan karena Langit menyayangi Zara—karena sejak awal dia tahu Zara adalah ratunya Langit. Rasa sakitnya berasal dari kenyataan bahwa Langit sengaja menggunakan dirinya sebagai penonton dalam sandiwara romantis ini, hanya untuk mempertegas batas di antara mereka.
Di dalam mobil yang sejuk oleh AC itu, Ulfa merasa terbakar oleh api cemburu dan penolakan yang paling sunyi. Dan bagi Langit, setiap tawa yang dia bagikan dengan Zara sore itu, perlahan-lahan terasa seperti beban berat yang mencekik lehernya sendiri.
.
......................
...****************...
Tbc,
sekarang gimna rasanya jatuh sejatuh"nya🥳🥳