NovelToon NovelToon
Crimson Vows

Crimson Vows

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Roman-Angst Mafia / Mafia / Tamat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: yao na

Tujuh belas tahun Yao Conti hidup dalam penyamaran, bernapas hanya untuk satu tujuan: menuntut balas atas pembantaian keluarganya di Milan. Langkahnya membawanya menembus jantung kekuasaan keluarga Moretti, tempat ia bertemu Gerald Moretti—Don muda yang dingin, tajam, dan tidak pernah membiarkan siapa pun mendekatinya.
Bagi Yao, Gerald adalah kunci menuju pembunuh ayahnya. Bagi Gerald, Yao adalah teka-teki berbahaya yang memikat sekaligus mengancam wilayahnya. Di tengah benturan intrik politik lima keluarga mafia Italia hingga ancaman persekutuan gelap yang membentang ke Hong Kong, batas antara taktik dan perasaan perlahan mengabur.
Saat rahasia paling kelam tentang malam pembantaian itu akhirnya terkuak, mereka dipaksa memilih: menuntaskan dendam yang diwariskan oleh orang tua mereka, atau menyelamatkan cinta yang terlahir di atas tanah bersimbah darah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yao na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22 — Bayang-Bayang Rekaman

Kebahagiaan momen itu tidak bertahan lama. Tiga hari setelah operasi, saat Gerald mulai pulih di mansion dengan pengawasan ketat, Marco datang dengan wajah pucat membawa laptopnya.

"Ada masalah," katanya tegang, meletakkan laptop itu di meja dekat ranjang Gerald. "Rekaman yang disebut Enzo. Aku menemukan bukti bahwa dia benar-benar mempersiapkannya — sebuah sistem pengiriman otomatis yang terhubung ke server tersembunyi. Jika tidak dihentikan dalam waktu dua puluh empat jam sejak kematiannya, rekaman itu akan otomatis terkirim ke media internasional dan seluruh perwakilan lima keluarga besar."

Ketegangan langsung memenuhi ruangan. "Berapa lama waktu yang tersisa?" tanya Gerald, mencoba duduk meski rasa sakit di bahunya masih terasa tajam.

Marco memeriksa jamnya dengan wajah semakin pucat. "Enam jam."

"Kita harus menemukan server itu dan menghentikannya," kata Yao tegas, sudah bersiap untuk bertindak.

"Aku sudah melacak lokasinya," jawab Marco. "Sebuah pusat data di pinggiran Milan. Tapi masalahnya, sistemnya dilindungi enkripsi yang sangat kompleks — Enzo jelas seorang profesional dalam hal ini. Aku butuh waktu lebih lama dari yang kita miliki untuk membobolnya dari jarak jauh."

"Maka kita harus ke sana secara fisik," kata Gerald, mencoba bangkit dari ranjang meski Yao segera menahannya.

"Kau baru saja ditembak, Gerald. Kau tidak akan pergi ke mana-mana," katanya tegas. "Aku dan Marco yang akan pergi."

Perdebatan singkat namun sengit terjadi, tapi akhirnya Gerald mengalah, menyadari kondisinya memang tidak memungkinkan untuk ikut bertindak secara fisik. "Hati-hati," bisiknya, menggenggam tangan Yao erat sebelum ia pergi. "Aku baru saja mendapatkanmu. Aku belum siap kehilangan dirimu pada kekacauan dunia ini."

"Aku akan kembali," janji Yao, mencium keningnya sebelum bergegas pergi bersama Marco menuju pusat data misterius itu.

Di dalam mobil menuju lokasi, Marco memeriksa kembali peralatan yang telah ia siapkan — laptop khusus dengan perangkat lunak pembobol keamanan, beberapa alat elektronik kecil yang tidak sepenuhnya dipahami Yao fungsinya, dan sebuah tas berisi perkakas fisik untuk kemungkinan mereka perlu membobol sesuatu secara manual.

"Apa yang terjadi jika kita gagal?" tanya Yao, kekhawatiran mulai menggerogoti ketenangannya.

"Jangan berpikir seperti itu," jawab Marco tegas, matanya tetap fokus pada jalan di depan. "Kita tidak akan gagal. Terlalu banyak yang dipertaruhkan untuk gagal sekarang."

Pusat data itu ternyata adalah sebuah gedung tak berpenghuni di distrik industri Milan, dijaga oleh sistem keamanan canggih yang jelas dirancang untuk mencegah akses tidak sah. Marco, dengan keahlian teknisnya yang mengesankan, berhasil membobol sistem keamanan fisik dalam waktu singkat, meski keringat dingin mengalir di dahinya karena tekanan waktu yang semakin menipis.

"Server utamanya ada di lantai tiga," katanya, memandu Yao melalui lorong gelap gedung yang sunyi. "Tapi aku menduga Enzo memasang jebakan tambahan untuk melindungi rencana terakhirnya."

Dugaan Marco terbukti benar. Begitu mereka mencapai ruang server, alarm keamanan tiba-tiba meraung keras, lampu merah berkedip di sepanjang lorong.

"Sial," geram Marco, jarinya bergerak cepat di atas keyboard laptop yang terhubung ke sistem server. "Dia memasang pemicu tambahan — alarm ini akan mempercepat pengiriman rekaman jika tidak dihentikan dalam waktu sepuluh menit!"

Yao merasakan panik mulai menjalar, tapi ia memaksa dirinya tetap fokus. "Apa yang kau butuhkan untuk menghentikannya?"

"Kode akses fisik," jawab Marco cepat. "Enzo pasti menyimpannya di suatu tempat di ruangan ini — sebuah brankas atau perangkat keamanan tersembunyi."

Mereka berdua bergerak cepat menggeledah ruangan, waktu terus berdetak mundur dengan kejam. Yao akhirnya menemukan sebuah brankas kecil tersembunyi di balik panel dinding palsu, dilindungi kunci sidik jari.

"Ini butuh sidik jari Enzo," kata Yao putus asa, menyadari kebuntuan yang mengerikan.

Tapi kemudian, ia teringat sesuatu — sebuah detail kecil yang ia perhatikan saat Enzo mengeluarkan flashdisk di dermaga malam itu. Bekas luka di jari telunjuknya, cukup dalam hingga mengubah pola sidik jarinya secara permanen.

"Marco, apakah kau punya foto detail tangan Enzo dari rekaman CCTV mana pun?" tanya Yao cepat.

Marco, memahami arah pikiran Yao, segera mencari melalui arsip rekaman keamanan yang telah ia kumpulkan selama investigasi mereka. Ia menemukan satu gambar close-up tangan Enzo dari rekaman pertemuan dengan Katarina Volkov, tapi resolusinya buruk, buram di bagian-bagian penting justru karena sudut kamera yang tidak ideal.

"Ini tidak cukup jelas," gumam Marco, memperbesar gambar itu berkali-kali di layar laptopnya, keringat mulai membasahi keningnya. "Aku bisa mencoba merekonstruksi pola yang hilang, tapi hasilnya tidak akan sempurna."

Dengan printer 3D portabel yang ia bawa, Marco mencetak cetakan sidik jari perkiraan itu secepat yang ia bisa. Yao menempelkannya ke sensor brankas dengan tangan gemetar.

Lampu sensor berkedip merah. *DITOLAK.

"Sial!" Marco memukul mejanya sendiri, waktu di layar laptop terus berkurang — tiga menit tersisa. "Rekonstruksinya tidak cukup akurat. Aku butuh gambar yang lebih baik, dan kita tidak punya waktu untuk itu."

Yao memaksa dirinya berpikir, mengabaikan detak jantungnya sendiri yang berpacu liar. Ia memejamkan mata, mengingat kembali setiap detik di dermaga itu — cara Enzo memegang flashdisk, cara ia melempar benda itu ke tanah. "Coba cetakan kedua," katanya tiba-tiba, "tapi putar sedikit ke kiri. Ia memegang benda dengan sedikit miring, bukan lurus — aku ingat karena bekas lukanya lebih terlihat jelas dari sudut itu."

Marco menyesuaikan cetakan dengan tangan gemetar, mencoba lagi dengan modifikasi kecil yang disarankan Yao. Dengan waktu tersisa hanya empat puluh detik, sidik jari yang dimodifikasi itu akhirnya diterima sensor, mengungkapkan kode akses yang mereka butuhkan untuk menghentikan seluruh sistem pengiriman rekaman.

Marco memasukkan kode itu dengan tangan gemetar, dan tepat saat hitungan mundur mencapai lima detik terakhir, layar laptopnya menampilkan pesan: *SISTEM DIHENTIKAN. PENGIRIMAN DIBATALKAN.

Keduanya jatuh terduduk kelelahan, adrenalin masih mengalir deras dalam tubuh mereka. "Kita berhasil," bisik Yao, hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka lakukan.

Marco tersenyum lelah, menyandarkan kepalanya ke dinding server yang masih berdengung pelan di sekelilingnya. "Enzo benar-benar pria yang teliti," katanya, geli meski kelelahan. "Sayang sekali ketelitiannya digunakan untuk hal-hal yang salah."

Mereka menghabiskan satu jam berikutnya memastikan seluruh sistem benar-benar dinetralisir, menghapus setiap salinan cadangan yang mungkin masih tersembunyi di server-server lain yang terhubung. Ketika akhirnya yakin bahwa ancaman itu telah sepenuhnya hilang, mereka bergegas kembali ke mansion untuk memberi kabar baik pada Gerald yang telah menunggu dengan cemas sepanjang malam.

"Sudah selesai," kata Yao begitu memasuki kamar Gerald, senyum lega terpancar jelas di wajahnya yang lelah. "Rekamannya sudah dinetralisir sepenuhnya."

Gerald menghembuskan napas panjang, ketegangan yang telah menumpuk sepanjang malam akhirnya mereda. "Terima kasih Tuhan," bisiknya, menarik Yao ke dalam pelukan meski gerakan itu membuat bahunya sedikit nyeri.

1
yao na
kerenn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!