Novel ini mengisahkan Ahmad Zaki, seorang pemuda berusia 20 tahun yang merupakan anak dari pedagang kain. Ia berniat untuk belajar dan memperdalam ilmu di pondok pesantren yang berada di pedesaan.
Baru beberapa hari di pondok pesantren, ia telah menanam benih-benih cinta. Cinta yang tulus kepada seorang santriwati berusia 18 tahun, Nafisah Zahra.
Namun, cinta keduanya terhalang oleh perjodohan dan agresi militer.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MF015, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Hujan Pertama
Hujan pertama sejak Zaki tiba di Sumberwungu turun pada hari Jumat, tepat setelah shalat ashar.
Awalnya hanya gerimis, cukup untuk membuat debu di halaman berbau harum. Lalu langit di barat menggelap seperti tinta tumpah di atas kertas, dan dalam hitungan menit, air jatuh deras di atap genteng dengan suara seperti ribuan kerikil dilempar bersamaan.
"Jemuran!" teriak seseorang dari asrama.
Halaman pondok mendadak riuh. Belasan santri berlarian menyelamatkan sarung dan kitab dari tali jemuran. Darto menyambar tiga sarung sekaligus, salah satunya milik Kang Ridwan yang masih basah dan terlanjur diambil karena tersangkut. Zaki menggendong tumpukan kitab jemur dengan hati-hati dan berlari ke teras. Dalam sekejap ia basah dari peci sampai ujung sarung.
"Kamu kayak ayam kecemplung got!" seru Darto sambil terbahak.
"Kamu bawa sarung orang lain."
"Ini pinjaman darurat."
Mereka tertawa dan berdesakan di teras asrama, menyaksikan hujan mengguyur halaman. Air mengalir di parit-parit kecil, membawa dedaunan dan sebatang lidi. Bau tanah basah naik ke udara, hangat dan menenangkan.
Zaki menatap air yang jatuh dari tepi atap. Ia teringat sebait puisi di secarik kertas kecil di halaman tujuh belas kitabnya.
Jika hujan tak pernah bertanya pada tanah, mengapa ia jatuh dengan begitu sabar?
Sudah tiga hari ia membawa kertas itu di saku bajunya. Tiga hari ia mencoba menulis balasan, dan tiga hari pula ia menyerah di tengah kalimat. Tapi hujan sore ini terasa seperti jawaban yang datang sendiri.
"Darto," katanya. "Pinjam pensil."
"Untuk apa?"
"Menulis."
"Menulis apa?"
"Balasan."
Darto tersenyum pelan dan menyodorkan pensil pendek dari saku sarungnya. "Ini pensil keberuntungan. Sudah menulis tiga surat lamaran, semuanya ditolak."
"Itu tidak terdengar beruntung."
"Tapi pensilnya masih hidup. Itu yang penting."
Zaki menulis di teras belakang asrama, di bawah atap yang tidak bocor, dengan kertas sobekan dari buku catatan dan suara hujan sebagai teman. Kali ini ia tidak mencoret. Ia menulis pelan, seperti menyalin sesuatu yang sudah lama ia hafal.
"Mungkin hujan tidak bertanya,
sebab ia tahu tanah sedang menunggu.
Dan mungkin sabar itu bukan pilihan,
melainkan cara lain untuk pulang."
Ia membacanya sekali. Dadanya berdebar lebih kencang dari saat ia menjawab pertanyaan Ustaz Malik. Puisi itu tidak sempurna, sajaknya kurang rapi, dan barisan terakhirnya terlalu berani. Tapi itu jujur, dan ia tidak punya yang lain.
Ia melipat kertas itu jadi kotak kecil, menyelipkannya ke halaman tujuh belas kitabnya, lalu berdiri, mengatur napas, dan berjalan menuju dapur umum di tengah hujan yang mulai mereda.
Dapur umum sore itu lengang. Kebanyakan santri masih berteduh atau sibuk membereskan jemuran. Hanya ada dua orang yang piket di sisi putra, dan di sisi seberang terdengar denting panci pelan-pelan.
Zaki mendekati lubang pemberian. "Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Suara Rukmini, tapi kali ini lebih lembut, tanpa nada jahil. "Kang Zaki. Hujan-hujanan?"
"Sedikit, Mbak."
"Sedikit sampai peci kamu meneteskan air?"
Zaki refleks meraba pecinya yang memang basah kuyup. Ia meringis. "Mohon maaf. Saya mau menitipkan kitab lagi."
"Tulisan?"
"Tulisan."
"Bagus." Terdengar ketukan jari di kayu. "Mana?"
Zaki menyerahkan kitab lewat celah anyaman. Tangan Rukmini menerimanya dengan sigap.
"Kang," katanya, dan kali ini nadanya berubah pelan. "Boleh saya tanya sesuatu?"
"Silakan."
"Kamu serius?"
Pertanyaan itu jatuh di antara mereka seperti batu kecil ke air tenang. Zaki tidak segera menjawab. Di seberang lubang, entah karena hujan atau karena hal lain, suara-suara dapur terasa menyusut.
"Saya tidak tahu harus menjawab apa, Mbak," katanya akhirnya. "Saya baru seminggu di sini. Tapi saya tahu saya tidak bermain-main."
Hening. Lalu Rukmini menghela napas.
"Baik. Itu jawaban yang cukup." Kitab di tangannya bergeser, dibungkus daun pisang baru. "Akan saya sampaikan."
"Terima kasih."
"Kang Zaki."
"Iya?"
"Hati-hati. Tembok di sini bukan cuma yang bisa dilihat."
Zaki tidak sempat menanyakan maksudnya, karena langkah kaki mendekat dari sisi putra, dan Rukmini sudah menutup celah anyaman dengan sigap. Ia berbalik dengan wajah setenang mungkin. Darto muncul membawa dua gelas teh hangat.
"Sudah?" bisiknya.
"Sudah."
"Bagus. Sekarang minum. Kamu kelihatan seperti orang yang baru menyerahkan nyawa."
"Rasanya begitu."
"Wajar." Darto menyodorkan gelas. "Nyawa ditukar dengan puisi. Itu transaksi paling mahal di dunia."
Di sisi lain tembok, malam turun bersama sisa hujan yang menetes dari genteng. Nafisah duduk di sudut kamarnya dengan lampu minyak kecil, tikar pandan, dan sebuah kitab bersampul cokelat kusam di pangkuannya.
Rukmini sudah tidur, atau pura-pura tidur. Napasnya teratur, tapi sesekali bahunya bergerak seperti orang yang menahan senyum.
Nafisah membuka halaman tujuh belas. Kertas kecil terlipat itu ada di sana, persis seperti yang ia duga. Jantungnya berdegup begitu keras sampai ia takut membangunkan seisi kamar. Ia membukanya pelan-pelan.
"Mungkin hujan tidak bertanya,
sebab ia tahu tanah sedang menunggu."
Ia berhenti. Membaca ulang. Lalu lanjut ke bait berikutnya.
"Dan mungkin sabar itu bukan pilihan,
melainkan cara lain untuk pulang."
Tangannya bergetar. Bukan karena isinya semata, tapi karena ia sadar bahwa seseorang, di seberang tembok yang tinggi itu, telah menjawab pertanyaan yang ia tulis dengan setengah takut, setengah berharap. Dan jawaban itu bukan jawaban orang asal. Itu jawaban orang yang mendengarkan.
Ia menekan kertas itu ke dada, tersenyum, lalu segera mengendalikan diri dan menoleh cepat ke arah Rukmini.
"Aku tahu kamu tidak tidur."
"Aku tidur," gumam Rukmini tanpa membuka mata.
"Tidur tidak ikut senyum."
"Itu mimpi indah."
"Rukmini!"
"Baik, baik." Rukmini membuka satu mata. "Bagaimana? Bagus?"
Nafisah tidak menjawab. Ia hanya menutup kertas itu dan menyimpannya di sela halaman kitabnya sendiri, seperti menyimpan sesuatu yang rapuh. Tapi wajahnya, di bawah cahaya lampu minyak, sudah cukup menjadi jawaban.
Rukmini tersenyum puas dan kembali memejamkan mata. Tapi sebelum benar-benar terlelap, ia berbisik pelan, hampir seperti bicara pada dirinya sendiri:
"Nis. Jangan lupa. Minggu depan Gus Hanif ke sini lagi. Dan Bu Nyai sudah mulai bertanya-tanya."
Senyum di wajah Nafisah pelan-pelan surut. Cahaya lampu bergetar sedikit ketika ia menghela napas, dan di luar, hujan kembali turun. Kali ini bukan hujan deras, hanya gerimis tipis yang jatuh dengan sabar di atas genteng, seperti yang ditanyakan puisi itu.
Ia menatap kertas di tangannya lama, lalu berbisik pada malam:
"Aku tahu."