NovelToon NovelToon
Pernikahan Kontrak Seharga Warisan

Pernikahan Kontrak Seharga Warisan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Identitas Tersembunyi
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Rey 18

Demi menyelamatkan seluruh aset perusahaan peninggalan almarhum ayahnya, Maya diwajibkan oleh surat wasiat kakeknya untuk menyerahkan Buku Nikah sebelum batas waktu jam lima sore. Ketika mantan tunangannya berkhianat akibat suap dari sang paman dan waktu tersisa kurang dari satu jam, Maya nekat menarik seorang pria berkaus oblong lusuh di tepi jalan untuk diajak menikah kontrak di KUA dengan imbalan lima ratus juta rupiah.
​Maya mengira suami barunya, Arka, hanyalah seorang buruh serabutan miskin. Namun, setiap kali pamannya berusaha menjatuhkan Maya, skema jahat itu selalu hancur secara beruntun lewat bantuan misterius. Maya tidak pernah menyadari bahwa pria sederhana yang tinggal di rumahnya itu adalah Arka Nusantara, CEO penguasa konsorsium bisnis terbesar di kota ini yang sengaja menyamar demi melindunginya dari balik layar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey 18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Serangan Balik yang Terencana

Pagi berikutnya, ketegangan di gedung kantor pusat Wibowo Group belum juga membaik. Kabar tentang taruhan gila yang diucapkan oleh suami serabutan Maya di ruang rapat kemarin telah menyebar luas ke seluruh penjuru kantor. Para karyawan saling berbisik di koridor, memandang Maya dengan tatapan simpati bertabur rasa kasihan. Bagi mereka, masa depan wanita itu sudah berada di ujung tanduk.

​Maya duduk di balik meja kerjanya yang luas. Berkas permohonan pinjaman dana sebesar lima ratus miliar rupiah terhampar di hadapannya. Jemarinya memegang pena dengan erat, namun pikirannya sepenuhnya tertuju pada sosok Arka yang sejak tadi pagi pamit pergi dengan alasan ingin menemui kenalannya di bank.

​"Kenapa aku bisa sebodoh ini membiarkannya bertaruh?" gumam Maya pada dirinya sendiri. Rasa cemas dan penyesalan mulai menggerogoti dadanya.

​Tiba-tiba, pintu ruangan kerja Maya didobrak hingga terbuka kasar.

​Sisca melangkah masuk dengan gaya anggun yang dipaksakan. Ia mengenakan gaun merah menyala lengkap dengan perhiasan berlian yang berkilau di lehernya. Di belakangnya, dua orang pengawal pribadi berbadan tegap berdiri menyilangkan tangan di depan pintu.

​"Masih sempat duduk santai di kursi ini, Maya?" ejek Sisca sambil menyandarkan kedua tangannya di tepi meja kerja Maya. Senyum kemenangan menghiasi wajah cantiknya. "Aku cuma mau mengingatkan, sisa waktumu di kantor ini tinggal dua hari lagi. Setelah itu, kamu dan suami gembelmu itu harus merangkak keluar dari gedung ini."

​Maya menghela napas panjang, merapikan dokumen di mejanya tanpa mengalihkan pandangan.

​"Rapat dewan baru akan digelar akhir minggu, Sisca," sahut Maya dingin dan tenang. "Sebelum tenggat waktu habis, aku masih menjabat sebagai pemilik saham pengendali di perusahaan ini. Jadi, jaga sikapmu atau aku panggilkan petugas keamanan untuk menyeretmu keluar."

​Sisca tertawa melengking, suara tawanya memantul di dinding ruangan.

​"Panggil saja! Memangnya siapa yang akan mendengarkan perintah dari calon pimpinan yang akan bangkrut?" Sisca mendekatkan wajahnya, berbisik menohok. "Ayahku sudah menghubungi beberapa direksi di Bank Konsorsium Nusantara. Mereka bahkan tidak kenal siapa itu Maya Wibowo, apalagi suami montirmu yang kotor itu. Janji lima ratus miliar itu cuma mimpi di siang bolong!"

​Sebelum Maya sempat membalas ucapan keji itu, suara langkah kaki yang mantap terdengar dari luar koridor.

​Arka muncul di ambang pintu. Ia mengenakan kemeja putih bersih yang digulung hingga ke siku, memegang sebuah map kulit berwarna hitam pekat di tangan kanannya. Kehadirannya yang tiba-tiba membuat dua pengawal pribadi Sisca secara refleks mundur satu langkah, seolah merasakan aura tekanan yang sangat kuat dari pria tersebut.

​Arka melangkah masuk tanpa menghiraukan keberadaan Sisca. Ia berjalan lurus mendekati meja kerja Maya, menyunggingkan senyum hangat yang menenangkan.

​"Maaf aku agak terlambat, Maya," kata Arka dengan suara beratnya yang lembut. "Lalu lintas di pusat kota cukup padat pagi ini."

​Sisca memutar tubuhnya, menatap Arka dengan pandangan jijik. "Hebat sekali buruh serabutan ini, masih bisa bersikap sok tenang! Mana janji lima ratus miliarmu? Apa kenalan manajer penambal banmu itu sudah mencairkan dananya?"

​Arka menoleh pelan, menatap Sisca dengan pandangan mata yang begitu dingin hingga membuat wanita itu menghentikan tawa ejekannya secara mendadak.

​"Dokumennya sudah selesai," ujar Arka datar sambil meletakkan map kulit hitam itu tepat di hadapan Maya. "Kamu bisa mengeceknya sendiri, Maya."

​Maya menatap map hitam tersebut dengan jantung yang berdegup kencang. Jemarinya yang agak gemetar perlahan membuka sampul berkas tersebut.

​Di lembaran pertama, tertera kop surat resmi dari Bank Konsorsium Nusantara dengan stempel basah berwarna emas dan tanda tangan langsung dari Direktur Utama lembaga keuangan terbesar tersebut. Dokumen itu menyatakan bahwa pinjaman investasi sebesar lima ratus miliar rupiah telah disetujui tanpa syarat dan dana tersebut telah ditransfer secara penuh ke rekening operasional Wibowo Group.

​Mata Maya membelalak lebar. Air muka terkejut yang luar biasa menghiasi wajah cantiknya.

​"Ini... ini beneran?" bisik Maya hampir tak terdengar. Ia menatap angka-angka di dalam dokumen tersebut berulang kali untuk memastikan matanya tidak salah melihat. "Dana lima ratus miliar rupiah... sudah cair sepenuhnya?"

​"Apa?!" seru Sisca kaget. Ia menyambar dokumen tersebut secara paksa dari tangan Maya, membaca setiap baris kalimat dengan wajah yang seketika berubah pucat pasi. "Tidak mungkin! Ini pasti palsu! Bagaimana bisa Bank Konsorsium Nusantara mencairkan dana sebanyak ini hanya dalam waktu satu malam tanpa persetujuan Ayahku?!"

​"Kamu bisa menghubungi pihak bank sekarang juga untuk memverifikasi keaslian stempel emas itu, Nona Sisca," sahut Arka santai sambil menyilangkan tangan di dada.

​Sisca meremas ujung kertas tersebut dengan tubuh gemetar hebat karena marah dan tidak percaya. Ia menyambar ponselnya, jemarinya mengetik nomor ayahnya dengan terburu-buru. Namun, sebelum ia sempat menekan tombol panggil, pintu ruang kerja Maya kembali terbuka lebar.

​Pak Gunawan berlari masuk ke dalam ruangan dengan napas terengah-engah. Wajah pria paruh baya itu dibasahi keringat dingin, jas mahalnya tampak agak kusut.

​"Papa!" panggil Sisca panik. "Lihat dokumen palsu yang dibuat oleh suami gembel Maya ini! Dia berani memalsukan stempel Bank Konsorsium Nusantara!"

​Namun, bukannya mendukung anaknya, Pak Gunawan justru berdiri mematung dengan raut wajah yang teramat horor. Ponsel di genggaman tangannya terjatuh ke lantai, menampakkan layar yang masih terhubung dengan saluran berita keuangan nasional.

​"Itu... itu bukan dokumen palsu, Sisca..." suara Pak Gunawan terdengar sangat bergetar dan parau.

​"Maksud Papa apa?!" pekik Sisca bingung.

​"Baru saja... bagian keuangan pusat mengonfirmasi bahwa dana lima ratus miliar rupiah benar-benar sudah masuk ke rekening utama perusahaan kita sepuluh menit yang lalu," bisik Pak Gunawan pasrah. Matanya menatap Arka dengan rasa takut yang tak terselubung.

​Tidak hanya itu, Pak Gunawan baru saja menerima kabar buruk lain yang jauh lebih mengerikan. Seluruh rekening pribadi miliknya, aset saham luar negeri, hingga fasilitas kredit atas namanya dan Rian telah dibekukan secara serentak oleh otoritas perbankan pusat atas dugaan indikasi penggelapan dana.

​Maya berdiri dari kursi kerjanya, menatap paman dan sepupunya dengan ketegasan yang tak tergoyahkan.

​"Syarat yang Paman ajukan di rapat kemarin sudah kami penuhi sepenuhnya," kata Maya dengan suara nyaring dan penuh kewibawaan. "Dana lima ratus miliar rupiah sudah cair untuk melanjutkan proyek Wibowo Park. Sesuai dengan Anggaran Dasar perusahaan, hak eksekutif penuh dan jabatan Direktur Utama Wibowo Group secara resmi menjadi milik saya mulai detik ini."

​Pak Gunawan terduduk lemas di sofa ruang kerja, tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun untuk membalas. Rencana jahat yang ia susun rapi bersama pengacaranya hancur berantakan hanya dalam hitungan jam.

​Sisca menatap Maya dan Arka bergantian dengan penuh kebencian. "Ini belum selesai! Kami tidak akan membiarkan kalian menang begitu saja!" bentak Sisca sambil menarik lengan ayahnya untuk keluar dari ruangan tersebut dengan rasa malu yang membakar.

​Setelah pintu ruangan tertutup rapat dan suasana kembali hening, Maya terduduk kembali di kursinya. Dadanya naik turun membayangkan rentetan kejadian ajaib yang baru saja berlangsung di depan matanya.

​Ia mendongak, menatap Arka yang masih berdiri di samping mejanya dengan ekspresi polos dan tenang, seolah baru saja menyelesaikan pekerjaan sepele.

​Maya menarik napas panjang, tatapannya kini dipenuhi oleh kecurigaan yang jauh lebih pekat dari sebelumnya.

​"Arka," panggil Maya pelan, menatap lurus ke dalam mata suaminya. "Kenalan penambal banmu itu... benar-benar punya pengaruh sekuat ini sampai bisa membuat Direktur Utama Bank Konsorsium Nusantara menandatangani surat lima ratus miliar dalam semalam?"

​Arka mengulas senyum tipisnya yang misterius, merapikan kerah kemeja putihnya.

​"Kebetulan manajer tua yang aku bantu kemarin itu adalah sahabat kecil sang Direktur Utama, Maya," jawab Arka dengan alibi yang terdengar sangat halus di telinga. "Dunia ini kadang memang penuh dengan kebetulan yang tidak terduga, bukan?"

​Maya tidak menjawab. Ia tahu alibi itu terlalu sempurna untuk dipercaya begitu saja. Di balik sosok suami serabutan yang berdiri di hadapannya ini, ada sebuah bayangan kekuasaan raksasa yang sedang bergerak mengendalikan segalanya dari kegelapan. Dan Maya bertekad, ia akan membongkar siapakah Arka yang sebenarnya.

1
Jamayah Tambi
Lanjut Athur,Dian ambil peluang atas nama darah dan keluarga,sombingvtan tau diri.Umur masih setahun jagung
Jamayah Tambi
Hah,kata dah tamat tp ceritanya bersambung
Jamayah Tambi
Takut kau yg terbunuh Pak Surya Wijaya.Tak masuk di akal sihat dan waras ku bila pulak Arka dan Mayavtinggal di kontrakan.Sebelum tu kan tinggal dirumah peninggalan ayah Maya..
Jamayah Tambi
Dah Arka sendiri yg pimpinan tertinggi Nusantara Group
Jamayah Tambi
Kau hentan je Rian tu.Belagak sangat.
Jamayah Tambi
Arka cepat terus terang .Maya sangat penasaran tu
Jamayah Tambi
Cepat cari tau,agar tidak penasaran terus Maya
Jamayah Tambi
Kalau ketahuan nanti kau jgn marah Maya.Kau yg menawarkan penikahan pada Arka masa itu.Jgn pula kau anggap penipu.Tidak ada untungnya bagi Arka..Kamu yg beruntung Maya,dapat harta karun
Jamayah Tambi
Maya,main saja ikut aturan Arka,nanti tau kok rahsianya
Jamayah Tambi
Rasain.Nak sangat ambil harta anak yatim kan.
Jamayah Tambi
Bola nak sampai pejabat notaris,kok masih di KUA
Jamayah Tambi
Gila, demi harta warisan.Siapa juga mau seluruh harta warisa ayah dan datuknya jatuhbke tangan pamannya dan sepupunya yg serakah itu.Bukan nak tolong anak yatim puatu
itu.
Wawan
Clue yang menarik .... Nyimak ✍️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!